Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Ungkapan Aya


__ADS_3

Masih mode ngambek


Di ruang makan itu chef Junia menyiapkan beberapa porsi sukiyaki seperti permintaan Randu. Aya duduk di kursi paling ujung jauh dengan tempat duduk suaminya. Meskipun sudah memaafkan, hatinya masih sedikit jengkel dengan Randu yang sudah seenak jidatnya mengabaikannya di tempat umum. 


"Ayo dong Beb, di makan." 


Entah suara itu beberapa kali diucapkan Randu, tapi tangan Aya masih bergeming. Kedua bola matanya hanya melihat santapan lezat yang sebenarnya sudah menggugah selera perutnya yang keroncongan, tapi demi egonya Aya tak mau menyentuhnya sedikitpun, gengsi. 


"Aku nggak lapar," jawab Aya ketus. 


Randu melepaskan gelas yang hampir saja ia angkat lalu beranjak dan mendekati Aya. 


"Aku suapin ya."


Aya menggeleng, bibirnya semakin mengerucut saat melihat wajah Randu yang nampak tak bersalah sedikit pun. 


"Harus mau." Randu menodongkan irisan daging sapi tepat di depan bibir Aya yang tampak merona. Sebenarnya ia ingin menggigit benda kenyal yang ada di sampingnya, akan tetapi takut kalau sang empu lebih marah lagi, jadi ia tahan.


Aya menelan ludahnya dengan susah payah, dari aromanya saja ia sudah meleleh ingin segera mencicipinya,  tapi saat melihat wajah Randu, rasa laparnya hilang. 


"Ini banyak lo beb, mubazir, dosa membuang makanan."


"Kamu saja yang makan, selera aku sudah hilang karena kamu." 


Aya meninggalkan Randu.  Selama ini ia sudah berjuang mati matian untuk mantan duda itu, dan ini saatnya ia ingin melihat sejauh mana Randu berkorban untuk dirinya. Aya pindah ke ruang tengah dan menyalakan tv.  Randu menghampirinya membawa toples yang berisi kacang koro, camilan kesukaan Aya. 


"Ngambeknya jangan lama lama aku nggak betah," ucap Randu dengan suara lirih. 


Randu meraih pinggang Aya dan merengkuhnya dengan erat.  Satu lagi kelemahan Randu, meskipun ia terbilang salah satu laki-laki paling nggak peka sedunia, namun hatinya merasa lembut,  dan tak bisa melihat orang di dekatnya itu marah dan terluka. 


"Mas, jangan dekat-dekat! Gerah." 


Aya menggeser duduknya. Mencengkal tangan Randu yang menggelitik. Semakin lama cacing di perutnya semakin menuntut saja, daripada Randu nanti mendengar bunyi perutnya, Aya pun memilih ke kamar. 


"Malam ini kita tidurnya pisah," teriak Aya dari depan pintu kamarnya. 


Setelah Aya masuk, Randu hanya bisa menghempaskan tubuhnya. Ia baru sadar kalau menjinakkan Aya memang tak semudah membalikkan telapak tangan.

__ADS_1


"Ini semua salahku, seharusnya aku lebih peka lagi menghadapinya. Aku tidak bisa seperti ini, pokoknya malam ini Aya harus memaafkanku."


Randu meninggalkan ruangan tengah dan mengecek kamar Raisya,  ternyata kedua bocah itu sedang tertidur ditemani Bi Nori di sampingnya. Akhirnya Randu menutup kembali pintunya dan beralih ke kamarnya. 


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Aya sengaja tak menguncinya karena Randu belum ganti baju. 


Aya meletakkan lipstiknya dan beralih ke ranjang. Randu melongo melihat penampilan Aya yang diluar ekspektasi nya. Biasanya Aya memakai piyama panjang, namun saat ini hanya memakai baju kemeja miliknya yang sedikit kedodoran tanpa celana, paha mulusnya nampak dengan jelas membuatnya matanya sulit untuk berkedip. 


Randu ikut naik ke atas ranjang dan memeluk Aya dari belakang. Sepertinya ia harus bekerja lebih extra lagi untuk melunakkan hati istrinya. 


"Beb,  beneran malam ini kamu nggak mau melayaniku?" ucap Randu mengiba. 


Jika biasanya Aya langsung membuka bajunya, kali ini Aya malah menarik selimut tebal hingga sekujur tubuhnya tak nampak sedikitpun. 


"Aku harus apa supaya kamu mau maafin  aku." Masih dengan rayuannya, Randu berusaha menyelipkan tangannya ke dalam selimut. 


"Aku sudah memaafkan kamu, Mas. tapi untuk malam ini kita libur," tegasnya. 


Randu lemas seketika, padahal yang di bawah sana sudah tegak dengan sempurna saat melihat penampilan Aya yang sangat menggoda, belum lagi wangi parfum itu menusuk hingga ke rongga hidungnya. 


"Kamu tidur dulu, aku mau ke kamar mandi." 


Terpaksa Randu harus bermain dengan sabun, karena jika dipaksakan takut Aya akan semakin marah padanya. 


Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup, Aya membuka selimut yang menutupi kepalanya. "Makanya jadi laki tu yang peka," gerutu Aya. 


Ceklek


Pintu kembali terbuka. Randu hanya menyembulkan kepalanya. 


"Sayang,  sabunnya habis ya. Tolong ambilkan dong!"


Aya turun dari ranjang membuka lemari kecil yang ada di samping pintu dan mencari sabun di sana,  tapi sebelum menemukannya Aya kembali berdiri dan menatap Randu yang terus mendesis. 


Randu menggigit bibir bawahnya  saat sesuatu semakin bergejolak melihat kulit putih Aya. Apalagi tadi saat berjongkok, sesuatu semakin terlihat menantang. 

__ADS_1


Aya mendekati Randu tanpa membawa sabun di tangannya seperti permintaan suaminya. 


"Mana sabunnya?" tanya Randu sembari menengadahkan tangannya. 


Aya mendorong tubuh Randu masuk ke dalam kamar mandi hingga terjerembab di dinding. 


"Kenapa harus pakai sabun, masih ada aku yang siap kapanpun melayani kamu," ucap Aya dengan suara lirih.


Dengan sigap Randu menangkup kedua pipi Aya dan menyatukan bibirnya. Ia sudah tak sabar ingin menyalurkan hasrat yang dari tadi mengendap. 


"Kamu nggak marah sama aku?" tanya Randu setelah melepaskan pagutannya. 


Keduanya saling bertukar pandangan.  Ada sebuah cinta di mata Aya, begitu juga dengan Randu, hanya saja pria itu tak begitu pintar mengartikan isi hatinya. 


"Aku gak bisa marah sama kamu. Jujur ya Mas, kamu itu orang paling nyebelin dalam hidup aku,  tapi bodohnya aku tetap mencintai kamu. Berulang kali aku mencoba pergi jauh, tetap saja kamu itu selalu ada disini."


Aya meraih tangan Randu dan menempelkan di dadanya. Ada sebuah detakan jantung yang Randu rasakan,  hatinya ikut nyeri saat mendengar ungkapan Aya,  tapi ia bisa apa, selain kata menyesal.


"Sudah bertahun tahun kita berpisah, dan aku berharap bisa melupakan kamu,  tapi apa? Ternyata aku tidak bisa. Bahkan aku sempat merasa kalau aku ini sudah gila."


Randu membungkam bibir Aya dengan telapak tangannya. 


"Maaf…." Hanya kata itu yang terucap dari sudut bibir Randu,  seakan ia sudah kehabisan kata untuk mengakui kesalahannya selama ini. 


Randu merengkuh tubuh langsing Aya dengan erat. Dari lubuk hati yang paling dalam tidak ingin menyakiti istrinya lagi,  dan berharap jika tadi adalah kesalahannya yang terakhir. 


Kruuuuk


Suara perut Aya mencairkan keheningan yang sejenak tercipta. Aya membenamkan wajahnya di dada Randu, wajahnya merah merona karena malu.


Untuk yang ke sekian kali Randu harus menahan tawa karena Aya. Ia tak mau memulai babak baru lagi setelah yang lama meredam.


"Aku temani kamu makan." Tanpa aba aba Randu memgangkat tubuh Aya dan membawanya ke ranjang.


"Tunggu di sini aku ambilkan, jangan ganti baju. Aku suka kamu seperti ini." Kecupan kembali mendarat di pipi Aya sebelum Randu keluar dari kamarnya.


Author punya rekomendasi novel yang sangat bagus, silakan mampir

__ADS_1




__ADS_2