
Dua hari tinggal di panti, Mahesa harus senam jantung saat pria yang bernama Imran itu sering datang, pasalnya Imran nampak berseri-seri saat bertatap muka dengan Sabrina yang semakin cantik dan berisi setelah melahirkan.
Seperti pagi itu, Mahesa menggandeng tangan Sabrina saat membuka pintu, tak memberi kesempatan istrinya untuk menemui Imran sendiri.
"Kenapa sih, Mas?" tanya Sabrina. Lama lama ia juga penasaran dengan perubahan sikap suaminya yang super posesif.
Mahesa hanya menggeleng tanpa suara, dengan tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Imran datang." Menyungutkan kepalanya ke arah pria yang mematikan mesin motornya di depan panti.
Pria itu menghampiri Sabrina dan Mahesa dengan satu kantong kresek di tangannya.
"Pagi, By."
Mas Imran masih ingat panggilan itu. Artinya dia masih ingat saat dia mengatakan menyukaiku. Tapi sayang, Mas Mahesa tetap yang terbaik.
Panggilan disaat Imran menyatakan isi hatinya, dan panggilan itu spesial untuk Sabrina. Wanita yang disukainya namun perlahan Imran mundur dengan kabar kehamilannya.
"Pagi, Mas.'' jawab Sabrina menatap Mahesa yang nampak cemberut, wajahnya kaku dan sedikit pun tak ingin tersenyum.
"Ada apa mas Imran ke sini?" tanya Sabrina dengan khas logat lembutnya.
Mahesa makin kesal dengan Sabrina yang melayani pria itu.
"Ada sesuatu untuk kamu." menyodorkan kantong kresek yang menggantung di tangannya.
Sabrina kembali menatap suaminya lalu menunduk, tangannya enggan untuk menerima pemberian pria lain sebelum mendapat izin suaminya.
"Aku minta maaf atas kejadian itu."
Kembali mengulang kisah satu tahun yang lalu, dimana Imran memutuskan secara sepihak.
"Tidak apa-apa, kita memang belum berjodoh."
Dan berjalannya waktu Sabrina menerima dengan ikhlas jika dirinya memang bukan untuk Imran.
Imran masih menggantung kresek itu di depan Sabrina tanpa ingin menariknya kembali.
"Mas," Sabrina menarik pucuk kemeja Mahesa. Meminta jawaban dari suaminya.
"Terima saja! Rezeki tidak boleh ditolak," ucap Mahesa dengan nada tegas.
Terpaksa Sabrina menerimanya atas perintah suaminya.
Lagipula bukankah dia sudah tahu kalau Sabrina sudah menikah, ngapain masih cari muka.
"Kita masuk!"
"Terima kasih," ucap Sabrina meninggalkan Imran yang masih mematung di depan pintu.
Bu Yumna hanya tersenyum melihat kecemburuan Mahesa, wanita paruh baya itu semakin yakin dengan cinta dan ketulusan putra dari Pak Yudi, sahabat sekaligus donatur yang masih aktif memberikan bantuan untuk panti.
Sabrina meletakkan pemberian Imran dimeja makan. Melewati anak-anak yang sedang asyik dengan tugas masing masing. Lalu mengikuti suaminya masuk kamar.
Tanpa bicara sepatah kata pun Mahesa membaringkan tubuhnya dan menatap langit langit kamarnya.
__ADS_1
"Mas, kamu cemburu?" tanya Sabrina.
Tak ada jawaban, Mahesa memilih untuk memalingkan pandangannya ke arah lain.
Sabrina memutar bola matanya dan meraih ponselnya yang kebetulan berdering.
"Halo, Mas, kamu ngapain telepon aku, bukankah tadi dari sini?"
Dengan senyum liciknya Sabrina melirik ke arah Mahesa yang mulai jengkel.
Mahesa mengernyitkan dahinya sedikit pun tak ingin menoleh ke arah Sabrina yang ada di belakangnya.
"Kangen, aku juga, satu tahun tidak bertemu kamu makin ganteng," imbuhnya.
Wajah Mahesa berapi api, ucapan Sabrina benar-benar menyulut emosinya.
Terdengar gelak tawa dari bibir Sabrina.
"Kalau begitu sebentar ya, aku pakai make up dulu."
Sabrina mematikan teleponnya lalu melepas hijabnya, dengan perlahan wanita itu menyisir rambut panjang lalu memakai lipstik.
"Mas, aku cantik nggak?" tanya Sabrina.
"Hemmm" jawab Mahesa malas.
Sabrina memutar tubuhnya di depan Mahesa. memamerkan keanggunan tubuhnya yang tak pernah di lihat laki-laki manapun karena bajunya yang longgar.
"Kamu marah?" tanya Sabrina.
"Nggak!" Masih dengan nada datar.
Sabrina memutari ranjang lalu meraih tangan Mahesa dan duduk di pangkuannya. Menangkup kedua pipi suaminya dan menatap matanya dengan lekat.
"Jangan marah, aku takut," ucap Sabrina.
"Siapa tadi?" tanya Mahesa antusias.
"Arum," jawab Sabrina. Sedikitpun tak merasa bersalah sudah membuat Mahesa jengkel.
Mahesa menarik sudut bibirnya hingga berbentuk senyum.
"Aku tidak marah, aku hanya kesal sama Kamran."
Sabrina tertawa lepas saat mendengar ucapan suaminya.
"Bukan Kamran, tapi Imran."
"Entahlah, jangan sebut nama dia di depanku."
Cup
Sebuah kecupan mendarat di bibir Mahesa, Sabrina mulai memberanikan diri untuk merayu suaminya, bagaimanapun juga sudah kewajibannya membuat suaminya nyaman saat di sisinya. Apalagi Mahesa sering marah tak jelas semenjak tinggal di panti.
"Jangan mancing! Ada yang memberontak," ucap Mahesa dengan suara parau.
__ADS_1
Sabrina tak menggubrisnya, wanita itu malah bergelayut manja yang membuat Mahesa tak betah jika harus berdiam diri.
"Mas," pekik Sabrina saat suaminya membawanya di atas kasur. Mengunci kedua tangannya hingga tak bisa bergerak.
"Berani berbuat harus berani bertanggung jawab," bisik Mahesa.
Tanpa aba aba Mahesa menyambar bibir Sabrina tanpa ampun, apalagi Sabrina sangat ikhlas dengan perlakuan suaminya.
Cemburu berakhir dengan sebuah kenikmatan diatas ranjang, dan sepertinya Devan memang sangat mendukung hari bahagia kedua orangnya tuanya, pasalnya bayi itu sangat anteng bersama mbak Inul, memberi ruang untuk Bunda dan ayahnya di kamar.
Mahesa mencium wajah Sabrina yang masih nampak bersemu malu.
Aku akan katakan semuanya sekarang, dan mudah mudahan Sabrina menerimanya.
Mahesa menarik selimut hingga menutupi tubuh Sabrina lalu memeluknya.
"Sayang, aku mau bicara," ucap Mahesa serius.
Sabrina memiringkan tubuhnya hingga keduanya bersitatap.
"Apa, Mas? Kelihatannya penting,'' ucap Sabrina penasaran.
Mahesa menghela napas panjang lalu merapikan anak rambut yang menutupi kening Sabrina.
"Sebenarnya,___ ucapan Mahesa mengambang saat sebuah ketukan pintu menggema.
Sabrina panik dan menarik selimutnya lalu berlari ke kamar mandi, sedangkan Mahesa memakai bajunya dan merapikan ranjangnya.
"Untung sudah selesai," gumamnya.
Mahesa membuka pintu kamarnya, betapa terkejutnya saat melihat siapa yang datang.
"Ibu!" sapanya gugup.
Ternyata Bu Yumna yang datang.
"Maaf ya Hes, ibu mengganggu, ini Devan kayaknya haus."
Bayi yang ada di gendongan Bu Yumna menjulurkan lidahnya dengan kedua tangan yang terus bergerak.
Mahesa mengambil alih bayinya dan membawanya masuk.
Mahesa tak henti hentinya mencium pipi bayinya dengan lembut, mencurahkan kasih sayangnya yang mendalam.
"Sayang, Devan haus, cepetan!" teriak Mahesa di depan kamar mandi.
Selang beberapa menit, Sabrina keluar dengan memakai jubah mandi, dengan rambut yang masih basah wanita itu menggendong Devan dan membawanya ke arah sofa.
Sedangkan Mahesa Mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut istrinya.
"Mas, tadi kamu mau bicara apa?" tanya Sabrina, mengingatkan apa yang belum sempat Mahesa katakan.
"Nanti saja setelah kita sampai rumah," ucap Mahesa.
Mau sampai kapan aku dihantui rasa takut seperti ini, jika dulu aku menginginkannya untuk pergi dari hidupku, tapi sekarang tidak, doaku hanya satu, semoga kita berjodoh di dunia dan akhirat, dan sebesar apapun masalah, kita bisa melewatinya bersama.
__ADS_1