Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
MENANGIS BERDUA


__ADS_3

Sudah beberapa hari Clara menjaga dan menemani Julia, dan seminggu lebih Julia ditawan oleh Daffin. Berulang kali juga Julia memohon agar Clara mau membantunya keluar dari rumah Daffin, tapi Clara mengingatkan seandainya ia membebaskan Julia, penjaga-penjaga yang berada di halaman rumah ini tak akan membiarkan Julia keluar begitu saja.


Tentu saja ini membuat Julia putus asa, dan tidak memintanya lagi. Ia cuma berharap kebaikan Daffin untuk melepaskannya. Bisakah?! Hal yang mustahil!


" Jadi kamu memang benar-benar mencintai Daffin Ra? " tanya Julia sambil menggoda Clara.


Seminggu bersama Julia, dan berada di kamar yang sama, mau tidak mau Clara jadi kelepasan curhat soal isi hatinya, apalagi Julia pintar mengorek-ngorek hubungan Clara dengan Daffin. Selain itu Julia perempuan yang hangat dan perhatian. Clara seperti memiliki kakak perempuan yang sweet banget.


" Yah begitulah Mba,,,, tapi sayangnya, Mas Daffin lebih menyukai Mba Julia daripada aku. " jawab Clara lirih. Hatinya teriris mengingat cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


Saat mereka sedang bercerita, tiba-tiba suara pintu diketuk dari luar.


Clara setengah berlari ke arah pintu. Ia teringat, mungkin saja Daffin sudah pulang dari bisnisnya di Singapura, seperti pamitnya waktu meninggalkan Clara di kamar penyekapan Julia.


" Met siang Clara, gimana kabar kalian? " tanya Daffin tersenyum lebar, sambil langsung masuk ke dalam kamar, setelah Clara membukakan pintu.


" Kami baik-baik saja Mas. Kamu sudah kembali dari Singapura? " jawab Clara kikuk, sambil menoleh ke arah Julia yang duduk di tepi tempat tidur.


" Kamu lihat sendiri kan Clara? aku sudah kembali?! " jawab Daffin seperti enggan menjawab pertanyaan konyol Clara, sambil memandang Julia.


Clara mengedikkan bahu saja mendapat jawaban dari Daffin.


Sedangkan Julia melengos ketika melihat Daffin yang berjalan memasuki kamar.


" Gimana kabarmu Julia? apa kamu sudah mau makan? aku khawatir padamu, aku tidak tenang beberapa hari meninggalkan kalian berdua disini. " ucap Daffin lembut sambil masih menatap Julia.


Julia cuma berdecis mendengarkan keramah tamahan Daffin. Tanpa menoleh pada Daffin, Julia berbicara.


" Kabarku akan baik-baik saja, kalau aku bersama keluargaku di rumah! " ucap Julia ketus.


Daffin terkikik, lalu mendekati Julia, Ia mencengkeram dagu Julia, kelihatannya ia sangat kesal dengan jawaban yang dilontarkan Julia. Tapi ia kemudian melepaskannya, dan raut wajahnya kembali melembut.


Sementara Clara memandangi keduanya dengan perasaan yang was was antara cemburu dan takut terjadi apa-apa dengan Julia.


Clara menarik nafas lega, karena ponsel Daffin berbunyi, lalu Daffin mengangkat panggilan di ponselnya sambil berjalan keluar dari kamar yang sangat luas dan mewah itu.


Tak lupa ia memberi kode kepada Clara untuk mengunci pintu kamar lagi.

__ADS_1


Clara berjalan mendekati Julia setelah mengunci pintu.


" Sebenarnya Daffin sangat baik, entah kenapa,,,,,, " ucap Clara lalu terhenti karena Julia memotong.


" Baikkkkk?! apanya yang baik Clara?! pria mana yang baik?! yang menyekap perempuan bersuami seperti aku?! pria mana yang baik?! yang sudah kedua kalinya menculik aku, di saat aku hamil huh?! pria mana yang,,,,,,??? " makian Julia terputus saat ia mendapati Clara menunduk dan kelihatan sedang menahan tangisnya.


Julia yang tadinya berapi-api mengutuk Daffin jadi merasa iba pada Clara. Ia berdiri dan mendekat ke arah Clara, lalu memegangi tangan gadis itu.


" Cla,,,, Cla-ra,,,,,?? Maafkan aku,,,,, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku cuma murka,,, sangat-sangat murka pada perbuatan Daffin padaku. Aku tidak akan pernah bisa memaafkannya, kalau sampai terjadi apapun pada pernikahanku dengan Mas Satria. Aku mohon,,,,,, " ucap Julia lembut sambil mengusap air mata yang tidak sengaja mulai merebak.


Akhirnya keduanya malah nangis sesenggukan berdua sampai keduanya merasa lelah.


Julia yang putus asa akhirnya tertidur, sementara Clara sibuk mencari-cari ponselnya yang ia taruh di tumpukan buku-buku yang sepertinya jarang sekali dijamah, di sebuah lemari. Ia meraih ponselnya dan menghidupkannya perlahan tanpa suara.


Dengan gerakan yang cepat, ia mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya. Sepertinya ia berusaha men-share lock keberadaannya pada seseorang.


" Entahlah, aku harus melakukan sesuatu! Mudah-mudahan semuanya baik-baik saja. " gumamnya.


Selesai mengetik, seseorang mengetuk kembali pintu kamar itu. Clara buru-buru menyimpan ponselnya.


" Iya sebentar,,,! " jawabnya. Karena orang diluar sudah mengetuk pintu lagi.


" Kenapa lama sekali sih?! " tanya Daffin sambil memandang Clara kesal.


" Ma-maaf Mas, aku ketiduran. " jawab Clara takut-takut.


Daffin yang masih memandang Clara berkata lagi, " Ketiduran apa menangis? matamu sembab begitu! " tanya Daffin sambil terkekeh. Kemudian pandangannya beralih pada Julia yang masih berbaring di tempat tidur.


" Bagaimana selama tidak ada aku? apakah ia baik-baik saja? apa ia mau makan? " berondong Daffin sambil mengedikkan dagunya ke arah Julia.


" Yah seperti yang Mas lihat, she is fine. " jawab Clara.


" Bagus Clara! kamu memang bisa diandalkan! " jawab Daffin mulai terbahak.


" Sssttttt jangan keras-keras Mas, Julia bisa terbangun! aku tidak mau kalian ribut lagi. " ucap Clara malas.


" Sekarang tolong, keluarlah dari kamar ini, kamu juga butuh istirahat kan Mas? lagipula Julia masih tidur, dia tidak akan menyahut kalau mengajaknya bicara. " rayu Clara dengan lembut, sambil menarik lengan Daffin, dan menuntunnya ke pintu.

__ADS_1


" Apa-apaan sih kamu Clara? ini rumahku, kenapa kamu jadi mengusir ku? " protes Daffin.


Daffin mengalah dan menurut saja pada Clara walaupun ia sedikit protes. Begitu Daffin berada di luar pintu, Clara langsung menguncinya. Sementara Daffin melongo dan hanya garuk-garuk kepala kesal.


Seketika itu, Julia menggeliat bangun.


" Emmhhh apa Daffin baru saja disini Clara? " tanya Julia sambil meregangkan otot lengannya.


" Yah kamu tahu sendiri Mba? aku mengusirnya untuk keluar. Mengganggu saja! " jawab Clara terkekeh. Ia tak peduli lagi kalau Daffin murka dan mengusirnya. Dalam kegalauannya sendiri, ia masih memikirkan masalah yang menimpa Julia.


Julia tertawa dan menggelengkan kepalanya.


" Gadis yang berani dan cerdas. " gumam Julia.


" Apa Mba?! " tanya Clara yang mendengar Julia menggumam.


" Ti-tidaakk,,,,, tidak ada apa-apa,,,,,. " jawab Julia masih terkekeh sambil mengerlingkan mata.


" Hmh,,,, " Clara melenguh.


Keduanya kembali asyik dengan pikiran masing-masing.


" Sudah jam lima sore ini,,,, aku lapar! " ucap Clara tiba-tiba memecahkan keheningan.


" kruyuuuukk,,,,, " perut Clara berbunyi.


" Iya aku juga lapar! " jawab Julia sambil nyengir. Bersama Clara, Julia lebih tenang menghadapi penyekapan ini, dan ia jadi semangat makan.


" Oke kalau begitu,,,, aku akan ke dapur meminta Bu Juju membuatkan kita makan sore menjelang malam! " sahut Clara sambil nyengir yang disambut tawa Julia, sambil berlalu dari hadapan Julia. Clara berbalik lagi, seperti ada yang terlupa.


" Mba kamu mau makan apa? aku jadi lupa tanya. " ucap Clara.


" Apa saja Clara,,,,, . " jawab Julia.


Clara lalu menghilang dari balik pintu dan tak lupa mengunci kamar.


🥘

__ADS_1


🥘


🥘


__ADS_2