Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
DILEMA


__ADS_3

β˜†β˜†β˜†


Satria mendekap Julia, lalu mencari saklar lampu dan mematikannya. Dalam cahaya temaram, ia memandang wajah Julia yang semakin cantik, bulat matanya begitu indah.


"Begini lebih romantis kan?" goda Satria.


"Mas sebenarnya apa sih yang kamu inginkan?" tanya Julia putus asa. Ia menerima perlakuan Satria tapi tanpa kepastian.


"Aku? aku menginginkanmu Julia,,,,." jawab Satria, sambil menelan ludahnya.


"Menginginkanku? yang seperti apa?!" tuntut Julia, ia ingin kepastian.


Hmmmmhhhhh,,,, Satria mendesah.


Dilepaskannya Julia. Ia teringat cerita Rico setelah selesai meeting tadi. Pertemuannya dengan Indra, dan pengakuan Indra pada Rico soal pernikahannya dengan Julia. Ia kasihan pada Julia, yang mendapatkan duda sepertinya, sementara Julia ternyata masih perawan.


"Kenapa diam Mas?! kamu takut?" ucap Julia sedikit galak.


"Ta-takut? takut apa Julia?!" jawab Satria bimbang.


Julia berjalan ke pintu depan, ia keluar ke teras dan duduk disana lama. Satria yang takut ditanya lebih jauh lagi, pergi ke kamarnya, dan membersihkan diri, agar pikirannya tenang.


Sejam lebih ia di kamar, dilihatnya sudah setengah sebelas malam. Ia pergi ke jendela, memastikan apakah Julia masih disana. Satria terkejut melihat Julia sedang melamun. Perasaannya terenyuh,,,,


Satria keluar mendekati Julia,,, dan duduk disebelah Julia.


"Julia,,, yuk masuk? sudah malam, besok kita mesti kembali ke Jakarta." ucap Satria lembut.


Mata Julia nanar,,,, Ia menghela nafas.


"Mas, maafkan aku, aku sudah mempertimbangkan ini sebelumnya, aku,,,, aku mengundurkan diri dari pekerjaan ini." ucap Julia, mimik wajahnya serius.


"Ke-kenapa?!" Satria bertanya setengah tak percaya.


"Aku tidak bisa menghadapi ini terus, kadang aku merasa, Mas suka padaku, tapi cuma sebatas itu, Mas bisa seenaknya memeluk dan menciumku, tapi apa Mas sadar? Mas tidak ada komitmen apapun denganku! aku bukan gadis yang Mas jumpai di klub malam atau karaokean, yang bisa diperlakukan seperti itu tanpa komitmen!! Maaf, aku tidak minta untuk Mas mencintaiku, tapi ini semua tidak adil buatku. Aku berpikir lebih baik aku tidak disini, agar Mas tidak selalu mendekatiku." Julia berbicara panjang lebar, isinya betul membuat Satria terluka, ternyata pandangan Julia terhadapnya terlalu kejam.

__ADS_1


Julia berdiri, ia seka air matanya dengan gusar.


"Aku pernah menikah, aku janda, tapi bukan berarti orang bisa memperlakukanku semau orang!" Ucap Julia, hatinya sakit.


Satria terdiam membisu, bathinnya sangat marah. Marah yang tak bisa ia lampiaskan.


"Besok pagi aku tidak lagi bekerja. Dan aku juga akan pamit pada Santi. Maafkan aku." Julia berkata, lalu masuk ke dalam, kini tinggal Satria sendiri diluar.


Sulit sekali mengungkapkan isi hatinya pada Julia, ia sangat mencintai gadis itu. Tapi egonya yang terlalu tinggi membuat ia tak bisa bicara apapun. Jujur saja ia mengandalkan Nenek Fatiah yang secara alamiah memang menyukai Julia.


***


Sandrina sudah baikan, ia sudah lincah lagi bergerak, dan berceloteh, celotehan lucu anak usia 8 tahun, yang kadang seperti tokoh dalam sinetron.


Julia melihatnya dengan miris, baru 2 hari ia mengenal Sandrina, tapi mereka sudah seperti ibu dan anak, akrab sekali. Ia sedih kalau seandainya tidak bisa bertemu Nenek dan Sandrina, juga Satria. karena sebenarnya, Ia mencintai Satria, Bosnya. Ada banyak kisah bersama Satria, yang tidak bisa ia lupakan begitu saja. Sosok laki-laki pertama yang mengenalkan banyak hal padanya.


Julia telah menyiapkan sarapan dari jam 5 pagi. Nasi goreng tanpa cabai, telur dadar, bawang goreng, dan sosis goreng.


Aroma masakannya begitu menggoda, membuat perut Satria keroncongan minta diisi. Ia berjalan ke meja makan. Dilihatnya Julia sudah disana, bersama Nenek dan Sandrina. Julia begitu cantik mengenakan dress hijau motif daun monstera, dan cardigan putih.


Satria duduk, matanya tak berkedip memandang Julia, sampai Nenek terbatuk-batuk.


Sarapan mereka lalui dalam keheningan,,, selesai makan, Nenek berbicara.


"Kenapa kamu ga sabaran sih Sat?! Nenek ingin Julia disini sehari lagi. Lagipula ada Sandrina disini." ucap Nenek.


Satria memandang Julia sekilas.


"Tidak bisa Nek, banyak yang harus Julia kerjakan." ucap Satria pelan, ada kepiluan dalam hatinya.


"Baiklah Nek, Sandrin,,, Ayah dan tante Julia harus ke kantor! Sandrina sama Nenek dulu ya?!" ucapnya sambil mencium kening Sandrina dan Nenek.


Sandrina yang mengerucutkan bibirnya, akhirnya menurut.


"Nek, Julia pamit dulu ya? Sandrina, Tante kerja dulu, besok kita main lagi." janji Julia, entah apakah ia bisa menepatinya atau tidak.

__ADS_1


Julia mencium tangan Nenek, dan mencium pipi Sandrina.


"Daaaghhh sayang,,,,, Daaagghhhh Nenek,,,, Assalamu'alaikum!" pamit Julia sambil melambaikan tangannya.


Di halaman, Satria mencoba mencairkan suasana, ia membukakan pintu untuk Julia, bersikap sok romantis, tapi Julia diam saja.


Dari berangkat hingga di perjalanan, Julia tetap tak bergeming, ia sudah membulatkan tekad untuk pergi.


Ketika mobil mengambil arah ke kantor, Julia tersadar dan ia meminta Satria untuk ke apartemen. Satria tidak mengindahkan, ia tetap mengendarai mobilnya ke kantor. Julia kesal, tapi dia tak ingin bertengkar.


Sampai halaman gedung kantor, Julia buru-buru keluar dari mobil dan berjalan keluar halaman gedung. Satria tidak mengejarnya, karena pasti banyak karyawan yang akan melihatnya. ia tidak menyangka Julia benar akan pergi. Hatinya menjadi sangat gusar.


Julia memesan grab, ia tidak langsung pulang ke apartemen. Tapi justru menuju ke pusat perbelanjaan, dia ingin sekedar refreshing dan membeli makanan.


***


Satria benar-benar putus asa, Julia memilih pergi darinya, dan tidak ingin bekerja lagi dengannya.


Diusapnya wajahnya dengan kasar. Beberapa hari yang lalu ia merasa hidupnya penuh warna, bisa mengusili atau membuat Julia marah. Tapi pagi ini dan hari selanjutnya? entahlah,,,, pikir Satria tadi, Julia akan marah lalu mengerjai Satria, ternyata Julia diam saja, dan pergi begitu saja, tanpa pamit?


Satria mencoba menghubungi Julia berulang kali, tapi Julia tidak mau mengangkat. Rasanya ingin sekali ia membanting ponselnya.


Rico memandang wajah Bosnya yang terlihat gusar, padahal siang ini ada meeting dengan Dato Seri Arif lukman, untuk melanjutkan proyek jalan layang di Malaysia.


"Kenapa Bos? ada masalah?" tanya Rico.


"Hmmmhh Ya Ric! dan sepertinya ia tak akan pernah kembali." ucap Satria lesu.


Demi mèlihat Satria seperti ini, Rico merasa sedih. Satria dulu adalah orang yang kaku, dan dingin pada perempuan. tapi kali ini ia begitu menyedihkan. Dan seingatnya, Satria belum pernah jatuh cinta seperti ini pada seorang perempuan, dari jaman sekolah. Pernikahannya dengan Srianti, sebenarnya adalah perjodohan yang dilakukan oleh orangtua Satria.


Baru kali ini, Satria menyukai gadis yang datang dari perasaannya sendiri.


πŸ’–


πŸ’–

__ADS_1


πŸ’–


( Bersambung,,,,, )


__ADS_2