Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
JULIA SEMBUH?


__ADS_3

Daffin yang bertemu dengan Arzhad, mulai gelisah. Ia segera berlalu dari restauran setelah orderannya datang. Tapi ia tak langsung kembali ke hotel, ia takut Arzhad yang curiga padanya, akan mengikuti kemana ia pergi. Ia sangat paham dengan karakter sepupunya itu. Daffin masuk ke sebuah hotel murah yang dekat dengan restauran tempat ia memesan makanan. Ia segera check ini di hotel tersebut, dan beruntungnya masih ada kamar di hotel itu. Setibanya di kamar, Ia langsung menelpon Julia.


Ia menunggu telpon diangkat dengan gelisah.


"Halo sayang,, Maaf mengganggu tidurmu. Ada yang harus aku sampaikan padamu." ucap Daffin tergesa.


"Ada apa Mas?!" ucap Julia khawatir.


"Tidak ada yang penting. Aku harap kamu tidak keluar kemana-mana. Tunggu sampai aku menjemputmu." ucap Daffin lagi.


"Iya,,, tapi ada apa?!" jawab Julia sedikit cemas.


"Tidak ada apa-apa sayang,,,, percayalah! aku cuma tidak ingin kamu keluar sendiri kemanapun. Juga Lina dan Arga." ucap Daffin tegas.


"Baiklah Mas, aku juga tidak paham wilayah sini. Aku tidak akan kemanapun tanpa Mas." jawab Julia menenangkan Daffin.


"Oke sayang,,, terima kasih." ucap Daffin sambil menutup telpon. Julia masih bertanya, ada apa sebenarnya, tidak biasanya Daffin memintanya seperti itu.


Mendengar ucapan Julia tadi, membuat Daffin sedikit tenang. Ia mulai merencakan, akan kembali ke hotel tempat Julia, Arga dan Lina menginap, setelah kondisi aman. Dan tak lupa juga ia menelpon Mamanya, untuk tidak menceritakan apapun soal Julia kepada Arzhad, apabila Arzhad mengunjungi Mamanya.


***


Julia gelisah, semalaman Daffin tidak kembali ke hotel. Ia cuma mengantar makanan untuk makan malam untuk ketiganya, Pizza dan pasta yang sangat lezat dan juga beberapa minuman dingin. Tapi ia tidak tahu dimana keberadaan Daffin.


Pagi ini Julia, Arga dan Lina sarapan bertiga di restauran hotel. Dan segera kembali ke kamar, selesai sarapan. Julia tidak pergi kemanapun seperti pesan Daffin padanya. Ia memanfaatkan waktu yang tinggal sehari lagi di Milan, dengan mengemasi pakaian dan oleh-oleh yang mereka beli selama di Como dan Milan. Menonton TV, dan tidur-tiduran di hotel, itu saja aktifitas mereka bertiga.


Sorenya, ketika Julia hendak mandi, Daffin pulang ke hotel. Ia merasa lega karena sepertinya tidak ada tamu atau sesiapapun yang datang ke kamar mereka, karena Julia tidak bicara soal itu.


"Alhamdulillah kamu sudah kembali Mas, kenapa kamu tidak pulang semalaman?" tanya Julia mencemaskan Daffin.


"Tidak papa sayang, semalam aku ada urusan sedikit, jadi tidak bisa pulang. Ohya apa kamu sudah packing? kita akan kembali ke Indonesia besok." ucap Daffin menenangkan Julia.


"Sudah Mas, mudah-mudahan semua sudah masuk. Tinggal perlengkapan Arga saja yang belum masuk semua. Besok saat kita akan berangkat, aku pastikan semua clear." jawab Julia.


***


Hari ini mereka akan kembali ke tanah air, dari pagi Julia sudah berkemas, memastikan semua masuk ke dalam koper dan tidak ada yang tertinggal. Banyak sekali yang kemudian dibawa, dari semula hanya dua koper besar dan satu tas bayi, pulangnya bertambah satu koper besar berisi oleh-oleh dan satu tas jinjing besar. Setelah sarapan di hotel, mereka seharian di kamar, sambil menunggu waktu.

__ADS_1


Jam dua siang waktu Milan, mereka berangkat menuju bandara Malpensa. Mereka menunggu di lounge khusus untuk penumpang kelas utama, untuk boarding pass. Mereka tak menyadari beberapa pasang mata memperhatikan mereka.


"Julia? kenapa dia bersama Daffin?!" bathin Arzhad. Arzhad bersama beberapa anak buahnya berada di bandara mengawasi Daffin.


Ia berpikir berarti selama ini, Daffin lah yang menculik Julia. Julia sudah menghilang selama enam bulan lebih, dan kini ia bersama Daffin. Arzhad betul-betul heran, karena selama yang ia tahu, Julia sangat membenci Daffin, tapi saat Ia memperhatikan gerak gerik Julia, sepertinya Julia merasa nyaman bersama sepupunya itu. Arzhad akan mencari tahu, sebelum ia memberi tahu pada Satria.


Tak lama kemudian, Daffin bersama keluarga kecilnya masuk ke dalam pesawat, yang akan membawa mereka pulang ke tanah air. Arzhad hanya memandangi dengan pandangan bertanya-tanya, dan menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki Daffin selama di Indonesia. Ia tidak langsung bergerak, karena masih ada urusan di Milan.


***


Pesawat landing jam 6 pagi waktu Jakarta. Daffin bersyukur agak terlambat tiba di bandara Soekarno hatta, jadi mereka tidak terlalu pagi sampai di Jakarta. Mereka langsung menuju ke ruang tunggu khusus untuk penerbangan ke Sepinggan. Daffin tidak ingin singgah sebentar di Jakarta.


Setelah pengumuman bahwa pesawat tujuan Sepinggan diumumkan, Daffin segera mengajak mereka semua untuk segera masuk pesawat. Hari yang melelahkan, setelah perjalanan jauh dari Eropa. Apalagi Arga tiba-tiba rewel saat tiba di Jakarta.


Sungguh perjalanan yang melelahkan untuk Arga, hingga ia rewel lagi saat tiba di bandara Sepinggan, kemudian berlanjut menuju ke perumahan perkebunan mereka, menaiki mobil khusus perkebunan.


Hampir jam satu siang mereka tiba di perumahan perkebunan. Julia langsung saja masuk ke dalam rumah. Ia tiba-tiba merasa mual, karena masuk angin. Di kamar mandi ia menumpahkan semua isi perutnya, dan kembali ke kamar dalam keadaan lemas. Arga yang daritadi rewel tidur di kamar Lina, agar Bundanya bisa beristirahat.


"Kamu sudah enakan sayang? ini baluri perutmu dengan minyak kayu putih. Biar perutmu hangat. Sekarang aku ambilkan obat mual dulu ya?" ucap Daffin sangat perhatian.


"Iya Mas, terima kasih,,, Arga dimana?" ucap Julia teringat anaknya.


Tak lama kemudian Daffin mengambil obat mual dan memberikannya pada Julia, dan membawakan air putih juga.


"Ini minumlah,,,,." ucap Daffin.


Setelah Julia tertidur, Daffin keluar kamar, ia juga akan beristirahat di kamar lain. Badannya juga terasa lelah efek jetlag. Mereka tertidur sampai malam menjelang, dan terbangun hanya untuk makan malam, itupun karena Bu Tuti asisten rumah tangga mereka membangunkan. Setelah makan malam, mereka berbincang sebentar dan kembali beristirahat.


***


keesokan paginya, Daffin membangunkan Julia yang masih agak lemas. Karena ia harus bolak balik ke kamar mandi untuk kembali membuang isi perutnya. Arga semalaman tidur bersama babysitternya Lina.


"Sayang, ada yang harus aku urus soal pernikahan ulang kita di Jakarta. Aku harus berangkat sekarang. Kamu tidak apa aku tinggal?" tanya Daffin pada Julia. Ia sudah berpakaian rapi, dan terlihat tampan dengan setelan jas.


"Iya Mas, aku tidak papa, jangan lama-lama, dan cepat kembali ya?" jawab Julia tersenyum lemah.


"Baik sayang,,,, kamu mau dibawakan apa dari Jakarta?" tanya Daffin mesra.

__ADS_1


Julia hanya menggeleng lemah, ia cuma berharap Daffin cepat kembali.


Sebelum berangkat ke Jakarta, Daffin mengajak Julia untuk sarapan bersama. Dan mengobrol sebentar dengan Julia dan Arga. Begitu mobil yang akan mengantarkannya ke kota datang, Daffin mencium kening Julia dan Arga, dan berpamitan.


"Kamu baik-baik sayang,,, dan tunggu aku pulang!" ucap Daffin lagi, seperti tak rela meninggalkan Julia disini.


"Hati-hati Mas,,,, semoga sukses!" jawab Julia tersenyum. Setelah sarapan pagi, dan minum obat, kondisinya membaik.


Daffin segera masuk ke dalam mobil, dan melambaikan tangan pada Arga dan Julia.


Selepas kepergian Daffin, Julia kembali masuk ke dalam rumah, dan bermain dengan Arga, menonton tv dan mengobrol dengan Lina. Hingga jam makan siang, Julia lalu kembali ke kamarnya bersama Arga, seperti biasanya. Arga yang sudah lelah bermain, dan kenyang minum ASI, akhirnya tertidur di sebelah Julia.


Julia tidak bisa tidur siang, pandangannya menerawang, sekembalinya Daffin dari Jakarta nanti, ia akan menikah ulang. Tapi kenapa hatinya seperti kosong? Saat melamun, tanpa sengaja ia melihat ke atas lemari pakaiannya, ada sisi lemari yang terletak diatas, kuncinya tertinggal disana. Tak biasanya ada kunci masih tercantol di lubang kunci, Julia penasaran untuk melihat.


Ia mengambil bangku, karena lemari itu tinggi. Begitu ia melihat kedalamnya, ia mendapati sebuah dompet berwarna hitam keluaran F***i, seperti dompet yang pernah ia kenal. Dibukanya dompet itu, ada beberapa lembar uang seratus ribuan berjumlah dua juta rupiah. Tapi pandangannya beralih pada sebuah KTP, dan KTP itu terdapat fotonya, Nama Juliana Rusman, lahir di Jakarta tanggal sekian, tahun sekian, Itu adalah namanya? Lalu ia merogoh lagi ke dalam saku dalam dompet, ada foto seorang laki-laki. Julia sangat terkejut, laki-laki dalam foto itu, seperti laki-laki yang ada dalam mimpinya selama ini. Julia menjerit perlahan.


"Tidaakkk,,,,!" teriaknya.


Ia masih belum mempercayai apa yang baru saja ia temukan. Ia mencoba mengingat-ngingat, tapi tak bisa. Lalu siapa Daffin sebenarnya? kenapa ada foto laki-laki seperti yang ada dalam mimpinya? Julia merasa panik.


Dia berlari turun ke ruangan bawah, ia ingin mencoba menanyakan pada orang yang ada di rumah ini.


Tapi keseimbangannya goyah, ia jatuh bergulingan dan membentur satu sisi tangga paling bawah. Tak ada satu orangpun yang tahu ia jatuh. Mbok Darmini yang agak tuli berada di dapur, sedangkan Bu Tuti entah dimana.


Julia mengaduh perlahan, sakit sekali kepalanya. Pandangannya mengedar ke sekeliling ruangan, ia berusaha mengingat sesuatu. Dan Julia yang masih memegang dompet, lalu buru-buru menyembunyikan dompet itu di saku dasternya.


Julia berjalan ke dapur dengan masih meringis kesakitan, dan mengambil segelas air hangat dari dispenser, lalu meneguknya. Mbok Darmini yang kaget melihat Nyonyanya di dapur bertanya.


"Nyonya?! kenapa seperti kesakitan?! kenapa tidak memanggil saya kalau mau minum nyonya?" tanya Mbok Darmini cemas.


Julia memandang Mbok Darmini dengan tatapan kosong.


"Oh eh iya,,,, aku tadi menyenggol tangga Mbok,,,, tidak apa-apa kok!" jawab Julia. Ia masih memikirkan apa yang sudah terjadi padanya. Ia tiba-tiba juga teringat Satria suaminya. Kenapa ia bisa ada di tempat ini?


♠️


♠️

__ADS_1


♠️


( Bersambung,,,,, )


__ADS_2