
☆☆☆
Sudah hampir tiga bulan, Julia pergi tidak tahu dimana rimbanya, kondisi Satria sekarang benar-benar labil. Ia sangat memikirkan kondisi Julia dan anak yang ada di dalam kandungannya.
"Diam kamu Sri, jangan pernah bicara apapun tentang istriku. Semua yang kamu katakan tidaklah benar!!" ucap Satria berteriak.
"Aku betul-betul tak habis pikir! Julia jelas-jelas pergi dengan laki-laki lain! tapi kamu masih tidak mempercainya?!" ucap Srianti mengintimidasi, ia selalu menunjukkan selembar kertas berisikan tulisan tangan Julia, bahwa Julia telah pergi bersama orang lain.
"Apa buktinya? kamu punya bukti hah?!!" tuntut Satria.
"Berapa kali aku katakan? ini buktinya!!!!" jawab Srianti sambil menyodorkan selembar kertas.
Satria merampas kertas dari tangan Srianti, lalu meremasnya dan membuangnya dengan kasar.
"Ini?! bisa saja orang lain yang menulisnya!" ucap Satria ragu, matanya nanar memandang ke arah kolam ikan.
Srianti merasa gusar, ia sangat marah, karena Satria tidak mempercayai ucapannya. Saat Sandrina mendekat untuk minta antar les, Srianti mendorong anaknya dengan kasar. Membuat Sandrina ketakutan, dan menangis. Satria hanya memandangi kepergian Srianti dengan pandangan tak percaya.
Saat itu datanglah Santi dan Rico asisten Satria. Rico merasa prihatin melihat Satria yang beberapa bulan ini tidak bergairah melakukan apapun, apalagi mengurus bisnisnya. Ia memang sangat terpukul dengan hilangnya Julia istrinya.
Santi mendekati Sandrina yang sedang menangis, ia membujuknya sampai Sandrina tenang.
Rico memandangi Satria yang sedang berdiri di pinggir kolam.
"Bos,,,,,?" sapa Rico. Satria menoleh.
"Rico,,,, selamat ya atas pernikahan kalian, Rico, Santi,,, maaf aku tidak bisa menghadiri pesta kalian." ucap Satria merasa bersalah.
"Tidak apa Bos, yang penting doa restunya saja." jawab Rico mencoba tersenyum. Ia melirik Santi yang masih bersama Sandrina.
"Ohya Bos, aku berharap, kamu bisa mulai memimpin perusahaan lagi. Aku keteter tanpamu Bos! emm,,, aku tahu, sekarang ini situasinya rumit, tapi,,,,,." ucap Rico tertahan.
"Aku minta maaf Rico, Yah aku memang salah, sudah meninggalkan perusahaan begitu lama. Baiklah aku akan mulai lagi segera." ucap Satria dingin, ia berusaha tegar.
Rico beserta anak buahnya memang masih selalu mencari informasi keberadaan Julia, tapi belum juga mendapatkan titik terang. Rico pernah bertemu Daffin saat Julia menghilang, tapi sepertinya Daffin tidak tahu apa-apa mengenai Julia. Bahkan saat itu, Daffin sempat meminta maaf karena pernah menculik Santi. Dan lagi, kemarin saat Rico menikah dengan Santi, Daffin pun datang untuk mengucapkan selamat.
Satu-satunya orang yang bisa menjadi saksi kunci adalah Edwin, yang saat itu menyupiri mobil Julia. Tapi sayang, kondisi Edwin sampai sekarang masih amnesia.
"Rico?" sapa Satria.
"Ya Bos? ada apa?" tanya Rico.
"Apakah kamu percaya? kalau Julia menghianatiku?" ucap Satria menerawang.
__ADS_1
"A-apa?! itu tidak mungkin Bos!" ucap Rico tak percaya.
"Oke,,,, aku juga sependapat denganmu. Tapi bolak balik Srianti mengatakan itu padaku!" ucap Satria gemas.
Santi yang sedari tadi mendengarkan percakapan kedua laki-laki itu, langsung mendekat.
"Percayalah padaku Tuan Satria! Julia bukan perempuan serendah itu! dia sahabatku! aku sangat mengenalnya." ucap Santi panas.
Rico yang mendengar istrinya berkata sedikit ketus pada Bosnya, mendekati Santi, ia mengelus bahu istrinya, agar tak melanjutkan pembicaraan.
"Baiklah Bos, aku menunggu kehadiranmu di Kantor. Aku ingin bersama lagi menjalankan bisnis kita. Tolong pikirkan, seandainya bisnis kita terhenti, bagaimana kita akan mencari Julia?" ucap Rico mengingatkan.
"Baiklah Bos, aku pamit dulu. Pikirkan ucapanku" ucap Rico sekali lagi.
"Ya Ric,,, terima kasih masukannya. Dan terima kasih juga kamu telah datang." ucap Satria lirih.
Sepeninggal Rico dan Santi, Satria pelan-pelan memikirkan bisnisnya. Betul kata Rico, kalau seperti ini terus, ia akan habis, dan pencarian Julia akan mustahil.
***
Dengan penuh kesabaran Daffin menemani Julia memilih baju-baju dan perlengkapan bayi. Ia melihat ekspresi Julia yang terlihat sangat bahagia. Sesekali Julia meminta pendapat padanya, apakah ini bagus atau tidak, apakah ini mahal atau tidak. Begitulah perempuan, mereka sangat detail dalam berbelanja. Seorang pelayan Toko tersenyum saja melihat kedua pasangan itu, ia berpikir, sungguh pasangan yang berbahagia.
Setelah pencarian perlengkapan bayi selesai, Daffin langsung membayar ke kasir. Kemudian ia mengajak Julia makan siang di sebuah restauran. Setelah itu, Daffin mengajak Julia untuk berbelanja kebutuhan bulanan mereka. Sebelum sore mereka memutuskan segera pulang ke rumah perkebunan.
***
"Mas,,,,!! Mas,,,,!!! kamu dimana?!" teriaknya memanggil Daffin.
"Maaaassss!!! auuuwww,,,,, sakit,,,,.!" Julia terus memanggil Daffin. Daffin yang sedang berada dibawah segera naik ke kamar Julia.
"Ke-kenapa kamu sayang?!" tanya Daffin gugup.
"Sepertinya aku mau melahirkan Mas?! Aduh sakit sekali,,,,!!" Julia terus mengerang.
Daffin yang panik, lalu membereskan tas persalinan Julia yang sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya.
"Mas?! aaarghhh,,,,!"
"Iya sayang, sebentar aku panggilkan pelayan dulu untuk membawa tas." ucap Daffin panik. ia lalu memanggil Bu Tuti dengan tergesa. Lalu segera kembali ke kamar dan membopong Julia dan membawanya ke mobil.
"Sabar sayang,,,! kamu bertahan ya,,,,?!" ucap Daffin.
***
__ADS_1
"Oek oek,,,,,!!" Suara tangisan bayi sangat kencang terdengar.
Dokter yang membantu persalinan Julia keluar dari ruang persalinan.
"Selamat ya Pak,,, bayinya laki-laki. Silahkan bapak masuk ruangan, untuk mengadzani anak bapak." ucap Dokter pada Daffin
Daffin yang sempat ragu, akhirnya masuk ke dalam ruang persalinan, ia mendekati bayi Julia, dan mulai mengadzani bayi laki-laki itu. Setelah itu ia mendekati Julia.
"Sayang, anak kita laki-laki, selamat ya?! ia sangat tampan seperti aku!" ucap Daffin sambil menyeringai.
Julia sangat senang mendengarnya, ia sampai menitikkan air mata haru. Daffin membelai lembut kening Julia dan mengecupnya.
Julia masih harus menginap semalam di rumah sakit, baru keesokan paginya ia pulang.
"Mas, aku mau menamai bayiku ARGA PUTERA PENJAWI. Bagus kan Mas?" ucap Julia bahagia.
"A-apa?! da-darimana kamu dapat nama itu?!" ucapnya panik, saat mendengar Julia menyebut sebuah nama.
"Hehe iya Mas,,, sepertinya nama itu cocok untuknya! aku mendapatkan nama itu dari mimpi." ucap Julia terkekeh.
"Ok terserah kamu saja sayang,,,,." ucap Daffin yang sempat terkejut.
Setelah Bu Tuti membereskan pakaian Nyonyanya dan juga perlengkapan mandi ibu dan bayinya, Daffin menuju ke kasir rumah sakit untuk menyelesaikan pembayaran tagihan rawat inap dan persalinan. Satu jam kemudian mereka kembali pulang ke rumah perkebunan.
***
Julia tampak bahagia menggendong bayinya, ia dengan penuh kasih sayang, mencoba menyusui bayinya, walaupun air susunya masih belum banyak.
Tangisan bayi Arga begitu keras, kalau air susu Julia susah keluar. Bu Tuti yang melihatnya mendekati Julia.
"Nyonya, biasanya kalau air susu masih susah keluar, Ayahnya lah yang mencoba menyedot dulu, biar asinya lancar,,,,." ucap Bu Tuti sambil nyengir malu. Julia yang mendengar ucapan Bu Tuti langsung memerah pipinya. Sedangkan Daffin yang baru saja masuk kamar berdehem.
"Benarkah Bu? kalau begitu mari aku sedot dulu sayang?!" ucap Daffin jail, ia terkekeh.
Julia yang mendengar ucapan Daffin langsung saja melotot.
"Tidak,,,, tidak,,,, biar aku saja yang memompa pake pompa asi." ucapnya tergesa sambil meminta Bu Tuti mengambilkan pompa Asi. wajah Julia masih bersemu merah.
💝
💝
💝
__ADS_1
( Bersambung,,,,, )