Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
PERSIAPAN LAMARAN


__ADS_3

💕💕💕


Begitulah setelah mengobrol dengan Ayah dan Ibu Julia, Satria merasa benar-benar lega, ia tinggal menyiapkan segala sesuatunya untuk persiapan menikah. Dan juga permasalahan perceraian yang harus segera Julia urus.


"Oh ya Pak, Bu, besok Saya akan kembali ke Jakarta, untuk mempersiapkan semuanya, untuk proses lamaran resmi, dan lain sebagainya Pak." ucap Satria.


"Baik Nak Satria, Bapak dan Ibu setuju. Sementara Julia disini untuk mengurus surat-surat cerai." jawab Ayah Julia.


Julia mengangguk setuju, ketika ayahnya meminta tinggal untuk mengurus perceraiannya.


Satria melanjutkan obrolan dengan Ayah Julia, bersama Ibu. Mereka mudah sekali akrab, Julia sangat senang, Ayah dan Ibunya menerima Satria dengan baik.


"Oh ya Mas, kamar Mas udah kusiapin, nanti Mas tidur di kamar sini ya?" ucap Julia sambil menunjuk kamar yang dimaksud, ia lalu pergi ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.


Satria mengangguk.


***


Keesokan harinya, Satria kembali ke Jakarta, hatinya sudah lega dan mantap, untuk membawa Nenek melamar Julia. Apa lagi yang mesti ditunggu? Satria sudah tidak bisa lagi harus berjauhan dengan Julia.


***


Selama Satria mengurus urusan percintaannya dengan Julia, Rico dibuat kalang kabut menghandel semua urusan kantor, kalau saja tidak ada Santi, ia pasti sudah keteteran. Untung saja Satria, sang Bos kini sudah kembali.


"Met pagi Bos,,,, senang melihatmu kembali ke kantor. Hmmhh lumayan keteteran Bos, tapi sudah tertangani." ucap Rico sambil menggarukkan kepala. Satria hafal betul Rico akan selalu sigap melakukan tugasnya selama Ia tidak ada.


"Hehehe terima kasih Rico, kamu memang luar biasa. Ohya Ric, ada yang ingin kusampaikan juga, sementara ini urusan proyek Lyon, aku mau kamu handel,,, karena aku harus mengurus pernikahan Ric." ucap Satria terlihat bahagia.


"Pernikahan? pernikahan siapa Bos? masalah Lyon, tidak masalah, aku akan urus Bos." Rico penasaran.


"Pernikahanku Ric,,, masa iya aku urus pernikahan orang!" sahut Satria terkekeh.


"Serius?! Alhamdulillah Ya Allah,,,!" ucap Rico ikut senang.


"Sama siapa Bos?" tanya Rico lagi.


"Sama kekasihku lah!" jawab Satria berteka teki.

__ADS_1


Ya sudah, mendengarkan jawaban Bosnya seperti itu, Rico yang asisten sekaligus sahabatnya tidak berani bertanya lagi. Lagipula Rico sudah tahu jawabanya, ia cuma ingin memastikan saja, bahwa Julia adalah calon istri Bosnya ini.


Rico memulai untuk menghandel urusan proyek di Lyon, ia menghubungi semua orang yang terlibat dalam pengerjaan proyek. Sementara Santi ia libatkan untuk mengurus segala keperluan administrasi proyek.


"San,,,, sudah dengar belum?" tanya Rico pada Santi.


"Dengar apa Mas?" tanya Santi penasaran.


"Mereka akan menikah! Julia dan Satria!" jawab Rico.


"Serius?! alhamdulillah,,,,!" ucap Santi, sama persis reaksi dengan Rico saat Satria memberitahunya. Mereka berdua ikut senang, akhirnya Tn. Satria mendapatkan Jodohnya, terlebih dengan Julia, yang merupakan sahabat dari Santi.


Setelah melimpahkan urusan bisnis ke Rico selesai, Satria segera melesat ke Bogor, ia ingin segera memberitahu sang Nenek, rasanya ia tak ingin menunda lagi.


***


Satria memberondong masuk ke dalam rumah Nenek, tak sabar rasanya ia. Sandrina yang sedang bermain di teras belakang, ia ciumi dan ia peluk erat, dengan rona bahagia, sampai Sandrina merasa risih pada ayahnya, dan meronta.


"Ayah kenapa sih? Sandrin sesak nih,, dipeluk seperti ini!" ucap Sandrina sambil cemberut.


Satria yang melihat Nenek datang, segera saja menghampirinya dan memeluknya eraaaattt sekali, diciuminya rambut Nenek Fatiah berkali-kali.


"Ish Satria, apa-apaan sih ini? Ada apa? kamu kelihatan bahagia sekali?!" tegur Nenek curiga.


"Julia Nek! Satria sudah melamar Julia Nenek,,,,?!" ucap Satria sambil tersenyum.


Nenek ikut tersenyum, ia mengelus pipi cucunya dengan sayang.


"Terus? Nenek mau kamu minta apa?! melamar ke kedua orangtua Julia? begitu kan Sat?!" ucap Nenek terkekeh.


Satria memandang Nenek dengan harap-harap cemas. Nenek mengangguk mantap.


"Baik besok akan Nenek lamarkan buat kamu!" jawab Nenek antusias.


Nenek tertawa,,, hmmmhh itu memang keinginan Nenek.


Begitu mendengar Satria yang sangat bahagia dan antusias bercerita soal orangtua Julia, Nenek mulai lagi dengan kecerewetannya, menyusun rencana lamaran. Malah sekarang Nenek yang sibuk.

__ADS_1


Sangat berbeda waktu Satria dijodohkan dengan Srianti oleh kedua orangtuanya, Nenek satu-satunya orang yang paling menentang perjodohan itu, tapi kini dengan Julia, malah Nenek yang semangat menjodohkan. Nenek yakin Julia bisa meredam ego, dan kekakuan cucunya. Dan Nenek sangat yakin Julia bisa menjadi ibu yang baik untuk Sandrina cicitnya.


***


Nenek sangat semangat dengan rencana lamaran cucunya, Satria, seringkali bahkan Nenek berselisih pendapat dengan Satria, tapi akhirnya Satria yang mengalah. Satria percaya Nenek akan melakukan yang terbaik untuknya. Di Usia Nenek yang 73 tahun, Nenek masih energik melakukan ini dan itu menyangkut persiapan pernikahan Satria.


Dari mulai pesan pakaian pengantin, catering, mas kawin, Nenek menyiapkan semuanya. Nenek memutuskan setelah lamaran, sebulan kemudian pernikahan dilangsungkan. Nenek tidak ingin lama-lama.


***


Surat-surat perceraian sebenarnya sudah diurus di Pengadilan Agama oleh keluarga Julia jauh hari sebelum lamaran dari Satria datang, tapi karena Julia masih sibuk hingga akhirnya surat cerai tertunda terbitnya.


Minggu depan Satria beserta keluarga besarnya, akan bertandang ke rumah keluarga di Cilacap. Nenek sudah mempersiapkan segalanya, dari cincin tunangan, seperangkat pakaian perempuan, oleh-oleh, semua Nenek sendiri yang berbelanja, ditemani Santi, sekretaris Satria. Santi memang sudah diberi mandat oleh Satria untuk membantu mengurus pernikahan sang Bos. Makanya bolak balik ponsel Julia berdering, menerima panggilan telepon dari Santi, hanya sekedar menanyakan berapa ukuran jari manis Julia, apa warna kesukaannya, berapa ukuran sepatunya, dan sebagainya. Tetapi Santi sebagai sahabat sangat senang melakukannya.


Akhirnya___ segala macam bawaan yang sedianya akan diserahkan saat lamaran, sudah siap semua. Nenek sangat puas,,, ia bolak balik memandang seserahan yang sudah tertata dalam box-box cantik berwarna hijau, sesuai warna kesukaan Julia.


"Hmmmm cantik sekali ya Santi? mudah-mudahan ini tidak malu-maluin." kata Nenek.


"Ini bagus banget Nek,,,, wah seandainya aku besok menikah, pasti serepot ini juga ya Nek?" ucap Santi terkekeh.


"Hmmm pasti Santi, Nenek juga akan sibuk menyiapkan pernikahanmu, dengan Rico! dengar-dengar Rico juga akan segera melamarmu." ucap Nenek.


Mata Santi terbelalak senang,,,, benarkah? bathinnya.


"Betul Nek? emang Nenek dengar kabar dari siapa?" tanya Santi.


"Satria,,,,,." ucap Nenek sambil mengerling, tapi ia melarang Santi menanyakan kepada Rico soal ini.


Keduanya memandangi paket seserahan untuk lamaran dengan puas. Santi tinggal mengurus akomodasi selama di Cilacap, mulai dari armada, sampai dengan hotel, tempat mereka akan menginap pun jangan sampai terlupa. Dalam catatan Santi, ada 8 orang yang akan ikut, Nenek, Sandrina, Rico, Santi, Pakde dan budenya Satria dari pihak ibu, karena dari pihak ayah, Putera Penjawi adalah anak tunggal seperti Satria. Tidak lupa Satria juga mengajak Beno dan Dicky, supir utamanya.


💞


💞


💞


( ikuti lanjutan kisahnya, jangan sampai ketinggalan,,,,, 😊😊😊 )

__ADS_1


__ADS_2