
Randu panik, hampir setengah jam ia harus memaki setiap kendaraan yang menghalangi jalan mobilnya. Sesekali Randu memukul setir dan memencet klakson tanpa aturan.
"Sial," umpat Randu. Andaikan bisa, ia pun ingin terbang, namun itu hanya khayalan, dan sabar menjadi kunci utama Randu untuk tetap fokus dengan keselamatannya.
Setelah jalanan sedikit renggang, Randu kembali melajukan mobilnya dengan kencang untuk segera sampai rumah.
Baru saja ia mendapat telepon dari Sabrina jika badan Raisya demam, namun bukan itu yang menjadi kendala, kata Sabrina, Raisya terus memanggil bundanya. Meskipun Sabrina dan Sesil sudah menemaninya, Raisya masih saja tetap mengigau.
Sesampainya di halaman rumah Mahesa, Randu segera turun dan berlari masuk rumah, melepas jas yang dipakainya lalu mencuci tangan.
Pikirannya semrawut. Randu masih trauma dengan kejadian yang menimpa Arum, dan rasanya jika ada yang sakit itu menjadi petaka bagi dirinya.
"Bagaimana keadaan Raisya, Mbak?" Randu langsung naik ke atas ranjang memegang kening putrinya yang sedang tidur.
"Alhamdulillah, sudah mendingan. Tadi dokter Agung sudah memeriksanya."
Randu bernafas dengan lega, ia ikut berbaring disamping Raisya dan memeluknya dari samping.
"Maafkan ayah sudah meninggalkan kamu, Nak." Randu mencium kening Raisya yang masih terasa hangat. Ia menyesal sudah pergi, padahal tadi pagi Raisya sudah melarangnya.
Gadis cilik itu membuka matanya dengan pelan lalu mengedarkan pandangannya ke arah Randu.
"Ayah sudah pulang," sapa Raisya mengelus rahang kokoh Randu yang ditempelkan di pundaknya.
Randu mengulas senyum dan kembali mencium pipi Raisya, tanda menyalurkan kasih sayangnya.
Sabrina dan Sesil keluar, membiarkan Randu berdua dengan putrinya, dengan begitu Randu bisa leluasa untuk berbincang.
Tak hanya Randu, Mahesa yang baru saja tiba juga langsung masuk ke kamar Raisya.
"Ayah," Raisya bangun dan merangkak menuju tepi ranjang.
Mahesa menggendong Raisya dan membawanya keluar, sedangkan Randu membersihkan dirinya sebelum menyusul.
"Raisya kenapa, Sayang?" tanya Mahesa membawa Raisya menghampiri Syakilla dan Devan serta Alfan.
"Ayah, aku ingin main ke rumah Alvino," ucap Raisya melas, menyandarkan kepalanya di dada bidang Mahesa.
"O...jadi Raisya sakit karena kangen sama Alvino?" goda Mahesa.
Devan hanya cekikikan melihat ayahnya, ntah darimana kemiripannya, jika dilihat Devan adalah warisan Mahesa sepenuhnya dan sedikit pun tak membawa sosok sang Bunda.
Devan menjulurkan lidahnya, sedikitpun tak merasa kasihan pada Raisya yang tampak pucat.
"Kalau mainnya sama kak Devan nggak mau?"
Raisya menggeleng.
__ADS_1
Sabrina datang membawakan bubur dan obat, tanpa bantuan Mahesa, ia tak akan bisa melayani Raisya yang teriak-teriak dan membuang obatnya.
"Nanti ayah ajak Raisya ke rumah Alvino, tapi sekarang Raisya minum obat dulu."
Dengan telaten Mahesa menyuapi Raisya. Sabrina tersenyum, ternyata dengan berjalannya waktu Mahesa tak hanya pintar dalam urusan pekerjaan kantor, namun juga lihai mengurus anak anak di rumah. Jika seperti ini tak mungkin ada wanita yang menolak dirinya, namun semua sudah terlanjur. Mahesa menjadi milik Sabrina sepenuhnya.
Randu keluar dari kamar mendekati Sabrina.
"Maaf ya Mbak, merepotkan."
"Nggak apa apa."
Meskipun berulang kali Sabrina mengatakan itu, Randu masih tetap merasa jika kehadiran nya dan anak anaknya menjadi beban Sabrina. Selain sudah sibuk mengurus anak kandungnya, Sabrina juga harus merawat kedua anaknya.
"Ndu, kata Raisya dia mau main sama Alvino. Kenapa kamu nggak ajak kesana saja?"
Kebetulan sekali Randu tadi meminta nomor telepon Aya, dan itu memudahkannya untuk menghubungi sahabatnya.
Randu menghubungi Aya, setelah panjang lebar berbicara lewat telepon tentang permintaan Raisya, akhirnya Aya memberikan alamat rumahnya, karena saat ini Alvino pun ada di sana bersama mamanya.
"Mas, aku sudah tahu alamat Aya." Randu memasukkan ponsel dan mengambil alih Raisya yang ada di gendongan Mahesa.
"Mau berangkat sama siapa?" tanya Mahesa menunjuk Sabrina dan Sesil bergantian.
"Sendiri saja, kasihan mbak Sabrina seharian sudah merawat Raisya, pasti capek."
Sabrina tersenyum sembari mencubit pinggang Mahesa. "Ada ada saja."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pasti ini alamatnya." Randu merogoh ponselnya kembali memastikan alamat yang dikirim Aya lewat pesan chat. Dan benar, sebuah rumah sederhana ber cat putih itu menjadi tempat tujuannya.
Randu memarkirkan mobilnya di halaman yang cukup luas, matanya terus menyusuri setiap bangunan yang berdiri di depannya.
Suasana rumah sangat sepi, ada dua motor matic yang terparkir di teras rumahnya.
Randu menghubungi Aya kembali untuk memastikannya lagi.
Selang beberapa menit, Aya keluar dengan benda pipih yang masih menempel di telinganya.
Nampak Aya melambaikan tangan ke arahnya, Randu menggendong Raisya dan melangkahkan kakinya menghampiri Aya.
"Assalamualaikum…." sapa Randu.
"Waalaikumsalam, selamat datang di rumah Onty." Membuka pintu dengan lebar, mempersilahkan Randu dan Raisya masuk.
Cici membelalakkan matanya saat melihat orang yang tempo hari ia lihat di taman. Dan hal yang paling mengejutkan ternyata pria itu mengenal Aya, sahabat yang diceritakannya.
__ADS_1
Raisya merosot turun dari dekapan Randu menarik tangan Aya lalu memeluknya dengan erat.
"Maafkan Raisya ya, Ay."
Aya membiarkan Raisya untuk tetap memeluknya.
Cici yang baru saja keluar menyuguhkan minuman di meja, sedangkan Alvino sibuk dengan mainannya di ruang tengah.
"Katanya mau main sama Alvino. Onty temani ya?" Aya mengantarkan Raisya menghampiri Alvino.
Randu duduk matanya terus tertuju pada putrinya yang mulai tersenyum renyah saat Aya mengajaknya main.
"Suami kamu belum pulang?" tanya Randu.
Aya tersenyum getir, haruskah ia menceritakan kembali fakta yang yang menyakitkan itu, ataukah dia diam menerima entah kapan drama itu akan usai.
"Dia nggak pernah pulang, sudah beberapa bulan ia tinggal di rumah pacar gelapnya," sahut Cici dari dapur.
"Maaf ya, kalau pertanyaanku menyinggungmu."
"Nggak apa apa, mungkin sudah saatnya semua terbuka, dan aku sudah memutuskan untuk melepas dia jika memilih wanita lain daripada aku."
"Onty aku haus," rengek Raisya.
Aya beranjak dari duduknya menuju dapur.
"Ndu, kenapa Arum nggak di ajak, tenang saja, aku nggak akan nampar dia lagi kok," teriak Aya dari arah dapur.
Randu menoleh menatap putrinya dari jauh.
"Ndu, kenapa kamu nggak jawab? Kamu masih marah dengan kejadian waktu itu?"
Randu menggeleng.
"Arum sudah meninggal," jawab Randu singkat, padat, dan jelas.
Pyaaarrr
Gelas yang ada di tangan Aya terjatuh, tiba tiba saja tubuhnya terasa kaku dan tak sanggup melangkahkan kakinya.
"Kamu nggak bercanda kan, Ndu?" tanya Aya gemetar.
Randu menceritakan apa yang terjadi dengan istrinya. Meskipun perih itulah kenyataan, dan Randu tak mungkin menutupi terus menerus.
"Doakan Arum semoga mendapat tempat yang indah di sisi Allah."
Aku bukan perempuan sholehah seperti Arum, tapi aku akan tetap berdoa untuk dia, semoga Allah menjadikannya perempuan yang sederajat dengan wanita sholehah lainnya.
__ADS_1