
"Bos, Anda yakin akan ke cilacap menggunakan pesawat pribadi? apa disana ada bandara?! tanya Rico terkekeh.
"Hmmm aku belum pernah ke kota kecil itu, tapi menurut pilot, ada bandara disana, namanya Bandara Tunggul wulung." jawab Satria.
"Oke kalau begitu aku siap-siap bos. Kita akan ajak Nona Santi juga?" tanya Rico ragu.
"Tentu saja,,,," jawab Satria.
Satria ingin mencari Julia dan memintanya kembali, maka dari itu ia rela pergi jauh-jauh ke kota yang ia belum pernah kesana sebelumnya, demi mencari Julia. Dengan mesin pelacak no ponsel, Rico mengetahui keberadaan Julia, ia tinggal tak jauh dari bandara itu.
***
Sore hari itu Julia menyambangi laut,,, dia sangat suka kesana kalau hatinya sedang gundah. Cuma duduk di atas tembok pemecah gelombang, dan memandangi orang-orang yang sedang bermain di pantai. Sesekali ia mengecipak-cipakkan kakinya ke dalam air. Ingin rasanya menyeburkan diri, berenang, tapi ia malu karena sendirian. Ia memandang ponselnya, ia sebenarnya ingin sekali mengobrol dengan Santi, tapi, ia ragu karena Santi kemarin meragukan kejujurannya. Akhirnya ia memandang ke arah laut lepas. Begitu banyak kapal tanker yang hendak berlabuh di dermaga 70, suara klakson kapal sesekali terdengar mengejutkan Julia.
"Diiiimmmmmmm,,,,,,,."
***
"Ting!tong! suara bel pintu berbunyi. Bi Sum segera lari ke pintu depan, bukannya Non Julia bawa kunci rumah ya? kenapa ia ngebel pintu, pikirnya.
Ia lalu memutar, tidak jadi membuka pintu depan, ia lewat dapur, menuju garasi.
"Kreekkk." pintu garasi dibuka. Bi Sum terkejut melihat orang asing berdiri di depan rumah.
"Selamat sore Pak, mau ketemu dengan siapa ya?" tanya Bi Sum.
"Met sore bu,,,, Saya mau cari Nona Julia, betul ini rumahnya Bu? Em maaf, kenalkan Saya Rico." jawab Rico cepat.
"Oh njih, betul Pak, Ini rumah Non Julia. Tapi,,,,,, Non Julia sedang keluar Pak, bu,,, Saya pembantunya." jawab Bi Sum.
"Oh sudah lama Bu, Non Julia keluar? kira-kira kemana ya Bu?" tanya Rico lagi.
"Sudah dari siang Pak, tapi tadi bilangnya mau main ke teluk penyu. Gitu Pak,,"
"Baik Bu, terimakasih. Kami pamit dulu Bu,,,, " pamit Rico.
__ADS_1
Di Mobil ketiganya saling bertanya, ada yang tahu Teluk Penyu? langsung saja Rico mencarinya dari google. Dan mereka segera meluncur cepat ke arah yang ditunjukkan oleh google maps.
***
Dari kejauhan anak-anak kecil masih berkejar-kejaran dengan ombak, diikuti orang tuanya. Melihat pemandangan seperti itu rasanya julia begitu iri, di usianya yang sudah 26 tahun dia belum juga memiliki keluarga, selain kedua orang tuanya. Ia tidak ingin muluk-muluk, cuma ingin memiliki suami yang bisa menjadi imamnya, yang sayang kepadanya, ia tidak meminta laki-laki seperti Tuan Satria, yang kaya raya. Tidak ia tidak ingin itu. bathin Julia berandai-andai. "Tapi,,,, kenapa jadi ingat Tuan Satria?" Julia nyengir sendiri karena malu.
"Aku ingin menjadi sesuatu,,,, yang bisa engkau rindu,,,, aku ingiiiiinn menjadiiii,,,,, " jreng jreng,,,,,
Tiba-tiba terdengar suara pengamen di belakangnya. Julia pura-pura tidak mendengar, lagipula konyol juga nih pengamen, ngapain juga capek-capek ke jembatan pemecah ombak seperti ini. kurang kerjaan! mana fals lagi suaranya!" bathin Julia.
Tapi pengamen itu tetap saja menyanyi, hingga ia kesal, dan memalingkan muka ke arah pengamen.
"Ya ampun mas,,,, mbok jangan ganggu,,,, !!" ucap Julia sambil mau kabur dari tempatnya duduk bersila.
Julia langsung terkejut,,,, sepertinya ia sangat paham laki-laki ini. Ia meneliti wajah pengamen di depannya dengan baik, dia menunduk, wajahnya tertutup topi. Begitu wajah didepannya mendongak ke arahnya, ia semakin terkejut dan pucat.
"Tu-tuan Satria?!!" ucap Julia kaget.
Laki-laki di depannya langsung melepas topinya. Ia tersenyum pada Julia.
"Ke-kenapa Tuan ada disini?" tanya Julia lagi penasaran.
"Tentu saja aku mencarimu bodoh." bathin Satria.
"Julia, maafkan aku, aku telah menuduhmu sangat keterlaluan. Ternyata Aku salah." ucap Satria sungguh-sungguh.
Julia terdiam, ia tidak ingin bosnya merasa bersalah. walaupun kenyataannya Julia sakit hati karena dituduh sebagai penghianat, ia memaklumi. Tapi ia tidak tahu harus menjawab apa.
Tiba-tiba Santi dan Rico mendekat ke arah mereka, Santi langsung memeluk Julia dan berkata.
"Julia maafin aku yang sempat tidak mempercayaimu. Plis,,,, maafin aku ya?" Santi memohon.
Akhirnya Julia mengangguk dan melepaskan pelukannya. "Iya aku maafin semuanya. aku sudah tidak apa-apa. Oke?! ucap Julia sambil memandang Satria dan Rico bergantian. Julia tersenyum. Karena Julia bukanlah seorang pendendam, ia mau memaafkan Bosnya yang telah salah menilai.
"Tapi Tuan, tolong perbaiki dulu nyanyian yang tadi yaaa,,,, itu,,,, sangat-sangat tidak merdu!" ucap Julia terkekeh.
__ADS_1
"Sial! beraninya dia mengejekku!" bathin Satria mendengus.
Melihat ekspresi Satria, sang CEO yang cemberut, membuat Julia tertawa terbahak, akhirnya Rico dan Santipun tertawa terbahak. "Kapan lagi bisa menertawakan CEO yang dingin dan tidak ramah ini?" bathin ketiganya.
Dari ufuk barat Mentaripun tenggelam, ditelan laut di kejauhan. hihi,,,, dan keempatnya langsung beranjak pergi dari pantai. Mereka terpisah di tempat parkir, Santi ikut mobil Julia, dan Rico bersama Satria.
Di dalam mobil Santi bercerita banyak, tentang Pak Fatah yang dipecat oleh Tn. Satria, karena ialah yang bersekongkol dengan Tn. Daffin untuk menggagalkan kemenangan Tn. Satria untuk meraih Mega Proyek di Lyon. Dan Santi juga mengabarkan akhirnya, Tn. Satria juga yang sukses mendapatkan tender itu, karena isi penawaran Tn. Daffin ternyata melenceng dari spec yang ditentukan.
"Alhamdulillah,,,, akhirnya Tn. Satria yang memenangkannya San?" tanya Julia riang.
"Yah begitulah,,,, semua berkatmu juga Julia." jawab Santi ikut merasa senang.
Mobil Julia mengikuti mobil yang ditumpangi Rico dan Satria, mereka menuju Restaurant seafood yang masih berada di lingkungan Teluk Penyu.
***
Di rumah Julia mereka berempat sedang mengobrol di ruang tamu.
"Nona Julia, aku ingin kamu kembali lagi di kantor,,,, banyak tugas yang harus kita selesaikan, aku harap, kamu masih mau bekerja denganku?" Satria berharap.
"Saya belum terpikirkan itu Tuan, tapi seandainya bisa, saya harus pamit dulu sama Ayah dan ibu." jawab Julia, yang semakin membuat Satria bimbang.
"Baik Nona Julia, Aku hargai keputusanmu, kira-kira kapan aku bisa dapat jawaban?" tanya Satria sedikit memaksa.
Julia terkekeh,,,, sepertinya Tn. Satria memaksanya agar kembali bekerja di kantornya, tapi tentu saja Julia tidak ingin terlihat terlalu senang dengan keinginan Tn. Satria. Sedikit mengerjai boleh saja kan?
"Insyaa Allah saya kabari secepatnya Tuan, kalau tidak ada kendala apapun." jawab Julia tenang.
♤
♤
♤
( Ditunggu like n commentnya, terutama masukannya. para readers,,,, biar semangat lanjutin novelnya 🤭🤭🤭 )
__ADS_1