
3 tahun kemudian
Randu menitihkan air mata saat melihat bayi laki-lakinya yang ada di gendongan Sesil. Dia adalah David Laksana Putra, putra keduanya dengan Arum yang berumur enam bulan. Disaat umur Raisya menginjak satu tahun empat bulan Arum dinyatakan hamil lagi. Kebahagiaan keduanya semakin memuncak di atas awan kala itu, namun kenyataan pahit menghantam saat kandungan Arum berumur tiga bulan, ia dinyatakan mengidap kanker otak hingga harus memilih antara kedua nyawa. Disaat itulah Randu kembali jatuh, ia bagaikan dihempaskan ke dasar jurang yang terdalam, apalagi permintaan Arum untuk tetap mempertahankan sang buah hati dan itu tak bisa ditolaknya.
Berharganya hidup yang dialami Randu, karena baginya setiap waktu adalah perjalanan, dan setiap perjalanan adalah pelajaran, berumah tangga dengan Arum memberikan banyak pengalaman bagi Randu untuk tetap bisa berdiri walaupun badai menerpa.
Arum meninggalkan kenangan yang mendalam untuk Randu, hingga beberapa bulan ia harus terpuruk karena kehilangan sang pujaan hati, namun kini ia harus bangkit demi kedua buah hatinya. Dalam pernikahan keduanya tak pernah ada konflik besar, apalagi drama seperti Mahesa. Namun itulah takdir, manusia hanya berencana tapi Allah lah yang berkehendak. Termasuk status Randu yang kini menjadi duda.
Ada pertemuan pasti ada perpisahan, Randu yakin, jika dibalik semua itu akan ada rencana yang lebih indah, baik baginya maupun anak anaknya. Dan pastinya Allah lebih sayang pada Arum dari pada dirinya. Di samping makam yang istri dan Ibu, serta ayahnya Randu terus melantunkan doa untuk ketiga orang yang disayanginya.
Mahesa menggendong Raisya yang juga ikut ke makam, sedangkan Agung menggendong putranya yang bernama Alvan, Sabrina tangan kosong, kedua anaknya tidak ikut dan memilih di rumah, dan dua bulan yang lalu ia dinyatakan hamil anak yang keempat, sedangkan anak yang ketiga bernama syakila Rahardjo yang lebih cenderung dekat dengan bu Risma, dan sebab itu Mahesa memutuskan untuk memiliki anak lagi. Yang dipatok sampai enam.
Suasana hening, Sabrina dan Sesil pun belum bisa mengikhlaskan sang sahabat yang mendahuluinya menghadap sang khaliq, kini kedua wanita itu hanya bisa berdoa untuk Arum.
"Kita pulang!" ajak Mahesa seraya menepuk pundak Randu. Sinar mentari semakin menyorot, Mahesa meletakkan tanganya di atas kepala Raisya yang mulai kepanasan.
Randu melepas kacamata hitamnya dan menyeka air matanya, sebelum berdiri Randu kembali mengelus batu nisan sang istri.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah memberikan yang terbaik, dan semoga Allah memberikan tempat yang paling indah untuk kamu."
Aamiin
"Besok ulang tahun Raisya, aku yang akan menyiapkan semuanya," ucap Sabrina. Semenjak Arum sakit dan sampai meninggal, Sabrina dan Sesil yang merawat kedua anak Arum, hingga keduanya tak kehilangan kasih sayang seorang Bunda.
"Tapi Mbak,__
"Nggak ada tapi-tapian, aku sudah pesan semuanya," sergah Sabrina memotong pembicaraan Randu.
"Ayah kue," Raisya merengek, dari semalam bocah itu terus menginginkan makanan yang bertoping cokelat gara gara gambar yang diwarnai.
"Iya, nanti setelah pulang dari sini Bunda akan beliin kue buat Raisya," jawab Sabrina, merapikan rambut Raisya yang menutupi pipinya.
Semua berjalan beriringan keluar makam dengan hati yang sedikit lega. Sedalam apapun mereka bersedih, Arum hanya bisa di ikhlaskan dan tak akan kembali lagi di dunia.
"Raisya minta kado apa dari, Ayah?" tawar Mahesa.
__ADS_1
Bocah itu memainkan dagu Mahesa seraya cekikikan.
"Mobil, sepelti punya akak Devan," ucapnya sedikit gagap, karena bocah itu belum terlalu lancar saat mengucapkan huruf R.
"Oke, nanti ayah belikan."
Dengan entengnya Mahesa menyetujui permintaan Raisya, padahal berulang kali Randu sudah menolak, takut jika putrinya itu tumbuh menjadi gadis yang tomboy dan tak sesuai keinginan bundanya.
"Kalau dari ayah Agung mau kado apa?" tanya Agung yang tak mau kalah dari Mahesa. Selama ini Agung pun berperan baik dan selalu memberikan yang terbaik untuk gadis itu. Hanya saja Raisya suka menghindar dari dokter satu anak itu.
Raisya membenamkan wajahnya di dada Mahesa setelah beberapa saat melihat Agung.
"Nggak mau hadiah dali ayah Agung," jerit Raisya.
"Lho, kenapa?" tanya Sesil mengelus rambut Raisa yang sudah mulai memanjang itu dengan satu tangannya, sedangkan tangan yang lainnya masih mendekap David yang sudah terlelap.
"Ayah Agung jahat. Kalau dikasih hadiah sama ayah Agung, ujung ujungnya dikasih obat. Aku nggak mau." Raisya menggeleng, melingkarkan tangannya di leher Mahesa.
Setelah beberapa saat bersedih, kini beralih bergelak tawa mendengar kata lucu Raisya.
Randu menyalip Agung dan berjalan tepat di belakang Mahesa.
Raisya memanyunkan bibirnya, mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir sang ayah.
"Ya sudah, kalau begitu Raisa mau kado apa dari Bunda Sesil?"
Emmmm, bocah itu mendongak seperti memikirkan sesuatu.
"Boneka Hello Kitty yang buueesaaal," ucapnya dengan polos.
Sesil mengangkat kedua jempolnya, setuju.
Seperti saat berangkat, Randu satu mobil dengan Sabrina dan Mahesa, sedangkan putra keduanya berada dalam mobil Agung dan Sesil, karena itu permintaan Alfan yang mulai meminta adik laki laki. Seperti dirinya.
"Pak, mampir ke toko kue! titah Mahesa.
__ADS_1
Pak Udin mengangguk dan mulai menancap gasnya.
Meskipun sering dibuat sport jantung, pak Udin masih setia bekerja dengan Mahesa, bahkan pak Udin memutuskan untuk bekerja seumur hidupnya.
Selang beberapa menit, pak Udin memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko kue yang sangat terkenal, namun Sabrina harus kecewa saat toko di hadapannya itu tutup.
"Mas, di mana lagi ya ada toko kue?" tanya Sabrina.
Mahesa menatap Randu yang lebih tahu.
"Didepan Mbak, tapi tak sebesar yang ini. Siapa tahu mbak suka?"
"Ya sudah, daripada harus buat, waktunya sudah mepet."
Pak Udin kembali melajukan mobilnya menuju arah yang ditunjuk Randu.
Hanya menempuh jarak lima belas menit, Mobil yang dikendarainya tiba di tempat tujuan, seperti kata Randu, toko itu lebih kecil dari yang tadi.
"Mudah mudahan enak."
"Aku tunggu di mobil," ucap Mahesa seraya menutup hidungnya.
Jika tiga kali Sabrina harus mengemban beban kehamilan sendiri, kali ini Mahesa lah yang ngidam, bahkan Mahesa sering mual dan muntah jika mencium bau parfum orang luar.
Setelah masuk, Sabrina langsung menemui penjaga toko untuk memesan kue, sedangkan Randu menggendong Raisya mencari kue yang diinginkan putri cantiknya.
"Ayah, aku mau yang itu." Menunjuk kue cantik dan besar yang berada dalam pojok etalase.
Randu celingukan mencari pegawai yang bekerja.
"Mbak!" panggil Randu melambaikan tangannya ke arah wanita yang melintas.
"Iya Mas, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko dengan ramah.
"Anak saya mau kue yang itu," ucap Randu. Menunjuk kue yang diminta Raisya.
__ADS_1
Wanita itu menangkupkan kedua tangannya.
"Maaf Pak, Itu sudah yang punya, jadi tidak bisa di beli."