
Masih di dalam kamar, suasana yang sempat hening dan mencekam kini meleleh sudah. Air mata bahagia mulai menetes dari sudut mata masing masing, tak ada seorang pria pun di dalam kecuali Mahesa dan pak Yudi. Arum dan Sesil ikut meneteskan air mata mendengar penjelasan Dokter Meta. Sabrina hamil, dan itu adalah Anugerah yang diterima Mahesa untuk yang kedua kali.
Ini adalah ulang tahun Mahesa yang ketiga puluh, dan lagi lagi kado terindah sudah diberikan Sabrina, itu sangat spesial dan luar biasa.
Mahesa merangkak naik ke atas ranjang mendekati Sabrina yang mulai membuka matanya.
"Ada apa ini, kenapa disini ramai sekali?"
Sabrina menatap dua sahabatnya bergantian lalu beralih mertuanya dan yang terakhir menatap Mahesa yang ada di sampingnya. Tak ada yang menjawab karena Mahesa lah yang berhak membuka suara dengan pertanyaan Sabrina.
"Kita berdua keluar dulu ya, Sab. Selamat!" Arum melepaskan tangan Sabrina.
Tanpa mengulur waktu, Sesil menarik tangan Arum menuju pintu, sedangkan Bu Risma dan Pak Yudi ikut mendekati Sabrina yang masih berbaring.
Sabrina hanya bisa diam sembari menerka apa yang dimaksud dengan Arum dan Sesil.
"Hari ini ulang tahun suami kamu, tapi Ibu mau ngucapin selamat untuk kamu."
"Ayah juga," timpal pak Yudi.
Sabrina duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Semakin tak mengerti dengan ucapan mertuanya.
"Kenapa bisa seperti itu, Bu. Memangnya aku kenapa?"
Lagi lagi Bu Risma hanya tersenyum menyimpan sebuah fakta yang membahagiakan. Mahesa meraih ponselnya dan berpura pura sibuk dengan benda pipih tersebut.
"Selamat untuk apa sih, Yah? Kok aku merasa ada yang aneh ya. Ini nggak ada apa apa kan Mas?" tanya Sabrina, ia mulai curiga dengan semua orang yang memberikan ucapan selamat padanya.
Mahesa hanya menggeleng diiringi dnegan senyuman tipis, lalu sebuah kecupan mendarat di kening Sabrina.
"Ayah dan Ibu keluar dulu ya, jaga diri baik-baik, jaga kesehatanmu, jangan sampai sakit."
Bu Risma memeluk Sabrina sejenak sebelum pergi.
Setelah Bu Risma dan pak Yudi menghilang bersamaan pintu yang tertutup rapat, Mahesa menggenggam tangan Sabrina. Melepas mukena yang masih melekat. Menyelipkan anak rambut yang menutupi pipinya.
"Sebentar lagi Devan akan menjadi abang." Masih dengan basa basi.
Sabrina membeku, rasanya itu adalah ucapan yang paling indah menyambut paginya. Sabrina megelus perutnya yang datar lalu kembali menatap wajah Mahesa. Air matanya sudah menumpuk di pelupuk dan hampir luruh.
"Ulangi sekali lagi, Mas. Aku ingin mendengarkan itu sekali lagi dari kamu," pinta Sabrina dengan suara gemetar.
"Kamu hamil, dan ini adalah hadiah terindah di sepanjang ulang tahunku."
Seketika Sabrina mendaratkan tubuhnya di dada Mahesa. Air matanya tumpah ruah membasahi baju koko suaminya, Sabrina meluapkan bahagianya di hadapan Mahesa.
__ADS_1
"Aku terlalu cengeng." Sabrina menyeka air matanya dan memberi sebuah ciuman manis di bibir Mahesa.
"Selamat ulang tahun suamiku, semoga kamu menjadi semakin dewasa. Menjadi ayah yang baik untuk Devan, dan suami yang siaga untukku."
Mahesa membalas ciuman Sabrina yang sempat terlepas.
Aamiin
Seiring berjalannya waktu, Devan semakin besar, tingkah lucunya membuat siapapun pasti tergoda termasuk Arum si calon pengantin. Dengan jiwa ke ibuannya, ia memandikan Devan kala Mbak Inul sedang menyiapkan makan bersama Bi Asih dan yang lain.
Arum mengikat hijabnya lalu mengangkat tubuh mungil Devan dari tempatnya, saat kembali ke kamar, tiba tiba saja Arum lupa dengan baju yang belum disiapkan. Terpaksa ia harus memanggil Sesil untuk minta bantuan, namun kali ini sang sahabat sedang tak nampak di depan, dan yang ada hanya Randu dan Dokter Agung.
"Mas," teriak Arum dengan menahan suaranya karena sedikit ragu.
Agung dan Randu menoleh ke arah bersuara.
Keduanya menatap Arum yang ada di ambang pintu dengan Devan yang ada di gendongannya.
"Aku atau Randu?" goda Agung.
Belum menjawab, Randu sudah beranjak dan berjalan menghampiri Arum.
"Ada apa?" tanya Randu.
"Tolong ambilkan handuk Devan, tadi aku lupa."
"Lain kali disiapkan dulu sebelum bertindak, kasihan Devan kedinginan," ucap Randu dengan nada datar.
Meski masih sangat kaku, Randu tetap membantu Arum merawat Devan.
Dengan lihainya Arum memakaikan popok bayi itu, bahkan sedikitpun tangannya tak merasa gemetar memegang bayi yang ada di atas ranjang itu.
"Kamu belajar dari mana mengurus bayi?" tanya Randu, dengan isengnya Randu membaringkan tubuhnya di samping Devan, menatap wajah Arum yang nampak serius memakaikan baju Devan.
"Dari Sabrina, dulu sebelum aku kerja, aku pernah tinggal di panti, jadi aku tahu caranya merawat bayi hingga anak anak."
Randu hanya manggut manggut, memiringkan tubuhnya dan memeluk Devan. Tak perlu diragukan lagi jika calon istrinya adalah wanita mandiri.
"Kalau bayi se umuranku bisa nggak?"
Arum hanya berdecak, wajahnya jadi bersemu saat Randu mulai genit. Pria itu menaikkan kedua alisnya dan tersenyum nakal.
Akhir akhir ini Randu mulai terbiasa bicara dengan Arum, sering menanyakan kabar dan mencairkan kecanggungan.
Arum mencium pipi gembul Devan yang sudah rapi dan wangi lalu menggendongnya.
__ADS_1
"Mas nggak ikut keluar?" tanya Arum.
Randu mengelus pipinya dan melirik Arum yaang mematung di sampingnya.
"Kamu nggak mau cium aku juga?" goda Randu.
Arum membulatkan matanya lalu membungkuk seraya mendekap Devan.
"Nggak lucu ya, Mas. Kita belum halal, jadi nggak boleh sembarangan cium."
Arum meninggalkan Randu yang masih cekikikan di atas ranjang.
Dari depan pintu kamar Devan, tampak dua orang yang sedang bercanda, siapa lagi kalau bukan Sesil dan Dokter Agung.
Ehem
Arum hanya bisa berdehem membuyarkan canda Sesil dan Dokter Agung. Randu mengikuti dari belakang dengan membawa botol susu Devan.
Agung menoleh dan mengacungkan kedua jempolnya.
"Kalian memang serasi," teriak Agung dari ruang keluarga.
Randu tak menggubris seruan Agung dan memilih mengikuti Arum ke kamar Sabrina.
"Bunda," teriak Arum dari depan pintu kamar sembari mengetuknya.
Mahesa membuka pintu, mempersilahkan Arum dan Randu masuk. Lalu mengambil alih Devan.
Arum menghampiri Sabrina yang masih terlihat pucat.
"Di kehamilan kali ini kamu harus bahagia, sudah cukup air matamu terbuang sia sia, kamu harus bahagia," tegas Arun.
Sebagai seorang sahabat, Arum masih mengingat jelas apa yang menimpa Sabrina, dan di hari bahagianya, sahabatnya yang sudah menyandang status ibu juga harus bahagia.
Sabrina hanya mengangguk lalu memeluk Arum.
Sabrina menghirup dalam dalam aroma khas bayi yang masih melekat di baju Arum.
"Bang Devan mandi sama siapa?" Sabrina menjawil pipi putranya yang ada di gendongan Mahesa, sang suami.
"Bunda Arum dong, kan bunda nya ada tiga."
Mahesa ikut mengerutkan alisnya sembari menatap Arum yang cengengesan.
"Siapa?" tanya Mahesa dan Randu serempak.
__ADS_1
"Bunda Sabrina, Bunda Arum, dan Bunda Sesil."