
Mendengar analisa Rico, Satria menjadi merasa bodoh. Dia gemas juga dengan Srianti. Apa yang membuat Srianti ingin memisahkan antara Dia dan Julia.
"Bos, semua itu karena kondisi bisnis dari Sandi suami Srianti dalam kondisi tidak stabil. tentu ia takut jatuh miskin kan? come on! kamu lebih mengenal siapa Srianti itu? kalau orang jawa bilang "Wong kere munggah bale." yang bukan apa-apa menjadi sesuatu, dan ia takut kehilangan sesuatu itu." ucap Rico panjang lebar.
Semua yang dikatakan Rico memang ada benarnya. Ia sangat paham sifat Srianti. Ia berasal dari anak pegawai biasa, dan bukan siapa-siapa, hanya karena Ayahnya bersahabat dengan Ayah Satria, maka mereka dijodohkan dan menikah. Sebelumnya Satria sempat menolak dijodohkan, tapi karena rasa hormat pada kedua orangtuanya, Satria mengikuti kemauan mereka.
Sekarang Satria merasa malu telah menuduh istrinya yang tidak-tidak, hanya karena cemburu. Tapi bukankah Julia juga salah? dia tak minta ijin padanya untuk ketemuan dengan seseorang. Apapun alasannya, Satria tetap cemburu pada Daffin. Ia tak rela kalau Julia jatuh ke dalam pelukan Daffin.
"Ada urusan apa Daffin ke USA Ric?" tanya Satria sedikit kepo.
"Urusan bisnis tentunya! kudengar mungkin sampai dengan tiga tahun dia menetap disana." jawab Rico.
"Alhamdulillah,,,, semoga ia sukses disana." ucap Satria.
"Lega kan Bos? itung-itung selama itu rumah tanggamu akan tenang." ucap Rico sambil nyengir.
Satria mengernyitkan kening, tanda tak setuju dengan ucapan Rico. Tapi Satria diam saja menanggapinya.
***
"Mar, gimana sih? sepertinya Mas Satria itu belum percaya dengan semua rencanaku. Lama-lama lumayan juga keluar duit buat beli buket!" keluh Srianti.
"Ya gimana lagi bu,,,, memang harus berkorban! yang penting kan ibu bisa misahin antara Pak Satria dengan Bu Julia? iya kan?!" sahut Maryati.
Braaaakkkk,,,,,!!!!!
Pintu kamar Maryati terbuka lebar setelah didorong kasar oleh Satria. Satria terkejut, ia melihat mantan istrinya, Srianti, berada di kamar Maryati. Satria memutuskan pulang untuk istirahat sebentar di rumah, sebelum meeting. Tapi ia mendapati kenyataan lain, ia mendengar setiap ucapan mereka berdua.
"Ternyata!!!! ini ulahmu Sri!!!" ucap Satria berteriak.
"Apa yang kalian rencanakan? kalian ingin memisahkan kami? itu dosa besar Sri!!!" Satria masih berapi-api.
"Bukankah dosa besar, memisahkan pasangan suami istri?! aku tak menyangka kamu serendah itu!" ucap Satria terengah karena emosi.
Srianti yang mendengarkan luapan emosi Satria, tidak bisa berbuat apa-apa. Rahasia mereka terbongkar.
"Sekarang aku minta! kalian pergi sekarang juga! dan ingat, aku mau Sandrina diantar kesini sekarang juga!!!" ucap Satria lagi.
Keduanya tak berkutik, dan tidak bisa berbicara lagi. Akhirnya siang itu Maryati harus meninggalkan rumah, dan Srianti tidak boleh lagi menginjakkan kaki di rumah Satria.
__ADS_1
Pak Amad merasa lega, ia memang tidak menyukai Maryati yang genit.
Walaupun semua sudah terbongkar, Satria masih merasa enggan menjemput Julia di tempat Nenek. Ia malu.
"Bagaimana menurutmu Pak Amad, berarti memang Pak Amad tidak pernah menerima kiriman surat apapun saat Nyonya dulu pergi, lalu kecelakaan?" tanya Satria.
"Seingat saya tidak pernah Tuan. Saya tak pernah menerima surat apapun." jawab Pak Amad jujur.
"Baiklah Pak Amad, terimakasih, yang penting sekarang saya sudah tahu kebenarannya." ucap Satria.
Banyaknya aktifitas dan pikiran, membuat energi Satria terkuras.
"Pak saya lapar, apakah makan siang sudah siap? setelah ini saya ada acara meeting dengan client." ucap Satria lagi.
"Sudah Tuan,,, silahkan makan siang dulu." jawab Pak Amad, sambil menuju meja makan untuk menata piring dan gelas.
Satria makan siang sendiri. Ia membayangkan Julia ada disini, dan makan siang bersamanya. mungkin setelah pertemuan dengan client selesai, ia akan menjemput Julia dan Arga.
***
"Rico kurasa kita dealkan saja proyek dengan Pak Birowo. Tak masalah kalau kita turunkan sedikit harganya." ucap Satria pada Rico.
"Terus bagaimana soal Mr. Lee? apa Bos sudah ada keputusan? aku membayangkan kalau ini sukses, kita akan terus mendapat kepercayaan Mr. Lee." tanya Rico.
"Sementara kita cek lokasi dulu Ric, jangan buru-buru. Lagipula aku belum bisa ke Singapura sekarang ini. Aku mau menyelesaikan masalah rumah dulu." ucap Satria ragu.
"Baiklah Bos, apa perintahmu saja. Aku tinggal gerak." jawab Rico.
"Oh ya Bos,,, alhamdulillah sebentar lagi aku akan menyusulmu. Santi sedang mengidam. Mungkin aku pulang lebih awal hari ini." ucap Rico lagi.
"Santi hamil?! aku ikut senang mendengarnya Ric! aku akan punya keponakan ya? baiklah tak apa kamu pulang cepat. Aku juga akan ke rumah Nenek sekarang!" ucap Satria terkekeh. Ia senang juga mendengar mantan sekretarisnya hamil.
Keduanya berjalan beriringan ke tempat parkir, mereka akan menemui pujaan hatinya masing-masing.
***
Julia sedang menyuapi Arga bubur di teras depan. Ia sudah mendapatkan makanan pendamping ASI, karena usianya sudah lima bulan lebih. Kalau tidak begitu, Julia kewalahan memberikan ASI, karena Arga bentar-bentar merasa lapar.
Tak lama kemudian mobil Satria masuk, dan turun persis di depan teras.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum anak ayah,,,,.!" sapa Satria.
"Wa'alaikumsalam,,,,." jawab Julia.
Arga yang sedang dipangku, menoleh ke arah Ayahnya, lalu mengangkat tangannya, tanda ia ingin digendong ayah.
"Anak ayah maem apa ya? sudah mi susu belum?" candanya pada Arga, sambil menarik Arga dari pangkuan Julia.
Julia diam saja, cuma mengamati Arga, dan menyuapi Arga yang dipangku Satria.
Satria sambil memangku Arga, ia menatap Julia tak berkedip. Ia ingin sekali memeluk Julia dan minta maaf. Tapi yang dipandang sepertinya cemberut saja.
"Arga, Bunda kok cemberut saja ya? Arga ga nakalin Bunda kan?" candanya sambil terkekeh. Arga malah tertawa mendengar Ayahnya berbicara, sambil berusaha meraih mangkok makanan yang dibawa Julia. Kakinya menendang lincah, tanda ia senang.
Julia masih diam,,,, dan tetap telaten menyuapi Arga. Saat wajahnya mendekat ke arah Arga, dengan cepat Satria mencium pipinya. Ia sangat gemas melihat Julia masih terdiam.
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh tangan Nenek yang mencubit bahunya.
"Eh apa-apaan kamu? ada Nenek disini berani cium-cium?!" ucap Nenek sok galak.
Satria yang terkejut, cengar cangir saja melihat reaksi Nenek.
"Memangnya ga boleh ya Nek, cium istri sendiri?!" elak Satria sambil masih nyengir.
"Ingat sekeliling! jangan main samber aja! terus tanya juga sama yang dicium, mau tidak?!" sahut Nenek tergelak. Julia yang masih manyun menyahut.
"Tidak mau Nek,,,,! yang nyium masih bau keringat!" sahut Julia.
Satria mengendus-ngendus ketiaknya, rasanya ia masih wangi.
"Sudah sini Nenek yang pangku Arga! kamu bersihkan badan dulu Sat!" perintah Nenek, enggan dibantah. Mau tak mau Satria bangkit juga, dan masuk ke dalam, tatapannya memgancam pada Julia. Hingga Julia merasa jengah dan takut, takut kalau Satria langsung minta jatah. Wkwkwkwk,,,,,
💝
💝
💝
( Bersambung,,,,, )
__ADS_1