Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Melewati masa kritis


__ADS_3

"Lebih baik kau membenciku seumur hidup daripada meninggalkanku. Bertahanlah demi Devan yang masih membutuhkanmu," bisik Mahesa, melepas brankar yang dari tadi didorongnya itu memasuki ruang ICU. Tangannya bergetar saat melepas jemari Sabrina. 


Tubuh atletis yang begitu mempesona masih ia pamerkan di depan para suster yang melintas. Terpaan dinginnya angin pergantian hari tak dihiraukan. Yang ada dalam hatinya hanya bisa berandai andai dengan apa yang sudah terjadi. Impiannya lebur, tujuannya hidupnya musnah bersamaan dengan tamparan yang menerpa. 


Tidak, Mahesa masih tak percaya dengan tubuhnya yang berbau amis, noda merah yang tertinggal mulai mengering menghiasi setiap pori porinya. 


Kejadian tadi seakan adalah sebuah hantaman batu keras,  tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah. Dengan bersandar tembok Mahesa duduk menekuk kedua lutut dan merangkulnya lalu, membenamkan wajahnya.


"Maafkan aku," berulang kali kata itu yang diucapkan. 


'Mas,  kalau nanti aku melahirkan aku ingin kamu menemaniku.' Suara itu masih terngiang jelas di telinganya. Keinginan yang mutlak,  bahkan saat melahirkan Devan ia pun sengaja tak hadir dengan berbagai kilah.


Saat ini bukan Mahesa yang punya jabatan nomor satu di kantor. Bukan Mahesa yang selalu angkuh dengan profesi yang disandangnya, namun Mahesa, seorang suami yang sedang berduka dengan musibah yang melanda istrinya.


Mereka yang berhalu lalang juga berduka dengan saudara kerabatnya yang terkapar, namun Mahesa merasa dirinya yang paling berduka di seluruh dunia.


"Mas," Suara yang familiar pun tak mampu membuatnya terkejut, Mahesa masih dalam posisinya, otaknya tak bisa beroperasi selain memikirkan istrinya yang kini berjuang melawan maut. Yang ingin ia dengarkan hanyalah pintu terbuka dan senyuman dari dokter yang mengatakan, Sabrina baik baik saja.


"Lebih baik mas mandi dulu, dan Sholat!" 


Sekian lama bersama, pertama kalinya Randu memerintahnya. 


Suara Adzan memang sudah menggema, namun Mahesa masih bergeming, bergelut dengan otaknya.


Randu meletakkan paper bag yang dibawanya lalu mendongakkan kepala Mahesa. Menatap wajahnya yang membeku tanpa haluan. 


"Mas, masih ada Devan yang membutuhkan kasih sayang, jangan seperti ini. Bunda Devan adalah yang perempuan yang sangat kuat, pasti ia bisa melewati ini semua," ucap Randu meyakinkan. 


Mahesa menggerakkan tangannya, meraih tangan Randu.


"Dimana putraku?" Masih dengan bibir yang bergetar hebat. 


"Di rumah, lebih baik mas Sholat dulu biar aku yang jaga disini."


Mahesa mengusap air matanya dan terhenyak dari duduknya, menyeret kakinya yang terasa berat saat meninggalkan tempat itu. 


Randu mendekati pintu dan mengintip di balik kaca kecil, nampak seorang Dokter dan suster berkerumun memutari tubuh Sabrina yang tergolek di atas ranjang.


Ya Allah, semoga mbak Sabrina baik-baik saja. 

__ADS_1


Suara tangis  menggema, tanpa Randu sadari Bu Risma dan pak Yudi sudah berada di belakangnya, entah dari kapan datangnya Randu ikut terbawa suasana yang sangat memilukan. 


Wajah sepasang suami istri itu tak kalah kacau. Bu Risma yang ada di pelukan Pak Yudi menangis sesenggukan.


"Bagaimana keadaan Sabrina?" 


Pak Yudi terus mengelus bahu Bu Risma berharap bisa tenang. Sabrina adalah Menantu yang pernah ia benci, namun berjalannya waktu mampu meluluhkan hatinya.


Randu hanya menggeleng tanpa suara. Ia pun sangat terkejut saat mendapat kabar dari Bi Mimi. Bahkan ia belum sempat masuk ke gerbang dan akhirnya kembali membanting setir. 


Diruangan persegi empat yang begitu teduh, disana Mahesa meluapkan keluh kesahnya berharap apa yang di inginkan itu akan terkabul. Pancaran lampu mulai menerangi setiap sudut rumah sakit, namun hatinya masih saja terasa gelap karena mentarinya sedang redup. 


Mahesa kembali ke tempat semula dengan membawa hatinya yang sedikit tenang, apalagi Mahesa mengingat bayinya yang kini membutuhkan dirinya. 


Baru saja kakinya tiba di dekat Bu Risma, pintu ruangan terbuka. 


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"  tanya Mahesa antusias. 


Dokter yang ada di hadapannya melepas sarung tangan dan menghela nafas panjang. 


"Lebih baik Mas ikut saya."  


Wajahnya tak berekspresi saat membuka sebuah map besar. Mahesa semakin penasaran dengan kabar yang dibawa sang dokter. 


"Saya tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi yang Maha Kuasa berkata lain, janin yang ada di kandungan Mbak Sabrina tidak bisa diselamatkan."


Mahesa termangu, satu fakta membuat uratnya kaku, sebagai seorang suami dan ayah ia merasa gagal dalam perannya.


"Lalu?" Mahesa semakin tegang. 


"Mbak Sabrina sudah melewati masa kritis."


Ucapan Hamdalah melantun dalam hati Mahesa. Meskipun bayinya tidak selamat,  setidaknya Sabrina masih bisa dipertahankan. 


"Ada luka di bagian otaknya, dan itu mungkin akibat benturan yang terlalu keras, kita hanya tinggal menunggu mbak Sabrina sadar."


Ya Allah, suami macam apa aku ini, hanya melindungi istriku saja tidak bisa.


Mahesa semakin merasa bersalah,  dalam riwayat hidupnya ini pertama kalinya ia dihadapkan dengan kenyataan yang menguras emosi batin. 

__ADS_1


"Apa saya boleh melihatnya?"


"Silahkan! Tapi hanya satu orang, keadaan Mbak Sabrina masih belum stabil untuk dijenguk." 


Dengan kaki yang lentur Mahesa memakai baju khusus sebelum masuk ke ruangan di mana Sabrina dirawat. 


"Ma, doakan Sabrina," pinta Mahesa dengan mencium kedua tangan orang tuanya. 


"Doa terbaik untuk kalian," jawab Bu Risma mencium kening Mahesa di depan Randu. 


Setelah Mahesa menutup pintu ruangan, Arum dan Sesil tiba, dengan napas yang ngos-ngosan gadis itu memeluk Bu Risma dengan erat.


Dengan mengumpulkan segala keberanian dari seluruh penjuru, Arum mendekati Randu yang berada sedikit menjauh.


"Maaf pak, bagaimana keadaan Sabrina?'' tanya Arum sedikit ragu.


Randu menggeleng dan melipat kedua tangannya. "Selama mbak Sabrina di rumah sakit, jaga Devan dengan baik!" titahnya.


Memori di awal pertemuan hingga pernikahan, menjalin sebuah hubungan tanpa ikatan cinta, sering marah yang tak ada sebab, mencemooh karena kehamilannya itu kembali memenuhi benak Mahesa kala menatap wajah sendu istrinya. 


Dengan perlahan Mahesa meraih tangan Sabrina lalu menempelkannya di pipi. 


"Aku tahu aku salah," Air matanya lagi lagi mengiringi ucapannya. "Maafkan aku, beri kesempatan aku sekali lagi untuk menjadi suamimu,  jika kau membenciku karena malam itu. Aku pun benci dengan diriku sendiri, kita tak sepadan, tapi aku ingin kamu melengkapi hidupku." 


Mahesa mengelus pipi Sabrina, jantungnya terasa berdegup nyeri,  seolah olah ia ikut merasakan sakit yang menimpa istrinya. 


"Bangunlah, Sayang!  Aku dan Devan menunggumu,  jangan terlalu larut dalam mimpi, aku akan mewujudkan semua keinginanmu dalam dunia nyata."


 


Sebuah kecupan mendarat di kening Sabrina begitu lama. 


Disaat Mahesa mengendurkan tangannya, tiba-tiba saja ia melihat buliran bening mengalir dari sudut mata Sabrina yang membasahi pelipisnya.


Mahesa tersenyum dan mengusapnya dengan lembut. 


Itu artinya dia mendengarkan ucapanku, ucap Mahesa dalam hati. 


Mahesa tersenyum renyah, dadanya yang dari tadi bergemuruh sedikit tenang.

__ADS_1


"Aku akan berada disini sampai kamu membuka mata, dan aku ingin menjadi orang yang pertama kali kau lihat disaat itu," bisiknya. 


__ADS_2