Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
HATI YANG TERSAKITI


__ADS_3

💖💖💖


Begitulah,,, akhirnya Satria memberanikan diri melamar Julia, saat itu hatinya berdebar, akan ditolak,,, atau diterima oleh Julia. Ia ingat pesan Nenek, bahwa laki-laki itu harus berani ambil resiko! diterima ya bersyukur,,,, ditolak? cari lagi,,,, itu kata Nenek Fatiah selalu.


Tapi alhamdulillah berkat doa dari Nenek dan Sandrina, Julia menerimanya, Satria sangat bahagia.


"Trus apa rencanamu selanjutnya Julia? apa kamu masih ingin di jogja? atau kembali bekerja?" tanya Satria akhirnya.


"Entahlah,,, menurutmu bagaimana Mas?" Julia balas bertanya dengan serius.


Mendengar kalimat Julia, Satria merasa hatinya begitu senang, Julia meminta pendapatnya, walaupun ia sendiri bingung.


"Begini saja,,,, kamu pulang dulu Julia, bicarakan ini pada orangtuamu. Aku akan meminta Nenek untuk melamarmu?" jawab Satria.


"Begitu cepat?!" tanya Julia tak percaya.


"Nenek tidak mau kita pacaran! yang Nenek mau taaruf atau menikah secepatnya! Ehm ini saran Nenek loh,,,,." jawab Satria tersipu. Ia menggarukan kepalanya.


"Oke baiklah,,,, terserah Mas saja!" ucap Julia yang juga malu-malu.


Tetiba bel pintu berbunyi.


Keduanya berpandangan, "Siapa?"


Julia membuka pintu kamar, Julia terkejut, Tami dan Herdi sudah di depan kamar.


"Oh Tam, Her,,,, apa kita janjian?" tanya Julia gugup.


Satria melongokkan kepalanya, ia bangkit seketika, dan langsung berpamitan pada Julia. Walaupun ia cemburu melihat siapa yang datang, Ia ingin menghargai Julia, yang sekarang menjadi calon istrinya.


Sontak Tami terkejut, melihat laki-laki tampan yang ia ingat, menginap di depan kamar Julia, berjalan melewatinya sambil tersenyum. Raut wajah Herdi menegang, ketika laki-laki itu memandangnya dengan menyelidik.


"Kamu,,,, dia,,,, ?!" tanya Tami bingung. "kalian udah kenalan? apa yang dia lakukan di kamarmu Julia,,,,,?!" tanya Tami histeris.


"Ehm,,, ayo masuk dulu!" Julia mengajak masuk tamunya, pintu kamar ia biarkan terbuka, ia tidak ingin Satria lebih cemburu lagi.

__ADS_1


"Laki-laki yang menginap di depan kamarku, dia Bosku. Waktu semalam kalian tanya aku ada urusan apa? dia lah yang bersamaku." terang Julia tak nyaman.


"Oh Bosmu! kenapa kemarin kamu diam saja? waktu aku cerita soal tamu yang menginap di depan kamarmu?!" Tami masih penasaran. Herdi hanya mendengarkan saja. Entah apa yang ia rasakan, Julia berada di kamar dengan laki-laki tampan yang ia akui sebagai Bosnya!


"Ma-maaf Tam, Her,,,, sebenarnya Bosku itu mengawasiku dari kemarin, karena aku pergi tanpa pamit. Yah ada sedikit masalah diantara kami, tadi pagi,,,,, dia,,,,, dia melamarku Tam, Her!" akhirnya Julia mengaku, ia juga menunjukkan cincin yang kini tersemat di jari manisnya. Tami tertawa lega,,,, sambil melirik ekspresi Herdi yang berubah sendu. Hmmhhh sudah tidak ada kesempatan lagi? terdengar Herdi menarik nafas kasar.


"Baiklah sepertinya tidak enak kita disini, apa tidak sebaiknya kita mengobrol di lobi?" ucap Tami memecahkan kebisuan.


Julia mengangguk, bagaimanapun juga sudah ada hati yang harus ia jaga. Ketiganya menuju ke lobi di lantai dasar. Ponsel Julia bergetar, ada notifikasi pesan whatsapp masuk, ia membacanya, dari Mas Satria, lalu ia membalasnya.


***


"Met siang semuanya,,,,," sapa Satria ramah. Ketiganya balas menyapa, Tami menyikut tubuh Julia.


"Ohya perkenalkan ini Mas Satria, calon suamiku,,,,." Julia memperkenalkan Satria kepada kedua temannya. Mereka bergantian salaman. Mata Tami sama sekali tak berkedip memandang Satria.


"Julia kita akan makan siang, kalau tidak keberatan, boleh kita makan bersama?" tanya Satria pada kedua teman Julia ramah.


Herdi yang sejak tadi diam saja, menolak halus ajakan calon suami Julia, ia merasa patah hati untuk kedua kalinya, tapi Tami yang setuju untuk ikut dengan Julia, dengan memaksa, akhirnya Herdipun ikut.


***


Acara makan berjalan santai, mereka mencari restauran dengan menu khas kampung, ada sambal korek, sayur urap, gulai nangka, sayur pare, ikan gurame, ikan mujair, ayam goreng, bebek goreng, dan lainnya, hingga Julia bingung mau pesen apa. Akhirnya pilihannya jatuh pada bebek goreng kesukaannya, ditambah es teh! wajib itu,,,


Ketiganya makan dengan lahap, hanya Herdi saja yang keliatan tak nafsu makan, Julia meliriknya tanpa sengaja. Berbeda ekspresi dengan Tami yang begitu senang.


Satria sepertinya sengaja untuk membuat Herdi semakin ciut,,,, Ia selalu bersikap mesra dan perhatian pada Julia. Yah memang sih apa yang dilakukan Satria memang tidak dibuat-buat, seperti biasa, alami saja. Karena memang Satria orang yang jauh dari kepura-puraan. Tapi membuat Herdi semakin tersingkir,,,, ia tentu saja tahu diri.


Tapi dasar Tami, ia seperti tak punya perasaan, ia malah terang-terangan mengagumi Satria, Kalau bukan Julia, mungkin ia sudah menjambak rambut Tami. Julia geleng-geleng kepala saja melihatnya.


Apalagi saat Satria menerima telpon soal bisnis, Tami semakin melongo saja,,, ia benar takjub dibuat Satria, sudah ganteng, mapan, tajir lagi!!! berbeda dengan Herdi, yang bisnis cafe baru dua tahun ia rintis. Pikirnya Julia pasti sangat bahagia.


Lama-lama kesel juga liat Tami yang caper di depan Satria, akhirnya Julia mengajaknya toilet.


"Tam ke toilet yuk,,,, liat tuh mukamu belepotan gitu." tunjuk Julia berbohong.

__ADS_1


"Eh masa sih? ayuk ah!" jawab Tami merasa malu.


Tami yang takut penampilannya malu-maluin segera bangkit dan pergi ke toilet mendahului Julia. Julia terkekeh saja melihat tingkah Tami. Ya ampun Tami,,,, sampai sekarang ga berubah kalau liat cowok yang menurutnya ganteng.


Herdi merasa kikuk ditinggalkan berdua saja dengan calon suami Julia. Awalnya ia merasa kalau Julia cuma bersandiwara,,,, tapi melihat perhatian yang ditunjukkan Satria, mustahil kalau itu sekedar akting. Harapannya kini kembali musnah, ia takkan punya kesempatan untuk mendekati Julia lagi.


"Ehm,,,," Satria berdehem memecah kesunyian. Herdi melihat Satria sekilas.


"Jadi kamu berbisnis cafe di jogja ini Herdi?" tanya Satria berusaha ramah.


"Yah begitulah Mas,,, cafe kecil-kecilan saja kok, yang penting bisa jalan Mas,,,." jawab Herdi sungkan.


"Sudah Menikah?" tanya Satria lagi.


"Kebetulan belum Mas,,,, lagi mencari ini." jawab Herdi malu, rasanya perih, seperti diiris sembilu, ditanya begitu oleh calon suami orang yang dicintainya.


"Aku ingin menikahi Julia secepatnya Her,,, karena aku sadar, bersama dialah, hidupku bisa lebih berwarna." ucap Satria malu. Ia melirik Herdi untuk melihat reaksi laki-laki itu.


"Oh iya Mas,,,, Julia perempuan yang baik, tidak seperti perempuan kebanyakan. Itulah juga yang membuat aku,,, jatuh hati padanya." jawab Herdi terus terang, miris juga ia memikirkannya.


"Hmmm ya aku tahu! kamu mencintainya?!" tanya Satria jujur.


"Sekarang mungkin ya, tapi besok,,, aku tak mungkin lagi mencintai Istri orang kan?!" Herdi menjawabnya penuh perasaan.


"Aku yakin kamu orang baik Herdi, aku berdoa semoga kamu mendapatkan yang terbaik.!" ucap Satria memberi semangat.


Herdipun mengangguk sedih,,,,


💔


💔


💔


( Begitu tabah hati Herdi, semula semangatnya kembali bersinar, saat ia tahu Julia berada di jogja! tapi kini?!,,,,,, tunggu lanjutan kisahnya ya? jangan lupa like n commentnya 😚😚😚 )

__ADS_1


__ADS_2