Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
REUNI


__ADS_3

☆☆☆


Keduanya telah tiba di lobi hotel, sambil menunggu gocar yang telah Julia pesan. Sambil menunggu Julia mengomentari ulah Tami tadi.


"Tam next jangan gila lagi, malu tahu, kalau sampai tamu depan kamar nongol gimana?" tegur Julia.


"Ya ampun,,,, becanda aja kali Jul?!" ucap Tamu tergelak.


"Iya kamu becanda?! Nah kalau tamu itu merasa keganggu? kamu tanggung jawab!!" ucap Julia panik. Tami cuma tertawa terpingkal melihat reaksi Julia yang panik.


Tak lama ponsel Julia berdering, sang supir gocar memberitahu bahwa ia sudah di depan Hotel.


"Yuk, tuh gocarnya datang!" ucap Julia sambil menggandeng Tami.


Sepuluh menit kemudian mereka sampai di cafe yang dituju, di dalam Herdi sudah menunggu.


"Hai Herdi,,,, udah lama nunggunya?" sapa Tami pada Herdi.


"Hai Tami, Julia,,,,! yah lumayan lah udah setengah jam aku disini." jawab Herdi tersenyum. Mereka bersalaman.


"Ohya kalian mau pesan apa? aku baru pesen kopi, sambil nunggu kalian." tanya Herdi lagi.


Pelayan segera mendatangi meja mereka.


"Mba aku pesen capuccino ice 1, emmm sama kentang goreng deh seporsi. Kamu apa Tam?" ucap Julia pada Tami.


"Aku juga pesen capuccino ice 1, sama burger 1 aja. Lainnya ntar nyusul aja ya Mba?!" ucap Tami pada pelayan.


"Masnya mau tambah pesanan?" tanya pelayan pada Herdi.


"Nanti aja Mba menyusul, itu saja dulu." sahut Herdi.


"Baik Mas, Mba, ditunggu ya, terima kasih." sahut pelayan setelah mencatat semua pesanan.


"Gimana kabarmu Julia? lama banget ya kita ga ketemu, kalau Tami dan Riza, aku kadang ketemu mereka di rumah, sekedar ngobrol. Iya kan Tam?" ucap Herdi sambil tersenyum.


"Alhamdulillah baik Her,,, ya aku sekarang kerja di Jakarta, jadi jarang bisa ketemuan." jawab Julia ringan.

__ADS_1


"Kamu sendiri sekarang apa kegiatanmu?" tanya Julia berbasa basi.


"Aku sekarang usaha kecil-kecilan saja Jul, buka cafe juga. Tamunya ya Tami sama Riza aja!" ucap Herdi tertawa.


Ketiganya tertawa berbarengan, sampai pelayan mengantarkan pesanan mereka satu persatu.


"Silahkan minum dan makan dulu, Jul, Tam,,,!" ucap Herdi.


"Lumayan sukses dia Jul, merendah aja kalau tamunya cuma aku berdua Riza! cafenya ramai terus loh,,,, malah mau buka cabang juga kan Her?" ucap Tami memuji, sambil menyeruput capuccinonya.


"Alhamdulillah,,,, kalau dibilang sukses! diamini aja kan Jul?" sahut Herdi merendah sambil tersenyum.


"Sebenarnya ini berkat kamu juga Jul!" ucap Herdi serius.


"Berkat aku?!" tanya Julia heran.


"Yah begitulah,,, sejak kamu menolakku, aku pengen buktiin bahwa aku harus sukses! sampai sekarang aku mencari dan menunggumu Jul!" ucap Herdi memelas.


Tami terkekeh,,,, Julia memandang Herdi tak percaya. Perutnya tiba-tiba mules, ia merasa tak enak hati mendengar Herdi berkata seperti itu.


"Herdi,,, Maaf,,,, Aku?" ucap Julia terbata.


Oh God! Julia tidak bisa berkata apapun, dulu ia memang sempat naksir pada Herdi. Tapi itu dulu,,,, saat kuliah, sekarang berpikirpun tidak! yang ada di kepalanya saat ini hanya satu orang lelaki. Dan itu,,,,,?! SATRIA,,,,



Saat itu seorang pria masuk ke dalam cafe, ia berjalan membelakangi Julia dan duduk di belakang tempat duduk Julia. Ia mengenakan kacamata hitam dan topi hampir menutupi wajahnya yang berjambang lebat.


Tami memperhatikan saja orang itu masuk dan berbisik pada Julia sambil tertawa kecil.


Mendengar bisikan Tami, Julia seketika melotot padanya! dasar Tami,,,, semua pria selalu dikomentari. Huufffttt,,,,


"Herdi,,, Aku minta maaf, tapi sekarang aku belum memikirkan untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Aku,,,,?" ucap Julia tercekat tak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa Julia?! apa tidak akan ada kesempatan buatku?!" ratap Herdi, membuat Julia makin tak enak hati, apalagi ada Tami bersama mereka.


"Hmmmmm baiklah,,,, aku akan pikirkan nanti. Tapi sekarang aku belum bisa menjawabnya." jawab Julia sendu.

__ADS_1


Herdi merasa terhempas begitu saja mendengar ucapan Julia, hatinya begitu mendamba akan Julia. Sepertinya ia akan patah hati untuk kedua kalinya.


"Oke Julia,,, Tapi kalau aku sering menghubungimu tidak apa kan?!" ucap Herdi masih berharap. Julia mengangguk pelan. Julia merasa jengah,,,,


Akhirnya Tami bisa melumerkan kekakuan yang sempat terjadi, ia mulai bercerita kenangan semasa kuliah, hingga ketiganya bergantian cerita dan tertawa terbahak-bahak. Seringkali Julia menjadi topik pembicaraan, dari mulai ketomboian Julia hingga banyak laki-laki yang naksir dan akhirnya terhempas dan patah hati, karena Julia kekeh tidak mau pacaran saat itu. Hanya Herdi yang bertahan selalu mendekati Julia. Konyolnya saat Herdi mengingatkan, saat mengetuk jendela kamar kos Julia, dan Julia lompat malam-malam untuk kabur ke pantai parangtritis bersama Herdi dan teman yang lainnya. Mereka bertiga terus bernostalgia, dan tertawa.


Tanpa mereka bertiga sadari, laki-laki di belakang Julia terus ikut mendengarkan obrolan mereka.


Tak terasa hampir dua jam mereka kongkow di cafe, dan Tami tersadar bahwa ia harus mengantar ibunya ke dokter.


"Ibu sakit apa Tam?" tanya Julia serius.


"Ga Jul, cuma kontrol saja, jantung." ucak Tami.


"Oke Tam, Her,, kita pulang yuk,,, Tami kamu diantar Herdi ya? biar cepat,,, aku biar naik gocar aja." ucap Julia.


"Tidak,,,, Tidak,,, kalian berdua biar aku antar, antar Tami dulu, baru kamu Jul!" ucap Herdi.


"Hmmm oke kalau begitu ayuk?!" ajak Julia cepat. Sementara Herdi membayar pesanan mereka, Julia dan Tami menunggu di teras cafe.


***


Herdi mengantar Julia sampai di parkiran Hotel, ia segera turun dan masuk ke lobi hotel, untuk meminta chips pada resepsionis. Dengan cepat ia menunggu lift yang masih tertutup, bersama pasangan kakek dan nenek di dekatnya, lift terbuka ketiganya masuk, pada saat itu seorang laki-laki yang sepertinya tak asing, menahan pintu lift dan ikut masuk kedalamnya.


"Maaf,,,," ucapnya.


Aroma lelaki ini mengingatkan Julia pada seseorang, hmmmm,,,, Julia hanya membathin penuh kerinduan. Tak lama lift sampai di lantai dua, keempatnya keluar dari lift, rupanya mereka menginap di lantai yang sama, pasangan setengah baya itu tersenyum pada Julia, yang dibalas senyum dan anggukan Julia dengan ramah, ia lalu segera menuju ke kamarnya 207, ia sekilas memperhatikan lelaki berjambang itu, dan mempercepat langkahnya. Sampai di depan kamar, sejenak ia ragu, tapi tetap memasukkan chip ke slot pintu, lalu segera membukanya, tiba-tiba lelaki berjambang itu menarik Julia masuk ke kamar, Ia menutup pintu dan menahan dengan tubuhnya. Julia panik,,,, ia teringat peristiwa di kamar hotel waktu di Lyon. Keringat mulai bercucuran saking takutnya.


Perlahan lelaki berjambang itu membuka topi dan kacamata hitamnya, dan memreteli jambang di pipinya,,,, Julia terkejut,,, MAS SATRIA?! pekiknya tertahan,,,,


Julia mundur beberapa langkah, ia menghindari laki-laki di depannya. Dan terduduk di tempat tidur dengan lemas.


Satria mendekat,,,,,


💖


💖

__ADS_1


💖


( Hmmm makin susah aja Julia kabur,,,, kemana-mana selalu ketemu. Ayo para readers,,, jangan lupa like n commentnya,,,, biar author ga kehabisan ide 🤭🤭🤭 )


__ADS_2