Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Gugur?


__ADS_3

Hampir satu bulan lamanya mata Mahesa nyaris tak terpejam, ia tak mau lengah membiarkan Sabrina sendirian di dalam ruangan yang menurutnya sangat sempit.  Butuh udara untuk tetap bertahan, se sesak apapun Mahesa tetap kuat demi sang istri dan Devan yang selalu menantinya saat malam. 


Pagi itu berbeda, Mahesa memakai setelan jas. Ada pertemuan penting yang tak bisa diwakilkan dan tak bisa di undur kala seorang klien menginginkan untuk bertatap muka langsung dengannya.


Seperti biasa, Mahesa berinteraksi lewat kata kata manis yang sudah tersusun rapi, deretan kata cinta keromantisan selalu ia suguhkan saat menyapa sang istri. Berharap ada titik yang bisa mengubah segalanya menjadi lebih terang. 


"Maafkan aku  ya,  pagi ini aku mau ke kantor sebentar," bisiknya.


Tangannya terus menggenggam tangan Sabrina dan mengelusnya. 


Masih dengan nada yang begitu lembut Mahesa mengungkapkan isi hatinya yang sedikit kalut. 


"Aku akan segera kembali." Berat,  namun apa daya pekerjaan juga sebuah tuntutan hidup. 


Beberapa suster sudah berada di belakang Mahesa dan siap menggantikan posisinya. 


"Kalau ada apa apa langsung telepon!" 


Kesetiaan Mahesa kini tak perlu diragukan lagi,  dalam sejengkal waktu pria itu tetap berada di rumah sakit, dan di rumah hanya untuk menjenguk Devan. 


Setelah pamit keluarganya, Mahesa langsung pergi bersama Randu, itu ketiga kalinya ia pergi ke kantor setelah Sabrina jatuh koma. 


"Maafkan aku, Mas."


Randu merasa bersalah karena tak bisa membereskan semuanya. 


"Tidak apa apa," selak Mahesa. 


Tempat yang menegangkan, sesekali Mahesa harus berdebat kecil kala sebuah penjelasannya tak diterima yang lain,  namun dengan keyakinan dan kemampuan yang luar biasa Mahesa mampu meluluhkan semuanya. 


Tepuk tangan riuh mengiringi Mahesa yang sukses menyelesaikan tugasnya. Pria itu nampak tegas saat berada di tengah tengah jajaran petinggi perusahaan ternama. 


"Sepertinya bapak ada masalah?" tanya salah satu klien yang duduk paling depan. Pria itu menangkap ada semburat luka yang terpendam di wajah Mahesa. 


Mahesa menunduk, jantungnya berdenyut, sekian lama ia selalu menutupi masalah keluarganya dan itulah kesempatan ia mendapat dukungan dari para rekannya. 


"Maaf jika saya membawa masalah pribadi saya ke sini."


Semua mata kini tertuju pada sosok Mahesa yang tampak suram. 


"Ada apa, Pak?" tanya yang lainnya antusias. 


"Istri saya koma."


Semua termangu, tak menyangka di balik ketegaran menyimpan duka yang sangat menohok. Bahkan salah satu klien perempuan  langsung berkaca setelah mendengar penuturan Mahesa. 


"Sudah satu bulan dia dirawat di rumah sakit, dan sampai sekarang belum ada perkembangan."


Mahesa kembali runtuh, tatapannya kembali kosong mengingat tubuh yang hanya bisa terbujur di atas brankar.

__ADS_1


"Saya di sini hanya minta doa dari kalian untuk pemulihan istri saya."


Semua menganggukkan kepala masing-masing, tak menyangka sosok yang begitu angkuh itu menyimpan sejuta cinta untuk istrinya. 


"Doa kami semua menyertai bapak, semoga istri bapak secepatnya sadar."


Aamiin


Randu yang berada di depan ruangan itu tiba-tiba saja masuk menghampiri Mahesa. Pria itu berbisik. Sepertinya memberi sebuah kabar yang sedikit mengejutkan. 


"Siapa yang bilang?"


"Dokter Agung." 


Mahesa menatap satu persatu orang yang masih di ruangan itu lalu beranjak. 


"Baiklah, jika semua sudah selesai, saya permisi dulu."


 


Mahesa meninggalkan tempat itu. Dengan langkah lebarnya ia langsung keluar dari kantornya. 


"Apa kata Agung?" tanya Mahesa. 


"Katanya operasinya lancar, dan Agung  menyuruh mas segera datang."


Mahesa menatap ke arah luar. Dari awal mobil melaju tangannya sudah mengepal, hatinya  sudah tak sabar ingin segera sampai. 


Hampir tiga puluh menit perjalanan, mobil yang ditumpanginya sudah tiba di depan rumah sakit. 


Mahesa menyiapkan segenap jiwanya dan berharap semua sesuai ekspektasinya. 


"Mas harus yakin kalau anak Camelia adalah anak orang lain."


Mendengar ucapan Randu Mahesa sedikit lebih tenang untuk masuk. 


Mahesa menghampiri dokter Agung yang masih sibuk dengan beberapa suster di ruangannya.


"Kilat sekali," celetuk Agung mendekati Mahesa dan tiba tiba mencabut rambutnya tanpa permisi. 


"Sakit, Gung,"  keluh Mahesa mengelus bagian yang terasa nyeri dengan ulah Agung yang tak sopan. 


"Sorry bro," Dokter Agung memasukkan beberapa helai rambut ke dalam plastik kecil kalau menyimpannya. 


"Kamu bisa lihat hasilnya dalam seminggu lagi."


"Apa nggak bisa sekarang juga?"


Dokter Agung hanya berdecak, otot tangannya rasanya geram dan ingin menonjok muka tampan Mahesa. 

__ADS_1


"Apa kamu nggak ingin melihat putri Camelia?" Dokter Agung mengalihkan pembicaraan. 


Bagaimanapun juga Mahesa masih sah menjadi suaminya dan menurutnya tak ada salahnya untuk sekedar melihatnya. 


Mahesa mengikuti langkah Agung menuju ruangan bayi, namun langkahnya tiba-tiba saja berhenti saat menatap beberapa suster dan Dokter berlarian. Mereka nampak panik. Dan yang mereka tuju adalah ruangan yang tak asing baginya. 


Ada apa ini, itulah pertanyaan yang ingin Mahesa lontarkan, namun mulutnya terkunci saat melihat Arum dan Sesil menangis seraya berpelukan. 


Mahesa meninggalkan Agung dan berlari mendekati kedua sahabat istrinya.


"Ada apa?" Detakan jantung Mahesa mulai tak beraturan saat beberapa Dokter melintasi tubuhnya dan masuk ke ruangan Sabrina. 


Sesil menggeleng diiringi air mata yang terus mengucur. 


"Sabrina kritis." 


Seluruh organ tubuh Mahesa  membeku kaku, matanya berkaca saat menatap pintu yang tertutup rapat. 


"Mas," suara Randu yang tersendat tak lagi ia hiraukan, yang ada dalam benaknya hanyalah istrinya, ya istrinya harus baik baik saja seperti saat ia pergi. 


Tak hanya Randu, Agung pun tak kalah panik dengan apa yang diucapkan Sesil. 


"Kamu yang tenang, Sabrina pasti baik baik saja."


Mahesa menoleh dan mencengkram kerah jas Agung.


"Harusnya aku tidak pergi. Harusnya aku tidak meninggalkannya sendirian, jika terjadi sesuatu apa yang harus aku lakukan?" teriak Mahesa,  melampiaskan penyesalannya dengan menjambak rambut Agung. 


Semuanya merasakan kepiluan karena keadaan Sabrina, sedangkan Agung mengelus kepalanya, tarikan Mahesa yang begitu kuat membuat rambutnya rontok. Mungkinkah itu balas dendam atas ulahnya tadi?


Dari arah jauh nampak bu Yumna dan kedua orang tuanya datang. Mahesa semakin frustasi dengan apa yang terjadi saat itu. 


Semua hanya bisa melantunkan doa, dan menanti kabar yang menyejukkan.


"Nak, yakinlah kalau Sabrina akan baik baik saja."


Sebagai seorang Ibu, Bu Yumna memeluk Mahesa, memberinya kekuatan untuk tetap kokoh. 


Pintu terbuka lebar. Mahesa mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan yang masih dipenuhi dokter  dan suster yang berlalu lalang.


Tak ada bunyi monitor yang menggema, Mahesa mendekati pintu dan menatap seorang dokter yang berjalan ke arahnya. 


"Kenapa semua peralatannya dilepas?" tanya Mahesa dengan bibir gemetar.


Dokter itu menghirup udara dalam-dalam.


"Maafkan kami Mas, tim dokter sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Allah berkata lain, nyawa Mbak Sabrina tidak bisa diselamatkan."


Semua menjerit histeris. Bu Yumna jatuh pingsan, sedangkan Arum dan Sesil rubuh di lantai, Bu Risma sesenggukan di pelukan pak Yudi, Agung dan Randu terpaku, tidak dengan Mahesa yang tertawa lepas. 

__ADS_1


__ADS_2