Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Bertemu lagi


__ADS_3

Masih di toko kue,  Raisya menjerit histeris, meskipun beberapa kali Sabrina dan Randu membujuknya, bocah itu tak mau pulang sebelum mendapatkan kue itu, matanya terus tertuju pada kue yang diidam idamkan. Banyak kue yang terpajang, namun hanya satu kue yang diinginkan Raisya. Yaitu kue yang bergambar spiderman seperti robot yang dimiliki Devan. 


Demi putri tercinta, akhirnya Randu kembali menemui pegawai toko  untuk bernegosiasi lagi. 


"Mbak, apa saya boleh bertemu dengan pemilik kue itu?" tanya Randu serius. Seperti Raisya, ia pun tak putus asa demi mendapatkan makanan itu. 


Seluruh pegawai saling pandang, dan salah satu dari mereka menghampiri Randu. Kejadian seperti itu sering mereka alami, namun kasus Raisya memang sangat menghebohkan bagi seluruh pengunjung.


"Sebelumnya kami meminta maaf, karena tidak bisa memenuhi pelanggan dengan baik, tapi saya akan mencoba menghubungi pemilik kue itu. Semoga saja dia mau berbaik hati."


"Baiklah!"


Randu terus mengelus punggung Raisya yang bergetar, menenangkannya untuk diam. 


Hampir lima belas menit, Randu mendengarkan pembicaraan pegawai itu dengan sang pemilik, namun sesekali tatapan pegawai itu nampak suram,  akhirnya Randu merebut benda pipih itu dan menempelkan di telinganya. 


"Mbak, aku mohon, demi putriku, aku akan bayar dua kali lipat, atau berapapun yang mbak mau."


Terdengar helaan nafas panjang dari seberang sana.


"Nggak bisa, Mas. Itu punya anakku, aku sudah berjanji akan memberikannya dari bulan lalu, dan di bulan ini baru terkabul."


Randu berdecak dan akhirnya memberikan ponselnya pada Sabrina. Ia malas jika harus berdebat dengan seorang wanita, apalagi yang tak dikenalnya. 


"Mbak, saya minta belas kasihnya, Mbak. Demi putri kami," ucap Sabrina mengiba. 


"Ya sudah, saya akan ke sana. Semoga anak saya  mau."


Setelah berbicara Sabrina mengembalikan ponsel pegawai itu.


"Kita tunggu saja, mudah mudahan dia baik hati mau memberikan kue itu untuk Raisya."


Mahesa menyusul ke dalam, di lihatnya Randu dan Sabrina duduk bersejajar di ruang tunggu. 


Sabrina beranjak menghampiri suaminya dan mengatakan apa yang terjadi. Melebihi Randu,  Mahesa memanggil semua pegawai toko itu, dan memarahinya satu persatu, ia meninggikan suaranya, bahkan  sempat mengancam pegawainya jika tak memberikan apa yang diinginkan Raisya akan meratakan toko tersebut.


Semua pegawai toko hanya menunduk, wajahnya menciut dan tak berani mengucap sepatah kata pun. 

__ADS_1


"Yang sabar, Mas." Sabrina menarik tangan Mahesa dan mendudukkannya. 


"Sensitif banget,  Mas Randu saja nggak segitunya saat marah, kamu kayak mau makan orang."


"Iya Mas, lagi pula, mereka hanya menjalankan tugas, Raisya yang terlalu rewel."


"Jangan bela mereka." Menunjuk satu persatu pegawai toko yang berjejer rapi. "Raisya hanya anak kecil yang tidak tahu apa apa. Yang ia tahu hanya mendapatkan yang diinginkan, itu saja."


Sabrina meminta maaf dan menyuruh semua pegawai untuk bubar. Baginya Mahesa  hanya emosi sesaat, dan hanya dirinya yang mampu meluluhkan pria itu. 


Sabrina mendengus, "Lebih Baik Mas kembali ke mobil,  biar aku dan mas Randu yang urus." 


"Lebih baik Mbak temani mas Mahesa saja,  kayaknya lagi PMS," goda Randu. 


Sabrina hanya tersenyum, setuju. 


Daripada terus ingin merobohkan toko itu, akhirnya Sabrina menemani Mahesa keluar dari ruangan dan masuk ke mobil lagi.


"Kapan kamu bisa menahan emosi?" tanya Sabrina. 


"Anak kita sudah hampir empat, tapi sikap kamu masih kekanak kanakan, suka mengancam orang lain. Menggunakan kekuasaan kamu seenaknya saja," imbuhnya. 


"Pak, kalau tahu seperti ini mendingan dia disunat seperti Devan." cetus Sabrina seraya melirik ke arah Mahesa. 


Pak Udin menahan tawa lalu menatap Mahesa dari kaca spion.


Beberapa hari yang lalu, Mahesa menjadi bahan ejekan saat  Devan di khitan. Anaknya yang berumur empat tahun saja dengan tenang saat Dokter menjalankan tugasnya, namun Mahesa yang sok saat putra pertamanya itu di suntik.


"Kalau di sunat nggak bisa bikin anak lagi dong."


"Kalau masalah itu saja langsung paham, tapi kalau disuruh sabar kapan pahamnya?" tukas Sabrina dengan nada ketus.


Kurang lebih lima belas menit, Randu terhenyak dari duduknya saat melihat seseorang yang sangat familiar di matanya itu masuk dari pintu utama,  sekian tahun  menghilang, penampilan wanita itu berubah total, meskipun tak berhijab, baju yang dikenakannya longgar dan panjang. Jauh lebih sopan dari terakhir kali mereka berpisah.


Itu kan Aya. 


Kini Randu fokus dengan bocah kecil yang ada di gendongannya. 

__ADS_1


"Itu pasti anaknya," terka Randu. 


Randu kembali memalingkan wajahnya menatap ke arah depan saat Aya dan pegawai toko itu menghampirinya. 


Sama seperti Randu, Aya pun terkejut saat melihat sosok yang pernah ia cintai. 


"Mas Randu," sapa Aya lebih dulu.


Randu menoleh menatap Aya yang masih mematung di ambang pintu. 


"Aya..."


Keduanya saling menyapa dan menanyakan kabar. Aya duduk di Depan Randu di seberang meja. Tak ubahnya seperti dulu, Aya selalu mencairkan suasana yang sempat canggung. 


"Kamu kemana saja, kenapa waktu nikah nggak ngundang?" tanya Randu. 


Aya tersenyum tipis, "Aku tinggal di rumah nenek,  dan maaf, aku memang nggak bisa mengundang kamu dan Mahesa, karena pernikahanku sangat sederhana."


"Itu anak kamu?" tanya Randu seraya menunjuk bocah laki-laki yang berumur dua tahun lebih itu bergelayut manja di pangkuan Aya. 


"Iya, namanya Alvino," jawab Aya. "Jadi anak kamu yang minta kue?" imbuhnya.


Tak seperti tadi yang antusias, Randu hanya tersenyum dan mengangguk. Aya menatap mata Raisya yang memerah dengan sisa air mata yang masih menghiasi pipinya. Ada rasa kasihan pada bocah itu, namun ia sudah berjanji pada Alvino untuk membelikan kue yang bergambar spiderman seperti yang diinginkan Raisya saat ini. 


"Anak kamu ulang tahun juga?" tanya Randu,  kembali membuka suara menghilangkan kecanggungan yang melanda. 


"Tidak, Aku memang sengaja membelikannya kue, tapi kalau anak kamu yang minta, nggak apa-apa, ambil saja!"


"Nggak usah, biar aku belikan yang lain saja." Randu beranjak dari duduknya. Merasa tak enak dengan Aya yang dengan gampangnya memberikan kue itu, padahal saat di telepon, dengan jelas Aya tidak menyetujuinya. 


"Nggak apa apa, Mas. Lagipula masih banyak yang lainnya." 


Aya memanggil pegawai untuk mengambilkan kue yang dipesannya lalu memberikan untuk Raisya.


Setelah melihat kue itu di atas meja, bocah itu merosot dari gendongan Randu, lalu mendekati Aya dan meraih tangannya. 


"Onty,  kita makan kuenya sama sama ya, Isya mau belbagi sama Onty."

__ADS_1


Randu terharu dan semakin tak bisa melupakan Arum yang sudah melahirkan bidadari yang sangat cantik dan pintar. Namun terkadang membuat kepalanya panas karena permintaannya yang sembilan puluh persen seperti Devan. 


Demi memenuhi permintaan Raisya, akhirnya Aya mau menemani bocah itu makan kuenya di tempat, bahkan beberapa kali Raisya menyuapi Aya seperti yang pernah di lakukan pada Bunda Arum dan Bunda yang lainnya.


__ADS_2