
Tanpa Satria dan Rico sadari, Daffin yang mengendap endap berada di rumah sakit, segera masuk ke ruang rawat inap Clara, setelah keduanya pergi menuju Hotel Centurian.
Mendapati Daffin yang masuk terburu-buru membuat Clara kaget bukan kepalang.
" Mas Daffin?! kamu disini mas?! oh syukurlah,,, aku takut." ucap Clara panik.
"Ssssttttt,,,,,!!!! jangan keras-keras Clara!!! sekarang ayo cepat kita pergi. Semua administrasi rumah sakit sudah aku bereskan. buruan!!!" perintah Daffin. sambil membungkam mulut Clara dengan telapak tangannya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Clara meraih tasnya dan mengikuti Daffin keluar dari ruang rawat inap.
***
Sementara Satria dan Rico harus benar-benar kecewa, sesampainya di Hotel Centurian, petugas recepsionist hotel mengatakan, tamu hotel atas nama Tuan Daffin sudah check out tiga hari yang lalu.
" Siaallllll!!!!! kita kehilangan jejak Daffin!!! " maki Satria sambil meraih keningnya.
" Bos apa tidak sebaiknya kita kembali ke rumah sakit? kita bawa Clara untuk mencari keberadaan Daffin? aku yakin, Daffin tidak akan mungkin meninggalkan Clara begitu saja disana." ucap Rico.
Perkataan Rico menyadarkan Satria, matanya seketika melebar, Satria menyentuh keningnya lagi.
" Oh Gooodddd,,,,,, ayo cepat Rico!!! jangan sampai kita keduluan Daffin!!! " ucap Satria setengah berteriak.
Setengah berlari Satria dan Rico keluar Hotel, menuju mobil yang berada di parkiran Hotel.
" ****, cepat kita kembali ke rumah sakit! " perintah Satria. Tanpa banyak bertanya, Dicky menghidupkan mesin mobil dan melaju cepat di jalanan.
***
Dengan wajah penuh kemenangan Daffin melajukan mobilnya keluar rumah sakit bersama Clara.
" Clara, kamu tidak mengatakan apapun pada Satria bukan? " tanya Daffin menyelidik.
" Mengatakan apa Mas? " tanya Clara polos.
"Apa Satria menanyakan dimana aku tinggal? " tanya Daffin lagi. Clara gelisah dengan pertanyaan Daffin. Dia cuma memandangi Daffin dengan takut.
"Ya, aku mengatakan kalau Mas Daffin menginap di Hotel Centurian. " ucap Clara jujur.
__ADS_1
Daffin cuma tersenyum.
"Kamu tidak usah takut Clara, aku toh sudah check out dari sana. Aku tinggal di suatu tempat sekarang. " ucap Daffin setengah terbahak.
Dengan sedikit takut Clara bertanya.
" Mas Daffin tinggal dimana? " tanya Clara lagi.
" Nanti kamu juga tahu. Dan jangan sekali-kali kamu memberitahukan siapapun! ingat Clara! " ucap Daffin setengah mengancam, membuat Clara terdiam.
" Kamu dengar tidak?! " tanya Daffin lagi, demi melihat Clara tidak menjawab.
" Ba-baik Mas,,,, " jawab Clara pendek.
" Good!!!! kamu memang gadis penurut Clara. Aku suka seperti itu. " ucap Daffin lembut, sambil mengelus rambut Clara.
****
" Damn,,,,,!!!! kita kehilangan gadis itu juga Rico!! " maki Satria sambil mengusap mukanya kasar.
Mereka berdua gusar mendengarkan informasi dari resepsionis rumah sakit, kalau pasien atas nama Clara sudah check out sejam yang lalu, setelah keduanya mendapati ruang rawat inap Clara yang telah kosong. Itu artinya tak lama mereka meninggalkan rumah sakit menuju Hotel Centurian.
" Tenang Bos,,,,, kita akan kerahkan semua anak buah kita. Yang kita butuhkan berpikir tenang. " ucap Rico menenangkan Sang Bos.
Satria merasa benar-benar putus asa menghadapi Daffin yang selicin belut. Ia tak lagi mampu berpikir tenang, apalagi Julia yang sedang hamil muda berada bersama Daffin sekarang. Keduanya segera beranjak pergi dari rumah sakit.
***
Daffin dan Clara tiba di sebuah rumah mewah berwarna putih, dengan halaman yang sangat luas. Keduanya turun dari mobil mewah Daffin.
" Nah Clara,,, kita sudah sampai di rumahku. Kuharap kamu merahasiakan ini dari siapapun. Aku ingin kamu menemani Julia. " ucap Daffin.
Obsesi Daffin akan Julia membuat mata, hati dan pikiran Clara terbuka, bahwa Daffin memang benar-benar menginginkan Julia, lebih dari yang dibayangkan Clara. Apapun akan Daffin lakukan demi mendapatkan cinta Julia. Clara hanya meratap pedih dengan kenyataan ini, padahal Clara sangat mencintai laki-laki ini.
" Hai! kenapa kamu bengong saja Clara,,,,,? Clara,,,,,? Clara?! " setengah berteriak Daffin memanggil Clara yang melamun, sambil menjentikkan jemarinya, membuat Clara gelagapan.
" Eh oh iya Mas,,,, Maaf,,,, kenapa tadi? " tanya Clara gugup.
__ADS_1
" Hmmmhh kamu bengong saja, aku memintamu untuk menemani Julia. Ayo kita ke lantai dua,,,,, " ucap Daffin sambil melangkah menuju lift rumah besarnya.
Clara mengikuti Daffin dengan sangat patuh. Lift sampai di lantai dua, Clara memandang sekeliling setelah keluar dari lift.
" Rumah ini sungguh mewah. " batin Clara.
Clara mengikuti Daffin menuju pintu sebuah kamar, persis di depan pintu lift. Daffin membuka pintunya, Clara baru paham, disitulah kamar tempat Daffin mengurung Julia.
Kamar ini begitu luas dan mewah, hingga membuat Clara berdecak kagum dalam hatinya. Ia melihat seorang perempuan sedang terbaring meringkuk di ranjang mewah.
" Nah kamu disini Clara, temani Julia. Aku akan keluar sebentar. Bujuk ia agar mau memakan makanannya. " perintah Daffin lembut pada Clara.
Clara yang masih terbengong, hanya menganggukan kepalanya. Tak lama Daffin keluar kamar meninggalkan Clara.
Clara berjalan mendekati perempuan yang masih meringkuk di ranjang mewah itu. Kemudian duduk di pinggir ranjang, dan dengan sangat hati-hati ia berusaha meraih punggung Julia. Tapi belum sempat ia meraih Julia,,,,,
" Jangan sentuh aku Clara,,,,!!! jangan pernah memintaku untuk makan makanan apapun dari Daffin!!! " ancam Julia, sambil bangkit dari rebahan nya.
Clara terdiam sesaat.
" Maaf Mba, aku tidak akan menyakitimu, aku hanya disuruh oleh Mas Daffin menjagamu. " ucap Clara lirih, ia tidak berani memandang Julia.
Julia meraih tangan Clara,,,,,
" Sekarang lihat aku Clara! tidak kasihankah kamu padaku? aku ingin kamu membantuku keluar dari sini! " ucap Julia kesal sambil mendengus.
Clara memandang Julia takut-takut, ia mendapati sepertinya perempuan ini selalu menangis selama disini, dilihat dari matanya yang sembab dan bengkak. Melihat itu Clara merasa kasihan pada Julia. Tapi ia tak mampu berbuat apapun.
" Tapi Mba,,,,,, aku,,,,,, " ucap Clara terpotong.
Julia menyentak kan tangan Clara sambil mendengus kesal.
" Hmhhhh! percuma saja aku meminta tolong orang suruhan Daffin! " maki Julia. Kemudian Julia meringkuk lagi di ranjang, membelakangi Clara. Ia merasa sia-sia jika meminta tolong pada gadis seperti Clara.
Melihat itu Clara hanya bisa menarik nafas, dan berjalan menuju sofa yang berada di kamar itu, dan duduk sambil masih terdiam. Ia bingung mau melakukan apa. Ia sendiri bingung dengan nasibnya, apa ia mau terus-terusan mengabdi pada Daffin seperti ini? sementara jauh di dalam hatinya ia sangat mencintai Daffin. Tak terasa air mata jatuh dari kedua matanya. Hatinya sangat sakit.
💔
__ADS_1
💔
💔