Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Happy wedding Agung dan Sesil


__ADS_3

Lima bulan masa kehamilan Sabrina yang ketiga. Empat bulan masa kehamilan Arum. Lima bulan pula masa pendekatan Sesil dan Dokter Agung, kini gadis itu benar-benar melabuhkan hatinya. Dengan kerja kerasnya dokter Agung mampu meluluhkan hati Sesil yang sedikit mengeras,  bahkan Dokter Agung harus terus memutar otak demi mendapatkannya, dan semua hasilnya tak sia sia, hari ini mereka akan menikah. 


Dua ibu hamil itu, yakni Sabrina dan Arum akan menjadikan momen terpenting dalam hidupnya, dan akan membaur dengan hidupnya masing-masing, ketiganya terus ber selfie saat Sesil selesai dirias lalu berpelukan,  itu seperti sebuah perpisahan bagi mereka. 


"Dimanapun kita berada, dan bersama siapapun kita hidup, persahabatan kita akan tetap abadi selamanya," ucap Sabrina dengan mata berkaca. 


Arum dan Sesil tersenyum lalu menoleh ke arah suami masing-masing.


"Kamu sudah ditungguin, sebentar lagi akad nikah dimulai." Arum menyungutkan kepalanya ke arah Dokter Agung yang dari tadi menatapnya dari jauh. 


Arum dan Sabrina menggandeng tangan Sesil dan membawanya menghampiri Dokter Agung yang sudah duduk di depan penghulu.


Tak seperti Arum dan Sabrina yang tak mempunyai wakil dari keluarga. Seorang paman sudah siap menjadi wali Sesil dalam pernikahan itu. 


Senyum nakal terus menghiasi sudut bibir dokter Agung saat menatap wajah cantik Sesil dari samping. Agung tak henti hentinya menggoda calon istri yang  duduk di sampingnya.


"Siapkan tenaga untuk nanti malam," bisik Agung nakal.


"Apa? Aku nggak denger."


Meskipun paham dengan ucapan Agung, Sesil pura pura bodoh. 


Ckckckck


Agung berdecak, melepas pecinya kembali dan mengacak rambutnya, frustasi. 


Agung menangkup kedua pipi Sesil lalu mendekatkan wajahnya hingga berjarak tiga centi. 


"Malam ini kamu akan menjadi milikku selamanya," ujar Agung dengan suara lantang. 


Tamu yang duduk di tempat paling depan bergelak tawa mendengar ucapan konyol Agung. 


Menjadi pusat perhatian orang bukan hal yang menegangkan baginya, di posisinya saat ini lebih grogi saat memeriksa kehamilan Sabrina.


Deg deg deg 


Jantung Sesil kembali berpacu dengan cepat, kemesuman dokter Agung ternyata tak sembuh juga, bahkan lebih parah dari sebelumnya. 


Seperti pada umumnya sang calon pengantin, keringat dingin mulai membasahi jidat dokter Agung saat bersalaman dengan sang wali. Ia sedikit gugup saat khotbah nikah itu dimulai, namun Agung bisa mengalahkan semuanya, nyata nya dengan ucapan yang sangat jelas ia bisa  melantunkan lafadz qabul dengan benar dan lancar. 


Sah


Ucapan itu menggema lalu diiringi sebuah doa dari sang penghulu. Lepas sudah masa lajang dokter Agung. Di hari itu juga ia meng cap dirinya sebagai suami dari Sesil Rahma. 

__ADS_1


Ucapan selamat bertubi tubi mempelai terima dari kalangan atas hingga kalangan yang paling bawah, seluruh sahabat seperjuangan ikut hadir dalam prosesi penting pagi itu.


"Selamat ya," tiba tiba ucapan itu datang dari arah belakang. 


Agung dan Sesil menghentikan langkahnya. Itu suara yang sangat familiar di telinga Agung, namun sangat asing di telinga Sesil. 


Intan, sepertinya itu suara Intan. 


Sesil memutar tubuhnya lebih dulu, di tatapnya wanita cantik dengan memakai dress berwarna  peach  selutut serta perhiasan gemerlap itu di hadapannya. 


Sesil tersenyum lalu menerima uluran wanita itu. 


"Selamat atas pernikahan kalian. Perkenalkan namaku intan."


"Sesil,"  jawab Sesil dengan lembut. 


Perlahan Agung menoleh meraih tangan Sesil yang terlepas.


"Selamat ya, Gung. Aku nggak nyangka kamu bakalan menikah secepat ini."


Agung hanya diam, ia mengabaikan tangan yang mengulur ke arahnya, berusaha menampik perasaan yang gemuruh hebat. 


Sedangkan Sesil hanya diam sambil melirik sosok wanita itu.


"Mas," Sesil menyenggol tangan Agung hingga membuyarkan lamunannya. 


"Terima kasih karena kamu sudah datang di pernikahanku," ucap Agung datar. 


Agung merangkul pundak Sesil, memamerkannya di depan wanita yang bernama Intan.


Intan melipat kedua tangannya menatap Agung dengan tatapan sinis. 


"Kita harus bicara!" 


Meninggalkan Sesil dan Agung. 


Gawat, aku nggak mau Intan membuat ulah.


"Dia siapa, Mas? tanya Sesil, menatap punggung Intan berlalu. 


Agung sedikit gugup, di hari bahagianya Agung tidak mau merusak suasana,  namun ia sudah berjanji pada Sesil bahwa sekecil apapun masalahnya ia akan tetap jujur.


"Dia mantanku."

__ADS_1


Deg


Jantung Sesil berdetak dengan kencang, namun ia malah tertawa seraya meraih tangan Agung. Memberi menilai seratus untuk suaminya. 


"Silahkan kamu bicara sama dia, selesaikan semuanya, aku nggak mau ada orang lain masuk dalam rumah tangga kita. Aku akan menemui tamu yang lain dulu." 


Agung memeluk Sesil dengan erat dan berbisik. 


"Aku mencintaimu. Aku dan dia hanya punya masa lalu, dan kamu lah masa depanku. Percayalah kalau aku akan tetap setia."


Lagi-lagi keromantisan Agung mengundang jiwa jomblo meronta-ronta. 


Sesil hanya mengangguk. Tidak usah mengatakan itu saja Sesil sudah percaya, karena Agung sudah berani jujur padanya tentang status perempuan itu. Dan satu lagi, Sesil mengacungi jempol untuk suaminya yang dengan gamblangnya menjelaskan semuanya. 


"Ada apa?'' Di sudut lorong hotel itu Agung menemui Intan, seorang gadis cantik yang di pacarinya beberapa tahun lalu. 


"Aku nggak nyangka kalau kamu bakalan ninggalin aku secepat ini? Apa kamu yakin sudah jatuh cinta sama gadis kampungan tadi?" 


Agung mengepalkan tangannya, andai saja ia tak berjanji pada Arum untuk berubah, mungkin ia sudah melukai wanita yang saat ini ada di hadapannya. 


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Semua ini nggak ada hubungannya sama kamu, jadi aku harap kamu nggak ikut campur dalam rumah tanggaku."


Intan menyunggingkan bibirnya. "Aku tahu perempuan kriteria kamu itu kayak apa, dan aku yakin kalau Sesil hanya mainan buat kamu."


Tak sengaja obrolan itu terdengar oleh Sabrina yang baru saja melintas, Ibu hamil itu tersentak kaget dan menghentikan langkahnya. Sabrina menyandarkan punggungnya di tembok, mengatur nafasnya yang sempat sesak. 


"Jangan sok tahu, dan jangan kembali lagi. Kita sudah putus, dan di antara kita sudah nggak ada hubungan apa apa lagi,"  tegas Agung, tanpa permisi ia meninggalkan Intan yang masih nampak kesal. 


Tiba di depan pintu ruangan ballroom,  Agung menghentikan langkahnya saat Sabrina menghalangi jalannya. 


"Ada apa, Sab?" tanya Agung.


"Dok, aku tahu kalau perempuan tadi adalah mantan, Dokter."


Dokter Agung terkejut mendengar ucapan Sabrina. 


"Sekarang Sesil adalah istri Dokter, dan aku harap Dokter tidak mengkhianatinya."


"Aku sudah puasa tujuh hari tujuh malam. Sudah taubat dan ingin kembali ke jalan yang benar. Jadi kamu jangan khawatir, Intan hanya mantanku, dia nggak ada apa apanya dibanding Sesil yang sekarang adalah istriku," jelas Dokter Agung panjang lebar. 


"Dokter serius dengan ucapan, Dokter?" tanya Sabrina menyelidik.


Agung merentangkan tangannya.

__ADS_1


"Kita pelukan," ucapnya menggoda dengan menaik turunkan alisnya. 


"Dasar," Tiba-tiba saja Mahesa datang mematung di tengah-tengah Sabrina dan Agung. Dengan sigap ia membawa Sabrina pergi, takut tergoda dengan playboy kelas macan.


__ADS_2