
Julia masih berada di rumah Santi, dan berencana menginap semalam. Mereka menyiapkan makan malam di dapaur, sambil menunggu Rico pulang.
Ting tong! suara bel pintu terdengar.
Santi segera berlari ke arah pintu, pasti Rico yang pulang. Benar saja, Rico yang datang, Santi mencium tangan suaminya, dan membawakan tas kerja suaminya.
"Mas, ada Julia di dapur." ucapnya lirih.
"Apa? Julia disini?" tanya Rico terkejut.
"Iya, dia mau nginap disini semalam, besok dia minta diantar ke Gambir." ucap Santi.
"Apa kamu ingin merahasiakan ini dari Satria? kasihan tadi baby Arga ikut ke kantor!" ucap Rico, ia tahu pasti Santi dan Julia ingin Rico merahasiakan keberadaan Julia. Santi terenyuh mendengarnya, dan tiba-tiba Julia sudah berada diantara mereka.
"Apa? benarkah itu Mas Rico? Arga ikut ke kantor?!" tanya Julia dengan perasaan bersalah.
"Hehe iya Julia,,,, kasihan Satria dan kasihan Arga juga." ucap Rico.
Julia tak habis pikir, Satria mampu menurunkan kewibawaannya sebagai seorang CEO dengan membawa bayi ke kantor. Julia jadi merasa terenyuh. Tapi ia tidak boleh menyerah sekarang.
"Mas Rico, bolehkah aku menginap semalam? maaf aku jadi merepotkan." ucap Julia sungkan.
"Ya tidak apa-apa Julia, santai saja, Santi jadi ada teman ngobrol. Ohya aku ke kamar dulu ya, mau mandi." ucap Rico, dan segera masuk ke kamar, diikuti Santi sambil mengerlingkan mata ke arah Julia. Julia senyum-senyum.
***
Pagi-pagi sekali setelah menemani Rico sarapan, dan Rico berangkat ke kantor, Santi mengantarkan Julia ke Gambir. Mereka mampir sarapan soto betawi di pinggir jalan.
"Julia bagaimana rencanamu? acara reuni baru Minggu depan, terus kamu mau kemana dulu?" tanya Santi.
"Ah entahlah San, yang jelas, sementara ini lebih baik aku menghindar dari suamiku. Aku tahu ini salah. Tapi apa lagi yang harus aku lakukan?!" ucap Julia sedih.
"Kamu jaga diri baik-baik Julia. Aku jadi kesal pada Satriamu itu!" ucap Santi.
Julia hanya tertawa mendengar ucapan Santi, ia tahu Santi menyayanginya, dan tidak ingin melihat Julia kecewa.
Di Stasiun, lagi-lagi mereka mampir untuk sekedar mengopi, karena kereta ke jogja, masih dua jam lagi.
Julia benar-benar menikmati kesendiriannya sekarang. Mengopi di Stasiun, sambil ngemil donat, dan mengobrol dengan Santi, kadang terdengar suara mereka tertawa bersama. Karena ada saja hal lucu yang mereka lihat.
"Julia, jangan nengok! ada cowok ganteng dari tadi liatin kamu terus! Ckckckck,,,, udah punya anak juga, masiiiiih,,,,,,, aja ada yang naksir!" ucap Santi terkekeh.
__ADS_1
"Mana?!" jawab Julia penasaran.
"Ish! udah kubilang jangan nengok!" ucap Santi tak enak hati.
"Oke,,, aku ga akan nengok!" ucap Julia.
Tapi cowok yang dimaksud Santi malah berjalan mendekati mereka berdua. Mau tak mau akhirnya Julia menengokkan wajahnya.
"Ya ampun Herdi?! kamu disini?!" sapa Julia terkejut, ia tak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang dia kenal.
Herdi mengulurkan tangannya untuk bersalaman, dan Julia juga mengenalkan Santi padanya.
Santi cuma melongo saja, pantes,,,, dari tadi cowok itu memandangi Julia, ternyata ia kenal pada sahabatnya.
Santi menerka sepertinya cowok ini naksir Julia, dilihat dari gesture tubuhnya.
"Oke Julia, sekarang aku pergi dulu ya? mungkin kamis aku sudah sampai Jogja, dan kita bisa ketemuan disana?" ucap Herdi berpamitan.
"Baiklah Her, aku tunggu ya?" ucap Julia tersenyum ramah.
Kemudian Herdi menuju pintu keluar area Stasiun Gambir, ia melambaikan tangan pada keduanya.
Santi yang sedari tadi memperhatikan Herdi, akhirnya usil bertanya.
"Hihi iya San,,, dia temen kuliahku seangkatan dulu. Dia juga hadir di pernikahanku." ucap Julia tersipu.
"Wah,,,, bahaya ini mah!!!" ucap Santi terkekeh.
"Hah Bahaya apaan?!" ucap Julia mendengus.
"Ya gitu lah,,,, kan kamu lagi gencatan senjata sama Mas Satria! terus kamu ke Jogja, terus janjian ketemuan dengan Herdi hari Kamis?" ucap Santi mengingatkan Julia, ia terkekeh.
"Perfect!!!!" ucap Santi tergelak, membuat Julia mendelik.
Ponsel Julia berbunyi, di layar ponsel tertera nama "My Lovely", yang artinya Mas Satria menelpon. Tapi Julia tak ingin mengangkatnya.
"Mas Satria,,,!" bisiknya pada Santi.
"Kenapa ga diangkat?!" tanya Santi.
"Biar saja dulu. Paling Mas Satria sedang kerepotan mengurus Arga, makanya ia menelpon! Kalau aku angkat, aku takut, terlalu cepat luluh. Dan kembali ke rumah." jawab Julia.
__ADS_1
Santi manggut-manggut, setuju kalau Julia tidak mengangkat telpon.
"Biar para lelaki tahu, gimana repotnya ngurus anak dan rumah. Jadi tidak semena-mena dengan perasaan istri!" ucap Santi terbahak.
Ponsel Julia akhirnya berhenti berdering, setelah tiga kali panggilan tak terjawab.
***
Kereta melaju dengan kecepatan sedang, seperti tidak terburu-buru untuk mencapai Stasiun berikutnya. Julia menikmati perjalanan dengan melihat-lihat foto Arga. Ia kangen pada bayinya. Tak terasa ia meraba p******anya yang basah karena air ASInya penuh.
Setibanya di Stasiun Tugu, Julia menaiki gocar menuju sebuah hotel yang berada di kawasan Malioboro. Ia memesan kamar deluxe room. Setelah check in dan masuk ke kamar, Julia merebahkan dirinya sambil mengingat Arga dan suaminya.
Terbayang wajah Arga yang ganteng dan lucu, dengan pipinya yang bulat, matanya yang lebar dan bulat, rambut ikalnya yang tebal. Julia kangen sekali padanya, sampai ia menitikkan air mata. Baru dua hari satu malam Julia tak bertemu Arga, tapi seperti setahun rasanya. Satria benar-benar kejam baginya, hanya karena keraguan akan sucinya cinta mereka, Satria sampai mengabaikan perasaan Julia. Satria begitu dikuasai kecemburuan.
Ponsel Julia bergetar, ada notifikasi pesan wa yang masuk.
Dari Satria suaminya. Ia bertanya apakah Arga sudah boleh makan lainnya selain ASI? tapi Julia enggan membalasnya, ia cuma wa Nenek, agar Nenek memberi tahu kepada Satria, apa yang boleh dan tidak boleh Arga konsumsi. Setelan Nenek membaca pesan Julia dan membalasnya, Julia mematikan ponselnya.
Karena tak ada hiburan lain selain TV di kamar hotel, Julia akhirnya tertidur, dan terbangun sampai hampir malam.
Julia berendam di dalam bathtub, selesai mandi, Ia berdandan sederhana, memakai celana Jeans dan kemeja putih, Julia kelihatan sangat cantik.
Malam ini ia akan berjalan di sekitaran Jalan Malioboro, dan mencari makan malam yang dulu sangat ia sukai,,,, burung dara goreng! dan tempe penyet pastinya,,,,
Walaupun teman kuliahnya masih banyak yang tinggal di Jogja, Julia masih enggan untuk menghubungi mereka, ia masih ingin sendiri.
Julia masuk ke dalam warung tenda pinggir jalan, yang menyediakan menu burung dara goreng dan teman-temannya. Julia duduk lesehan, dan memesan es teh untuk menghilangkan dahaganya.
"Sendirian aja Mbak?" tanya ibu sang penjual dengan ramah. Ia meletakkan pesanan Julia diatas meja.
"Oh iya bu,,,, kebetulan lagi pengen sendiri. Terima kasih." jawab Julia sambil tersenyum.
"Sama-sama Mba,,,,." ucap Ibu penjual, lalu berdiri menjauh.
Julia menghabiskan makananya, lalu jalan-jalan lagi, agar makanannya cepat turun.
♠️
♠️
♠️
__ADS_1
( Bersambung,,,,, )