
Menikmati kota Jogja di malam hari memang hal yang wajib untuk Julia. Setelah makan malam, ia berkeliling untuk sekedar melihat-lihat dagangan penjual souvenir, batik, dan kerajinan ala Jogja lainnya.
Jam sepuluh malam Julia baru kembali ke hotel, dan tak lupa ia mampir ke mini market untuk membeli minuman ringan dan juga snack.
Ternyata bosan juga di kamar hotel sendirian, ia memutuskan untuk calling Tami atau Riza besok.
***
Satria kewalahan mengurus Arga, dan sudah dua hari ini Arga ikut Satria ke kantor. Fenti sekretarisnya sampai ia suruh browsing, untuk mencari tahu bagaimana cara mengurus bayi. Kesalnya Julia sama sekali tidak mau mengangkat telponnya. Untung Nenek menelpon dan memberitahu segalanya tentang bayi.
Saat di rumah,,,
Kalau sudah kewalahan seperti ini, mengurus Arga, Pak Madilah yang dengan cekatan turun tangan. Pak Madi jadi teringat, bagaimana dulu ia mengurus Satria kecil.
Arga sudah tertidur karena lelah seharian ikut Ayahnya ke kantor. Dalam keadaan sepi seperti ini Satria kembali teringat akan istrinya. Ia kangen bercumbu rayu dengan Julia, kangen wangi tubuhnya, senyumnya yang manis, kemanjaannya, semua tentang Julia memang tidak pernah membuatnya bosan. Ternyata memiliki istri itu sangat menyenangkan, selalu ada yang bisa diajak bicara, bertukar pikiran dan melakukan hal lain bersama, tidak seperti sekarang, ia sangat kesepian.
Ia juga ingat ucapan Rico kemarin, bagaimana kalau Julia disambar orang lagi?
Tidak,,,,,,,!!!! itu tidak boleh terjadi. Itu sama saja menginjak harga dirinya.
Satria bolak balik mendesah. Dimana Julia sekarang berada?
Satria memandangi wajahnya di cermin, mencukur jenggotnya yang sudah mulai tumbuh di dagunya. Setelah itu Satria mandi di bathtub berdua dengan anaknya Arga. Ia sangat menikmati perannya sebagai Ayah. Setelah mandi, ia memakaikan pakaian untuk Arga, lalu berpakaian untuknya sendiri, menyiapkan susu dari stock ASI julia yang ada di freezer dan menghangatkannya. Begitulah rutinitas Satria setiap akan berangkat ke kantor.
Hari ini Satria berangkat ke kantor dengan Arga lagi.
Sekarang bau badanya sudah mirip dengan Arga, aroma minyak telon dan bedak bayi!
***
Sementara di Jogja, Julia sedang bersiap untuk sarapan di Hotel. Ia sudah menelpon Tami, untuk menemani jalan-jalan dan mengobrol.
"Met pagi Julia,,,,,." sapa Tami, yang baru saja datang. Mereka berpelukan.
"Pagi Tami,,,, apa kabar?" sapa Julia.
"Alhamdulillah baik,,, gimana denganmu? oh ya gimana anakmu? kok ga ikut?" ucap Tami.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Anakku masih di Jakarta dengan ayahnya. kan aku pengen quality time untuk diriku sendiri sekali-kali Tam." ucap Julia terkekeh.
__ADS_1
"Wes mantaaappp,,, jadi gadis lagi nih kita?" ucap Tami sumringah.
"Iyeeesss,,,, yuk ah kita sarapan dulu, terus baru nyusun rencana mau kemana." ucap Julia.
***
Hari ketiga Satria ngantor bersama baby Arga. walaupun repot, Satria dengan senang hati membawa Arga. Lumayan juga, banyak karyawatinya yang mendekat untuk sekedar menoel pipi Arga yang bulat. Itung-itung cuci mata juga kan? bathin Satria terkekeh.
Arga memang mudah sekali menarik hati para kaum hawa. Karena walaupun masih bayi, wajahnya sangat tampan, mewarisi ketampanan ayahnya.
Tapi hari ini Arga sedikit rewel, tadi pagi saja, ia sudah menumpahkan kopi ayahnya, tangannya yang mulai aktif memegang apapun yang menarik perhatiannya, hingga Satria terpaksa berganti pakaian.
Di ruangan Satria, Arga tidak mau berhenti bergerak, sampai ayahnya tidak bisa menanda tangani berkas apapun.
"Arga sayang,,, ayo yang anteng ya? Ayah mau menyelesaikan kerjaan Ayah dulu ya,,,,?" ucap Satria padanya.
Bukannya berhenti, Arga malah semakin kencang menggerakan tangannya, mengambil apapun yang ia mau, hingga menarik salah satu berkas hingga lecek. Ayahnya panik, dan mengeluarkan kata-kata yang sedikit keras. Argapun ketakutan dan menangis kencang.
Keadaan seperti ini membuat Satria pusing. Arga juga membuang botol susunya hingga airnya tumpah berceceran.
Hari ini suasana betul-betul kacau,,,, Arga tidak bisa diam, kalau tidak bikin ulah, ia terus menangis. Tak ada satupun yang bisa Satria kerjakan, dan Ia akhirnya membawa semua berkas untuk dikerjakan di rumah, sambil mengawasi Arga, yang diasuh Pak Amad.
"Mungkin den Arga kangen sama Nyonya, Tuan?" ucap Pak Amad sedih.
"Hmm masa sampai begitu Pak?" ucap Satria sangsi.
Tak lama kemudian, dr. Santoso datang dan memeriksa Arga.
"Udah lama panasnya Sat?" tanya dr. Santoso. Ia menyentuh kening Arga, dan memeriksa suhu tubuh Arga dengan termometer.
"Baru sore ini dok." ucap Satria.
"Masih ASI kan? gimana lancar tidak ASInya? Anak seusia Arga wajar kalau panas atau demam, biasanya karena mau tumbuh gigi dan lain sebagainya. kemana Bundanya?" tanya dr. Santoso lagi.
"Emmm,,,, masih dok, masih lancar ASInya. Bundanya sedang tidak ada di rumah." ucap Satria kelu.
"Loh kemana? baru saja keluar maksudnya?" tanya dr. Santoso heran. Tanpa menunggu jawaban Satria, dr. Santoso menulis resep untuk ditebus di Apotik, dr. Santoso juga memberikan obat penurun panas.
"Sat, anak juga akan rewel atau sakit, kalau kondisi orang tuanya juga tidak stabil, lagi bertengkar atau apa saja. Anak biasanya lebih sensitif." ucap dr. Santoso terkekeh, seperti tahu kondisi rumah tangga Satria.
__ADS_1
Mendengar keterangan dr. Santoso, membuat Satria jadi malu.
Setelah selesai memeriksa Arga dan memberikan obat, dr. Santoso diantar Satria sampai ke teras. Sementara Pak Madi menunggui Arga.
***
Berbeda dengan yang dialami Satria, Julia justru merasa senang dan bebas, ia menikmati me time nya.
Wisata kuliner, karaokean bersama Tami dan Riza seperti malam ini.
Ponsel Julia berdering, Ia melihat nama suaminya lagi di layar ponsel.
"Hmmhh ada apa lagi sih Mas Satria nelpon?" bathinya. Tapi karena ia mengkhawatirkan Arga, akhirnya ia angkat juga.
"Assalamu'alaikum,,,,." sapa Julia pendek.
"Wa'alaikumsalam,,, emmm aku, aku mau kasih tahu, Arga demam." ucap Satria lirih.
"A-apa? demam? kenapa bisa begitu? Arga selalu baik-baik saja bersamaku Mas!" ucap Julia panik.
"Eh iya, mungkin, dia kangen sama kamu?" ucap Satria salah tingkah.
"Terus?" tanya Julia pendek.
"Kamu ga khawatir pada Arga, Julia?" ucap Satria berusaha mencairkan suasana.
"Aku khawatir dan kangen pada Arga." ucap Julia lagi.
"Kok suara dibelakangmu berisik sekali? kamu dimana?" tanya Satria.
"Di karaokean Mas! udah dulu ya,,,,." jawab Julia, sambil menutup telpon. Julia sedih mendengar Arga demam, tapi ia ingin memberikan Satria hukuman.
Mendengar perkataan Julia yang sedang karaokean, membuat Satria yang semula lembut, kini jadi malah marah. Perasaan cemburunya makin menjadi.
♠️
♠️
♠️
__ADS_1
( Bersambung,,,,,, )