
Setelah seminggu berlalu, akhirnya penantian Sabrina berada di puncak. Hari ini Mahesa mendapat telepon dari rumah sakit untuk mengambil hasil tes yang dilakukan seminggu yang lalu. Di samping kebahagiaan Sabrina, Aya pun ikut senang, penyakit yang dideritanya lumayan membaik, hanya saja masih harus menjaga pola makan yang benar. Pengorbanan Randu tak sia sia, dengan gigihnya ia selalu mengingatkan Aya untuk menjaga kesehatan, dan akhirnya dorongan darinya dan Mahesa berhasil melunakkan kerasnya hati wanita itu.
"Apapun hasilnya, kamu harus menerima dengan lapang." Mahesa menggenggam tangan Sabrina, diikuti Aya dari belakang berjejer dengan Randu dan Aida.
Sabrina mengangguk diiringi dengan senyum manis, meskipun harapannya positif, namun Sabrina tak boleh egois jika hasilnya tak sesuai ekspektasi nya.
Tiba di depan ruangan Dokter Ridwan, Sabrina menghentikan langkahnya, memegang dadanya yang terus berdebar-debar antara senang dan penasaran dengan hasilnya.
Sabrina membalikkan tubuhnya menatap Aida yang ada di samping Randu.
"Jika hasilnya positif, itu artinya kita adalah saudara kandung, karena aku sudah menikah dan punya anak, kamu harus memanggilku kakak," pinta Sabrina.
Aida hanya menganggukkan kepalanya, ia masih sangat canggung berada di antara keluarga Sabrina. Apalagi sepertinya Mahesa tak terlalu menghiraukan kehadirannya membuat Aida semakin menciut saja.
Aya dan Randu menunggu di luar, sedangkan Mahesa menemani Sabrina dan Aida di dalam.
"Silahkan duduk!" Dokter Ridwan mengambil amplop yang disimpannya dengan rapi, karena jika sampai salah atau hilang, pekerjaan dan nasib keluarganya yang menjadi taruhannya.
Sabrina menatap amplop putih yang ada di tangan Dokter Ridwan, rasa hatinya makin tak karuan, ia terus berharap jika Aida adalah saudaranya. Dengan begitu ia bisa berkumpul kembali dengan saudara kandungnya.
"Silahkan dibuka!" Dokter Ridwan menyerahkan amplop itu pada Mahesa. Setelah menerimanya, Mahesa menyodorkannya di depan Sabrina, karena menurutnya istrinya lah orang yang pertama kali berhak melihat isinya.
Sabrina menghela nafas panjang. Menyiapkan hatinya yang masih ketar-ketir dengan isinya.
Bismillahirrohmanirrohim, ucap Sabrina dalam hati.
Dengan percaya diri Sabrina merobek ujung amplop itu dan merogoh lipatan kertas yang ada di dalamnya.
Sebelum membacanya, Sabrina menolah lagi ke arah Mahesa sejenak.
Dengan perlahan Sabrina membuka lipatan itu dan membacanya dari atas.
Mahesa mencondongkan kepalanya, ia ikut membaca, meskipun sedikit-sedikit Mahesa lebih fokus dengan tulisan yang terpampang besar di bawah.
"Alhamdulillah," seru Sabrina, ia menyerahkan surat itu kepada Aida lalu memeluk Mahesa. Sebenarnya yang ingin di peluk saat ini adalah gadis yang ada di sampingnya, akan tetapi Sabrina ingat pesan dari Mahesa untuk menjadikan nya sebagai yang utama dikala senang maupun susah.
__ADS_1
"Aku tetap nomor satu, kan?" tanya Mahesa berbisik.
Sabrina mengendurkan pelukannya dan mendongak menatap wajah Mahesa. Tak mungkin ia melanggar janji yang sudah di ucapkan beberapa jam yang lalu, bahwa siapapun yang akan hadir dalam hidupnya, Mahesa lah yang terdepan.
"Tidak akan ada yang menggeser posisi, Mas. Meskipun Aida saudara kandungku, Mas tetap yang nomor satu."
Ternyata hasilnya positif, lampiran itu sudah cukup menjadi bukti jika Sabrina dan Aida adalah saudara kembar yang terpisah sejak masih bayi.
Sabrina melebarkan pucuk jilbabnya hingga menutupi wajahnya dan wajah Mahesa dari samping. Sebuah ciuman mendarat di pipi Mahesa sebagai tanda terima kasih atas apa yang dilakukan suaminya selama ini.
Meskipun Dokter Ridwan tak melihat secara langsung, ia sudah memprediksi dengan apa yang dilakukan Sabrina saat ini.
Sabrina menoleh beralih menatap Aida yang sudah menerbitkan senyum.
"Ternyata kita saudara kandung, aku adalah kakakmu, dan mulai sekarang kamu jangan sungkan-sungkan padaku."
Sabrina memeluk Aida dan mengelus punggungnya. Sedangkan Mahesa memilih memalingkan wajahnya saat Aida menatap wajahnya dari samping.
Sabrina dan Mahesa serta Aida keluar dari ruangan dokter Ridwan, selain urusannya sudah selesai, Mahesa masih ada pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan hari itu juga.
''Selamat untuk kalian." Aya mengulurkan tangannya ke arah Aida lalu beralih memeluk Sabrina.
"Ay, hari ini kamu ikut ke rumah ya, bantu jaga anak-anak!"
"Aku juga bisa bantu Kakak untuk menjaga mereka, dan kak Mahesa jangan ragu untuk menyuruhku," sahut Aida.
Terpaksa Aya menutup mulutnya kembali yang hampir membuka suara. Ia hanya mengangkat kedua jempolnya tanda setuju.
Suasana hening sejenak, Mahesa menatap Randu, sedangkan Sabrina menatap Aya yang tersenyum tipis.
"Nggak apa apa, kita jaga sama sama, lagian biar Mbak Aya nggak kesepian di rumah."
Baru beberapa menit dinobatkan sebagai saudara iparnya, Mahesa sudah menangkap sesuatu yang aneh pada Aida, namun ia tak mau berburuk sangka, takut menimbulkan masalah dan ujung ujungnya ia dan Sabrina yang harus berdebat.
Suasana rumah semakin ramai, kehadiran Aya menambah kehebohan anak anak, entah kali ini bukan cuma Raisya dan Syakilla, tapi Devan ikut bergelayut manja di pangkuan Aya. Sepertinya Aya akan menjadi sahabat baru Devan setelah Ayah Randu.
__ADS_1
"Kak, biasanya mas Mahesa pulangnya jam berapa?" tanya Aida dengan polos.
"Jam empat sore, tapi kalau lembur bisa jam sembilan malam."
Keduanya duduk di ruang tengah sambil mengawasi kelucuan Aya bersama anak-anak. Sabrina menceritakan kehidupannya dari kecil, begitu juga dengan Aida, hingga keduanya saling bertanya tanya siapa ibu kandung mereka yang sebenarnya.
"Nanti biar aku tanya sama Ibu, mungkin Beliau tahu tentang siapa orang tua kandung kita."
Aida menatap beberapa gelang mewah yang melingkar di tangan Sabrina, lalu dua cincin berlian yang tersemat di jari manisnya.
"Kakak pasti bahagia menikah dengan Mas Mahesa, dia kaya, baik, juga perhatian?" tanya Aida.
Sabrina tersenyum renyah memegang kedua lengan Aida yang duduk disampingnya. "Kalau nggak bahagia pasti kakak sudah berpisah sama dia. Tapi kekayaan bukan kunci utama kakak berada di sisi nya, tapi keikhlasan, pengabdian dan kesabaran, sampai kakak bisa merebut cinta mas Mahesa."
Sabrina menjeda ucapannya sejenak, baginya Aida tak perlu tahu perjuangannya yang penuh dengan drama, dan cukup melihat kebahagiaannya saat ini.
"Kamu sendiri kenapa belum menikah, mau nungguin apa lagi? Kamu itu cantik, pintar, mandiri, aku yakin, banyak laki-laki terpesona sama kamu."
Aida tersenyum getir. Seharusnya memang seperti itu, tapi dewi keberuntungan tak berpihak padanya. Bahkan kebahagiaan seakan selalu menjauh darinya.
Banyak laki-laki yang menginginkanku, tapi di antara mereka tak ada yang seperti mas Mahesa.
''Mencari suami tidak seperti mencari jajanan di warung. Aku belum mendapatkan laki-laki yang masuk dalam kriteriaku."
Sabrina mengerutkan alisnya, menatap lekat Aida yang nampak serius. " Memangnya laki-laki seperti apa yang kamu cari?" tanya Sabrina.
"Seperti Mas Mahesa," jawab Aida.
Deg
Jantung Sabrina tiba-tiba saja berdetak dengan kencang mendengar ucapan Aida.
"Bercanda," imbuhnya, Aida menepuk punggung tangan Sabrina.
Akhirnya Sabrina bernafas dengan lega setelah mendapatkan penjelasan dari Aida yang terakhir.
__ADS_1