
☆☆☆
"Nyaman sekali disini ya Nek?! pantas Nenek suka tinggal di desa, udaranya masih segar, tenang lagi. Beda sekali sama di Jakarta, sumpek!" ucap Julia sambil mengayunkan kaki di atas gubuk.
"Kamu suka tinggal disini?" tanya Nenek heran.
"Iya Nek, suka sekali!" ucap Julia polos.
"Sayangnya kalau kamu menikah dengan Satria, kamu pasti tinggal di Jakarta Julia,,, Mana bisa Nenek merayunya untuk tinggal disini?! gerutu Nenek Fatiah.
"Menikah Nek?!" tanya Julia linglung.
"Memangnya kamu tidak mau? menikah dengan Satria?!" tanya Nenek penasaran.
"Nek,,,,,?" tenggorokan Julia tercekat.
"Ada yang mau kamu katakan Julia?" tanya Nenek.
"Nek, Ju-julia takut nek,,,!" ucap Julia.
"Takut? takut apa Julia? coba cerita ke Nenek!" Nenek Fatiah menunggu,,,
Seperti biasa air mata Julia pasti meleleh kalau mau menceritakan keadaannya.
"Kok kamu menangis Julia? ada apa sebenarnya? ayo cerita! Nenek akan mendengarkan!" tuntut Nenek.
"Tapi Nenek janji, apapun yang Julia katakan Nanti, sikap Nenek tetap baik pada Julia, walaupun Julia mungkin tidak jadi menantu Nenek?" ucap Julia terisak.
"Ceritakan!" jawab Nenek singkat.
"Julia ini seorang janda Nek,,,." ucap Julia. Nenek diam.
"Tapi, umur pernikahan Julia cuma seminggu." ucap Julia lagi.
Nenek diam. Julia gelisah,,,
"Julia belum pernah merasakan apa itu yang dinamakan pernikahan Nek, Julia dan suami Julia belum pernah tidur berdua, seperti pengantin lain Nek, Julia,,,,." Julia ragu untuk melanjutkan, ekspresi Nenek cuma diam.
Air mata Julia terus meluncur bebas,,,, Ia tidak tahu lagi mau bicara apa lagi.
Nenek sebenarnya bingung, ia mau tertawa atau ikut bersedih. Yang jelas Nenek justru semakin sayang pada gadis itu.
"Nenek kenapa diam saja?" Julia terisak.
Nenek mengusap punggung Julia, lalu memeluknya.
"Nenek sayang kamu Julia,,,, Nenek menerimamu apa adanya." ucap Nenek tulus.
"Hmmmhhh Julia! jadi pernikahanmu cuma diatas kertas?! kamu masih perawan sayang?! ucap Nenek tak percaya, Nenek akhirnya tertawa juga.
"Nenek malah mentertawakan Julia?!" tangis Julia semakin meledak.
"Sudah sudah!! kaya anak kecil saja?!" Nenek masih saja tertawa.
Julia menghentikan tangisnya, ia memeluk Nenek erat.
"Kamu tahu Julia? waktu Nenek menikah dengan kakeknya Satria, Nenek juga janda. Tapi Nenek sudah ga perawan waktu itu! karena Nenek janda! Hahaha!!" Nenek malah menertawai dirinya sendiri. Juliapun mengusap air matanya dan ikut tertawa.
__ADS_1
"Nenek,,,, ada-ada saja!"
"Neneeeekkkk!!! Juliaaaa!!!! dari kejauhan Satria berjalan mendekati mereka di gubuk.
"Kalian teganya ninggalin Satria begitu lama! tidak pamit lagi!" ucap Satria kesal.
Nenek dan Julia berpandangan, keduanya terkekeh.
"Ayo kita pulang,,,,!" tukas Nenek cepat, Julia menurut. Tinggal Satria yang mengomel karena keduanya malah mengajak pulang, saat ia menyusul.
Nenek berjalan paling depan di pematang, diikuti Julia, dan Satria paling belakang. Karena ia merasa dipermainkan oleh kedua perempuan itu, Satria membalasnya dengan menarik-narik rambut ekor kuda Julia.
Julia yang merasa kesakitan, cuma bisa mengomel sepanjang jalan.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Satria selalu mengusili Julia, Julia kadang marah, tapi kadang ia membalasnya. begitu terus, tidak akan berhenti kalau Nenek tidak teriak.
Sampai di rumah, mereka dikejutkan dengan kedatangan tamu. Satria mendengus melihat siapa yang datang, Nenek juga kelihatan malas melihat kedatangan tamunya itu, tapi melihat seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang berlari ke arah mereka, wajah Nenek dan Satria berubah gembira. Julia yang belum mengenal tamu-tamu itu cuma melirik Satria yang sempat kelihatan tidak suka.
Siapa mereka? tanya Julia dalam hati.
"Nenek,,,!" anak perempuan itu berteriak memanggil Nenek Fatiah, lalu memeluknya. Lalu beralih kepada Satria, dan memeluknya juga.
"Ayah,,,,!" panggil gadis kecil itu.
"Sandrina,,,," Satria menggendong gadis itu dan membawanya ke teras rumah. Julia yang mengikuti dari belakang merasa kikuk.
"Oh ya Julia, kenalkan ini anakku Sandrina, Sandrina, ini tante Julia, teman Ayah" Satria saling mengenalkan mereka berdua.
Sandrina menyambut uluran tangan Julia dan mencium tangan Julia.
"Sandrina,,,,." ucap gadis itu memperkenalkan diri.
Nenek yang masih berdiri di dekat Satria tersenyum melihat perkenalan mereka.
"Ayok kita masuk,,,," ucap Nenek sambil mengelus kepala Sandrina.
Srianti yang sudah berada di ruang tamu bersama suaminya, memandang tajam ke arah Julia. Ia seperti merasa cemburu. Tapi Julia tak menanggapi tatapan Srianti, Ia mengajak Srianti bersalaman dan memperkenalkan diri. Dan beralih menyalami suami Srianti juga. Sedangkan Satria hanya menyalami suami Srianti, lalu duduk di hadapan keduanya. Sedangkan Nenek langsung mengajak Sandrina ke dalam.
"Mas, aku mau nitip Sandrina, selama aku ke korea! besok pagi kami akan berangkat." ucap Srianti.
"Baiklah, biar Sandrina sementara tinggal sama Nenek, karena aku tidak mungkin meninggalkannya di rumah sendirian saat aku kerja." jawab Satria.
"Lagipula, kenapa kalian tidak mengajaknya serta?" ucap Satria dengan nada sedikit sinis.
Srianti melirik Julia sekilas,,,,
"Kenapa memangnya? apa kamu terlalu sibuk?! dan tidak bisa dititipi Sandrina?!" tanyanya dengan nada tidak kalah sinis.
Julia jadi merasa tidak enak hati. Ia pamit ke dalam untuk menyusul Nenek, tapi Satria menarik tangan Julia.
"Oh ya aku harus memperkenalkan padamu Srianti, Julia ini calonku, mudah-mudahan dalam waktu dekat kami akan menikah." jelas Satria sambil tersenyum kepada dua tamunya.
Julia merasa malu, sepertinya Satria mengatakan itu hanya ingin memanasi mantan istrinya. Tapi Ia ikuti saja permainan Satria, Julia mengangguk kepada pasangan itu.
Dalam hati Julia menggerutu.
"Oke kami masuk kedalam dulu, silahkan diminum tehnya,,,,." ucap Satria, dan meninggalkan kedua tamunya, tak lupa ia menarik tangan Julia untuk mengikutinya.
__ADS_1
Sampai di dalam, Julia berbisik pada Satria." Mas, yang benar saja!" ucapnya.
"Apanya?" Jawab Satria enteng.
"Soal menikah?!" ucap Julia.
"Biarin saja! Memang kamu ga mau? Nikah sama aku? kan Nenek sudah kasih restu?!" Satria terkekeh.
Satria benar-benar dibuat gemas oleh kepolosan Julia. Apapun adanya dirimu, aku cinta kamu Julia, Satria membathin.
***
Srianti masuk ke dalam saat Satria mengusili Julia, ia terbakar cemburu, ia tidak ingin berbagi Sandrina suatu hari nanti.
Satria yang menyadari kedatangan mantan istrinya itu, cuek saja, dan pura-pura mengelus kepala Julia.
"Dimana Nenek Mas?" tanyanya pada Satria.
"Di teras belakang mungkin, sama Sandrina," jawab Satria cuek.
Srianti berjalan ke teras belakang mencari Nenek Fatiah.
Melihat Nenek Fatiah duduk bersama Sandrina, Srianti mendekat, "Nek benarkah Mas Satria mau menikahi perempuan itu?!" tanya Srianti penasaran.
"Perempuan yang mana,,,? Oh Julia maksudmu? yaaa begitulah Sri,,, dia gadis yang baik, Nenek rasa dia sangat cocok mendampingi Satria!" ucap Nenek tersenyum merekah.
"Halah Nek,,,!! paling dia cuma tertarik sama kekayaan Mas Satria saja!!" ucap Srianti sinis.
"Bagaimana denganmu Srianti? jangan suka menghakimi orang lain, apalagi dia calon Satria." jawab Nenek kalem.
Sandrina yang sedang mainan, menengadah pada Neneknya," Nek, memangnya Sandrina mau punya mama baru ya Nek?" tanyanya polos.
"Hehehe iya sayang,,,, Dia pasti sayang sama kamu nanti, seperti Nenek sayang sama kamu." jawab Nenek sambil mengelus rambut Sandrina.
Srianti yang mendengarkan mereka berbicara, diam saja dengan wajah kesal.
"Hmmmhh terserah lah, Nek aku pamit dulu, sudah siang, aku mesti packing buat berankat besok pagi. Titip Sandrina Nek,,,." ucapnya lagi.
"Ya sudah tidak papa, pergilah,,,." sahut Nenek.
Nenek tetap duduk sambil minum teh, tanpa mengiringi kepergian Srianti, begitu pula Srianti ngeloyor pergi tanpa bersalaman dengan Nenek. Dari dulu Srianti juga tahu Nenek tidak suka dengannya, jadi Srianti pun tidak berusaha membuat Nenek baik padanya.
Srianti kembali ke ruang tamu, dan langsung mengajak suaminya pergi dari rumah Nenek. Suaminya masih sopan dengan berpamitan dengan Satria di ruang tengah.
"Mas, saya permisi dulu, masih ada yang hrus disiapkan." ucap suami Srianti pada Satria.
"Oh ya silahkan,,,,." jawab Satria singkat.
Satria bangkit dari duduknya, menggandeng Julia, untuk mengantar kedua tamunya pulang.
Lega rasanya mereka pamitan. bathin Satria.
♡
♡
♡
__ADS_1
( bersambung,,,,, )