Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
GARA-GARA ES KRIM


__ADS_3

β˜†β˜†β˜†


Setengah Jam lagi, Satria akan bertemu Mr. Nakamura dari Jepang, tapi Rico tak kunjung datang.


"Hmmmhhh kemana dia?! sampai sekarang belum muncul! bilangnya otw daritadi." gerutu Satria.


Pintu terbuka, dengan tergesa Rico masuk ruangan CEO," Maaf Bos aku telat,,, semalam aku lembur menyiapkan berkas2 untuk meeting nanti. Sudah disiapkan Santi bukan?" ucap Rico terengah.


"Ya, sudah ada di mejaku. Oke,,, karena aku sedang berbaik hati, kau kumaafkan." jawab Satria. Sekarang ayo ke ruang meeting, jangan sampai kita mengecewakan.


Keduanya beranjak pergi ke ruang meeting yang berada di seberang ruang CEO.


Di dalam ruang meeting, Santi sudah selesai menata parcel kecil buah, makanan kecil dan botol air kemasan di tiap-tiap meja. Ruang meeting perusahaan Satria tidak kalah dengan meeting hall di hotel berbintang, ruang berkedap suara, dengan karpet tebal berwarna biru, terdapat meja oval di tengah ruangan dan semua furniture bergaya minimalis dan mahal.


Santi keluar ruangan untuk bersiap menyambut Rombongan Mr. Nakamura. Sambil menunggu ia menelpon Julia.


Tuuuutttt,,,,, tuuuutttttt,,,,, tuuuuttttt,,,,,


Tidak ada jawaban.


Ia mengulangi lagi,,,,


Tuuuuuttt,,,,, tuuuuttttt,,,,, tuuuuttttt,,,,,


"Halo Santi? ada apa? aku sedang bermain dengan Sandrina." ucap Julia.


"Kamu tidak ke kantor?! kamu dimana? bisa bersama Sandrina anaknya Tn. Satria?" tanya Santi bingung.


"Hehehe,,, iya San, aku masih di tempat Nenek Fatiah, sekarang lagi menemani Sandrina bermain." ucap Julia terkekeh.


"OMG ada kemajuan dong?!" tanya Santi tertawa kecil.


"Kemajuan apa maksudmu?!" tanya Julia polos.


"Ya kemajuan lah, sekarang sudah akrab dengan anaknya, besok akrab dengan Ayahnya! Iyaaa kaannn?!" ledek Santi terbahak.


"O O,,,, tidak!!!" jawab Julia, ia memutar bola matanya.


"Okelah, selamat pendekatan, aku mau menyambut tamu dulu. Ada meeting sekarang!" jawab Santi.


"Oke,,,, semoga meetingnya sukses!" ucap Julia.


Hubungan terputus.


***


Julia menikmati bermain bersama Sandrina, dari mata Sandrina, gadis kecil itu sangat suka dengan Julia, yang mungkin kelak akan jadi mama tirinya.


"Tante Julia, Sandrin mau es krim boleh?" pinta Sandrina manja.


"Tanya Nenek dulu yaaa,,, kalau Nenek mengijinkan, kita beli es krim. Okay?" jawab Julia, sambil menoel pipi Sandrina.


"Okayyy,,,!!! yuk kita ke Nenek?" pinta Sandrina lagi.

__ADS_1


Keduanya mencari Nenek di ruang keluarga, dan meminta ijin untuk beli es krim. Nenek mengijinkan dengan catatan tidak boleh banyak-banyak.


Julia meminjam motor Pak Madi untuk pergi ke minimarket yang terdekat dari rumah, Sandrina ikut membonceng di belakang.


"Pegangan yang kenceng ya Sandrin,,,,." ucap Julia pada Sandrin.


"Ya Tante,,,,." jawabnya.


Sampai di mini market, Sandrina mengambil beberapa jenis es krim, lalu menyerahkannya pada Julia.


"Aduh banyak sekali Sandrin, ini untuk siapa saja?" tanya Julia lembut.


"Buat aku tiga, trus Tante, Nenek, Mba amel dan Mas Amir, dua orang yang disebut terakhir adalah putra dan putri Bi Eroh." jawab Sandrin.


"Buat Sandrin tiga?! tadi Nenek kan udah bilang tidak boleh banyak-banyak makan es krimnya?" Julia mengingatkan Sandrina.


Tapi Sandrina cemberut, akhirnya Julia mengalah, dan membayar semua es krim itu.


"Ayuk kita pulang,,,,." ajak Julia.


"Ayuuukkkk,,,,." Jawab Sandrina sangat senang.


Setibanya di rumah Nenek, Sandrina dengan sukacita langsung membuka es krim, tak lupa ia membagi pada semua orang, yang telah dihitungnya. Lalu ia mengambil untuk dirinya sendiri. Julia yang tengah membantu Nenek masak untuk makan siang, tidak memperhatikan, es krim kedua telah dibuka sandrina, langsung menjilatinya. Nenek yang melihatnya langsung mendekati gadis kecil itu.


Benar saja, Nenek marah karena Sandrina makan banyak es krim.


Malam harinya Sandrina demam karena pilek. Julia menyesal telah menuruti keinginan Sandrina.


"Maafin Julia Nek, karena tidak lihat Sandrina makan es krim sampai habis dua." sesal Julia.


"Sudah biarkan, kalau belum seperti ini kan tidak akan kapok. Paling tidak, dia tahu, kalau makan sesuatu tak ada batasannya, akibatnya seperti ini." lanjut Nenek.


Julia hanya mengangguk, ia menyuapkan obat flu dan demam untuk anak pada Sandrina.


"Nah sekarang kamu istirahat dulu ya sayang,,, besok lagi jangan makan es krim terlalu banyak." nasehat Julia.


Sandrina mengangguk pelan. Setelah ia tertidur, Julia kemudian keluar dari kamar untuk menemani Nenek nonton TV, di ruang keluarga Nenek sedang menerima panggilan telpon. Sepertinya dari Satria, saat Julia berada di sebelah Nenek, ponsel Nenek berikan kepada Julia. Julia menerimanya.


"Halo Assalamu'alaikum,,,,." sapa Julia.


"Walaikumsalam,,, Julia, kata Nenek, Sandrin demam? kenapa kamu memberinya es krim?" tanya Satria.


"Iya Mas, demam mungkin karena mau flu, sekarang Sandrin sudah tidur, mudah-mudahan besok sudah sehat lagi." jawab Julia.


"Iya, tolong jangan kasih dia es krim lagi, kalau ia memaksa, katakan, suruh ijin dulu sama Ayah!" ucap Satria.


"Baiklah Mas, Nanti kuingatkan dia." jawab Julia pendek.


"Oke, besok aku jemput kamu, ada tugas yang mesti kamu kerjakan." perintah Satria.


"Bagaimana dengan Sandrina Mas?!" tanya Julia.


"Biar dia sama Nenek saja. Kamu kembali ke kantor!" ucap Satria tegas.

__ADS_1


"Tapi,,,,.?" sahut Julia terpotong.


"Tidak ada tapi Julia. Ini perintah!" tegas Satria.


hmmm begitulah Satria, jika ia menghendaki sesuatu, tidak ada yang boleh membantah. Cuma Nenek saja yang bisa menasehatinya.


"Bagaimana Julia? Satria nyuruh kamu kerja besok?!" tanya Nenek.


"Iya Nek katanya harus segera selesai, tapi kan Sandrina lagi sakit Nek? Julia khawatir,,, gara-gara Julia ikuti kemauan Sandrina, jadi gini?" Julia merasa bersalah.


"Besok Nenek ngomong sama Satria!" tegas Nenek.


"Nenek mau dibuatin kopi Nek?" tanya Julia.


"Hmm teh saja Julia, tanpa gula ya?" pinta Nenek.


"Baik Nek,,, sebentar,,,." jawab Julia sambil pergi ke dapur.


***


Sudah jam 9, teh Nenek telah habis, Nenek pamit tidur, sedangkan Julia masih mengikuti acara news di tv.


Tiba-tiba Pak Madi masuk dari dapur, ia memberitahu kalau Tuan Muda datang. dan berlari ke ruang tamu untuk membukakan pintu.


"Assalamu'alaikum,,,,.!" sapa Satria.


"Waalaikumsalam,,,." jawab Julia pelan. Tatapannya terkejut, karena di telpon tadi Satria bilang besok mau menjemput, tapi sekarang ia sudah disini.


"Kenapa wajahmu heran begitu? aneh aku datang malam-malam?" tanya Satria mengernyitkan keningnya.


"Ah tidak,,,, cuma heran saja, tadi katanya mau jemput besok?" ucap Julia sambil masih menonton berita.


"Iya, aku kangen,,,,,!" ucap Satria.


Kangen? bathin Julia.


"Kangen sama Sandrina,,,,!" jawab Satria terkekeh.


Hmmmmhhh kenapa Bosnya jadi pede gini sih? rutuk Julia. Dia pikir aku ga bisa ngerjain dia? ejek Julia dalam hati.


"Kangen sama aku juga ga apa Mas?! ga ada yang larang kok!" sahut Julia mengejek, sambil mematikan TV dan pergi dari ruang keluarga.


Satria yang pedes telinganya dengan omongan Julia, tak tinggal diam, dilemparkannya tas kerjanya ke sofa, lalu ia mengejar Julia dan menarik tangannya.


"Ish apaan sih? jgn begini Mas! Nenek bisa marah!" Julia meronta, saat Satria mendekapnya. Satria bergeser, mencari saklar lampu dan mematikannya. Ia memandang Julia dalam cahaya temaram.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


( Oaahhhmm maaf kalau terpotong, author mengantuk,,,, πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ )

__ADS_1


__ADS_2