
Satria mengamuk di ruangannya, hingga ruangan yang biasanya rapi, kini berubah seperti kapal pecah. Banyak puing-puing pot, tanah, dan tanaman yang tidak berdosa tergeletak begitu saja di lantai.
Suara pecahan pot membuat Fenti yang mejanya persis di luar ruangan sang Bos, jadi ketakutan, dan memberitahu Rico, asisten sang Bos.
Rico segera masuk ruangan CEO.
"Ada apa ini Bos?!" tanya Rico, melihat ruangan Satria berantakan.
Satria tidak menghiraukan pertanyaan Rico, ia diliputi emosi. Melihat foto Julia yang menemui Daffin membuatnya kalap, apalagi Julia membawa Arga serta.
"Aku pulang sekarang Ric, tolong handle pekerjaanku." ucap Satria. Pandangannya dingin tanpa ekspresi.
"Siap Bos, jangan khawatir. Pulanglah, semoga semua baik-baik saja." ucap Rico mencoba mendinginkan suasana.
***
Julia langsung ke rumah, dan cuma mampir membeli kebutuhan Arga sebentar di supermarket. Hatinya sangat lega, Daffin berpamitan padanya, dan ia berjanji tidak akan lagi mengganggunya.
Sampai di kamar, dan belum juga ia berganti pakaian, Satria muncul. Tatapannya sangat dingin.
"Dari mana saja kamu?" tanya Satria dingin.
"Mas? tumben sudah pulang?" ucap Julia, ia terkejut suaminya sudah di belakangnya.
"Dari mana kamu Julia? cantik sekali kamu,,,,! ada janjian dengan seseorang?" tanyanya lagi.
Julia kaget mendengar pertanyaan suaminya, ia bingung mau memjawab apa. Bagaimana kalau suaminya tahu, dia habis bertemu dengan Daffin? tapi Julia juga tidak ingin berbohong.
"Emm Mas, errmm,,,,." suaranya terdengar serak. Satria menunggu jawaban Julia dengan tatapan yang masih dingin, membuat Julia tambah salting.
"Iya aku tadi bertemu seseorang." ucap Julia jujur.
"Siapa?!" kali ini Satria berteriak. Ia menyeret Julia ke ruang kerjanya, agar tak membangunkan Arga.
Julia tidak menjawab pertanyaan suaminya, tapi ia malah menangis, membuat Satria makin tak sabar.
"Dengan siapa Julia?! jawablah dan tatap mataku!" sahut Satria gemas.
Julia sempat ragu, tapi dia takut dengan kemarahan suaminya.
"Mas Daffin, dia memintaku menemuinya." ucap Julia lirih.
__ADS_1
"Menemuinya untuk apa?! katakan yang jelas!!!" suara Satria meninggi.
"Ia cuma ingin berpamitan. Dia,,,, " suaranya terpotong, karena Satria turun ke bawah memanggil Pak Amad.
"Pak tolong panggilkan Dicky cepat, suruh ia naik ke ruang kerjaku!" perintah Satria, lalu ia naik lagi dengan tergesa.
"Baik Tuan." jawab Pak Amad, ia segera akan memanggil Dicky, saat Maryati tiba di depannya.
"Biar saya saja Pak yang panggil Mas Dicky." ucap Maryati menawarkan diri.
"Tidak usah. Kamu disini saja!" ucap Pak Amad tergesa, dan meninggalkan Maryati yang terbengong.
Tak lama Dicky dan Pak Amad masuk ke dalam rumah, Dicky segera naik keatas memenuhi panggilan Bosnya.
Tok! Tok! Tok! Dicky mengetuk ruangan kerja Satria.
"Masuk!" ucap Satria dari dalam. Ia sedang memandang istrinya dengan dingin.
"Ada apa Tuan?" tanya Dicky takut-takut.
Ia segera memasuki ruangan.
"Dicky! katakan padaku, apa saja yang Nyonyamu ini lakukan di cafe tadi?!" tanya Satria.
"Tidak tahu?! kamu mengantar Nyonya Julia, dan tidak tahu apa yang dia lakukan dan dengan siapa?!" Satria mulai berteriak lagi.
"Maaf Tuan, tapi saya,,,,," ucapan Dicky terpotong.
"Jangan salahkan dia Mas! aku yang salah, dia hanya mengantar aku ke cafe, itu saja tugasnya!" potong Julia.
Dicky merasa serba salah, tapi dia memang tidak tahu, dengan siapa nyonyanya bertemu. Sesampainya di Cafe Donetti, Nyonya Julia menyuruhnya memesan kopi untuknya sendiri, dan Nyonya Julia masuk ke dalam diantar pelayan cafe.
"Kamu masih ingin kerja denganku kan ****?! kalau sampai hal ini terjadi lagi, aku akan segera memecatmu!!! sekarang keluarlah!" ucap Satria sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dicky segera keluar tanpa diminta dua kali, ia berjalan dengan bimbang.
Julia melangkah hendak pergi, tapi Satria mencengkeram tangannya dengan kuat.
"Mau kemana kamu?! aku belum selesai bicara!" ucapnya kasar pada Julia.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan Mas, Mas sudah mendapatkan fotoku dengan Daffin. Berarti ada orang yang sengaja menginginkan kita berpisah. Aku mau ke tempat Nenek." ucap Julia sambil menyeka air matanya.
"Tidak usah mengadu pada Nenek! dia pasti shock melihat kelakuanmu!" ejek Satria. Julia memandang Satria dengan kesal.
__ADS_1
"Demi Tuhan! Mas telah salah sangka. Aku minta maaf karena tidak meminta ijin untuk pergi. Tapi aku tidak melakukan apapun, selain menemui Mas Daffin yang ingin berpamitan." ucap Julia membela diri.
"Jangan sebut nama Tuhan atas kesalahanmu Julia. Cukup sudah, aku tidak mempercayaimu!" sahut Satria keras kepala.
Julia mendekati suaminya.
"Baiklah kalau Mas memang tidak percaya padaku. dan lebih percaya foto di hp Mas. Aku akan pergi! aku butuh waktu untuk berpikir." ucap Julia tegas.
Ya ampun, ini lah yang tak diinginkan Satria sebenarnya, Ia tidak bisa jauh dari Julia, ia sangat mencintainya dan takut kehilangan. Julia yang sangat lembut, dan perhatian sebagai seorang istri, tapi akan sangat keras kepala untuk mempertahankan pendapatnya. Sangat berbeda dengan perempuan manapun yang Satria pernah kenal. Semua perempuan yang dekat dengannya, akan dengan sangat memohon untuk tidak diusir atau ditolaknya. Bahkan Srianti dulu yang dengan mata kepala Satria sendiri melihat ia ketahuan selingkuh, berlutut di kakinya, memohon untuk tetap bersamanya. Tapi Satria tak bergeming, ia dengan segala ketegasanya mengusir Srianti dan menceraikannya tanpa pesangon apapun.
Tapi Julia?! ia malah ingin pergi darinya, kalau Satria menyudutkan dirinya. Bukannya berlutut memohon seperti perempuan lain.
Karena gengsinya ia biarkan Julia keluar dari ruang kerjanya. Sekali lagi ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ancaman Julia begitu menakutkan untuknya.
***
Julia membereskan pakaiannya, ia membawa beberapa lembar pakaian, dan juga membawa baju Arga, dan perlengkapan Arga lainnya dalam tas. Ia merasa berat untuk meninggalkan suaminya, tapi ia juga tak tahan, melihat Satria yang cemburu buta. Entahlah ia mungkin akan ke tempat Nenek.
Sampai di bawah, sambil menggendong Arga, ia meminta Dicky untuk mengantarnya. Tapi Satria yang mengikuti dari belakang mencegahnya.
"Kalau kamu ingin pergi, pergilah, tidak usah minta tolong Dicky! pesan saja grab."
Melihat Nyonyanya murung, Dicky yang kasihan terhadapnya memberikan bantuan.
"Biar saya yang pesan grab untuk Nyonya. Nyonya duduk dulu saja." ucap Dicky.
Satria yang mendengar ucapan Dicky bersiap menyanggah, tapi ia mengurungkan niatnya. Diambilnya Arga dari gendongan Julia, dan bercanda ria dengan si kecil.
Beberapa menit kemudian Dicky memberitahu Julia bahwa mobil sudah datang.
"Nyonya mobilnya sudah datang, mari saya bawakan tasnya." ucapnya sambil mencangking tas yang akan dibawa Julia. Satria ikut bangkit sambil menggendong Arga, dan berjalan mendekati mobil.
Setelah Julia masuk, satria memberikan Arga kepadanya, hatinya tak karuan melihat kepergian Julia.
Ia melambaikan tangan pada si kecil, sementara Julia tidak menatap suaminya sedikitpun. Ia merasa kecewa, air matanya mulai menetes.
♣️
♣️
♣️
__ADS_1
( Itulah kelemahan Julia pemirsah,,,, suka ngambek dan pergi kalau hatinya diliputi kekecewaan. Ia memang sosok yang keras kepala. Maklumin aja ya,,,,,, hehehe,,,, )