Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
KEDATANGAN SRIANTI


__ADS_3

☆☆☆


"Met Pagi Bos,,,, aku ada berita yang sama sekali tidak menyenangkan!" ucap Rico yang terburu masuk ke ruangan CEO.


Satria mengernyit,,,,


"Berita Apa?!" tanya Satria.


"Tn. Daffin bebas, ia dibebaskan bersyarat. Ada yang menjamin kebebasannya. Mendengar itu, Satria tampak murka. Ia memang sangat membenci Daffin karena telah berkhianat, tapi bukan itu saja yang membuatnya sangat marah. Ia takut Daffin masih mengincar Julia istrinya, terlebih lagi saat ini Julia tengah mengandung.


"Rico, kamu harus waspada, jangan sampai Daffin berulah lagi. Aku juga ingin orang-orang kita menjaga Julia." ucap Satria gemas.


***


"Ya ampun Mas, yang benar saja! aku cuma mau belanja kebutuhan bulanan, masa ia aku harus dikawal?!" ucap Julia merasa enggan.


"Sayang,,, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Kalau ada yang mengawalmu aku akan kerja dengan tenang." ucap Satria meyakinkan.


Satria memang tidak menjelaskan kenapa ia melakukan itu pada istrinya. Ia hanya ingin memastikan Julia aman. Dengan kebebasan Daffin, ia merasa keselamatan istrinya terancam.


Satria sudah berangkat ke kantor bersama Dicky. Julia yang berencana ke hypermarket, jadi merasa malas. Ia membayangkan berbelanja dikawal dua orang suruhan Satria, bersama Edwin sang supir. Bukankah ini berlebihan? tapi akhirnya ia menurut saja, dan membuang rasa malasnya, karena dia harus berbelanja.


Mobil Julia keluar dari gerbang, dan meluncur menuju hypermarket. Di mobil ia asyik dengan ponselnya, mengabaikan pengawal yang ikut ke hypermarket.


"Nyonya kita sudah sampai." ucap Edwin mengingatkan Julia.


"Oke Edwin, aku berbelanja dulu, kamu tunggu saja disini, ini uang, biar kamu bisa minum kopi sambil menunggu." ucap Julia, sambil memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Baik Nyonya, terima kasih." ucap Edwin.


Dua pengawal Julia mengikutinya berbelanja, ia tidak sadar, ada beberapa orang yang menguntitnya sejak mereka berangkat dari rumah.


"Bos, sial, Nyonya Julia selalu dikawal kemananpun ia pergi. Sepertinya Tn. Satria tidak membiarkan dia pergi sendiri." lapor penguntit kepada Bosnya.


Di seberang sana, Daffin yang kesal mendengar laporan anak buahnya, menendang vas bunga di depannya.


"Julia, kamu tidak akan bisa lepas dariku. Kau harus jadi milikku!!!" ucap Daffin menyeringai.


***


Julia yang merasa kelaparan mengajak para pengawal memasuki restaurant yang berada di samping hypermarket. Sambil menunggu pelayan menyiapkan pesanannya, ia menelpon seseorang.


"Halo Mba, apa kabar?" tanya Julia.


"Hai Julia, kabar baik,,,, tumben kamu menelpon. ada apa? aku di Milan, masih malam disini." ucap Arzhad.


"Oh maaf Mba aku mengganggu,,,." ucap Julia menyesal, karena mengganggu Mba Arzhad.


"Tidak, tidak apa,,, ada apa menelpon?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Aku sedang kesal Mba, Ohya aku mau mengabarkan kalau aku lagi hamil Mba,,,." ucap Julia sambil tersenyum.


"Kamu hamil?! aku ikut senang mendengarnya! jaga dirimu dan kehamilanmu baik-baik. Ohya kamu kesal kenapa?" tanya Arzhad.


"Ya aku kesal, mau kemana-mana sekarang dikawal Mba! Mas Satria seperti takut sekali kalau ada apa-apa denganku. Ah entahlah, aku jadi merasa tidak nyaman." erang Julia.


Arzhad yang mendengar ini sama sekali tidak terkejut, ia juga sudah dengar kalau Daffin sudah dibebaskan dengan jaminan. Iapun merasa resah, Daffin akan membuat onar lagi.


"Julia, nikmati saja apa yang suamimu lakukan. Itu karena ia sangat mencintaimu, dan takut kehilanganmu. Percayalah!" ucap Arzhad menghiburnya.


"Hehe iya Mba, aku cuma risih dikawal seperti ini." jawab Julia.


"Oke kamu nikmati saja. Jangan membantah suamimu." ucap Arzhad bijak.


"Baik Mba, ok sudah dulu Mba, maaf aku mengganggu." ucap Julia lagi.


"Oke Julia, jaga dirimu. Jangan sungkan menelponku." balas Arzhad.


Sambungan terputus. Setelah itu, Arzhad menelpon, memerintahkan anak buahnya yang berada di Indonesia, untuk ikut menjaga Julia diam-diam. Bagaimanapun ia berhutang budi pada Julia, dan mencemaskan keselamatan Julia juga.


***


Nenek sangat bahagia mendengar dari Satria bahwa Julia sudah hamil. Nenek berencana akan membuat pesta syukuran nanti kalau usianya kandungan Julia sudah empat bulan. Nenek juga meminta mereka mengunjungi Nenek sabtu ini.


"Nenek kangen sekali pada Julia, Sat. Bawa dia kemari sabtu besok!" ucap Nenek.


***


Ting Tong!


Suara bel pintu terdengar sampai ke dapur, Pak Amad yang sedang mengawasi tukang kebun di belakang, bergegas menuju ruang depan.


"Hai Pak Amad, apa kabar?" sapa Srianti.


"Oh Nyonya Srianti, kabar baik Nyonya. Ada perlu apa Nyonya kemari?" tanya Pak Amad ramah.


"Aku mau ketemu dengan Nyonyamu Pak Amad, Julia. Dia ada di rumah?" tanya Srianti.


"Ada Nyonya, Nyonya Julia di kamar. Nanti saya panggilkan, silahkan Nyonya duduk dulu, mau minum apa Nyonya?" jawab Pak Amad.


"Apa aja boleh Pak Amad, baik saya tunggu." ucap Srianti.


Pak Amad berjalan menaiki tangga ke lantai dua, sambil bertanya dalam hati, ada apa gerangan Nyonya Srianti ingin bertemu dengan Nyonya Julia?.


Tok Tok Tok!


"Nyonya,,,,,?" panggil Pak Amad di depan pintu kamar.


"Iya Pak Amad, sebentar,,,,." jawab Julia dari dalam. Ia berjalan tertatih. Maklum, kehamilannya kini sudah akan masuk 4 bulan, walaupun belum begitu besar, tapi ia sudah kerepotan, karena tubuhnya masih seperti sebelum hamil, hanya perutnya saja yang membukit. Julia membukakan pintu.

__ADS_1


"Ada apa Pak Amad?" tanya Julia.


"Maaf Nyonya Julia, saya mengganggu istirahat anda. Ada Nyonya Srianti, dia ingin bertemu Nyonya." ucap Pak Amad.


"Srianti? ada perlu apa Pak katanya?" tanya Julia merasa aneh.


"Entahlah Nyonya,,,, dia tidak mengatakan apapun." ucap Pak Amad.


Julia segera keluar dari kamar, ia berjalan di depan Pak Amad.


Julia mendapati Srianti sedang melihat kolam ikan koi di ruang makan, ia merasa sedikit heran, kenapa Srianti tiba-tiba datang ingin bertemu.


Sampai di tangga terakhir, Srianti yang menoleh ke arah tangga, tersenyum pada Julia.


"Julia,,, apa kabar?" tanyanya basa basi.


"Alhamdulillah baik Mba,,,, Mba ada perlu apa kemari?" ucap Julia to the point.


Srianti tidak langsung menjawab pertanyaan Julia, ia masih tersenyum pada Julia.


"Mari duduk dulu Julia, maaf aku kesini mengganggu." ucap Srianti, sambil mengajak Julia duduk di sofa ruang tengah.


"Julia ada yang ingin saya sampaikan ke kamu." ucap Srianti, Julia hanya mendengarkan.


"Iya?" Julia menanggapi pendek.


"Aku tidak tahu kenapa Mas Satria meminta hak asuh anak kepada pengadilan. Ini suratnya." ucap Srianti sambil menunjukkan surat panggilan pengadilan. Lalu menangis.


"Maaf Mba, aku belum pernah dengar Mas Satria mengajukan itu. Lalu apa yang bisa saya lakukan?" tanya Julia bingung.


Srianti menghentikan tangisnya.


"Aku minta tolong padamu Julia, agar ia membatalkan permohonan itu. Aku masih ingin bersama Sandrina,,,, kamu juga akan menjadi seorang Ibu, kamu akan tahu bagaimana rasanya terpisah dari anak?" ucap Srianti terisak.


Julia tidak tahu harus bicara apa, bahkan ia tidak tahu Mas Satria melakukannya.


"Mba aku tahu Mba pasti sedih, tapi keputusan ini aku sama sekali tidak tahu. Aku cuma bisa menanyakan kenapa ia melakukan itu. Tapi untuk mencegahnya? aku tidak berhak ikut campur." ucap Julia.


Julia teringat kata-kata Srianti dulu, yang mengatakan pada Sandrina, bahwa anak itu tidak boleh memanggilnya dengan sebutan ibu atau apapun, kecuali tetap memanggil tante. Tapi sekarang, Srianti malah meminta bantuan kepadanya, agar ia memohon pada suaminya, untuk tidak membatalkan gugatan suaminya kepada mantan istrinya soal hal asuh anak.


"Tolonglah Julia, sekarang Sandrina juga anakmu. Pikirkanlah kebahagiaannya juga." tuntut Srianti.


♠️


♠️


♠️


( Bersambung,,,,,, )

__ADS_1


__ADS_2