
Mobil Arzhad yang dicegat oleh seorang gadis bernama Lina, menyuruh anak buahnya menghentikan mobil, ia memberi pertolongan kepada Julia, yang dalam keadaan pingsan.
Anak buah Arzhad membopong Julia dan memasukkan ke dalam mobil, lalu mereka berbalik arah menuju ke kota. Julia belum juga sadar dari pingsannya, sementara Lina menunggui majikannya dengan perasaan cemas, karena ia tak mengenal orang-orang yang telah menolong mereka.
Sementara di Jakarta, Satria yang baru saja mendapat informasi dari dr. Santoso dan dr. Bramanto di ruangannya, langsung saja murka.
"B*****t kamu Daffin!!!!" ucap Satria gemas, ia benar-benar murka. Sementara Rico yang menemani Satria merasa bersalah pada Bosnya, karena ia tak mencurigai Daffin sedikitpun, saat Daffin datang meminta maaf. Ternyata Daffin saat itu sedang mengelabuinya. Ricopun ikut murka mendengar informasi itu.
"Bos, maafin aku, aku sama sekali tidak menyangka, Daffin berusaha mengelabuiku!" ucap Rico merasa bersalah.
"Sudah Rico, ini bukan salahmu. Sekarang ayo kita ikuti Daffin. Bukankah kamu bilang, Daffin akan ada acara penting di Jakarta ini?!" ucap Satria masih gemas.
"Iya bos, ayo! tapi jangan kita sergap dia sekarang, tunggu ia kembali ke Kalimantan, dan kita ikuti dia!" jawab Rico bersiasat.
***
Julia tersadar dari pingsannya, ia terkejut ketika melihat Mba Arzhad ada di dalam mobil tempat dia berada saat ini.
"Mba Arzhad?! dimana aku?" ucap Julia sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
Arzhad merasa senang Julia sudah tersadar. Ia mengambilkan minuman air kemasan dan disodorkan pada Julia.
"Ini minumlah Julia, sekarang kamu baik-baik saja, aku akan membawamu pulang ke Jakarta." ucap Arzhad.
Linapun merasa lega, karena ternyata para penolongnya mengenal Julia majikannya. Sesampainya di kota, Lina berpamitan pulang kepada Julia dan para penolongnya.
"Ibu, Lina sampai sini saja ya,,, Lina akan pulang ke rumah." ucap Lina sedih.
"Tidak Lina! kamu harus ikut Ibu ke Jakarta, kalau kamu pulang, Ibu takut, Pak Daffin akan menghukummu!" sergah Julia.
"Bu, Lina tidak mungkin meninggalkan orang tua Lina di Desa, Pak Daffin akan semakin murka pada orang tua Lina. Biar Lina yang tanggung ini semua. Ibu sama Arga, baik-baik ya,,,,." ucap Lina tabah.
Sekuat apapun Julia memaksa, Lina tetap dengan pendiriannya. Yang penting baginya, Ia sudah berusaha menyelamatkan orang yang memang seharusnya ia tolong.
__ADS_1
"Baiklah Lina, susah buat Ibu memaksamu. Ibu harap kamu akan selalu menghubungi ibu." ucap Julia, ia memberikan gajinya bulan ini dan beberapa lembar uang untuk Lina pakai pulang ke Desa.
Setelah Lina pamitan, mereka meneruskan perjalanan ke bandara untuk pulang ke Jakarta.
***
Daffin begitu gelisah, pertemuan dengan relasi bisnisnya belum juga usai, tapi ia terlihat sangat tidak nyaman. Akhirnya Daffin memutuskan untuk segera kembali ke Kalimantan sore ini, karena kecemasannya ia mengajak beberapa pengawalnya.
Daffin yang terburu-buru, sampai tidak menyadari, beberapa pasang mata memperhatikan gerak geriknya.
Sampai di bandara Soekarni Hatta, ia langsung melakukan boarding pass dan menuju pesawat, ia tak memilih lagi penerbangan kelas apa. Yang penting baginya adalah ia sampai segera tiba di rumah perkebunan.
Satria dan Rico, juga beberapa anak buahnya menyusul penerbangan Daffin dengan jet pribadi.
***
Beberapa jam setelah Daffin, Satria dan anak buahnya terbang ke Kalimantan, Julia dan Arzhad tiba di bandara Soekarno Hatta jam tujuh malam.
Pak Amad yang merasa bahagia atas kedatangan Nyonyanya bersama anak lelaki yang selama ini ditunggu kelahirannya, Arga. Pak Amad mengantar Julia dan Arga ke kamarnya. Kemudian Pak Amad mulai menyiapkan makan malam untuk Julia dengan semangat.
***
Di perumahan perkebunan, Daffin masuk ke dalam rumah, ia merasa heran rumahnya sepi, tidak terdengar suara tangisan atau ocehan Arga ataupun Lina seperti biasanya, padahal hari baru menunjukkan jam 8 malam.
Bu Tuti yang mendengar Tuannya datang, keluar dengan takut-takut, dan melaporkan bahwa Julia dan Arga, serta Lina tidak ada di rumah. Mendengar informasi dari Bu Tuti, sontak Daffin pun murka. Ia menendang meja yang ada di depannya, karena kalap.
Dan pada saat itu, Satria dan Rico tiba di rumah perkebunan milik Daffin, Ia langsung memberondong masuk ke dalam rumah.
Daffin yang terkejut dengan kedatangan Satria, langsung menghadang Satria.
"B******n kau Daffin!!! kamu pikir siapa kamu?! beraninya kau culik istriku!!!" ucap Satria marah. Daffin hanya tersenyum mengejek, sesungguhnya dalam hatinya sangat kesal, karena Julia melarikan diri.
"Untuk apa kamu mencari Julia disini?! dia tidak ada disini! kamu lihat sendiri kan Sat?!" ucapnya mengejek.
__ADS_1
Tanpa kata-kata, Satria langsung menyerang Daffin yang mengejeknya. Ia memukul Daffin, tanpa ada yang berani mendekat. Keduanya bertarung habis-habisan. Tinggi keduanya sama, besar postur tubuhnya juga hampir sama, para pengawalnya justru memandang mereka dengan rasa gemas, tapi tak ada yang berani maju sedikitpun.
Sampai keduanya betul-betul babak belur, bibir Satriapun sudah berdarah-darah, hingga Daffin lah yang jatuh tersungkur. Setelah itu mobil polisi mendatangi rumah perkebunan, dan membawa mereka ke kantor Polisi. Tentu saja beberapa karyawan perkebunan yang melaporkan kejadian tersebut kepada pihak aparat.
***
Sampai jam tiga dini hari mereka berada di kantor kepolisian. Daffin akhirnya harus menginap di kantor polisi, karena tuduhan penculikan, sedangkan Satria bisa pulang, setelah para saksi memberikan kesaksiannya.
Sampai di kota untuk mengobati luka-lukanya, Satria meraih ponselnya yang tiba-tiba banyak pesan dan notifikasi yang masuk. Ternyata selama di perkebunan sinyalnya tidak bagus. Ia membuka ponsel, dan mendapat pesan masuk dari Pak Amad, yang mengabarkan bahwa Nyonya Julia sudah tiba di rumah. Ia juga mendapat informasi bahwa Nona Arzhad lah yang menolong Julia.
Setelah perawat mengobati luka-lukanya, Satria segera meminta Rico menyiapkan jet pribadi untuk segera kembali ke Jakarta.
***
Mobil Satria masuk ke halaman rumah, perasaan bahagia menyelimuti Satria, istri yang sangat dicintai dan ia rindukan telah berada kembali di sisinya.
"Dimana Nyonya Pak Amad?" tanyanya segera saat melihat Pak Amad.
"Di kamar Tuan!" jawab Pak Amad dengan tersenyum bahagia.
Satria lari menaiki tangga, meninggalkan Rico dan yang lainnya tetap di bawah.
Ia langsung saja masuk ke dalam kamar, dilihatnya Julia yang sedang duduk di tempat tidur, dan baru saja sholat subuh. Seorang bayi berusia hampir empat bulan tertidur pulas disampingnya. Satria langsung memeluk istrinya dengan rasa rindu yang tak tertahankan.
"Julia,,, kamu sudah kembali sayang?" ucapnya. Ia memeluk Julia erat, begitu juga Julia, ia sampai menangis sesenggukan.
Tiba-tiba bayangan Daffin terlintas dalam benak Satria, ia membayangkan laki-laki itu menjamah istrinya, mencumbu istrinya, pikirannya benar-benar negatif. Ia mengernyitkan keningnya, lalu tanpa sadar, ia mendorong Julia dengan keras. Julia yang merasa kangen dengan suaminya, kaget karena didorong dengan keras oleh suaminya.
"Mas,,,,,?!" ucap Julia tak percaya. Satria berdiri dan mundur beberapa langkah, lalu segera pergi meninggalkan Julia di kamarnya.
Ia turun ke bawah, dan tanpa menghiraukan semua orang, ia pergi ke teras belakang rumah, disana ia mendekati samsack yang tergantung di teras, dan mulai memukul samsack itu sekencang-kencangnya. Perasaannya sangat sakit, saat ia memeluk istrinya, pikiran negatif bermunculan dalam benaknya.
Julia yang baru saja terkaget atas perlakuan suaminya, mendekati Jendela, ia memandang ke arah luar dekat kolam renang, dilihatnya suaminya sedang memukul sebuah samsack, ia seperti sedang menghajar seseorang.
__ADS_1