
Ruangan perencanaan kembali sepi, semua berkutat dengan pekerjaannya. Hendro yang mengintip ada banyak makanan di meja Julia, mendekat.
"Ini makanan dianggurin aja Jul? aku mau dong?" ucap Hendro sambil nyengir.
"Hmmm makan aja mas ga papa,,,, aku belum lapar, jadi belum kubuka. Ambil aja mumpung masih hangat." sahut Julia, tanpa menoleh. Ia masih konsentrasi di depan laptopnya.
Melihat Hendro makan pizza dengan lahapnya, teman yang lain berdatangan, ikut nimbrung makan.
"Wah enak nihh,,,, aku mau juga ah,,, ." Santo langsung menyomot sepotong pizza.
Diikuti yang lainnya lagi, Julia cuma tersenyum aja melihat mereka.
"Eiiiiitttsss udah cukup sedus aja yang dibuka. Kasihan tuh Julia, yang punya belum makan." Hendro mengingatkan.
"Julia, nih gambar yang kamu minta, mudah-mudahan tidak ada kesalahan lagi ukurannya." ucap Hendro sambil menyerahkam map berisi gambar rencana bangunan.
Julia menghentikan ketikannya, ia menerima berkas yang diserahkan hendro, membukanya, dan mengecek dengan teliti ukuran-ukuran yang tertera di gambar.
"Ok makasih mas,,,, ." jawab Julia singkat.
Julia melihat dus pizza yang sudah kosong, dan menggeleng sembari terkekeh.
Ia cuma mengambil secup cola dingin disamping dus pizza, cuma itu yang aman dari jangkauan para singa lapar di ruangan ini. pikirnya terkekeh.
Jam 21.00 pekerjaan Julia belum juga selesai, tinggal satu pekerjaan terakhir di RAB. Karena ia harus mencocokan dengan ukuran yang tertera di gambar rancangan Hendro tadi.
Ponsel berdering, Julia mengangkat telpon dari Santi.
"Ya San? ada apa,,,? aku masih lembur." jawab Julia.
"Makanya itu, aku juga belum pulang, aku disuruh menunggumu sampai selesai. Tn. Satria juga masih disini." ucap Santi.
"Jadi kamu masih di kantor?" Julia terkekeh
"Iyaaa! makanya ayuk ceepetan, atau kamu bisa terusin besok? kan deathlinenya besok?" ucap Santi lagi, memelas.
"Hahaha oke deh, bentar,,, aku selesaikan sedikit lagi, terus kita pulang." jawab Julia.
Santi menutup telpon. Ia berjalan keruang CEO, untuk berpamitan.
"Tuan, Saya pamit ke ruang perencanaan, Saya tunggu Julia disana saja." pamit Santi.
"Hmmm baiklah Nona Santi, silahkan, katakan pada Julia, untuk dilanjut besok." ucap Tn. Satria.
Santi bergegas menuju lantai 16, sampai disana ia melihat Julia sedang membereskan meja kerjanya yang penuh kertas berserakan. Julia menoleh sekilas.
"Bentar cintaaa,,, aku beberes dulu. duduklah di kursi Tika." ucap Julia pada Santi.
Santi duduk di kursi Tika, tanpa mengatakan apapun, karena udah mengantuk juga. Ia menunggu Julia beberes. beberapa saat kemudian Julia mengajak pulang.
__ADS_1
"Ayo kita pulaaaannnng,,,, !!" teriak Julia riang.
karyawan lain diruangan itupun ikutan berkemas, kecuali Pak Fatah, yang tampaknya masih bertapa di ruangannya.
***
Sampai apartemen, Julia melemparkan tas dan sepatunya sembarangan, rasanya sudah tidak betah lagi, badannya terasa lengket, walaupun kerja di ruangan ber-AC. Segera ia menyegarkan diri di bawah guyuran shower,,,, penatnya hilang seketika. Dengan masih memakai kimono handuk, ia berjalan ke dapur dan membuat dua gelas besar es teh disana. Santi masih berada di kamarnya, tampaknya ia sedang mandi.
Lama sekali Santi, pikir Julia. Ia memutuskan untuk ke kamar Santi.
"San,, santi,,, " panggilnya sambil mengetuk pintu.
"Ya bentar,,, lagi pakai baju." jawab Santi dari dalam. Beberapa menit kemudian Santi keluar kamar.
"Nih kubuatin es teh San,,, aku haus banget, dan kayaknya seger minum es teh." ucap Julia.
"Malam-malam begini?" Julia mengernyit. tapi ia minum juga es teh buatan Julia.
Mereka menghabiskan es teh sambil mengobrol, hingga jam 23.00, mereka baru masuk ke kamarnya masing-masing.
***
Julia berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya, Santipun ikut berangkat bersama Julia, pikirnya daripada ia berangkat sendirian tanpa teman mengobrol?
Sampai di kantor, Julia langsung membuka laptopnya. Saat itu kantor masih sepi, baru ia sendiri yang hadir.
Tanpa suara, ia mengerjakan RAB yang tinggal sedikit lagi kelar. Yah Julia memang handal dalam mengerjakan tugasnya, kemampuan berhitungnya luar biasa, ia sangat teliti.
Karyawan lain berdatangan jam 8.30, ruangan langsung terdengar hidup, tidak sesepi tadi. Julia terus tekun menyelesaikan RAB, jam 09.00 RAB selesai,,, ia istirahat sebentar dan mengambil air putih di dispenser, sambil meneguk air, perhatiannya masih di kertas yang ia print. "Alhamdulillah clear,,,." bathinnya.
Setelah itu ia lanjutkan copy paste metode pelaksanaan yang sudah ada, tinggal mengganti judul dan point lainnya. Julia tidak beranjak dari ruang sekitar meja kerjanya.
"Alhamdulillah selesai semua. tinggal mengirimkan via email semuanya." gumam Julia. Tapi alangkah baiknya ia berikan berkas hard copynya untuk dicek Pak Fatah.
"Oh siaaalll! ada apalagi sih ini? printernya macet,,, suaranya berderit. Sedang sibuknya ia mencabut kertas dari dalam printer yang macet, Pak Fatah datang menemuinya.
"Gimana Julia? sudah selesai?" ucap Pak Fatah yang sepertinya selalu gugup menunggu penawaran proyek Lyon.
"Sudah pak, tapi ini?" Julia menunjukkan printer yang sedang ngadat.
"Tak apa-apa, saya minta soft copynya saja. Tolong masukkan ke flasdisku." tukas Pak Fatah sambil menyodorkan flasdisk.
Julia mengcopykan semua berkas penawaran yang sudah ia susun dengan rapi, penawaran akan ia kirimkan via email setelah dicek Pak Fatah.
"Sudah Pak, tolong dicek lagi, semua dalam 1 folder berbentuk Pdf." Julia menjelaskan format filenya.
"Baik Julia, terima kasih, nanti biar aku saja yang mengirimkannya." sahut Pak Fatah. Julia diam saja. Ia cuma berpikir takut Pak Fatah lupa kirim, dan salah input.
Waktu makan siang tiba, Julia sudah agak santai sekarang, begitu juga dengan Hendro dan Tika yang satu tim mengerjakan tender Lyon. Hendro mengajak Julia makan siang bersama di rumah makan depan gedung kantor.
__ADS_1
Selesai makan mereka berdua kembali ke lantai 16, tempat kerja mereka.
"Aduh kok lama banget ya Pak Fatah koreksinya?" bathin Julia. Ia agak deg-degan, karena deathline penyerahan berkas penawaran ditutup jam 12 malam ini.
Julia membuka aplikasi penawaran online proyek Lyon. Setelah memasukkan ID pengguna dan passwordnya, Julia langsung mengklik pemasukan dokumen penawaran. Ia tidak peduli lagi, karena Pak Fatah lama sekali mengecek pekerjaannya, tapi Julia sudah yakin ia mengerjakannya dengan teliti. Ia membuat dua penawaran untuk dua perusahaan, satu atas nama Penjawi Artha Prima, co. ltd sebagai pemenangnya, dan yang kedua atas nama Daffin, Co. ltd. sebagai pendamping. Untuk Penjawi Artha Prima, co.ltd. Julia sudah mulai mengirimkan penawaran dengan hati-hati, semua file yang dibuat satu folder telah terenkripsi dan segera ia kirimkan,,, proses pengiriman loading memakan waktu yang lumayan lama, bikin panik. Julia menunggu sambil mengetuk-etuk meja.
"Sent success" begitu bunyi di layar monitor, Julia mendesah lega.
Pak Fatah berada di hadapan Julia saat Julia mendesah lega.
"Ada apa Julia?" tanya Pak Fatah menyelidik.
"Ini Pak, Alhamdulillah pengiriman dokumen penawaran Penjawi Artha Prima, co.ltd sudah berhasil! sekarang tinggal penawaran Daffin, co.ltd yang belum, saya belum berhasil masuk ke ID perusahaan Tuan Daffin." jawab Julia.
"Su-sudah masuk?" Pak Fatah bertanya dengan sedikit gugup, sambil memegang tengkuknya.
"Iya Pak,,, " ucap Julia keheranan melihat Pak Fatah yang gugup.
"Julia,,,, ?" panggil Pak Fatah.
"Ya Pak?" ucap Julia dengan nada bertanya.
"Kamu keliatan lelah, biar saya bantu. tuh liat,,, masih loading terus!" ucap Pak Fatah sambil menujuk layar laptop.
"Iya Pak, tidak apa-apa, memang proses kadang butuh waktu lama, mungkin jalurnya yang sibuk, atau providernya agak masalah." jawab Julia. Pak Fatah pergi meninggalkan Julia yang keheranan, ia masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa dia Jul?" tanya Hendro yang melongokkan kepala dari balik partisi.
"Entah,,,." jawab Julia singkat sambil mengedikkan bahu.
***
Julia kesal, hingga pukul 10 malam, penawaran Lyon atas nama Daffin, co.ltd belum juga bisa masuk. loadingnya lama, lelet sekali. Ia panik, mudah-mudahan berhasil. Tanpa terasa keringat dingin membanjiri keningnya.
Pak Fatah kembali mendekati Julia.
"Julia biar aku bantu dari ruanganku, yang lainnya sudah pulang, kamu pulanglah. Kamu sudah keliatan lelah, yang penting, penawaran punya kita sudah sukses terkirim. Aku takut kamu jatuh sakit." ucap Pak Fatah.
Julia pikir benar juga kata Pak Fatah, lebih baik aku pulang, mumpung masih ada teman turun.
"Baik Pak fatah, Saya titip memasukkan penawaran Daffin, co.ltd." jawab Julia.
"Ya,,, hati-hati di jalan Julia." ucap Pak Fatah.
♤
♤
♤
__ADS_1
( guyssss jangan lupa like n commentnya. Salam hangat penuh cintaaa 😘😘😘 )