
Daffin begitu baik dan lembut padanya, tapi walaupun begitu, Julia masih merasa asing dengannya, orang yang mengaku sebagai suaminya.
Sore ini, Julia merasa sedikit tenang, saat memandang perkebunan kelapa sawit, ia melihat para pekerja yang sangat giat menjalankan tugasnya. Sesekali mereka tersenyum ramah pada Julia yang duduk di teras. Banyak dari para pekerja adalah perantauan dari pulau Jawa. Ada yang disini bersama keluarga, tapi banyak yang sendiri tanpa keluarga.
Di perumahan perkebunan ini, Julia ditemani oleh dua orang asisten rumah tangga, dan juga dua orang penjaga rumah. Tidak pernah Julia keluar dari pekarangan rumah, selama ia disini. Walaupun sekedar jalan-jalan mengitari area perkebunan.
Sebenarnya perumahan perkebunan ini tak terlalu besar, hanya terdiri dari dua lantai, tapi arsitekturnya begitu antik. seperti rumah khas melayu. Di lantai atas terdiri dari tiga kamar tidur, dan satu ruang kerja. Sedangkan di lantai dasar, ada ruang tamu, ruang tengah yang terhubung dengan ruang makan, dan dapur serta kamar mandi yang berada di dekat dapur. Julia selalu merasa sangat nyaman, karena angin begitu semilir masuk ke dalam rumah, tentu saja disana masih banyak pepohonan di kanan kiri rumah, bahkan di belakang rumah juga.
Hmmm tanpa terasa sebulan 10 hari lagi perkiraan Julia akan melahirkan,,,, Ia bingung bagaimana nanti setelah ia melahirkan dan selesai masa nifas? akankah ia melayani suami, yang masih terasa asing baginya? saking larutnya dalam lamunan, Julia tidak menyadari seorang asisten rumah tangga sudah berada di depannya.
"Nyonya, saya akan memasak untuk makan malam. Nyonya mau dimasakkan apa?" tanya Bu Tuti asisten rumah tangganya.
"Terserah Bu Tuti saja, saya bingung mau makan apa Bu?" ucap Julia.
"Baik Nyonya,,,,." jawab Bu Tuti, tanpa bertanya lagi Bu Tuti kembali ke dapur.
Ia memandangi Bu Tuti yang sudah masuk ke dalam rumah, ia hampir tak pernah bercakap-cakap dengan siapapun selama di sini, karena Daffin melarang para asisten dan penjaga terlalu banyak berkomunikasi dengan Julia. Hanya kalau penting saja, mereka berani mengajak ngobrol Nyonya mereka.
Hanya bila ada Daffin disini, ia tak merasa kesepian.
Sebentar lagi hari menjadi gelap, Julia masuk ke dalam rumah, ia menuju ke ruang tengah dan menonton TV disana.
"Bu,,,,,,? Bu Tuti,,,,,!" panggil Julia.
"Iya Nyonya? ada apa? Ibu sedang menyiapkan makan malam." ucap Bu Tuti, ia tergopoh masuk ke dalam ruang dalam.
"Temani aku Bu, aku takut disini." ucap Julia mengharap.
__ADS_1
"Iya Nyonya, nanti saya temani, tapi sekarang saya ke dapur dulu, bentar lagi makan malam siap Nyonya." ucap Bu Tuti.
"Baiklah, selesaikan dulu pekerjaan Ibu." jawab Julia.
Di meja makan, sop ayam kampung, dan beberapa lauk pauk sudah tersedia, begitu juga dengan jus jeruk pesanan Juliapun sudah ada di meja makan. Bu Tuti memang selalu cekatan menyiapkan segala kebutuhan Julia.
"Nyonya silahkan makan malamnya sudah siap. Nyonya makan dulu ya,,,." ucap Bu Tuti.
"Bu Tuti ikut makan bareng saya ya?" ucap Julia sambil meminta Bu Tuti duduk di depannya.
"Jangan Nyonya, biar saya makan di dapur saja dengan Mbok Darmini." jawab Bu Tuti merasa sungkan.
"Tidak papa Bu Tuti,,,, saya tidak selera makan kalau sendiri." ucap Julia.
"Tapi,,,,, saya takut Tuan Daffin marah Nyonya, kalau saya makan bersama disini." jawab Bu Tuti takut.
"Jangan takut Bu, nanti saya yang akan jelaskan kalau dia memarahi Ibu. Tolonglah,,,,." ucap Julia memohon.
Selesai makan malam, Julia meminta Bu Tuti dan Mbok Darmi menemaninya menonton TV.
"Ohya Bu, saya mau tanya, boleh?" ucap Julia.
"Tanya apa Nyonya?" jawab Bu Tuti waswas, ia lalu melemparkan pandangan ke Mbok Darmi.
"Bu, sebenarnya waktu saya disini, saya kenapa Bu? ada Dokter yang datang kesini merawat saya?" tanya Julia penasaran.
"Oh itu Nyonya,,, Nyonya mengalami kecelakaan waktu dalam perjalanan kesini, iya kan Mbok?" ucap Bu Tuti sambil melemparkan pertanyaan pada Mbok Darmi.
"I-iya be-betul Nyonya,,,,." jawab Mbok Darmi yang gugup tiba-tiba ditanya.
__ADS_1
"Apa benar kalau Tuan Daffin itu suamiku?" tanya Julia lagi, ia masih saja belum mempercayai ucapan Daffin.
"Iya Nyonya, Tuan Daffin adalah suami Nyonya. Bukankah Tuan begitu memanjakan dan menyayangi Nyonya?" ucap Bu Tuti berusaha meyakinkan Julia.
"Iya mungkin betul dia suamiku,,, tapi,,,, akhir-akhir ini aku selalu memimpikan sesorang, wajahnya seperti sangat kukenal. Ia selalu menangis memanggil namaku Bu?" ucap Julia lagi.
"Nyonya, jangan memikirkan apapun. Nyonya sedang mengandung. Mimpi Nyonya hanyalah bunga tidur." ucap Bu Tuti menenangkan Nyonya, ia merasa bersalah, karena sebenarnya ia juga tidak begitu tahu, bagaimana rumah tangga Tuan Daffin sebenarnya. Ia cuma seorang pelayan yang tidak tahu apa-apa.
Tanpa mereka sadari, seorang penjaga yang sedang masuk ke dapur untuk membuat kopi, mendengarkan percakapan ketiga perempuan itu. Mbok Darmini yang menyadari kedatangan penjaga tersebut, memberikan kode kepada Bu Tuti agar menghentikan percakapan.
***
Tuan Daffin sudah kembali dari Jakarta, ia langsung mencari Julia di kamarnya.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja selama aku di Jakarta?" ucap Daffin menyelidik.
"Oh iya Mas, aku baik-baik saja. Ada apa?" tanya Julia.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Ohya aku harap kamu percaya padaku sayang,,, bahwa aku ini memang suamimu. Yakinlah!" ucap Daffin tiba-tiba. Julia hanya mengangguk mendengar ucapan Daffin, sepertinya Bu Tuti atau siapapun di rumah ini pasti menceritakan percakapan mereka malam itu.
"Ohya aku akan mengajakmu jalan-jalan ke kota sayang, kita harus menyiapkan segala sesuatunya untuk persalinanmu nanti. Baju-baju bayi, kereta dorong dan lain sebagainya. Kamu mau kan?" tanya Daffin lembut.
"Baiklah Mas, kalau begitu, aku akan ganti pakaian dulu." jawab Julia. Daffin keluar kamar, ia sangat menghargai Julia untuk memiliki privacy saat berganti pakaian.
Selesai berpakaian Julia bersama Daffin menuju ke kota, kurang lebih dua jam perjalanan untuk sampai kesana, karena perkebunan kelapa sawit ini memang betul-betul berada di wilayah yang sangat terpencil. Di kanan kiri jalan yang mereka lalui, adalah jalan yang berada di tengah hutan belantara. Julia merasa takjub akan keindahan alamnya, tapi ia juga merasa sedikit takut, kalau harus lewat disini pada malam hari. Apalagi kondisi Julia saat ini sedang hamil tua.
🖤
🖤
__ADS_1
🖤
( Bersambung,,,, )