Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Kejadian malam itu


__ADS_3

Seperti janji nya saat di telepon,  bahwa Sabrina ingin menceritakan kejadian yang menimpanya malam itu, Mahesa datang dipenuhi dengan senyum. Pria itu menggandeng tangan Sabrina menuju taman samping. Menghirup udara yang begitu sejuk,  apalagi cuaca pagi sangat mendukung untuk si kecil yang ada di gendongan sang ayah. 


"Apa kamu sudah siap untuk bercerita?  Jika belum tidak apa apa," tanya Mahesa, keduanya duduk bersejajar di temani dengan teh hangat buatan Bi Mimi. 


"Aku siap,"  jawab Sabrina. 


Sabrina menatap manik mata Mahesa yang duduk di sampingnya. 


Flashback on


"Sabrina," panggil Bu Yumna sedikit panik. 


Sabrina melepas kainnya dan beranjak menghampiri sang Pengasuh yang mondar mandir di depan kamarnya. 


"Ada apa, Bu?" tanya Sabrina antusias,  tak biasanya Bu Yumna gelisah. 


"Ibu butuh uang banyak, apa kamu bisa bantu ibu untuk mengambil di bank?" ucap wanita paruh baya tersebut. 


"Kenapa di ambil, itu kan uang Ibu untuk ibadah," cicit Sabrina. 


Bu Yumna meraih tangan Sabrina dan menepuknya.


"Jangan dibahas, ibadah itu ada yang ngatur,  membantu yang membutuhkan lebih penting. Bu Ismi sakit, dia butuh uang, jadi ibu ingin membantunya, juga buat bulan ini masih kurang."


Sabrina menghela napas panjang lalu melihat jam yang melingkar di tangannya. 


Sudah jam satu siang, itu artinya dua jam lagi bank tutup. Sedangkan perjalanan memakan waktu satu jam lebih, itu pun kalau tidak terkena macet.


"Baiklah, Bu. Aku berangkat dulu,"  tanpa mengganti baju Sabrina langsung hengkang dari panti membawa cek dari bu Yumna. Bagaimanapun juga itu adalah tugasnya sebagai pengurus panti asuhan.


Takut terlambat, akhirnya Sabrina naik ojek untuk segera sampai, cuaca sedikit mendung, ada rasa resah yang menyelimuti hatinya, namun Sabrina membuang jauh jauh dan memantapkan hatinya untuk berangkat memenuhi amanah dari orang yang sudah membesarkannya. 


Setelah mengambil uang, Sabrina pun tergoda dengan baju gamis yang begitu cantik, wanita itu menghentikan ojek yang ditumpanginya. 


"Tunggu sebentar ya, Pak!" pintanya.


Dengan menghimpit tas cangklongnya, Sabrina masuk ke sebuah toko yang besar, matanya terpana melihat berbagai model baju Syar'i yang sangat modern, entah kenapa Sabrina kepincut untuk membeli salah satu baju yang terpajang. 


Dengan hati yang ceria,  Sabrina keluar dari toko, namun ia harus kecewa saat melihat tukang ojek itu sudah tidak ada disana, terpaksa Sabrina harus nunggu di depan tempat itu. 


Hampir satu jam,  kendaraan tak kunjung juga, kebanyakan yang lewat hanya kendaraan pribadi.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Sabrina mencari masjid terdekat untuk menjalankan kewajibannya, tak tanggung tanggung gadis itu harus menempuh jarak yang sedikit jauh untuk sampai. 


"Sore, Ning," sapa seorang pria yang sedikit brewokan.

__ADS_1


Sabrina hanya menunduk ramah lalu masuk, perasaannya sedikit gelisah saat melihat pria itu yang terus menatapnya. 


Ya Allah, lindungilah aku dari orang orang jahat. 


Waktu terus berputar, senja sudah mulai menghilang, namun Sabrina masih betah berada di dalam Masjid, selain menunggu pria yang berwajah menakutkan itu pergi, Sabrina juga berniat sholat Magrib sebelum melanjutkan perjalanannya untuk pulang. 


Saat dia melamun tiba tiba saja Sabrina dikejutkan seorang wanita cantik yang mendekatinya. 


"Sepertinya Ning bukan warga sini?"  tanya wanita itu duduk di hadapan Sabrina. 


"Bukan, saya dari panti kasih bunda,  yang ada di pinggiran kota, Bu." 


Wanita itu tersenyum, "Kenalkan, saya Saida," keduanya bersalaman, lalu berbincang hingga waktu yang ditunggu Sabrina tiba. 


"Alhamdulillah, semoga setelah Maghrib ada ojek yang datang."


Sabrina masih mikir-mikir,  di satu sisi ia butuh seseorang untuk membantunya, disisi lain Sabrina tak bisa mengganggu sahabatnya.


"Nggak ah,  kasihan Arum, pasti dia lelah habis kerja."


Sabrina keluar dari masjid,  hatinya semakin risau saat menatap langit yang sudah gelap gulita. 


Gadis itu berjalan menuju pangkalan ojek,  dan pucuk di cinta ulam pun tiba, satu motor ada di sana, namun tanpa penghuni. 


Sabrina celingukan mencari gerangan yang punya, namun nihil ia tak menemukan siapapun. Hampir saja melangkahkan kakinya, satu motor berhenti dari belakang. 


"Pulang ke panti asuhan Kasih Bunda," seru Sabrina dengan lantang.


"Silakan, Ning!" Pria itu memberikan helm ke arah Sabrina. 


Hingga di tengah perjalanan motor yang ditumpangi Sabrina tiba tiba saja berhenti.


"Ada apa, Pak?" Rasa takut semakin menyelimuti Sabrina saat ia turun dari motor. 


Pria itu melepas helmnya dan melihat ban bagian depan. 


"Kempes, Ning," jawabnya. 


Sabrina kembali lemas, mana sudah hampir Isya', bulu halusnya merinding saat melihat sekitar yang begitu sepi.


"Pak ini bagaimana, kok tempatnya seperti ini ya?"


Sabrina mengelus lengannya,  angin sepoi-sepoi menambah dinginnya malam. 


"Wah, maaf ya Ning, kayaknya bapak nggak bisa antar kamu sampai rumah."

__ADS_1


Bercanda, itulah yang ada di benak Sabrina, itu adalah perbatasan yang sepi dari perumahan. Dan setengah jam lagi hampir sampai, tapi kendala menimpa.


"Terus bagaimana, Pak?"


Sabrina semakin panik saat pria itu memutar balik motornya.


"Ning minta bantuan teman Ning saja  biar bapak temani disini."


Sabrina mengambil ponsel yang ada di tasnya, Apes,  ponsel miliknya pun mati. 


Sabrina semakin kesal.


"Ini, bapak pinjami."


Sabrina ingat ayahnya,  mungkin jika masih hidup pasti akan seumuran orang yang baik hati itu. 


"Aku nggak hafal nomor temenku, Pak,"  keluhnya, tanpa menerima ponsel pria itu. 


Dan tiba tiba saja sorot lampu dari arah jauh menerangi Sabrina, ada sedikit senyum yang terukir kala pak ojek melambaikan tangannya ke arah motor itu. 


"Pak, tolong anterin Ning ini ke panti asuhan kasih Bunda," kata kang ojek. 


Pria itu mengangguk tanpa suara. 


Ucapan terima kasih berulang kali Sabrina lontarkan pada pria itu sebelum naik motor yang lain. 


Baru beberapa menit berjalan, motor itu pun berhenti mendadak. 


"Kenapa, Pak? Masa mogok lagi?" Sabrina turun dari  motornya. 


"Serahkan tas, Kamu!"


Sabrina membelalakkan matanya dan terus menggeleng.


"Tidak! sampai aku matipun aku tidak akan menyerahkan tas ini," ucap Sabrina semakin mengeratkan pegangannya. 


Sabrina terus berjalan mundur hingga terperosok di semak-semak. 


"Rupanya kamu suka cara yang kasar," ucap Pria itu terus mendekati Sabrina yang sudah ketakutan, tangannya gemetaran saat pria itu semakin mendekatnya. 


"Jangan sentuh aku!" teriak Sabrina dengan keras, bahkan berulang kali Sabrina berteriak minta tolong, namun nihil satu orang pun tak ada yang datang. Sepertinya tempat itu memang tak diinjak manusia, apalagi malam.


Pria itu merebut tas Sabrina dengan paksa,  bahkan berkali kali memukul wajah Sabrina dengan kerasnya. Sampai pada akhirnya pertahanan Sabrina runtuh, matanya terasa meremang, kepalanya terasa  pusing saat pria itu menjambak hijabnya dan membenturkannya di tiang listrik. 


Perlahan Sabrina melepas tasnya dan terjatuh tak sadarkan diri. 

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2