
"Selamat menempuh hidup baru, semoga kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai."
Sebuah pesan singkat singgah di ponsel Randu dari nomor yang tak ia kenal. Randu menelusuri pemilik tulisan teks tersebut, namun nihil tak ada yang ia tahu dari identitas itu. Bahkan Randu sempat menghubunginya kembali, namun semua itu hanya sia sia, nomornya kembali tak aktif.
Resepsi sudah dimulai, acara demi acara berlangsung dengan meriah. Sang mempelai nampak bahagia saat berada di pelaminan. Keduanya terus menampilkan senyum saat semua tamu memberikan ucapan selamat.
"Malam ini terakhir kamu perawan."
Arum semakin cemas saat melihat jam yang terus berputar. Apalagi ucapan dari Sesil terus terngiang ngiang di telinga Arum, bulu kuduknya terus merinding dan sesekali menatap wajah tampan Randu dari samping. Jantungnya terus berpacu dengan cepat kala Randu menyentuh tangannya.
Randu menoleh saat merasakan sesuatu yang aneh. Tangan Arum terasa sangat dingin.
"Kamu kenapa?" tanya Randu, mengangkat tangan Arum dan menempelkan di pipinya.
Arum menggeleng cepat seraya mengusap jidatnya yang dipenuhi keringat.
"Jangan pikirkan apa-apa, kamu harus bahagia," bisik Randu.
Dari sedikit jauh, Sabrina terus tersenyum kala menangkap kebahagiaan sahabatnya.
"Kamu kenapa, Ning?" tanya Mahesa, menyodorkan satu sendok puding tepat di mulut Sabrina.
Sabrina memilih membuka mulut untuk menerima pudingnya daripada harus menjawab pertanyaan Mahesa yang tak penting.
Ada rasa iri kala melihat pernikahan Arum dan Randu. Saling tersenyum, saling bicara dan berbisik. Berbanding balik dengan pernikahannya, karena saat itu Mahesa membisu. Wajah Sabrina kembali suram dan menyandarkan kepalanya di pundak Mahesa, hati dan pikirannya saling terpaut berandai andai tanpa batas.
"Arum pasti bahagia mendapatkan suami yang bisa mencintainya, andaikan aku dulu juga seperti itu, pasti saat pernikahan dunia hanya milik kita berdua, tapi sayang,__
Ucapan Sabrina mengambang saat Mahesa menutup mulutnya dengan telapak tangannya, jika dibiarkan ujung ujungnya pasti akan berubah menjadi olokan untuknya.
"Tidak semua takdir itu sama, Sayang. Mereka baru mulai, masih banyak rintangan yang harus dihadapi, sedangkan kita sudah memetik dari semuanya, jika di awal kita bahagia belum tentu juga akan selamanya. Pasti ada masalah yang menerjang dalam rumah tangga. Jadi aku mohon jangan ingat masa lalu, tapi lihatlah sekarang, kehidupan kita sudah lengkap, dan aku akan membuat kamu bahagia."
Sabrina menegakkan kepalanya lalu memeluk Mahesa di depan tamu yang lain. Tanpa rasa malu, Sabrina mencium pipi Mahesa dibawah sorot lampu yang terang.
"Mas Mahesa tetap yang terbaik. Dan aku beruntung sudah menjadi istri kamu."
"Aku yang beruntung," tukas Mahesa, kembali mengambil puding kesukaan Sabrina.
Malam sudah semakin larut, tamu undangan sudah berhamburan meninggalkan ballroom, tinggal beberapa rekan bisnis dan keluarga jauh Randu yang ada disana, termasuk Mahesa sekeluarga.
Randu dan Arum menghampiri sang kakek lalu bersimpuh di hadapannya. Mencium punggung tangannya dan kembali meminta restu.
"Sekarang Arum adalah tanggung jawab kamu, jaga dia dengan baik. Kakek nggak mau dengar ada keributan di antara kalian."
__ADS_1
"Baik, Kek," jawab Randu dengan tegas. Ia benar benar sudah siap mengemban amanah di depan keluarga dan Tuhan untuk memimpin rumah tangga bersama Arum.
Setelah keluarga dan kakek Naryo pulang, Randu menghampiri keluarga besar Pak Yudi dan keluarga besar panti asuhan.
Randu hanya meminta doa pada mereka, karena tak ada kado yang terindah selain doa yang terbaik kedepannya.
Arum memeluk Sabrina, rasa bahagianya tak bisa diucapkan dengan kata kata, rasanya kebersamaannya baru saja kemarin, dan kini sudah dipisahkan dengan sebuah pernikahan.
"Sekarang hanya aku yang berstatus jomblowati," rengek Sesil, ikut memeluk sang sahabat sebagai tanda perpisahan.
Semua hanya bergelak tawa termasuk Dokter Agung.
"Sebentar lagi, Ning." Bu Yumna menepuk punggung Sesil dari belakang, "Sebenarnya sudah ada yang ngarep, tinggal kamu sudah siap apa belum?"
Sesil melirik Dokter Agung yang tersenyum menyeringai sambil menaikkan kedua alisnya dengan cepat.
"Tahun depan saja deh, Bu."
"Kenapa?" tanya Agung.
Seketika Agung membelah kerumunan dan mematung di depan Sesil.
"Semua aku sudah punya, harta, pekerjaan, ketampanan," Agung sudah kumat narsisnya.
"Lalu apa lagi?"
Agung hanya manggut manggut mengerti, sebagai mantan playboy itulah tantangan yang berat untuknya.
Sabrina mengangkat kedua jempolnya saat melihat ketegasan Sesil.
Mahesa mendekati Randu yang masih ada di sana.
"Kamu mau honeymoon kemana?" tanya Mahesa.
Sabrina hanya bisa nyengir mendengar ucapan suaminya.
"Nggak usah honeymoon deh, Mas."
Benar benar nih orang kayak sapu lidi, gerutu Sesil dalam hati.
"Nggak romantis, tinggal pergi saja nggak mau, kalau aku mah minta ke luar negeri," celetuk dokter Agung. Namun sedikitpun tak berpengaruh untuk Randu yang sudah memilih untuk menghabiskan waktu di rumah, hanya berdua saja.
Beberapa kali Sabrina menguap, kantuknya sudah tak bisa ditahan, apa lagi perutnya terlalu kenyang sudah menghabiskan berapa potong puding.
__ADS_1
"Mas kita pulang."
Sabrina bergelayut manja di lengan Mahesa. Rasanya sudah tak kuat mendengar percakapan yang lain.
Setelah semua pamit, Arum kembali ke kamarnya meninggalkan Randu yang masih menemui salah satu sahabatnya yang tertinggal.
Arum menghempaskan tubuhnya tanpa melepaskan gaun pengantinnya.
"Ya Allah, mulai hari ini aku akan mengabdikan hidupku untuk mas Randu, aku ingin Engkau meridhoi hubungan kami."
Hampir lima belas menit menunggu, akan tetapi belum ada tanda tanda Randu datang, akhirnya Arum terbangun dan melepas hijabnya yang yang entah beberapa jam melekat. Tak lupa Arum melepas ikatan rambut hingga helai demi helai rambutnya terurai.
Ceklek
Tiba tiba saja pintu terbuka saat Arum meraih sisir. Gadis itu gelagapan dan menyambar hijabnya yang diletakkannya sejenak.
Randu mematung di belakang pintu seraya menatap Arum yang tampak gugup.
"Kamu kenapa?" tanya Randu, melepas sepatu lalu beralih jasnya dan mendekati Arum yang masih berada di depan meja rias dengan mencengkeram kerudungnya yang dipakainya asal.
"Nggak kenapa napa, Mas. Tadi gerah, jadi aku lepas," ucap Arum dengan gugup.
Randu tersenyum menurunkan tangan Arum.
"Aku suami kamu, jangankan kerudung yang kamu buka, baju pun tidak apa apa. Bukankah itu pahala?"
Perlahan Randu melepas hijab yang dipakai Arum dan meletakkannya di atas meja rias.
Jantung Arum melompat kesana kemari saat Randu mendekatkan wajahnya. Hembusan nafas Randu membuat Arum semakin merinding dan gemetar.
Melihat ketakutan di wajah Arum, Randu mengurungkan niatnya untuk mencium wanita itu, dan Randu memilih untuk memeluknya.
"Kalau kamu masih takut, nggak apa apa, kita bisa tunda. Aku ke kamar mandi dulu."
Randu melepaskan pelukannya dan memutar tubuhnya.
Saat Randu tiba di depan kamar mandi, tiba tiba saja sebuah tangan melingkar di perutnya dari belakang.
"Aku sudah siap, Mas. Mulai malam ini aku adalah milik kamu."
Arum mengumpulkan semua keberaniannya, ia memutar tubuh Randu hingga saling tatap muka.
"Aku akan melakukan kewajibanku sebagai seorang istri."
__ADS_1
Merasa mendapatkan lampu hijau, Randu melanjutkan langkahnya untuk membersihkan diri sebelum melakukan aktivitas perdana yang akan melelahkan.