
☆☆☆
Benar-benar licik Daffin, ia mengintimidasi Tn. Satria untuk mendapatkan proyek di Lyon.
Satria dan Rico beserta pengawalnya bersiap menuju lokasi yang ditunjuk Daffin. Sebuah gudang lama yang tak terpakai, mereka meluncur kesana dengan dua mobil beriringan.
Matahari sangat terik saat mereka sampai, sebenarnya gudang itu masih bagus, hanya lama tidak digunakan, di luar gudang banyak onggokan besi tua disana sini. Satria dan Rico memasuki gudang besar yang ditunjuk sebagai lokasi pertemuan. di dalam terlihat masih rapi, dan sebenarnya layak digunakan.
terdengar suara orang bertepuk tangan saat mereka masuk.
"Plok! Plok! Plok!,,,,
"Selamat datang Tn. Satria,,,,!" lanjut Daffin diiringi pengawalnya, satu pengawal memegangi Santi yang masih diikat. Kemana Julia? bathin Satria.
"Ambilkan meja dan kursi untuk Tn. Satria." perintah Daffin kepada anak buahnya.
tak lama kemudian satu meja dan dua buah kursi diletakkan di tengah gudang.
"Silahkan duduk Tn. Satria,,, tidak sopan kalau saya membiarkan anda berdiri." ucap Daffin tengil.
Satria mendengus, tapi ia menuruti Daffin untuk duduk. Matanya menatap tajam kearah Daffin.
"Dimana Julia?!" tanya Satria.
Daffin menyeringai,,,,
"Tidak perlu buru-buru Tuan, rileks,,,,." ucap Daffin sambil ikut duduk dikursi di hadapan Satria.
Pengawal Daffin melepaskan Santi, yang kemudian berlari kearah Rico.
"Sekarang cepat bawa Julia kemari!! atau perjanjian kita batal?!" ucap Satria tegas.
Daffin tergelak diikuti pengawalnya, seketika suara tertawa menggema dalam ruangan. Kecuali Satria, Rico dan Santi, mereka bertiga diam.
"Tanda tangani surat perjanjian ini! kalau sudah, Julia akan kubawa kemari! bagaimana? deal?!" ucap Daffin sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dan menaruhnya diatas meja. Kedua Bos yang berhadapan, saling menatap tajam, Daffin mengangkat alisnya, menunggu Tn. Satria,,,,
Satria masih mengulur waktu, membuat Daffin hilang kesabaran.
"Ayo tanda tangani, kalau tidak, huft buang-buang waktuku." rutuk Daffin sengit.
Tanpa satu kedipanpun Satria memandang Daffin,,, ia melihat Daffin yang mulai gelisah.
"Baiklah,,, aku tanda tangani sekarang. Panggil Julia ke hadapanku!" ucap Satria mengancam.
"Tidak!!! tanda tangani dulu, baru kemudian Julia aku serahkan!" balas Daffin.
Satria meraih pulpen di depannya, lalu ia ambil berkas yang akan ditanda tangani, ia membacanya cepat,,,, lalu ia letakkan berkas tersebut diatas meja, ia mulai tanda tangan.
"Tunggu!!!!! hentikan Tn. Satria!!! ucap seseorang berteriak. Semuanya terkejut dan menoleh kearah suara berasal.
"Nona Arzhad! Julia!" Satria terkejut. Seketika wajah daffin berubah pucat, Nona Arzhad datang bersama Julia, dan dua orang petugas kepolisian. Daffin berdiri hendak melarikan diri, tapi sudah tercegat dari arah belakang, sepasukan polisi sudah mengepung.
__ADS_1
"Kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya Tn. Daffin, kau tidak bisa lari begitu saja, aku sudah melaporkanmu ke pihak berwajib!" ucap Arzhad datar. Julia berjalan ke arah Santi dan memeluknya.
"Kamu tidak apa-apa Santi?" tanya Julia.
"Tidak,,, justru kami yang mengkhawatirkanmu." sahut Santi senyum.
Petugas kepolisian mengamankan Daffin beserta anak buahnya. Satria merasa lega, karena Julia baik-baik saja, tapi ia diam saja.
Satria mendekat ke arah Petugas kepolisian. "Terima kasih bantuannya Pak,,, " ucap Satria sambil menjabat tangan petugas.
"Sama-sama Pak,, Baiklah, saya harus kembali ke markas untuk mengurus ini." ucap petugas dengan tersenyum.
"Terima kasih Nona Arzhad, telah membantu saya. Tapi bagaimana Nona Julia bisa bersama Anda?!" tanya Satria.
Arzhad hanya tersenyum,"Kamu tanyakan saja padanya." jawab Arzhad sambil melirik ke arah Julia.
Satria memandang Julia,,, yang tersenyum ke arahnya.
"Oh Tuhan,,,, syukurlah ia selamat," bathin Satria. Ia merasa kikuk memandang Julia, mana mungkin ia menanyakan kronologi hilangnya Julia kepadanya.
Santi dan Rico yang melihat gesture Tn. Satria, hanya berpandangan, dan tersenyum simpul.
"Bosnya ini memang belagu, kalau cinta bilang Bos!!" Rico bicara sendiri dalam hati, ia lalu terkekeh.
Mereka semua pergi dari gudang tersebut, Nona Arzhad meninggalkan area gudang bersama anak buahnya, begitu pula Satria dan Rico diikuti Julia dan Santi, juga dua pengawalnya.
"Bos aku dan santi naik mobil bersama mereka, Nona Julia dan bos, naik mobil yang satu." ucap Rico.
"Sekali-kali Bos,,,, kita antar dua gadis ini ke apartemen, nanti gantian aku yang nyetir." jawab Rico sambil nyengir.
Satria diam dan menuruti saja kata-kata Rico. Sebenarnya siapa Bosnya? bathin Satria.
Di mobil Satria fokus mengemudikan mobil, ia tidak berbicara sepatah katapun, membuat Julia gelisah di sebelahnya.
Akhirnya Julia memberanikan diri bertanya.
"Mas,,,? eh Tuan,,,,?" ucap Julia kikuk.
"Hmmm,,,,? apa?" tanya Satria datar.
"Apa Mas mengkhawatirkan aku?" tanya Julia lagi.
Satria mengernyitkan kening, ia gugup ditanya seperti itu.
"Tidak,,,,." ucap Satria.
"Tidak?!" tanya Julia lagi.
"Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan Julia?" Ucap Satria, aduh deg-degan juga ia.
"Kalau Mas khawatir, itu tandanya Mas Cinta!" jawab Julia agresif.
__ADS_1
"Whaaaaatttt?!" Satria mengerem mendadak, hampir saja ia menabrak orang yang mau menyeberang jalan, diluar, orang itu mengumpatnya.
Satria memandang Julia, tapi yang dipandang malah memandang ke luar jendela mobil. Dan sikapnya cuek. Apa ia ga salah dengar ya tadi? bathin Satria bingung.
Dalam hati Julia tertawa,,, Satria sampai mengerem mendadak gitu? ah biar saja,,,, ia cuma mempraktekan apa yang disarankan Mba Arzhad.
Mereka tiba di gedung apartemen, Julia langsung keluar mobil dan mendekati rombongan Rico yang menunggu di lobi apartemen.
Satria yang memarkir mobil hanya menggerutu dalam hati."Sial, ga ngucapin terima kasih lagi, malah kabur!"
Satria menyusul ke arah mereka, dan bersama-sama naik ke lantai 7. Santi membuka pintu apartemen dan mempersilahkan tamu-tamunya masuk.
Julia langsung meletakkan tasnya di kamar, dan menuju ke dapur untuk membuatkan minuman. Sementara Santi yang selama dua hari disekap di kamar kecil oleh Daffin, langsung menuju kamar untuk membersihkan diri.
Minuman telah siap, Julia membawa 6 gelas es teh dan 1 teko besar ke ruang tamu, sontak keempatnya langsung mengambil gelasnya masing-masing, rupanya mereka kehausan. hihihi
Julia membawa es teh bagiannya, dan minum di dapur.
"Hmmmhhh lebih baik aku masak saja, kayanya masih ada sayuran dan lauk di kulkas."
Julia berjalan menuju kulkas, mengambil bahan-bahan yang akan ia masak. Sepertinya enak kalau sambil mendengarkan musik? Julia berjalan menuju ke arah kamarnya untuk mengambil ponsel.
"Bugh,,,,!!" Julia menubruk Satria yang akan ke dapur, es teh yang ada ditangannya tumpah mengenai baju Julia dibagian dada.
"Aduh dingin,,,, hmmmhhhh." Julia mendengus kesal, sambil mengibas-ngibaskan bajunya. Satria terkekeh,,,,,
"Malah tertawa? bajuku basah,,,." ucapnya kesal
"Hitung-hitung impas! iya kan?!" Satria masih saja terkekeh.
"Oke sini aku bantu bersihkan!" ucap Satria lagi, sambil mengarahkan tangannya ke baju Julia.
"Tidak usah, cari kesempatan?!" ucap Julia, kata-kata yang justru membuat Satria menarik tangan Julia, Satria telah betul-betul gemas, ia memeluk Julia paksa. Keduanya berpandangan,,,, Satria merundukkan kepala memandang Julia, tangan yang masih memegag gelas menempel erat ke tubuh Julia, dan satunya lagi mengelus pipi Julia, membuat jantung Julia berdebar.
"Julia,,,,?" sapa Satria lembut. Ia semakin merundukkan kepalanya, matanya memandang ke bibir Julia, membuat bibir Julia bergetar,,,, kemudian, cup,,,, Satria mengecup kening Julia, lalu ia melepaskan pelukannya dan pergi meletakkan gelas di meja dapur. Wajah Julia merona.
Sambil masih gugup Julia melanjutkan memasaknya di dapur, tidak jadi ke kamar. Tak lama kemudian, Aroma masakan Julia begitu menggoda, capcay dan ayam goreng telah siap. Julia mengajak semuanya makan siang menjelang sore. Santi yang sudah selesai berdandan, ikut makan.
"Cepat sekali kamu masak Julia." ucap Santi senang, perutnya sudah kelaparan.
"ternyata kamu pintar masak Nona Julia." puji Rico,,, "Udah siap dilamar nih?" lanjutnya lagi.
Santi terkekeh, Satria menendang kaki Rico dibawah meja makan. Sementara Julia yang dipuji senyum-senyum saja.
♡
♡
♡
( Kaya sinetron kejar tayang nih,,, demi kisah ini, author sampai lembur. 🤭🤭🤭 )
__ADS_1