Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
SINOPSIS


__ADS_3

Karena desakan kedua orangtuanya, seorang gadis bernama Julia menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya, ia tak menyangka pernikahannya hanya seumur jagung. Julia pergi ke Jakarta untuk melupakan dan meraih kebahagiaan disana, melalui seorang sahabatnya, ia berhasil mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Di tempatnya bekerja, ia bertemu dengan pria yang membuatnya mengenal cinta yang sesungguhnya, seseorang bernama Satria.


Sesungguhnya Satria adalah Bos di kantornya yang berwatak egois, dingin dan angkuh. Pertemuan awal dengan Bosnya sangat tidak menyenangkan dan memalukan, hingga ia dikatakan sebagai Miss Clumsy. Tapi begitulah kehidupan, entah bagaimana awal mulanya Julia bisa jatuh cinta, sedangkan kejadian demi kejadian tak menyenangkan bertubi-tubi dihadapi Julia, selama ia mengenal Satria.


Akankah Julia bertahan di Jakarta, dengan banyak masalah yang ia terima? Apakah rasa cintanya pada Satria bersambut? Semoga semua akan berakhir bahagia.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


KANDAS


Dengan wajah serius Julia membaca isi surat yang ditinggalkan suaminya. Matanya berkaca-kaca.


" Saat kamu baca surat ini, mohon maaf sebelumnya Julia, aku harus pergi, aku tahu ini menyakitkan untukmu, tapi akupun harus jujur pada diriku sendiri, aku tidak bisa terus bersamamu. Aku mencintai orang lain, dan aku juga tidak ingin membuat Septi terluka dengan pernikahan kita. Aku berharap kamu mengerti, bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, dan aku baru bisa memutuskan setelah seminggu pernikahan kita, karena aku juga tidak bisa menolak keinginan orang tuaku untuk menikah denganmu. Julia aku harap kamu bisa mengerti dan memahami keputusanku. Aku pergi ke Jakarta untuk menikah dengannya, semoga kelak kamu juga akan bahagia dengan laki-laki pilihanmu. sekali lagi maafkan aku Julia."


ttd Indra Sasongko


Setelah membaca surat dalam genggamannya, Julia menekuri lantai sambil meremas kertas yang ditulis suaminya, tidak tahu apa yang harus ia lakukan, hatinya pedih merasakan penolakan. Pernikahan yang baru berusia seminggu harus kandas, karena suami yang dijodohkan oleh orangtuanya tiba-tiba memutuskan pergi bersama kekasihnya. Julia menangis perih, airmata begitu deras meluncur dari kedua matanya, dadanya sakit sesakit-sakitnya.


" Hikz,, hikz,,,, hikz,,, Ya Tuhan kuatkanlah aku, pedih sekali hati ini Tuhan,,,, mengapa aku harus mengalami ini? apa salahku?! Julia meraung-raung di kamarnya, ia terus meratapi kesedihannya.


Awalnya, ketika Julia dijodohkan dengan Indra Sasongko anak dari sahabat ayahnya, Om Santo Sasongko, Iapun menolak, tapi kedua orangtuanya meyakinkan Julia bahwa Indra adalah laki-laki yang baik, dan ia memang melihat bahwa Indra memang baik dan soleh. Ia tak menyangka akan jatuh hati pada Indra setelah pertemuan pertamanya, Indrapun tidak terlihat menolak keinginan orangtua mereka, persiapan pernikahanpun berjalan tanpa kendala, semua berjalan sesuai keinginan kedua belah pihak. Orangtua Indra bahkan sangat menyayangi Julia. Tak ada satu prosespun yang tidak melibatkan orangtua Indra, malah ibu Indra begitu antusias dengan segala persiapannya. Mulai dari fitting baju pengantin, menyiapkan mas kawin, mencari perias pengantin yang terbaik di kota ini, hingga masalah cateringpun tak luput dari campur tangan Ibu Indra. Saat itu Julia sama sekali tak menyangka, kalau Indra sudah mempunyai calon lain selain dirinya. Julia dan kedua orangtuanya sangat bahagia saat itu. Karena Julia merupakan anak tunggal dari keluarga Rusman.


Tapi kebahagiannya tak berlangsung lama. Jarak antara pertemuan pertama, lamaran dan pernikahan memang cuma enam bulan, membuat Julia tidak seberapa mengenal sosok Indra.


Yang ia tahu, Indra adalah laki-laki mapan dan cakap dalam berbicara. Melihat sosoknya sepertinya Indra kebapakan. Usianya 31 tahun, lebih tua 6 tahun dari Julia yang masih berusia 25 tahun.


*****


" Tok tok tok!" suara pintu diketuk dari luar kamar. Julia menggeliat bangun dari tidurnya diatas lantai.


" Siapaaaa?!" tanya Julia.


" Ini bibi non, sarapannya sudah siap non." sahut bibi sum dari luar.


klik,,,

__ADS_1


Pintupun terbuka, Julia keluar kamar, wajahnya sembab karena semalaman ia menangis. Bibi sum yang melihat kondisi Julia terheran-heran, setengah kepo ia melirik ke dalam kamar.


" Tuan Indra kemana non? kok wajah non Julia sembab seperti habis nangis non, non Julia kenapa?!" tanya Bi Sum khawatir dengan keadaan majikannya.


Seketika Julia langsung menubruk bibi sum dan menangis pilu menyayat hati siapapun yang mendengarnya, hingga bi sum kelimpungan, ia mengelus dada.


" Mas Indra pergi bi,,,,, di-a,,,, dia pergi menemui kekasihnya bi, dia ninggalin Julia,,,, hiks hiks hiks,,,,, " Julia terisak yang membuat bathin Bi Sum merasakan kesedihan majikannya ini.


Bi Sum memang sudah mengabdi pada orangtua Julia dari Julia masih kecil, sekarang saat Julia menikah dan tinggal di rumah sendiri pemberian orangtua Julia, ia membawa serta bibi sum untuk menemani.


***


Semburat kemerahan terlihat dari ufuk barat,,,, pertanda sang Mentari bentar lagi tenggelam masuk ke peraduannya. Suara keriaan anak-anak kecil beserta orangtuanya yang bermain ombak di tepi pantai, mulai tak terdengar.


Mereka semua beranjak pergi dari pantai.


Julia masih duduk bersila diatas tembok batu pemecah ombak. Sedari jam 4 sore ia duduk disana sambil termenung. Rasanya damai mendengar suara deburan ombak, anak kecil yang berteriak riang sambil berlari kecil menghindari ombak yang mengejar mereka, terkadang Julia ikut tertawa melihatnya. Kadang pula terdengar suara klakson kapal tanker yang sedang antri untuk masuk ke Dermaga area 70.


Jam 17.45.


Julia bangkit dari duduknya, berjalan sendiri menuju ke tempat mobilnya diparkir. Ternyata mobil-mobil dan motor yang diparkir dekat mobilnya tadi, sudah tidak ada lagi, tinggal mobilnya sendiri, yah sendiri, sama seperti perasaannya sekarang. Sendiri! tanpa kekasih, tanpa pendamping hidup.


Julia mendesah pelan, ia menstarter mobilnya untuk segera pulang. Bi Sum pasti sudah khawatir,,,,


***


Bibi Sum menyiapkan malam untuk Julia, terdengar suara wajan dan sutil beradu dari arah dapur, wangi aroma masakan menguar, membuat siapapun yang tak sengaja menbauinya pasti merasa lapar.


Tapi tidak dengan Julia, ia tidak merasa lapar sedikitpun, ia tengah berduka, seperti dukanya orang yang ditinggal mati oleh orang yang dicintainya.


Padahal biasanya, Julia selalu tergoda untuk mencicipi masakan Bi Sum, karena baginya, " Bibi Sum adalah koki terhandal dalam cover yang sederhana!" goda Julia di hari-hari sebelumnya.


Bi Sum berjalan mendekati Julia yang sedang menonton TV, atau lebih tepatnya melamun di depan TV.


"Non, masakan sudah siap, Non Julia makan ya,,, meski sedikit,,,, ? bibi khawatir Non sakit, masuk angin kalau ndak makan." ucap bi sum melas,,,,

__ADS_1


"Malas bi,,,, aku ga selera makan." jawab Julia.


Ia malah meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia teringat akan menelpon Santi sahabatnya, yang sekarang sukses berkerja di ibukota.


"tuuuttt,,,, tuuuuttt,,,, tuuuutttt,,,,


sampai 7 kali bunyi, telpon baru diangkat Santi.


"Assalamu'alaikum Santi,,,,." sapa Santi.


"Walaikumsalam,,,, gimana Julia? ada yang bisa aku bantu? Ohiya selamat ya HWD, semoga samawa!! ucap Santi


"Bagaimana acara pernikahanmu kemarin? sukses kan? tanya Santi lagi.


Julia bangkit dari sofa, dan mematikan TV. Ia meneruskan obrolan telpon di kamar.


****


Dua hari setelah kepergian Indra, Julia mengemasi beberapa helai pakaiannya kedalam koper, ia bertekad untuk pergi ke Jakarta, bukan untuk mencari Indra suaminya, yang sekarang bisa dikatakan mantan suami, walaupun Julia belum mengurus perceraian dengan Indra.


Kepergiannya ke Jakarta karena ia akan mengambil pekerjaan yang sempat ditawarkan Santi sahabatnya. Saat ia sendiri seperti ini tidak bisa tidak, ia harus mempunyai kesibukan, apalagi sebelum menikah Julia juga bekerja di Kantor Kontraktor.


.


.


.


Semoga saja tawaran itu masih berlaku untuknya.


.


.


.

__ADS_1


( Dilanjuuuttttt 😊😊😊 )


__ADS_2