
Sabrina duduk di sofa sembari menatap nanar ke arah bangkai baju dinasnya. Dia dibuat sedemikian rupa, sebagus mungkin dengan kain yang sangat mahal dan bentuk yang sangat bervariasi, namun ujung ujungnya hanya menjadi bahan rumbengan. Entah sudah berapa puluh baju yang bernasib tragis dan berpindah tempat di dalam kardus besar, seakan ia ingin memungut dan menjahitnya kembali, tapi itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan, karena Mahesa sudah menyiapkannya yang lebih banyak lagi sehingga memenuhi lemarinya.
"Sayang ya Mas, harus terbuang sia sia."
Sabrina menjewer baju yang berwarna navy, masih teringat jelas bagaimana ganasnya Mahesa saat merobek baju itu hingga tak berbentuk.
Mahesa hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada laptopnya.
"Mau di apain lagi, biarin saja. Itu memang sudah nasib lingerie itu."
Sedikitpun Mahesa tak menyesal sudah memporak porandakan baju baju itu. Ia malah bangga, dengan begitu ia bisa menghitung berapa kali ia berolahraga dengan sang istri.
"Lain kali mas hati-hati! Jangan dirobek!" Itu sebuah peringatan, namun di dalamnya terselip sebuah peluang bagi Mahesa untuk terjun menjahili istrinya.
"Kenapa harus besok? Sekarang juga bisa."
Mahesa menutup laptopnya lalu mendekati Sabrina.
"Oh iya Mas. Bagaimana sidang perceraian Mas dan Camelia?" Sabrina mengalihkan pembicaraan, takut jika ucapan Mahesa akan berlanjut serius.
Mahesa mengambil surat resmi perceraiannya dengan Camelia. Menunjukan bukti bahwa saat ini Sabrina adalah satu-satunya yang ia miliki.
Sabrina membaca surat pernyataan itu lalu meletakkannya di meja, wajahnya sedikit suram saat menatap Mahesa.
"Lalu bagaimana dengan Camelia, Mas? Pasti dia sangat kecewa. Kasihan juga anaknya."
Mahesa membungkuk, kedua tangan nya memegang sandaran sofa tempat Sabrina duduk.
"Kapan kamu mikirin perasaanku. Setiap hari yang aku dengar, kamu terus mikirin perasaan orang lain," cecar Mahesa.
"Mas kan laki laki, sedangkan aku perempuan, sama seperti Camelia, jadi aku tahu rasanya disakiti."
"Stop… "
Mahesa mengangkat tangannya, wajahnya yang lembut berubah pias, harus bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Sabrina.
"Sekarang dengarkan! Aku nggak suka kamu lebih mementingkan orang lain daripada keluarga kita. Dan aku nggak suka kalau kamu terus memikirkan Camelia. Aku membencimu karena dia. Dan aku menelantarkan kamu dan Devan karena ulah dia. Apalagi yang kamu kasihani." ucap Mahesa dengan tegas. Bahkan Mahesa meninggikan suaranya berharap Sabrina paham dengan ucapannya. Setelah mengucapkan itu Mahesa keluar dari kamarnya. Memberi waktu Sabrina untuk berfikir.
Sabrina terkejut saat Mahesa membentaknya, jika di awal menikah ia sudah terbiasa dengan suara keras itu, kini bentakan Mahesa bagaikan hantaman batu keras yang menghempaskan tubuhnya. Seketika tubuh Sabrina lemas, pandangannya buram, kamar yang tadinya terang itu menjadi gelap, hingga Sabrina terhuyung dan jatuh di bawah.
Diruang makan, Mahesa terus menatap pintu kamar yang tertutup rapat, itu jam makan siang, dan biasanya Sabrina yang mengawalinya, namun sudah beberapa menit ia keluar Sabrina tak menyusul juga.
__ADS_1
"Apa dia marah karena aku terlalu kasar. Astagfirullah, harusnya aku lebih sabar menghadapi sikapnya. Bukankah dia memang seperti itu, hanya peduli dengan orang lain, dan tidak memikirkan kebahagiaannya sendiri." Mahesa menjambak rambutnya lalu berdiri. Ia seperti tak sadar saat mengucapkan itu semua.
Sebelum membuka pintu kamar, Mahesa menyelaraskan hati dan pikirannya menahan amarah yang masih bersemayam di dalam dada.
"Sayang, buka pintunya!" seru Mahesa seraya mengetuk pintu.
"Sayang, ayolah buka pintunya! Aku minta maaf," teriak Mahesa.
Mahesa mengetuk pintunya untuk yang kedua kali. Setelah tak ada jawaban, akhirnya Mahesa membuka pintunya.
"Sa,__ ucapan Mahesa berhenti saat melihat Sabrina tergeletak di bawah.
Dengan sigap Mahesa menghampiri Sabrina.
Hati Mahesa terasa berdenyut, tangannya gemetar saat menyentuh tangan Sabrina.
"Sayang, bangun!" Mahesa menepuk pipi Sabrina lalu mengangkat tubuhnya membawanya ke ranjang.
Meskipun panik, Mahesa masih mencoba berpikir jernih. Ia meraih ponselnya dan menghubungi dokter Ridwan.
Setelah mengatakan apa yang terjadi Mahesa menjatuhkan ponselnya lalu memeluk tubuh Sabrina. Pikirannya kembali buntu saat menatap wajah sendu istrinya.
Setelah beberapa menit, Sabrina membuka mata, pertama kali yang ia lihat adalah Mahesa yang masih setia di sampingnya.
"Mas," ucap Sabrina lirih.
Perlahan Mahesa terbangun. "Kamu sudah sadar?" tanya Mahesa antusias.
Mahesa meraup kepala Sabrina dan membawanya ke pangkuan. Mencium setiap jengkal wajah istrinya dengan lembut.
"Aku minta maaf, tadi aku nggak sengaja bentak kamu."
Sabrina tersenyum, jika mengingat tadi Sabrina masih merasakan nyeri, tapi jika melihat penyesalan suaminya, Sabrina tak tega jika harus terus menerus marah. Lagipula bukan salah Mahesa sepenuhnya.
"Nggak papa, tapi aku takut, jangan marah lagi."
Sabrina duduk dengan bantuan Mahesa.
Mahesa memeluk tubuh Sabrina. "Aku tidak akan marah lagi, asalkan jangan pancing emosiku. Mulai sekarang belajarlah untuk memikirkan diri sendiri, bukan orang yang pernah menghancurkan hidup kita."
Sabrina mengangguk tanpa suara.
__ADS_1
"Mas, Arum hamil, aku ingin main ke rumahnya. Mas Randu tokcer juga ya."
Mahesa membulatkan matanya, tak menyangka jika Randu mengikuti jejaknya. Meski begitu Mahesa tak mau terkalahkan. Ia masih tetap menyombongkan diri.
"Mereka menikah sudah sebulan lebih, itu artinya mereka sudah melakukannya beberapa kali, sedangkan aku, satu kali pun jadi, tampan pula, dan aku yakin nanti Devan akan menjadi idola di manapun berada, seperti ayahnya."
Sabrina mencubit perut Mahesa hingga sang empu meringis. Sabrina tak pernah bermimpi mempunyai suami seperti Mahesa, namun kehendak Allah jauh berbeda. Ternyata pria yang ada di sisinya itu yang menjadi imamnya.
"Kira kira anak kita perempuan atau laki laki ya?" Mahesa mengelus perut Sabrina yang mulai membuncit.
"Sepertinya perempuan sih, Mas."
"Kok kamu tahu?" tanya Mahesa.
"Mas ngerasa aku lebih cantik nggak?"
Mahesa menatap wajah sabrina dari samping kanan lalu beralih dari arah kiri, kemudian dari depan dan yang terakhir menggigit hidungnya.
"Apa hubungannya?"
"Kata orang jawa, jika anak yang dikandung itu perempuan, ibu hamil akan terlihat lebih cantik, tapi kalau yang dikandung itu laki laki, ibu hamil itu terlihat kurus dan jelek."
Mahesa tertawa lepas, sekian lama baru kali ini ia mendengar alasan konyol istrinya.
"Tapi waktu kamu hamil Devan tetap cantik kok. Aku saja yang terlalu naif, dan aku yang terlalu bodoh nggak bisa bedain mana yang baik dan mana yang buruk."
Disaat keduanya diam, pintu diketuk dari luar. Mahesa turun dari ranjang dan membukanya, ternyata Dokter Ridwan yang datang.
"Siapa yang sakit, Mas?" tanya Dokter Ridwan dengan ramah.
"Istri saya, silahkan masuk!" Menunjuk Sabrina yang duduk diatas ranjang.
"Tapi sudah sembuh, Dok. Sekarang silahkan suntik Mas Mahesa."
Mendengar kata suntik, wajah Mahesa seketika pucat pasi, ia memilih berlari ke kamar mandi daripada Dokter Ridwan menanggapi istrinya dengan serius.
Sabrina dan Dokter Ridwan hanya bergelak tawa saat mendengar teriakan Mahesa yang mengusir sang Dokter dari balik pintu.
ini punya Kak Mizzly, kepoin juga yuk!
__ADS_1