
Begitulah cinta, ia akan memilih jalannya sendiri, dan tanpa direncanakan.
☆☆☆
Malamnya Satria dan Julia membicarakan banyak rencana. Besok pagi, Satria akan mengantarnya pulang, sekalian ia ingin berkenalan dan mengobrol dengan orangtua Julia.
"Sayang bagaimana ayahmu?" tanya Satria tiba-tiba.
"Ayahku? kenapa dengan ayahku?" Julia balas bertanya.
"Maksudku beliau galak tidak? jangan-jangan, baru mau ngobrol, ayahmu sudah mengusirku?!" ucap Satria bergidik.
"Oh jadi Mas takut?! sama anak buah galak, masa iya takut sama Ayah??" ejek Julia sambil nyengir.
"Bukan begitu Sayang,,, aku aja takut sama Nenek! bagaimanapun mereka kan orangtua? kalau restu mereka kita dapatkan, kita jalaninya juga nyaman kan?" ucap Satria lagi.
Mendengar kalimat Satria, ia terbahak. Apa yang ada dalam bayangannya, saat awal bertemu pupus sudah. Ia berpikir, Satria adalah orang yang sangat dingin, angkuh, pemarah dan sebagainya yang serba negatif,,,, tapi kenyataannya, kepada Julia, Satria begitu hangat, lembut dan penuh cinta. Ia sempat mengejek, waktu Nenek datang ke kantor tiba-tiba, dan memukuki cucunya itu, gara-gara seorang perempuan. Lalu ia membandingkan saat Satria marah, karena merasa Julia menghianati soal proyek di Lyon. Semua ini tak pernah akan bisa Julia lupakan. Perbedaan karakter yang begitu kontras.
Tapi, Satria gentar juga mau bertemu dengan calon mertua. Julia terbahak membayangkannya
"Kenapa kamu senyum Julia sayang? apa yang kamu pikirkan?!" tanya Satria penasaran.
"Ti,,,, dak! emangnya kenapa?" jawab Julia terkekeh.
***
"Apa Mas yakin mau naik kereta?" tanya Julia sekali lagi.
Satria mengangkat alisnya, mendengar Julia bertanya seperti itu.
"Memangnya kenapa sayang?" tanyanya heran.
"Ya aku takut Mas kan ga terbiasa naik kereta ekspress biasa? Hehe,,,,." jawab Julia malu.
"Naik apapun asalkan sama kamu, aku suka!" jawab Satria menggombal. Ia mengerling. Keduanya segera berkemas, dan melakukan check out, sementara mobil hotel menunggu dengan sabar.
Setibanya di stasiun, mereka langsung boarding pass, karena keberangkatan kereta tinggal 15 menit lagi. Mereka langsung naik ke atas kereta, dengan sedikit berlari.
"Wah ternyata nyaman juga keretanya! kira-kira sampai stasiun kota cilacap jam berapa sayang?" tanya Satria.
__ADS_1
"Perkiraan tiba jam 17.10 sore Mas. Insyaa Allah cepet kok. Kalau ga ada kendala!" tukas Julia.
Julia meraih ponselnya, Ia mengabarkan pada Ayah dan ibunya, bahwa hari ini ia akan pulang, membawa seseorang. Julia tentu saja belum memberitahukan kepada kedua orangtuanya, siapa seseorang yang dimaksud Julia. Jangankan Satria, Ia saja gugup menghadapi ini semua.
Orang lain pasti akan mencibir, masa seorang janda masih gugup menerima lamaran laki-laki, andai mereka tahu, semuanya jelas berbeda. Dulu ia hanya menerima lamaran dari sebuah perjodohan, tentu saja tidak ada kegugupan! yang ada malah rasa keengganan! bukankah begitu?
Ponsel Julia bergetar lagi, waduh kenapa juga sih ibu pakai tanya, temannya itu laki atau perempuan? hmmmm,,,, Julia jadi keluar keringat dingin, mau menjawab apa. Satria yang berada di sebelahnya melirik curiga.
"Dari siapa yank? kok kamu gelisah begitu?" tanya Satria.
"Eh ini Mas, ibu,,, " Julia garuk-garuk kepala.
"Iya ada apa dengan Ibu? beliau tidak setuju ya aku berkunjung ke rumah?" tanya Satria memelas.
"Iiiisshhhh bukan,,,, ! aku cuma belum kasih tahu ke Ibu, aku bawa teman lelaki! soalnya lebih nyaman langsung ketemu kan?" ucap Julia sungkan.
"Ehm hehehe aku deg-degan Mas! belum pernah dilamar oleh laki-laki pilihanku?!" Julia tersipu.
Oh Julia,,, Mendengar itu Satria jadi tersenyum, ia lalu mengelus sayang rambut Julia. "Kamu yang semangat ya? biar aku juga semangat ngelamar kamu!" Satria terkekeh.
Apapun yang akan terjadi nanti, Niat Satria cuma dua, pertama adalah berkenalan dengan orangtua Julia, kalau ternyata kedua orangtua Julia tidak menyukainya, ya paling pasrah! dan seumur hidup ia akan patah hati.
Yah begitulah, karena jantung Satria tak bisa diajak kompromi, selalu berdebar, dia malah memikirkan banyak kemungkinan. Intinya Cucu dari Nenek Fatiah tidak boleh putus asa. Yang penting usaha.
Julia tertidur pulas dibahu Satria.
Tak terasa beberapa menit lagi kereta tiba di stasiun cilacap kota, jam 17.15, selisih 5 menit dari jadwal. Satria menepuk pipi Julia, untuk membangunkannya.
Keduanya turun dari kereta dengan hati berdebar, sampai di pintu keluar, Julia mencari-cari sosok kedua orangtuanya.
"Itu dia! itu orangtuaku Mas, yang didepan sana!" ucap Julia sambil menunjuk ke arah orangtuanya.
Satria mengikuti Julia yang setengah berlari menghampiri kedua orangtuanya.
"Ayah, ibu,,,,.!" Julia mencium tangan kedua orangtuanya, lalu merangkul keduanya. Ayah menatap Satria yang berdiri di belakang Julia, ia mengangguk pada kedua orangtua Julia.
"Ayah, Ibu, kenalkan ini Mas Satria,,,,." ucap Julia berdebar-debar. Ayahnya memandang Satria penasaran.
Satria menyalami kedua orangtua Julia dengan sopan.
__ADS_1
"Satria, Pak, Bu,,," ucap Satria.
Belum sempat mereka bertanya, Julia sudah mengajak mereka beranjak pergi dari stasiun.
Julia mengambil alih menyupir, dan Satria duduk disampingnya, sedangkan Ayah dan Ibu duduk di belakang.
"Yank biar aku saja yang nyetir!" ucap Satria pada Julia.
"Udah ga papa Mas, sekarang aku aja deh, besok baru Mas yang nyetirin aku." jawab Julia terkekeh.
Keluar dari stasiun suasana di mobil masih hening, kedua orangtua Julia masih penasaran dan saling melempar pandang.
"Julia kamu pulang, memang kamu tidak sibuk Nak di kantor? bagaimana dengan Bosmu nanti kalau kamu sering bolak balik pulang?" tanya ayahnya memecah keheningan.
"Yaaa gitu deh,,,, Ayah ga usah risau yah! Julia pamit kok sama Bos Julia, dan beliau mengijinkan." jawab Julia terkekeh.
"Trus? memang ada acara apa kok tiba-tiba kamu pulang?" sekarang Ibu bergantian tanya.
"Ya ada urusan penting Yah, Bu, disini, nanti Ayah sama Ibu juga tahu,,, ceritanya di rumah saja ya?" jawab Julia bikin orangtuanya penasaran. Hihi,,,, Satria cuma nyengir aja mendengar percakapan orangtua dan anak gadisnya ini.
Mobil masuk ke sebuah perumahan dinas, tak sampai lima belas menit. Mereka tiba di sebuah rumah besar dengan halaman yang selebar lapangan Volley.
"Nah ini rumah dinas Ayah Mas, ayo,,,!" ucap Julia. Kedua orangtua Julia mengikuti, mereka memencet bel, dan tak lama ada seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu.
keempatnya masuk, dan Julia mempersilahkan Satria untuk membersihkan diri dulu di kamar mandi. Saat Tamu asing mereka di kamar mandi, Ibunya berbisik pada Julia.
"Itu siapa Nak? teman kantormu? kalian dalam rangka dinas kesini?" tanya Ibu benar-benar penasaran.
"Iya Ibu, itu teman kantor Julia, kebetulan kami ada urusan disini!" jawab Julia berbohong, ia tertawa dalam hati.
"Siapa Bu?" tanya Ayah pada Ibu, dan ibu menjawab sesuai dengan jawaban Julia tadi. Saat magrib Tiba, Julia menunjukkan kamar Julia yang berada di ujung, agar Satria bisa sholat. Julia menyalakan AC.
💕
💕
💕
( Tunggu lanjutan kisahnya, Bukan Perempuan Pilihan,,,, )
__ADS_1