
"Kamu sudah pulang, Mas." Pelukan hangat diterimanya di depan Randu. Sabrina menyambut kedatangan Mahesa, gurat lelahnya nampak jelas menghiasi wajahnya. Sabrina membantu melepas jas dan menggandeng tangannya.
Mahesa menatap riasan Sabrina yang begitu anggun, apalagi hijab yang dipakainya adalah warna kesukaan Mahesa.
"Kamu cantik sekali malam ini," puji Mahesa.
Sabrina tersipu, ia merasa terbang saat disanjung suaminya.
"Jangan gombal." Menyenggol Mahesa yang terkekeh.
"Beneran." Mahesa mengangkat dua jarinya.
Keduanya melintasi beberapa anak yang sedang belajar, Sedangkan Randu, ya pria itu ikut tinggal di panti demi Mahesa. Melupakan sejenak Aya yang selalu menelponnya. Randu memberikan oleh oleh untuk semua anak Panti sebelum ia beristirahat.
"Bagaimana kabarmu dan Devan hari ini?"
Sabrina tersenyum, "Aku baik, Devan juga."
Masih menyembunyikan rasa gelisahnya, menutupi dari seluruh penghuni panti.
"Apa Mas sudah makan?"
Mahesa mengangguk, faktanya ia dan Randu memang sudah mampir di restoran, bahkan beberapa kotak makanan kini sudah dibagikan untuk seluruh anak dan diletakkan di meja makan.
Mahesa memilih langsung ke kamar dan membaringkan tubuhnya, sedangkan Sabrina duduk di tepi ranjang memijat pelan kaki Mahesa yang pasti lelah.
"Mas, siapa camelia?" ucap Sabrina sedikit ragu.
Mahesa terkejut lalu terbangun. Menahan rasa gugup yang kini menyeruak disertai ketakutan yang melanda.
Apa ini waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya, tapi bagaimana kalau sampai Sabrina sok. Sedangkan aku tidak mungkin membohonginya lagi.
"Mas," Sabrina menepuk punggung tangan Mahesa. Membuyarkan lamunan.
"Camelia," ucap Mahesa gugup.
Sabrina mengangguk.
"Sayang, apa kamu yakin ingin mengetahui semuanya tentang apa yang tidak kamu ingat?" mulai serius, bahkan senyum Mahesa seketika menghilang dan berganti dengan keseriusan.
Sabrina mengangguk lagi. Menurutnya itu sangat penting.
Mahesa turun dari atas ranjang dan berlutut di depan Sabrina.
Matanya berkaca saat melihat senyum manis dari sudut bibir Sabrina, sudah terlalu banyak kesalahan yang diperbuat dan kini harus ia lakukan lagi.
"Camelia adalah istri keduaku," Mahesa mengucapkannya dengan kepala menunduk, tak berani menatap manik mata Sabrina yang mungkin akan berair dengan penjelasan tersebut.
"Apa?!" Sabrina sok, buliran bening bercucuran membasahi punggung tangan Mahesa.
Mahesa mendongakkan kepalanya, "Sayang, kamu dengarkan penjelasan aku dulu."
"Jadi kamu menikah lagi dengan wanita lain selain aku?" ulang Sabrina dengan nafas yang tersengal.
__ADS_1
Sabrina membangun hatinya untuk kokoh dan ingin menerima penjelasan Mahesa.
Mahesa mengangguk, tangannya terus melingkar di belakang Sabrina, takut istrinya tumbang.
"Jelaskan, Mas! Apa saja yang terjadi dalam pernikahan kita? Apa salahku sampai kamu menikah lagi?"
Sabrina semakin terisak.
"Kamu tidak salah, tapi aku yang salah. Aku yang tidak mau menerima Anugerah Allah, aku yang tamak, dan aku yang gelap mata. Sampai aku menduakan kamu," Mahesa menjeda ucapannya sejenak.
"Aku hanya laki laki yang penuh dosa."
Mahesa mendaratkan kepalanya diatas paha Sabrina lalu mencium tangannya tanpa henti.
Sabrina diam, otaknya terasa buntu untuk berpikir.
"Sayang, aku minta maaf atas apa yang sudah aku perbuat, aku akan menceraikan Camelia setelah dia selesai masa nifasnya."
Sabrina menyeka air matanya dan menatap Mahesa dengan lekat. Ada kebanggaan dengan kebijakan suaminya, namun Sabrina masih tak terima dengan dirinya yang dimadu. Matanya mulai meredup, kepalanya terasa sangat pusing hingga apa yang ditakutkan Mahesa terjadi, Sabrina jatuh pingsan.
"Sayang," teriak Mahesa, wajahnya nampak panik. Kedua tangannya merengkuh tubuh Sabrina dan mendekapnya.
Nggak, aku nggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kali. Mahesa terus memeluk Sabrina dengan erat.
"Ibu, Randu." Teriak Mahesa.
Selang beberapa menit Bu Yumna datang menghampirinya.
Mahesa menggeleng, pria itu belum melepaskan Sabrina dan terus memeluknya.
"Bu, suruh Randu memanggil dokter," pintanya, Mahesa terus mencium wajah Sabrina, kejadian lalu benar benar membuatnya trauma dan tak ingin terulang lagi.
"Sayang, bangunlah!"
Tanpa berpikir lagi Bu Yumna berlari keluar. Suasana panti gemuruh, semua anak-anak ikut ketakutan saat mendengar Sabrina pingsan, mereka hanya bisa berdoa demi kesembuhan Sabrina.
Dokter yang bernama Lulu datang memeriksa Sabrina. Wanita cantik yang berjas putih itu nampak santai saat memasukkan stetoskop nya.
"Sepertinya Sabrina sangat tertekan, saya tidak tahu permasalahannya, tapi saya harap jangan bebani dia dengan masalah dulu. Apalagi yang menurutnya sensitif."
Mahesa mengangguk dan merangkak naik memeluk Sabrina.
"Kapan Sabrina mulai tinggal di sini, Bu?" Dokter Lulu mulai bercakap dengan Bu Yumna.
"Beberapa hari yang lalu, dia memutuskan untuk tinggal disini."
Dokter Lulu kembali menatap Sabrina yang masih memejamkan matanya.
"Sebenarnya aku juga kangen sama dia, boleh nggak aku nunggu sampai dia sadar."
Bu Yumna mengangguk.
Mahesa terus meneteskan air matanya, penyesalan yang tak berujung membuatnya ingin menyerah, namun rasa cintanya yang mendalam tak bisa melepaskan Sabrina begitu saja.
__ADS_1
"Maafkan aku." Berkali-kali itu yang dilontarkan. Mahesa membenamkan wajahnya di ceruk leher Sabrina yang tertutup hijab.
Tak hanya Mahesa, Randu ikut ngilu saat melihat kisah cinta keduanya. Masalah datang silih berganti seakan menjadi hiasan asmara Sabrina dan Mahesa.
Hampir tiga puluh menit berlalu. Semua penghuni panti memilih menunggu di luar kamar, hanya ada Mahesa yang ada di samping Sabrina. Dan akhirnya Sabrina mengerjap-ngerjapkan matanya, wanita itu memegang kepalanya dan membuka matanya dengan perlahan, Sabrina mengedarkan pandangan, ada hembusan napas yang menerpa telinganya.
"Aku ada di mana?" tanya nya dengan suara lemah.
Mahesa yang ikut terhanyut mimpi ikut membuka mata.
"Kamu sudah bangun."
Sabrina terkejut, dadanya terasa meletup letup saat melihat wajah Mahesa yang sangat dekat dengannya.
"Ngapain Mas ada di sini?" tanya Sabrina dengan ketus.
"Aku menenami kamu, tadi kamu pingsan."
Sabrina memutar bola matanya lalu memegang perutnya.
"Apa anakku baik-baik saja?" tanya nya. Mengingat dirinya yang sempat merasa nyeri saat jatuh terpental.
"Sayang apa kamu sudah ingat semuanya? Apa kamu sudah mengingatku?"
Sabrina meneteskan air matanya lalu mengangguk.
"Aku ingat, Mas. Aku ingat kalau kamu adalah laki-laki brengsek yang menodaiku, kamu adalah ayah Devan." ujarnya menohok.
Sabrina memutar kisah sebulan lalu di mana ia dengan jelasnya mendengarkan penuturan Mahesa yang mengakui kelakuannya.
Kelembutan Sabrina seketika musnah wajahnya nampak datar dan tak bisa ditebak. Meskipun Sabrina membencinya karena malam itu, Mahesa merasa bersyukur dengan pulihnya ingatan istrinya.
Sabrina kembali menoleh menatap Mahesa yang masih setia di sampingnya.
"Sekarang katakan! Apa anakku baik-baik saja?" tanya Sabrina sekali lagi.
Mahesa menunduk dan meraih tangan Sabrina.
"Anak kita nggak bisa diselamatkan karena kecelakaan itu."
Sabriana memiringkan tubuhnya memunggungi Mahesa, hatinya begitu hancur berkeping keping saat mendapat penjelasan dari Mahesa.
"Sayang."
Sabrina menepis tangan Mahesa.
"Sekarang lebih baik Mas pergi dari sini! Aku benci sama kamu, aku benci," teriak Sabrina.
Mahesa masih bergeming, pria itu tak kalah kacaunya dengan keadaan yang menimpanya.
"Sayang," Masih mencoba meluluhkan hati Sabrina. Namun tidak dengan Sabrina yang melemparnya dengan bantal.
Mahesa memilih hengkang dari kamar itu, mungkin dengan kepergiannya Sabrina lebih sedikit tenang.
__ADS_1