
Rico mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
"Nah itu dia,,, " gumam Rico, sambil mempercepat langkahnya menuju seseorang.
"Nona Julia,,, !" Rico memanggil Julia yang baru saja tiba di ruang kerja. Julia menghentikan langkahnya.
"Selamat pagi Tuan Rico,,, apa yang bisa saya bantu Tuan Rico?" sapa Julia ramah.
"Ada yang ingin saya tanyakan, apakah Nona Julia memiliki paspor?"
"Paspor?" tanya Julia heran.
Rico mengangguk,,,, "Iya paspor." tukasnya lagi.
"Iya ada Pak, Saya buat tiga bulan yang lalu, rencananya,,,, " Julia tercekat, ia teringat, ia bikin paspor untuk persiapan bulan madu
( ke tiga negara, Malaysia, Thailand, Singapura dengan suaminya Indra, suami yang baru berusia satu minggu lalu pergi, ah sekarang entah apa sebutannya suami atau mantan? nyatanya sampai sekarang Julia belum mengurus perceraian! )
Alhasil paspornya sama sekali tidak terpakai. Julia menerawang,,,,
"Rencana,,,,nya?" ulang Rico menyelidik.
"Ah maksud saya, ketika dulu akan dinas dari kantor waktu itu, tapi dinasnya batal. yah begitu,,, " jawab Julia cepat, ia berbohong.
"Oke kalau gitu saya pinjam dulu ya, buat urus visa untuk Nona Julia, sekalian KTPnya." ucap Rico lagi.
"Vi-visa untuk apa Tuan Rico?" tanya Julia penasaran.
"Tuan Satria meminta Saya mengurus visa untuk Nona Julia, Tuan Satria mengajak Nona untuk meninjau lokasi proyek di Lyon Perancis." terang Tuan Rico tersenyum.
Hati Julia penasaran,,,, "Ta-tapi semua surat dan dokumen Saya, ada di rumah di kampung, Tuan, nanti saya minta ke keluarga untuk dikirim."
"Ohya selain itu, kamu cepat ke ruangan CEO, Tuan Satria menunggu." perintah Tuan Rico.
__ADS_1
Julia bengong,,,, jantungnya semakin berdetak kencang.
"Ish perempuan cantik ini jadi lucu mukanya kalau melongo." bathin Rico terkekeh.
****
Satria sedang duduk bersandar di kursi empuknya, sesekali ia menyesap kopi yang dibuat oleh Santi sekretarisnya. Ia gelisah menunggu Rico yang sedang mengurus visa Julia.
Satria mengetuk-ngetukan penanya diatas meja.
Pikirannya menerawang, memikirkan proyek demi proyek,,,, biasanya saat bengong seperti ini, ia selalu mendapat ide.
Saat suasana hening,,,, spontan terdengar suara pintu dibuka dengan kasar.
"Braaaakkk,,,,." suara seseorang membuka pintu dengan kasar. Suara sepatunya memecah keheningan.
Satria kaget bukan kepalang, ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang, yang dengan kurang ajarnya nyelonong masuk ruangannya, ruang kerja CEO yang tidak boleh sembarang orang masuk. Ruangan yang sangat eksklusif.
"Ne-nenek?! Satria kelimpungan.
Nenek sekarang satu-satunya orangtua yang masih ada, yang sangat dicintainya, tiba-tiba datang ke kantornya. seketika muka Satria pucat, karena Nenek tidak mungkin ke kantornya kalau tidak ada yang penting. Satria memegang keningnya yang mendadak pening.
"Dasar cucu kurang ajar!" Nenek mengacungkan tongkatnya ke arah Satria.
"Nenek kesal Satria,,,, !!! Nenek guemeeeesss,,,,!!! " sambil berkata Nenek memukul Satria dengan tongkatnya.
"Ampuuunnn Nek,,,, Ada apa sih Nenek tiba-tiba datang lalu marah? Nenek kenapa sih kejam banget sama Satria nek,,,,? " tanya Satria tanpa rasa bersalah.
Sudah sebulan lebih Satria tidak mengunjungi neneknya, karena akhir-akhir ini Satria sibuk. Nenek Satria memang memilih untuk tinggal sendiri, Nenek menyukai alam pedesaan, bukan di Ibukota yang penuh hingar bingar. Nenek tinggal di daerah Bogor, di daerah pemukiman elit yang sangat asri, dan dekat area perkebunan, ditemani Bibi eroh asisten rumah tangga Nenek dan suaminya Pak Madi.
"Kejam apa hah?! kamu itu yang kejam Satria!!! kamu ingat gadis bernama Sherly?!" tuntut Nenek.
"Hah? Sherly?! kok Nenek kenal Sherly?! suara Satria berdecak, ada yang tidak beres nih. Pikirnya.
__ADS_1
"Kalau kamu kenal, kamu nikahi gadis itu!!!! Nenek tidak bisa bayangkan, kalau dia hamil gara-gara kelakuanmu!!!! Sherly sudah crita semua sama Nenek tentang hubunganmu sama Sherly!!! ucap Nenek galak, tongkatnya kembali dipukul-pukulkan ke badan Satria.
"Auwwwww sakit Neeeekkk,,, stop Nek!!! Satria meraung kesakitan, ditahannya tongkat Nenek kali ini.
"Huuuuffftt, semua ini gara-gara perempuan licik itu!" gumam Satria.
"Nenek dengar dulu,,, aku akan bicara soal Sherly! tapi tidak disini!! Nenek bikin aku malu Nek!!" Satria berusaha menjelaskan.
"Apa kau bilang? kamu malu? kalau kamu malu, harusnya kamu nikahi gadis itu! bukan kau pacari! jadilah laki-laki yang bertanggung jawab Satria! kalau kamu seperti ini, bukan kamu saja yang menanggung akibatnya. Semua keluarga besar Penjawi akan dipermalukan. Dengar! kakekmu Raden Arya Penjawi, ayahmu, Putera Penjawi, tidak ada satupun keturanan dari kakekmu, yang suka mempermainkan anak gadis orang Satria!!!" Nenek benar-benar murka.
Satria masih meringis sambil memegangi tongkat Nenek, saat Rico menerobos masuk ruangan diikuti Julia dan Santi.
"OMG,,,, Sh*tttttt." muka Satria memerah seperti udang rebus, karena posenya ini bisa menjadi bahan tertawaan semua anak buahnya.
Satria panik, mereka pasti sudah mendengar semuanya, sontak ia menurunkan tongkat neneknya, yang akhirnya mau menghentikan aksinya. Keduanya bengong, tapi kemudian sang Nenek tersenyum penuh kemenangan.
Seorang CEO tidak bisa berkutik dihajar oleh Nenek-nenek. Satria terdiam dan hanya merapikan rambutnya. Iapun kembali ke kursi empuknya.
Sedangkan sang Nenek melenggang keluar ruangan, sambil berkata." Nenek tunggu Sabtu ini, kamu ke rumah Nenek, dan jangan membantah!" kemudian Nenek menghilang dengan tongkatnya.
Wajah Rico, Santi, dan Julia merah karena berusaha menahan tawa yang agak sulit dibendung. Satria gusar.
Gigi Satria gemerutuk memendam amarah pada Sherly, dan menahan malu.
Rasanya ingin sekali Satria menampar mulut Sherly. "Huuuffffttttt,,,, b******k!!!!
Satria meraih ponselnya, dari gelagatnya ia akan menelpon Sherly dan menanyakan apa yang sudah ia ceritakan pada Nenek. Tapi ia mengurungkan niatnya. "Percuma saja bicara dengan perempuan itu, buang waktu saja!" gumam Satria mendecis.
Alhasil ia menghempaskan pantatnya ke kursj empuknya. Mimpi apa ia semalam?
▪
▪
__ADS_1
▪
( ............. )