Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
MENGINAP DI RUMAH BOS


__ADS_3

☆☆☆


Hmmmmhhhh Ia merutuki diri sendiri, yang pelupa dan ceroboh, meninggalkan kopernya di rumah Mba Arzhad. Lalu bagaimana ia ganti baju?


Sudah jam 3 pagi, Satria menunjukkan kamar tamu yang berada di lantai bawah, untuk Julia. Ia tidak menyuruh pelayan.


"Julia ini kamarmu,,, ada kamar mandi di dalam, kamu bisa mandi dulu, dan beristirahat. Kalau kamu lapar, aku bisa bangunkan Pak Amad untuk menyiapkan makan dini hari?" ucap Satria sambil tertawa.


"Tidak Tuan Satria, saya istirahat saja, tapi,,,,, saya ganti baju pakai apa ya?" tanya Julia ragu.


Satria menepuk jidatnya.


"Ok tunggu sebentar,,,,." ucap Satria, ia berjalan keluar kamar, entah kemana, sementara Julia segera masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan kran air panas dan dingin ke dalam bathtub. Setelah air hangat siap, ia bergegas mandi,,, selesai mandi, ia bingung, tak ada handuk. aduh gimana ini?! pekiknya panik. Ia membuka pintu kamar mandi sedikit, lalu mengintip ke dalam kamar, dilihatnya Tuan Satria sedang duduk di sofa dekat ranjang. Aduuuhh,,, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Tuan, Maaf, di kamar mandi tidak ada handuk,,,, apa Tuan bisa membawakannya untuk saya?" tanya Julia panik, ia tidak perduli bosnya beranggapan seperti apa. Yang ia tahu, ia harus menyeka tubuhnya.


"Bentar Julia,,, saya ambilkan!" jawab Satria bergegas. Ia membuka nakas yang ada di kamar tersebut, dan memberikannya pada Julia dari celah pintu yang dibuka sedikit. Julia dengan hati berdebar menerima handuk dari tangan Satria.


"Julia saya keluar kamar dulu, ada baju yang bisa kamu pakai sementara!" ucap Satria setengah berteriak.


"Iya Tuan, terima kasih." jawab Julia.


Julia keluar kamar mandi dengan handuk yang setengah menutupi tubuhnya, karena handuk itu agak kecil untuk ukuran tubuhnya yang setinggi 169 cm. Ia melongo mendapati baju yang disiapkan Tuan Satria, hanya berupa kaus tanpa kerah yang panjangnya setengah pahanya, dengan celana pendek. Ini pasti baju Tuan Satria, pikir Julia. Tapi salahnya sendiri ia lupa membawa koper, jadi beginilah nasibnya,,,,, Julia merutuk dalam hati tak habis-habisnya.


Dasar pelupa!!! Konyol! Konyol! Konyol,,, !!!


"Julia,,,, " Satria memanggilnya selama tiga kali sambil mengetuk pintu.


Julia diam saja, ia berpura-pura sudah tidur, karena ia malu kalau harus ketemu Tuan Satria lagi dengan kondisi pakaian seperti ini. Padahal ia merasa lapar, perutnya keroncongan.


Julia tidak bisa tidur dalam keadaan lapar, apalagi AC di kamar ini dingin sekali walau ia sudah setel di 17 derajat.


***


Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalu jendela kamar, sangat menyilaukan membuat Julia terbangun dari tidurnya. Pantas saja,,, kamar tamu ini menghadap ke timur, posisi arah datangnya mentari. Julia berjalan gontai, karena ia tidur kurang dari biasanya, ia berjalan menuju jendela kamar dan membuka tirai. Ia memandang keluar jendela,,,, terdapat taman yang penuh tanaman hijau disana. Rupanya Tuan Satria menyukai tanaman.

__ADS_1


Krruyyyuuukķkk,,,,,


Julia memegang perutnya yang keroncongan.


Tok! Tok! Tok! Julia,,,, sapa Satria sambil mengetuk pintu.


Julia segera bergegas membuka pintu.


"Iya Tuan?" jawabnya sambil memandang orang yang ada dihadapannya.


"Kamu baru bangun? aku tadi mengetuk pintu sampai tiga kali tidak ada yang menyahut." ucap Satria.


Pandanganya mengarah ke tubuh Julia yang memakai bajunya, Satria agak sedikit menegang, Julia sangat seksi,,,, bathin Satria. Julia yang merasa diamati seperti itu oleh bosnya, kemudian tersadar,,,, tapi apa daya perutnya lapar.


"Sebentar Tuan, saya ganti dulu,,,," pamitnya tergesa dan menutup pintu. Satria cuma melongo, Julia menutup pintu seenaknya. Membuat Satria garuk-garuk kepala.


Setelah Julia mengenakan celana jeansnya, ia membuka pintu lagi, tapi Tuan Satria sudah tidak disana, Iapun bingung, harus kemana.


Saat dalam kebingungan, seorang pria paruh baya menghampiri.


"Oh iya Pak Amad,,,, terima kasih, kebetulan saya lapar sekali Pak." jawab Julia jujur. Membuat Pak Amad tertawa.


Julia mengikuti Pak Amad menuju ruang makan, disana ada Tuan Satria yang sedang menyesap kopi hitam.


"Julia, ayuk sarapan, kamu pasti udah lapar bukan?" tanya Satria yang cuma dijawab anggukan oleh Julia.


"Nona Julia mau dibuatkan teh atau kopi?" sela Pak Amad.


"Ohiya Pak, teh saja, terima kasih Pak." jawab Julia polos.


Pak Amad kembali ke dapur untuk menyiapkan teh untuk tamu Tuannya itu.


Untuk pertama kalinya Julia sarapan di rumah Tn Satria bosnya. Dengan sedikit malu, Julia mengambil nasi dan lauk pauk yang ada di meja. Satria memandangi Julia dengan tersenyum, karena perempuan itu yang membuat Satria selera makan, mengikuti Julia yang selalu makan dengan lahap. Ia sangat suka melihat perempuan yang makan dengan lahap, bukan perempuan yang makan sedikit dan jaim.


Saking lahapnya, sampai di sekitar mulut Julia ada nasi yang tercecer,,, Satria terkekeh, ia mengambil tisu, dan langsung menyeka sekitar bibir Julia dengan lembut. Julia terkejut,,,, pandangan merekapun beradu selama beberapa detik, dan beralih, saat Pak Amad keluar dari arah dapur membawa baki berisi seteko penuh teh dan cangkirnya.

__ADS_1


"Silahkan Nona Julia, tehnya." ucap Pak Amad.


"Emm iya Pak Amad, terima kasih sekali lagi." jawab Julia masih sedikit kikuk atas kejadian barusan.


Mereka melanjutkan sarapan dalam diam, sesekali Satria melemparkan pandangan dengan tersenyum.


***


"Tuan Muda,,, apa Nona itu yang pernah Tuan ceritakan?" tanya Pak Amad kepada Satria.


Satria celingukan, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Sssttt,,,,, jangan keras-keras!! Nanti Julia tahu." jawab Satria setengah berbisik.


Pak Amad tersenyum,,,,


"Nona Julia itu cantik sekali ya Tuan? dan juga sopan orangnya. Tidak salah memang pilihan Tuan." bisik Pak Amad lagi.


Sontak Satria tersenyum bangga.


"Tapi apa Tuan sudah mengutarakannya?" tanya Pak Amad kemudian.


"Sssttttt,,,,,!!! mengutarakan apa Pak?! tanya Satria tulalit.


"Aduuuhhhhh,,,, ya mengutarakan Cinta lah Tuan,,,,,,!!" jawab Pak Amad agak sedikit keras berbisiknya karena gemas. Masa iya seorang duda mesti diajari soal begituan? bathin Pak Amad.


Keduanya tertawa terkekeh,,,,





( kaya lari estafet nih bikin ceritanya,,,, biar para readers semangat juga bacanya. Ditunggu like n commentnya yaaaa,,,, terimakasih,,,, 😊😊😊 )

__ADS_1


__ADS_2