Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
Berkeliling


__ADS_3

Dua orang pria sedang berjalan tergesa menuju lift. Mereka berjalan sambil terus berbincang satu dengan yang lain.


"Bagaimana perkembangan proyek jembatan layang kita di malaysia ric? apa berjalan lancar? " tanya Satria kepada asistennya.


"Sejauh ini aman Bos, tidak ada kendala yang berarti. hanya ada gangguan sedikit. sepertinya Tuan Hans tidak rela kita yang memenangkan tender itu, dia terus saja mengirimkan anak buahnya untuk mengacau!" jawab rico.


"kalau begitu aku akan telpon beno, biar dia mengurusnya!" ucap Satria.


"Tut,,,, tut,,, tut,, " suara sambungan telpon.


***


Masih ada waktu 45 menit sebelum interview, Julia ingin jalan-jalan melihat keliling gedung demi menghilangkan kegugupan dan rasa mulesnya. Ia masuk ke dalam lift menuju lantai dasar gedung.


Ting!


Lift sampai di lantai dasar, begitu pintu lift terbuka ia keluar dari dalam lift.


Pandangannya mengedar ke sekeliling gedung. Ia begitu kagum dengan interior gedung yang simpel tapi elegan, dari lantai dasar hingga lantai 17 tempat nanti dia akan melakukan interview.


Julia terus berjalan sambil matanya terus jelalatan.


Kemudian,,


"Bugggg,,,!!! praaaakk!!! Suara tubrukan dan benda terjatuh.


Julia kaget bukan main, ia bertubrukan dengan seseorang.


"Oh ****!!!" suara seseorang, sambil memungut benda yang terjatuh.


Julia sangat ketakutan, saat pria itu kembali tegak berdiri, dan melihatnya marah.


"K-kau?! apa lagi yang kamu lakukan? kamu lagi? dasar perempuan ceroboh!!! bisakah kamu berjalan tanpa menubruk orang lain? hmmmhh!!" Pria itu mendengus kesal.


Sedangkan pria yang satunya lagi, membuang mukanya kesamping sambil menahan senyumnya.


"Ma-maaf Tuan, saya tidak sengaja,,,, "


"Sa-saya,,,," Julia berusaha menjelaskan, tapi langsung dipotong.


"Ah sudahlah! buang-buang waktu saja!! Rico kamu sambungkan telpon ke Beno, aku mau bicara. Ponselku mati." Pria itu memandang ponselnya kecewa, dan memberikan kepada pria satunya untuk diperbaiki. Ada kilatan amarah di matanya.


Julia merasa tidak enak hati, ini kali kedua ia menabrak orang yang sama, di tempat yang berbeda. Ia berpikir harinya akan sial.


Julia akan meminta maaf sekali lagi, ia merasa waswas disuruh mengganti ponsel pria ini yang harganya kisaran puluhan juta rupiah, Julia lemas.


Tapi ternyata kedua pria ini, entah karena memang sedang sibuk, mereka berlalu meninggalkan Julia yang masih bengong, dan masuk ke dalam lift khusus.


Julia masih termangu, saat ponselnya sendiri berbunyi.


"Julia kamu dimana?! panggil Santi di seberang telpon.


"A-aku,,,, " Julia gagap.


"Sudah, kamu kesini, sebentar lagi Tuan Satria datang, aku ga mau dia menunggu lama." ucap Santi lagi.


"Oke aku ke atas." jawab Julia sambil mematikan ponsel.

__ADS_1


Julia dengan setengah berlari menuju ke dalam lift, tapi sial, lift sudah penuh, akhirnya ia harus menunggu lift berikutnya.


Di ruang CEO


"Santi, mana orang yang mau interview? aku cuma punya waktu sedikit, jangan sampe terlambat! aku tidak suka!" suara bosnya dengan agak gusar.


Santi tidak terkejut mendengar nada suara bosnya ini. "Sepertinya ini awal hari yang tidak menyenangkan buat Tuan Satria." bathin Santi


"Iya Tuan, bentar lagi ia datang." jawab Santi sambil menyodorkan beberapa berkas untuk ditandatangani.


Setelah berkas selesai ditandatangani bos, ia permisi keluar ruangan.


***


"Ish Julia!!! darimana saja kamu?! gerutu Santi, demi melihat sahabatnya sudah berada di ruangannya.


"Iya aku tadi liat-liat keliling gedung." jawab Julia merasa bersalah.


"Si Bos sudah nunggu, bentar aku ketuk pintunya." sahut Santi cepat.


"Tok!Tok!Tok!,,,


"Masuk,,," suara Tuan Satria datar.


Pintu dibuka, Santi masuk bersama Julia yang mengikuti di belakangnya.


"Ini Tuan, teman saya yang mau bekerja di perusahaan ini, dia sudah datang dan siap di-interview." ucap Santi. Seketika Santi memberi jalan kepada Julia untuk maju.


Julia dan Satria, keduanya sama-sama terkejut. Tapi Satria menyembunyikan rasa terkejutnya dan berkata. "Oke Santi, kamu boleh pergi." ucap Satria datar.


Tinggal mereka berdua di ruangan, Satria memandangi Julia yang sedang membawa map ditangannya, dari atas ke bawah, masih dengan rasa amarah, tapi agak berkurang.


"Ehm,,," Satria berdehem.


"Kamu mau berdiri saja disitu?!" ucap Satria lagi.


Julia yang sedang tegang, pelan-pelan mendekati kursi dan duduk berhadapan dengan Satria.


"Apa Saya sudah menyuruhmu duduk?!" kata Satria lagi, kali ini sukses membuat Julia menjadi salah tingkah, dan akhirnya kembali berdiri.


"Ya sudah silahkan duduk!" perintah Satria, bibirnya menyiratkan senyum yang ditahan, perempuan ini memang pantas dikerjai, pikir Satria.


"Oh ya Miss. Clumsy,,, siapa namamu?" Satria memulai pertanyaannya.


"Mmm Saya Julia Tuan, Juliana Rusman lengkapnya," sambil menyerahkan map ditangannya. Julia kesal bos di hadapannya ini memanggilnya nona ceroboh.


Satria menerima map di tangan Julia dengan dingin, tapi ia meletakkan begitu saja map berisi berkas CV Julia di meja yg ada disampingnya. Pertanda bahwa ia sama sekali tidak akan membuka, apalagi membacanya, Julia merasa putus asa. karena itu dia membuka suara.


"Saya lulus dari ekonomi manajemen STIM Yogya Tuan,,,, Saya,,,, " terang Julia.


"Stop!" Satria menginterupsi.


"Saya kan belum bertanya apapun ke kamu?! okeee,,,,, sekarang berapa usiamu? dan mengapa kamu tertarik bekerja disini?" tanya Satria.


( Satria memandang perempuan di depannya ini dengan kagum, cantik juga,,, kulitnya bening seperti kulit bayi, bibirnya,,, emmmhhh,,, pink, ranum seperti mawar,,,, pikirannya melayang, insting playboynya bergejolak. Satria terkekeh dalam hati. Tapi tentu saja dia tidak boleh memperlihatkan kekagumannya secara frontal. hihihi,,, )


"Usia saya 25 tahun Tuan, saya bla bla bla,,,, " Julia menjelaskan.

__ADS_1


Pria dihadapannya ini cuma manggut-manggut tanpa komentar sedikitpun, Julia sedikit panik.


Hening,,,,


Deg deg deg,,,, suara jantung Julia bergemuruh.


Kemudian,,,,


"Baiklah, saya tidak tahu apakah kamu mampu bekerja disini atau tidak, apakah kamu sanggup bekerja under pressure atau tidak, aku terima kamu bekerja disini, tapi karena kamu sudah berpengalaman seperti kata Santi sekretarisku,,,,,? gaji kamu berbeda dari karyawan yang baru masuk. Tapi ingaattt! gajimu akan saya potong untuk mencicil ponselku yang telah kamu rusakkan." jelas Satria licik.


Deg! jantungnya serasa mau copot! Julia merasa senang, tapi ia sebal dengan ucapan terakhir pria ini, dia harus mencicil ponsel yang harganya selangit karena kecerobohannya. Rencana menabung terpaksa tertunda.


"Kok diam? kamu keberatan?! atau berencana mengundurkan diri?" ucap Satria menyelidik.


"Oh, ti-tidak Tuan, baiklah saya terima pekerjaan ini." jawab Julia gugup.


Satria tersenyum licik.


Ia bangkit berdiri, Juliapun ikut berdiri,,,,


"Sekarang temui Santi, dia akan tunjukkan ruang kerjamu di lantai 16, kamu akan menemui kepala bagian perencanaan, dan mulai kerja hari ini!" tegas Satria.


"Baik Tuan terimakasih." jawab Julia spontan.


Julia berjalan menuju pintu keluar, ia tidak melihat pot yang berada di dekat pintu, dan dia tersandung,,, Julia akan terjatuh, kemudian,,,


"Hap,,,"


Satria sudah di belakang Julia dan menangkapnya agar tidak terjatuh.


Jantung Julia berdegup sangat kencang, sesosok tangan kekar memeluknya. hatinya berdesir,,,,


Aduuhh apalagi ini?! dia sangat ceroboh, hampir saja terjatuh, ia mendekap Julia dalam pelukannya, seketika jantung Satria nyut-nyutan. Perempuan ini benar-benar menggoda! bathinnya


"Kamu sepertinya belum terbiasa pakai high heels! lain kali pakai sepatu biasa saja, dan satu lagi, kurangi kecerobohanmu,,,,!! Miss,,,, clumsy,,,,?" Satria berkata dengan ketus.


Ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya, dan melepas pelukannya.


Satria membukakan pintu, Julia keluar ruangan, dia bersitatap dengan Rico, asisten Satria, Rico sesaat memandang heran, dan melontarkan tatapan bertanya pada bosnya, Tuan Satria.


Yang dijawab dengan kedikan bahu Satria.


kemudian,,,,


"San, bawa Nona ini ke ruangannya di lantai 16, temukan dengan Fatah" terang Satria.


"Baik Tuan,,, " tanpa berkata-kata lagi Santi mengajak Julia menuju lantai 16.


" Fatah adalah kepala bagian perencanaan perusahaan, dia yang akan memberikan tugas-tugasmu Julia." terang Santi di dalam lift.


Julia hanya mendengarkan perkataan Santi, dia masih merasa gugup teringat tadi akan jatuh dan dipeluk Tuan Satria. Ia masih terngiang-ngiang wangi tubuh Tuan Satria. Mengingatnya membuat perutnya terasa mulas.




__ADS_1


( Lanjut nanti,,, jangan lupa like n komennya ya guys,,,, ) 😁😁😁


__ADS_2