Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
MERAJUK


__ADS_3

Setelah mengantar Sandrina ke Sekolah, Satria langsung ke kantor. Di perjalanan ponselnya berdering. "Nenek?" bathinya.


"Assalamu'alaikum Nek,,,,." sapa Satria gugup.


"Waalaikumsalam, Sat,,,, Satria Nenek mau tanya, ada apa dengan istrimu? wajahnya sembab datang ke rumah Nenek, begitu Nenek tanya, dia cuma menangis. Ada apa?!" tanya Nenek menuntut.


"Hmmhhh tidak ada apa-apa Nek! ini cuma salah paham,,,,." jawab Satria lirih, ia melirik Dicky dari kaca spion.


"Salah paham soal apa?! ini pasti karena Srianti kan? sudah Satria, suruh Srianti pulang! tidak baik dia tetap disitu!" ucap Nenek mengingatkan dengan keras.


"Mm iya Nek, Satria sudah mengusirnya pulang!" jawab Satria gusar.


***


Hmmm mudah-mudahan Nenek bisa merayu Julia untuk pulang. Satria bingung kalau menghadapi kecemburuan istrinya. Satria sangat mencintai Julia, ia tidak ingin Julia salah paham padanya.


Sampai di kantor, Satria menyelesaikan tandatangan beberapa berkas yang diminta oleh Santi, ia berencana akan menemui Julia saat istirahat siang nanti, di rumah Nenek.


"Terima kasih tanda tangannya Tn. Satria, ohya bagaimana acara ngupati kemarin sore Tuan? saya ikut mendoakan semoga Julia selalu sehat, begitu juga dedek bayinya." ucap Santi.


"Yah alhamdulillah sukses San,,, terima kasih doanya. Sekarang Julia ada di rumah Nenek, nanti aku akan menjemputnya saat istirahat siang. Kamu tolong sampaikan ke Rico, untuk mewakiliku meeting dengan orang-orang Baja Steel ya?" ucap Satria kepada Santi.


"Baik Tuan, nanti saya sampaikan." ucap Santi lalu pamit kembali ke mejanya.


***


Dicky mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, Satria akan ke tempat Nenek, dan menjemput Julia. Di perjalanan Satria meminta Dicky untuk mampir ke warung bakso. Satria sangat paham, istrinya Julia sangat menggemari bakso. Bahkan selama kehamilan, Julia sering kali memesan bakso via online. Siapa tahu dengan membawa bakso, Julia mau memaafkannya.


Ia meminta Dicky untuk turun dan memesan bakso, sementara Satria menunggu di dalam mobil.


"Pak tolong bungkuskan baksonya lima porsi. yang satu porsi, bakso urat, tidak pakai mie, banyakin tetelannya, jangan dikecapin. Kalau yang lain standar aja Pak, tapi yang pakai mie, semuanya dipisah." ucap Dicky.


Si abang tukang bakso dengan serius mendengarkan pesanan pelanggannya, lalu ia memulai meracik bakso.


Selesai dari warung bakso, Dicky melajukan mobil ke tempat Nenek, yang bentar lagi sampai.


Rumah Nenek terlihat sepi seperti biasanya. Hanya Pak Madi yang selalu berada di taman depan rumah Nenek.


Satria langsung menghambur masuk ke rumah, menenteng tas kerjanya, dan Dicky membawa sekantong kresek bakso dalam genggamannya.


Melihat Julia yang sedang berdiri menyiapkan makan siang, Satria memeluknya dari bel akang.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum sayang,,,,." sapa Satria sambil mencium kuping istrinya.


"Waalaikumsalam,,,,." jawab Julia pendek. tangannya sedang menata meja makan.


"Yank, masih marah sama Mas? Mas bawain bakso. Tadi Mas mampir dulu ke warung bakso. Kamu makan ya yank?" ucap Satria merayu.


Julia tetap diam. Ia masih cemburu dan curiga dengan apa yang dilihatnya semalam.


"Yank,,,,?" panggil Satria lagi, karena istrinya masih diam.


diciuminya cuping telinga istrinya berkali-kali, tak memperdulikan siapapun disana. Paling kalau ada yang lihat, mereka menyingkir dengan sendirinya, pikir Satria.


"Hmm kamu masih marah sama Mas? kamu salah paham yank,,, mana mungkin Mas ada apa-apa dengan Srianti? Mas sudah tidak ada rasa apapun dengannya! semalam kami cuma membahas masalah hak asuh Sandrina! ayo dong yank,,, ngomong dong,,,,." ucap Satria lagi.


Julia menggeliat dari pelukan Satria.


"Apa kata Mas? salah paham?! salah paham apa? Srianti berbicara dengan Mas sambil pegang-pegang, dan bajunya itu loh! sangat minim, belahan dada rendah, pendek lagi! pasti asyik kan Mas lihatnya?!" ucap Julia gusar.


"Ya Allah yank,,,, Mas ga perhatiin! sumpah! tiap ada perempuan secantik apapun, Mas selalu ingat kamu yank! Mas ga mau main-main!" jawab Satria.


"Oohhhh jadi cantik ya Srianti itu?!" ucap Julia makin Jutek.


"Cantik,,, tapi masih cantikan kamu yank,,, kamu lebih cantik, lebih sexy, lebih bikin Mas bergairah! apalagi s**umu! bikin Mas pengen,,,,.!" ucap Satria menggoda di telinga Julia.


"Mana,,,,?" ucap Satria mengejek.


Tapi ternyata Nenek memang sudah di depan pintu teras belakang.


"Ehm ehm,,,,!" Nenek berdehem.


"Satria kamu sudah disini? bukankah kamu lagi di kantor?" tanya Nenek.


"Kalau di kantor, berarti Satria tidak disini Nek?" jawab Satria terkekeh.


"Kamu? Nenek ini serius,,,, nanti ada yang mau Nenek bicarakan denganmu." ucap Nenek dengan wajah cemberut.


***


"Satria, Nenek seharusnya tidak ikut campur dalam masalah rumah tanggamu, tapi Nenek paling tidak harus mengingatkan. Hargailah istrimu, apapun itu, banyak etika dalam rumah tangga, jangan membawa penyakit ke dalam rumah, artinya kamu harus setia. Jangan membawa orang lain menginap di rumahmu apalagi dalam jangka waktu yang lama, kecuali orang-orang yang semahram denganmu, dengan istrimu. Jauhi fitnah dalam rumah tangga. Itu pesan Nenek. Mengertilah istrimupun punya perasaan." nasehat Nenek panjang lebar pada cucunya Satria.


Satria diam mendengarkan kata-kata Nenek. Ya memang dia yang salah, telah mengijinkan perempuan lain menginap di rumahnya, walaupun ia adalah mama dari anaknya, tidak seharusnya dia longgar soal etika.

__ADS_1


"Iya Nek,,, Satria minta maaf karena tidak patuh pada etika." ucap Satria menyesal.


"Ya sudah sana temui istrimu, ajak dia pulang." ucap Nenek.


"Baik Nek, terima kasih Nenek telah mengingatkan Satria." jawab Satria.


***


Satria menemui Julia yang masih sibuk menata makanan di meja makan.


"Yank, aku udah laper nih,,,, udah siap belum makan siangnya?" tanya Satria.


"Sudah,,,, kalau Mas mau makan, duduklah, nanti aku ambil air minum dulu. Mana Nenek?" jawab Julia.


Nenek keluar dari kamarnya, ia tersenyum pada keduanya, Julia dan Satria.


"Kalian makanlah dulu, Nenek mau duduk dulu di teras belakang." ucap Nenek, memberikan kesempatan Satria dan Julia makan berdua.


"Iya Nek,,,,." ucap Satria.


Julia membawa seteko air putih dari dapur, dan menuangkan ke gelas Satria, Lalu menyendokkan nasi ke piring suaminya. Itulah yang Satria sukai dari Julia istrinya, selalu mendahulukan suaminya dalam hal apapun.


Setelah Julia mengambil makanan untuk dirinya sendiri, merekapun makan bersama.


"Yank,,, Mas minta maaf ya, udah bikin kamu kesal. Mulai sekarang Mas akan melarang Srianti menginap di rumah." ucap Satria, tatapannya memohon.


"terus,,,?" tanya Julia datar.


"Ya kamu maafin Mas dong,,,, kamu pulang ya yank? Mas kangen,,,,." ucap Satria.


"Kangen sama siapa?" tanya Julia lagi.


"Ya kangen sama kamu lah yank,,,,!! masa iya sih Mas harus tidur sendiri? pusiiinggg,,,,!!" ucap Satria gemas.


"Hmmmhhh,,,, ya tergantung nanti!" jawab Julia cuek.


Setelah makan siang, Julia pergi ke teras belakang rumah, ia ingin menghindar dari Satria sejenak.


💚


💚

__ADS_1


💚


( Bersambung,,,,, )


__ADS_2