
☆☆☆
Sudah siang begini, tapi Tuan Satria belum juga mengajaknya pulang ke apartemen Santi. Malah Julia ditinggal sendirian di rumah besar ini.
Pak Amad turun dari lantai atas, langsung saja Julia mendekatinya.
"Pak Amad boleh saya tahu dimana Tuan Satria?" tanya Julia.
"Tuan dikamarnya Nona, beliau sedang mandi. Kalau Nona Julia perlu apa saja, Nona bisa bilang ke bapak." jawab Pak Amad ramah.
"Jam segini? dia baru mandi?!" tanya Julia heran. "Oh ya Pak, apa belum ada orang yang mengantar koper kemari?" ucap Julia yang teringat kopernya yang tertinggal.
"Begitulah Nona, kalau hari Minggu, Tuan Muda mandi siangan, soal koper, ya tadi ada orang suruhan Ibu Arzhad kemari mengantarkan koper. Maaf saya lupa mengatakannya." jawab Pak Amad mengingat-ingat.
"Tidak apa Pak Amad, terima kasih ya Pak,,, ." sahut Julia lagi.
Pak Amad naik ke atas lagi, untuk mengambil koper. Beberapa menit kemudian, Pak Amad turun sambil membawa koper Julia, dan menyerahkannya pada Julia.
"Ini Nona kopernya." ucapnya dengan tersenyum. Julia mengambil koper dari tangan Pak Amad dan mengucapkan terima kasih, dan pamit ke kamar tamu.
Setelah berganti pakaian, iseng Julia keluar untuk jalan di halaman besar Tuan Satria, ia melihat tanaman yang begitu rapi tertata, kemudian berjalan ke kolam renang yang ada belakang rumah. Ia duduk di kursi malas di pinggiran kolam. Julia sangat cantik siang itu mengenakan midi dress berwarna kuning cerah. Ia tidak tahu, ada sosok gagah yang sedang memandangnya dengan kagum dari jendela.
Walaupun kolam berada di outdoor, tapi disana sangat teduh, di pinggiran ada beberapa pohon besar menaungi. Julia bangkit, ia merentangkan kedua tangannya dan menarik nafas dalam, memejamkan matanya sambil merasakan keteduhan disekitarnya. Saat ia membuka matanya, dan melihat keatas, tampak sesosok pria memandangnya dari jendela. Tuan Satria?! Julia langsung merasa malu dan membalikkan badannya. Ia kembali duduk di kursi malas. Memandang ke kolam.
***
Saat makan siang, Julia tidak menyia-nyiakan waktu, ia langsung meminta kepada Tuan Satria untuk segera mengantarnya ke apartemen Santi. Tapi sialnya, Tuan Satria malah memberi informasi, kalau Santi sedang weekend bersama Rico.
"Santi pergi dengan Tuan Rico?" tanya Julia bingung.
Satria yang melihat raut kebingungan Julia langsung saja tertawa.
"Kenapa kamu jadi bingung Julia? wajar kan mereka weekend berdua? itu yang biasa dilakukan sepasang kekasih. Apa Santi belum memberitahu kepadamu, kalau mereka berpacaran?" tanya Satria enteng.
Julia mengerutkan kening, ia tak menyangka, mereka jadian secepat itu. Tapi Julia ikut senang mendengarnya. Aduuhhh makin iri saja Julia mendengar sahabatnya sudah memiliki kekasih. Julia terkekeh.
Sambil makan siang, Tuan Satria bercerita semua kejadian demi kejadian di kantor sepeninggal Julia, tak lupa ia juga menceritakan soal jadiannya Santi dengan Tn. Rico. Julia terkesima mendengarkan,,,, dalam hatinya berkata, ternyata Tn. Satria seseorang yang lembut dan hangat.
"Ohya Julia setelah makan siang ini, kamu mau kemana?" tanya Satria.
"Entah Tuan, memangnya Tuan mau kemana?" jawab Julia sambil mengernyit.
"Oh Come on Julia,,, jangan panggil saya "Tuan" lagi,,,, panggil saja Mas? bisa?" ucap Satria mengerang kecil. Julia terkekeh karena malu,,,, Mas?
"Baik Tuan,,, eh Mas?" ucap Julia tersipu. dan Satriapun terkekeh.
Selesai makan Julia bangkit dari duduknya, saat mau meninggalkan ruang makan, seekor kucing persia masuk sambil berlari, dan hampir menubruk Julia, Julia langsung oleng dan hampir saja jatuh, kalau Tuan Satria tidak menangkapnya. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Satria, begitu dekat wajahnya dengan wajah Julia.
Keduanya berpandangan, cukup lama, Satria menikmati setiap inci wajah Julia, hidungnya, bibirnya, matanya, ia memandang tak berkedip. Tatapannya begitu teduh, membuat Julia gugup.
Julia mengaduh,,, "Kenapa?" tanya Satria.
"Kakiku terkilir karena kaget tadi Mas,,,,." jawab Julia lirih. Satria langsung membawa Julia ke ruang keluarga, mendudukan Julia di sofa, dan melihat ke kaki Julia,,,,
__ADS_1
"Mana yang sakit?" tanyanya.
Satria memanggil Pak Amad, dan meminta untuk mengambilkan trombopop. Satria mengolesnya ke kaki Julia dan memijitnya perlahan.
"Sudah mendingan?" tanyanya lagi.
"Iya,,,, lumayan. terima kasih Mas,,,." jawab Julia.
Satria memandang Julia senang, ucapan Julia terdengar sangat manja olehnya.
Karena kaki Julia agak sakit untuk berjalan, Satria urung mengajaknya jalan.
***
Nenek Fatiah, tiba-tiba kangen dan ingin mengunjungi Satria cucunya. Ia sudah menyiapkan kue muffin kesukaan Satria, dan juga menyiapkan singkong yang sudah direbus yang dibumbui dan siap goreng, biar bisa disantap hangat, Nenek akan menggorengnya di rumah cucunya.
Semua sudah siap dalam dus makanan. Nenek segera memanggil Pak Madi.
"Mad ayuk antar saya ke rumah Satria, Nenek kangen sekali padanya. Kalau tidak Nenek yang kesana, siapa lagi?" ucap Nenek Fatiah mengomel,,,,
Pak Madi yang mendengar Nyonyanya mengomel soal cucunya, hanya tertawa kecil.
"Baik Nek,,, saya siapin mobilnya." jawab Pak Madi cepat, dan bergegas ke garasi.
Mobil sudah keluar garasi, Pak Madi keluar dan membukakan pintu untuk Nenek Fatiah.
"Silahkan Nek, hati-hati Nek." ucap Pak Madi sopan.
"Jangan ngebut ya Mad,,, Ini Nenek Nenek loh penumpangnya!" ucap Nenek cemas,,,
"Tidak Nek,,, ini pelan Nek,,,,." sahutnya lagi. Pak Madi menggelengkan kepala sambil nyengir.
"Jangan lupa setel sholawatan Mad, biar perjalanan kita aman dan lancar." Nenek Fatiah merepet lagi.
Yang diajak bicara, hanya tersenyum kecil. Pak Madi sudah terbiasa dengan kecerewetan Nenek Fatiah. Tapi walaupun begitu Nenek Fatiah sangat sayang pada kedua abdinya itu, Pak Madi dan Eroh, istrinya. Dari anak mereka kecil sampai sekarang anak yang besar sekolah di SMU, Nenek Fatiah yang membiayai. Kedua anak Pak Madi, kadang juga ikut membantu di rumah Nenek Fatiah. Pak Madi beserta keluarganya tinggal di rumah khusus seperti paviliun, di halaman belakang rumah Nenek.
Jam 14.15 mobil Nenek Fatiah tiba di rumah Satria, seorang sekuriti membukakan pintu gerbang, dan memberi salam kepada Nenek.
"Selamat siang Nenek Fatiah,,,,." sapa sekuriti.
Nenek Fatiah mengangguk sambil tersenyum ramah. Sampai di depan teras, Pak Madi turun dan segera membukakan pintu untuk Nenek.
Nenek yang sudah sangat kangen pada cucunya, segera menghambur masuk.
"Assalamualaikum,,,,, Satria,,,,, Satria,,,,, !" panggil Nenek. Nenek sudah sampai ruang keluarga. Tapi tidak ada yang menyahut. Nenek membuka pintu kamar tamu, Ia terkejut melihat seorang perempuan tertidur di ranjang. Nenek tertegun, tapi ia diam saja. Nenek menutup kembali pintu kamar tamu, tempat biasa Nenek tiduri, saat menginap di rumah cucunya.
Nenek melangkah ke ruang makan, Pak Amad yang keluar dari dapur segera mendekati Nenek.
"Nek Fatiah,,,, Nenek kapan datang?" tanya Pak Amad sambil menyalami dan mencium tangan Nenek. Bagi Nenek, Pak Madi, Bi Eroh, dan Pak Amad, sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri, karena mereka kurang lebih seusia dengan Putra Penjawi anaknya, yang juga Ayah Satria.
"Baru saja Mad, Nenek diantar Madi." jawab Nenek datar, karena ada yang ia ketahui.
Pak Amad yang menyadari kalimat Nenek, kemudian berkata.
__ADS_1
"Pasti Nenek Fatiah mau bertanya, siapa perempuan yang ada di kamar tamu? iya kan Nek?" Pak Amad berkata sambil nyengir. Ia menggaruk tengkuknya.
"Hmmm,,,, ?" Nenek mendehem sambil mengangkat alisnya.
Dari arah tangga Satria menjawab.
"Dia Julia Nek,,,, sekretaris Satria di kantor, ia baru saja datang dari kotanya." sahut Satria cepat, sebelum Pak Amad menjelaskan.
Nenek fatiah memelorotkan kacamatanya, dan memandang cucunya penuh selidik, bak seorang detektif swasta menginterogasi penjahat.
"Hmmm,,,, benar Satria? dia bukan mainanmu kan?!" tanya Nenek tajam.
"Ya Allah Neeeekkkk,,,, Nenek jangan berpikir macam-macam ah, bukan Nek! mana berani Satria sama perempuan tomboi kaya dia." sahut Satria asal, sembari memeluk Neneknya dan mencium kening Nenek Fatiah.
Pak Amad terkekeh mendengar Tuan Mudanya menjelaskan soal Nona Julia. Nenek baru diam, setelah Pak Madi masuk menenteng bawaan Nenek.
"Taruh di meja dapur Mad,,, biar nanti pelayan yang goreng singkongnya. Nenek juga mau dibuatin teh." ucap Nenek melupakan ucapan cucunya.
"Nek Mad yang mana nih?" tanya Satria lagi, " Pak Amad atau Pak Madi?"
Kedua orang yang disebut Satria, tertawa bersamaan.
Nenek yang masih penasaran, diam saja. Ia mengajak Satria duduk di ruang keluarga.
"Jadi,,,,,?!" Neneknya menaikan alisnya lagi.
"Uh Nenek,,, tanya lagi." Satria membathin.
Baru saja Satria mau membuka mulut, tetiba pintu kamar tamu dibuka. Julia yang baru saja bangun dan mencuci mukanya, dan sudah berganti pakaian, keluar dari kamar.
"Selamat sore Nek,,,, " sapa Julia sopan, ia mendekat dan meraih tangan Nenek dan mencium tangannya.
"Selamat sore Nak,,,, " jawab Nenek sedikit canggung. Tapi ia terkesan dengan kesopanan gadis itu.
"Maaf Nek, Julia disini,,,,." kalimat Julia terpotong oleh suara Nenek Fatiah.
"Sudah tidak apa-apa Nak,,,,? siapa namamu?" tanya Nenek
"Julia Nek,,,, ." Jawab Julia tersenyum.
"Emmm ya Nak Julia, tidak masalah. Nenek sudah tahu dari Satria. Kamu kan yang waktu itu bersama Rico dan Santi? pas Nenek mengamuki Satria di kantor?" tanya Nenek, dan pertanyaan Nenek kali ini membuat rona wajah Satria memerah. Nenek terkekeh sendiri, Juliapun tidak kuat menahan tawanya, ia terbahak, begitu ingat kejadian di kantor saat itu.
"Uh Nenek,,,,, !!" Satria mendengus.
Nenek merasa senang, ada orang yang berpihak padanya dan menertawai cucu yang sangat disayanginya itu.
♡
♡
♡
( Dilanjut nanti yaa,,, author otw tugas negara dulu. Jangan lupa like n commentnya, biar semangaaaatttttt,,,, 😘😘😘 )
__ADS_1