
Sudah hampir enam bulan lamanya Mahesa terus sibuk di kantor. Pergi pagi pulang malam, di rumah hanya weekend, itu pun masih diserang dengan berbagai pekerjaan yang belum kelar. Suasana rumah sangat sepi, hanya ada Sabrina dan Bi Asih, Randu dan Raisya serta kedua anaknya pergi jalan jalan demi memenuhi keinginan Devan, sedangkan Mbak Inul membawa bayi David ke rumah Bu Risma.
Sabrina memasak makanan kesukaan Mahesa, hari ini bukan hanya yang lain yang bisa keluar, namun ia pun berinisiatif untuk pergi ke kantor mengantar makanan untuk suaminya.
"Bi, kira kira jam segini mas Mahesa sudah istirahat apa belum ya?" Sabrina melihat jam yang melingkar di tangannya. Jam pemberian Mahesa saat ulang tahun pernikahannya yang kedua.
"Lebih baik Non telepon dulu, tanyain, jam berapa Den Mahesa istirahat?"
"Kalau aku telepon itu artinya nggak kejutan dong, Bi."
Bi Asih hanya manggut manggut. Sering lupa karena faktor umur yang sudah tua.
Setelah semua rapi, Sabrina kembali ke kamar. Seperti yang dikatakan Mahesa, ia harus selalu tampil cantik saat di depannya, dan Mahesa pun mengatakan jika ia tidak mau Sabrina berbau bumbu dapur. Setelah memilih milih baju akhirnya pilihannya jatuh pada gamis yang berwarna hijau botol.
"Mudah mudahan, mas Mahesa hari ini nggak sibuk," gumamnya.
Sabrina menyambar tas tangannya lalu keluar menghampiri Bi Asih yang ada di ruang makan.
"Bi, jaga rumah ya! Nanti kalau mas Randu dan anak anak pulang duluan suruh mereka makan."
Bi Asih mengangguk tanpa suara.
Sekian lama menyaksikan drama rumah tangga Sabrina dan Mahesa yang penuh dengan air mata. Akhirnya wanita paruh baya itu bernafas dengan lega melihat kebahagiaan Sabrina dan Mahesa yang sudah mendekati sempurna, apalagi di kehamilannya kali ini Mahesa terus meluapkan kasih sayangnya untuk Sabrina.
"Yeni!" teriak Mahesa.
Yeni menutup map yang ada di tangannya dan beranjak dari duduknya. Merapikan rambut dan rok nya yang sedikit menyingkap ke atas.
"Saya, Pak." Yeni mematung di samping meja kerja Mahesa dengan kedua tangan saling terpaut.
"Apa hari ini masih ada rapat?" tanya Mahesa tanpa menatap.
Yeni membuka ponselnya, "Tidak, Pak.
"Baiklah! Silahkan bekerja kembali! Kamu harus bisa seperti Randu, karena kemungkinan setelah ini ia akan lebih fokus di luar," kata Mahesa dengan tegas.
Yeni kembali ke tempatnya, sudah berbulan bulan bekerja menjadi asisten, namun sikap Mahesa masih saja dingin, bahkan pria itu jarang sekali menatap wajahnya yang cantik.
"Sudah jam makan siang," cicit Yeni.
Yeni beranjak dari duduknya lalu pergi dari ruangannya, seperti biasa, ia membelikan makanan untuk Mahesa yang tak pernah meluangkan waktu untuk keluar.
Selang beberapa menit kemudian, Yeni kembali membawa dua porsi makanan di tangannya, sebelum ke ruangan Mahesa, Yeni merapikan rambutnya, menebalkan bedak dan lipstik.
"Lirik aku dong, Pak!"
Yeni menghentak hentakkan kakinya, geregetan dengan Mahesa yang sangat datar saat berada di dekatnya.
Tak seperti biasanya yang nyelonong keluar masuk, Yeni mengetuk pintu terlebih dulu.
__ADS_1
Mahesa menatap sekilas lalu menyuruh Yeni masuk.
"Letakkan di situ!" Mahesa menyungutkan kepalanya ke arah meja sofa.
"Tapi sekarang sudah jam makan siang, Pak. Nanti kalau Bapak telat takutnya sakit."
Mahesa meletakkan pulpennya lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya. Mengingat ucapan Sabrina kalau ia tidak boleh telat makan.
Akhirnya Mahesa berdiri dari duduknya dan beralih menuju sofa.
"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Salah satu satpam menyambut kedatangan Sabrina yang baru saja turun dari mobil.
"Maaf pak, saya mau bertemu dengan Mas Mahesa. Apa dia ada di dalam?"
Satpam itu mengangguk dan mengantarkan Sabrina masuk. Bukan tempat mewah yang membuat Sabrina terkejut, namun para karyawan yang menunduk ramah padanya. Bulu halus Sabrina merinding saat ia menjadi pusat perhatian semua orang. Ini kali pertama datang ke kantor setelah kejadian beberapa tahun silam, dan Sabrina masih mengingat kejadian yang pernah membuatnya putus asa untuk mempertahankan rumah tangganya.
Setelah melewati lift dengan bantuan satpam yang bertugas, Sabrina tiba di depan ruangan suaminya.
"Terima kasih atas bantuannya, Pak."
Satpam itu membungkuk sopan sebelum meninggalkan Sabrina.
"Pasti mas Mahesa terkejut aku datang."
Sabrina membuka pintunya tanpa mengetuk. Niat ingin memberi kejutan, Sabrina malah dikejutkan dengan Mahesa yang sedang makan bersama wanita cantik yang ada di sampingnya. Meskipun jaraknya sedikit jauh, Sabrina merasa kebersamaannya itu sangat asing. Tanpa di sadari, rantang di tangannya terjatuh membentur lantai, dan itu sukses membuat Mahesa kaget.
Sabrina tak menjawab, dadanya terasa sangat sesak, mencoba untuk menampik beberapa terkaan yang melintas di otaknya dan menahan hatinya yang terus gemuruh hebat.
Mahesa menghentikan makannya lalu menghampiri Sabrina yang ada di ambang pintu. Ia berjongkok mengambil rantang yang ada di bawah.
Itu istrinya Pak Mahesa.
Yeni ikut beranjak mengikuti langkah Mahesa dari belakang.
"Kamu kok nggak bilang kalau mau datang, tahu begini aku tungguin." Mahesa mencium pipi Sabrina.
Sabrina tersenyum kecut membuang jauh jauh rasa curiga yang mulai mengendap. Ia menatap wajah cantik perempuan yang ada di samping suaminya.
"Maaf, aku ganggu ya," ucap Sabrina lirih.
Mahesa tersenyum meraih tangan Sabrina.
"Nggak, ini kantor aku, itu artinya milik kamu juga, dan kapanpun kamu berhak kesini."
"Kenalkan, ini Yeni. Pengganti Randu."
Oh, ternyata ini yang namanya Yeni.
Sabrina menatap penampilan wanita itu dari atas sampai bawah.
__ADS_1
Apa setiap hari Mas Mahesa selalu makan bersama di ruangan seperti tadi.
Sabrina menerima uluran tangan wanita itu dan menyebutkan namanya. Ia kembali menatap rantang yang ada di tangan Mahesa.
"Mas makanannya sudah jatuh, mendingan dibuang saja."
Mahesa tersenyum san meraih tangan Sabrina melewati Yeni yang masih berdiri di tempat.
"Kan cuma jatuh, nggak tumpah, jadi masih bisa dimakan."
Yeni yang merasa asing memilih untuk meninggalkan ruangan itu setelah mengambil sisa makanannya.
"Mbak jangan pergi, kita makan bersama saja," teriak Sabrina.
Yeni yang sudah di belakang pintu menghentikan langkahnya dan meoleh.
"Nggak usah, Bu. di luar masih banyak temannya."
Setelah Yeni menghilang bersamaan pintu yang tertutup rapat, Mahesa membuka makanannya.
"Apa setiap hari Mas makan bersama Yeni?" tanya Sabrina antusias.
Mahesa melirik sekilas wajah Sabrina yang nampak gelisah.
"Nggak, biasanya aku makan sendiri, kamu kenapa? Cemburu?" tanya Mahesa menggoda.
"Nggak!" jawab Sabrina sembari membuang muka.
"Padahal aku lebih suka kalau kamu cemburu."
Masih memalingkan wajahnya Sabrina mengerutkan alisnya.
"Kenapa?" tanya Sabrina ketus.
Mahesa melingkarkan tangannya di perut Sabrina dadi belakang lalu mencium pundaknya.
"Apa kamu percaya padaku?"
Sabrina menatap lekat wajah suaminya.
"Maksud Mas apa?"
Keduanya saling bertukar pandangan, "Aku sangat mencintaimu, secantik apapun perempuan di depan aku, itu tak akan mampu mengalahkan rasa cintaku untukmu. Dan percayalah! Kalau aku tidak akan berpaling darimu."
Sabrina memeluk Mahesa, ternyata apa yang di takutkan itu salah. Pasalnya ia melihat kesungguhan Mahesa saat mengungkapkan kata-katanya.
mampir juga yak ke karya kakak Tryas
__ADS_1