Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
KEMBALI KE KANTOR


__ADS_3

Jam 8 malam Satria sampai rumah, ia mengabaikan makan malam yang telah disiapkan Pak Amad, ia tidak merasa lapar,,, Satria masuk ke kamarnya, mencopot sepatunya, dan langsung rebahan di ranjang. Ia senyum-senyum sendiri. Setelah melewati saat menegangkan bersama Daffin, ia sedikit berhasil menaklukkan Julia, gadis itu sama sekali tidak menolak saat dipeluk, bahkan ia bersikap pasrah. Tapi Satria juga merutuki dirinya, yang belum bisa mengungkapkan perasaannya.


Satria bangkit dari ranjang, ia berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hatinya berbunga-bunga.


***


Di kamar Julia, Santi banyak bertanya mengenai kepergian Julia, Ia bercerita, siang itu Julia mendapat telpon dari seseorang yang suaranya mirip dengan Mba Arzhad, ia mengatakan kalau, ada orang yang ingin menculik Julia, mereka anak buah Tn. Daffin, tapi Julia tidak curiga, ia turun untuk menemui orang yang menelponnya, dan masuk ke dalam mobil. Ternyata di dalam mobil sudah duduk dua orang laki-laki yang langsung menariknya masuk. Entah bagaimana, mobil Mba Arzhad yang baru masuk ke parkiran apartemen, langsung mengikuti mobil yang ditumpangi Julia, dan melesat maju menghalangi mobil yang Julia tumpangi. Mba Arzhad keluar dengan pengawalnya, dan sempat terjadi perkelahian, anak buah Tn. Daffin tak berkutik, Julia akhirnya diselamatkan oleh Mba Arzhad. Mba Arzhad meminta Julia untuk jangan kembali dulu ke apartemen, akhirnya Julia menurut. Ia ikut bersama Mba Arzhad untuk sembunyi sementara.


"Begitulah San,,,," Julia menutup ceritanya. Santi mendengerkan penuh kengerian. Ia jadi teringat saat disekap, ia memang tidak diapa-apakan oleh anak buah Tn. Daffin, itu saja membuatnya trauma.


"Julia,,,,?" tanya Santi.


"Ya?"


"Sepertinya Tn. Satria menaruh hati padamu. Ia cemas sekali saat kamu pergi. Ia seperti orang gila marah-marah tak tentu. Apa kamu tidak tahu?" tanya Santi lagi.


Julia cuma tersenyum,,,


"Kalau menaruh hati, kenapa dia diam saja kalau ketemu?! jawab Julia terkekeh.


"Hmm baiklah, aku besok akan menemuinya, dan mengatakan, Tn. Satria, kalau anda cinta pada sahabat saya, Julia, kenapa anda diam saja? ayo dong lamar Julia!" ucap Santi berakting.


"Hahaha berani?!!! ejek Julia.


"Tidak!!!" santi menggeleng. Keduanya pun tertawa.


***


Kamis pagi, Santi akhirnya bisa meyakinkan Julia untuk kembali ke kantor, mereka sangat bersemangat pagi ini. Di hari pertamanya, ia mengenakan dress navy selutut dipadukan blazer putih berpotongan sedada.


"woooww cantik sekali kamu Julia!" Santi memujinya,"Akan ada yang terkesan nanti dengan penampilanmu." ucapnya.


"Terima kasih,,,,." Julia meletakkan tangannya di dada.


"Yuk kita go!" ujar santi semangat. Julia menggamit lengan Santi dan mereka pergi ke kantor dengan riang.


***


Julia berjalan dengan percaya diri menuju ruang perencanaan, beberapa orang yang sedang bergerombol pagi-pagi, langsung menatap ke arahnya.


"Juliaaaaaa,,,,,." Tika berlari menghampiri Julia, ia senang sekali, dan hampir saja membuat Julia terhuyung, ditabrak tubuh gempalnya.


"Ya ampun tika, aku bisa jatuh kalau begini!" ucap Julia gemas, ia cubit pipi chubby Tika.


"Makanya Jul, kalau ada buldozer lewat, minggir,,,, bisa jadi dendeng nanti kamu." sahut Hendro terkekeh.

__ADS_1


Semua datang menghampiri Julia, mereka menyambut Julia dengan suka cita. Julia memandang ruang kepala perencanaan, sepi.


"Ohya Pak Fatah dimana?" tanya Julia pada teman-temannya.


Mereka semua menggeleng.


"Seminggu setelah kamu pergi, Pak fatah dipecat dari perusahaan Jul. Ia yang membuatmu jadi tertuduh penyebab kegagalan proyek kita." ucap Hendro.


Julia merasa sedih. seharusnya ini tidak terjadi, bagaimanapun Pak Fatah sudah mengabdi lama di perusahaan Tn. Satria.


***


Santi memasuki ruang CEO, banyak berkas yang harus ditanda tangani Tn. Satria, ia sengaja menyelipkan sebuah foto diantara berkas. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Tn. Satria nanti.


"Selamat pagi Tn. Satria, maaf saya agak terlambat datang. Ini berkas yang harus anda tanda tangani Tuan." ucap Santi.


"San, bagaimana dengan,,,," Satria bertanya dan langsung dipotong oleh Santi


"Julia Tuan?" jawab Santi cepat.


Satria mengernyitkan kening.


"Ya,,,, " jawab Satria.


"Dia sudah bergabung dengan karyawan lain di ruang perencanaan, Julia mulai kerja hari ini Tuan." Jawab Santi senang.


"Boleh saya pamit ke meja saya Tuan?" tanya Santi.


"Oh ya baiklah, terima kasih Santi." jawab Satria.


Ia mulai menanda tangani berkas satu persatu, pandangannya terhenti pada sebuah foto, foto Julia, kenapa ada disini? ia memandangi foto itu sambil tersenyum sendiri. Ini pasti terselip disini,,,, lebih baik kusimpan saja. bathin Satria.


Ia meraih dompetnya, dan menyelipkan foto julia disana. Satria kembali mengecek tumpukan berkas.


***


"Met Pagi menjelang siang Bos." sapa Rico terkekeh.


"Hai Ric,,, tolong panggilkan Santi." ucap Satria.


Rico membuka kembali pintu ruangan Satria, dan memanggil Santi.


"Iya Tuan?" tanya Santi.


"Ambil berkas ini San, sudah selesai semua, tolong cek lagi." ucap Satria.

__ADS_1


"Baik Tuan Satria, terima kasih." ucap Santi. Ia segera mengambil berkas dari meja Tn. Satria, dan segera pergi meninggalkan ruangan Bosnya. Sampai di mejanya, Santi langsung membuka lembaran demi lembaran kertas, ia tersenyum, ternyata Tn. Satria mengambil foto itu. Sudah pasti, Tn. Satria memang menaruh hati pada sahabatnya.


Sepeninggal sekretarisnya, Satria mengeluarkan dompetnya, dikeluarkannya foto Julia dan memandanginya dan tersenyum-senyum lagi. Ia lupa Rico menunggunya.


"Pssstttt,,,." Rico mendesis. Satria melihat ke arah suara.


"Rico? kenapa?" tanya Satria.


"Foto siapa itu bos? kok senyum-senyum?" tanya Rico menyelidik.


Satria yang sedang memegangi foto Julia tersenyum gugup, "Tidak,, ini foto Sandrina." jawab Satria bohong. lalu ia buru-buru menyimpan di dompetnya.


***


Nenek fatiah menelpon Satria, untuk mengingatkan agar mengunjunginya Sabtu ini. Ia ingin mengobrol banyak dengan Julia, gadis yang sudah membuatnya terpikat.


Tuuutttt,,,,, tuuuuutttt,,,, tuuuuuttttt


"Halo Nek?" sapa Satria.


"Hmmhh Satria, Assalamu'alaikum,,,!" ucap Nenek.


"Eh iya Nek walaikumsalam,,,,." jawab Satria terkekeh. Ia paham betul neneknya selalu rajin mengingatkan tegur sapa yang islami.


"Ada apa Nek? Nenek baik-baik saja?" tanya Satria.


"Tentu saja Satria! Nenek alhamdulillah sehat,,, Nenek menelpon untuk ngingetin kamu, jangan lupa bawa mantu nenek, Julia ke rumah! Nenek tidak mau mendengar alasan apapun!" ucap Nenek mengancam.


"Ya Nek,,,, sekarang Satria kerja dulu ya nek? masih banyak kerjaan." jawab Satria enggan.


"Alasan! ya udah pokoknya Nenek tunggu sabtu ini. Assalamu'alaikum." ucap Nenek dan mengakhiri telepon.


Haduh Nenek,,, bagaimana caranya ya? meyakinkan Julia untuk mengajak ke rumah Nenek?! bathin Satria galau.


Satria terpekur di mejanya, memikirkan alasan apa yang akan ia katakan pada Julia.


Tiba-tiba ia mendapatkan ide.


***




__ADS_1


( Hayo ada yang bisa kasih ide?! alasan apa nanti yang akan Satria sampaikan pada Julia?


Jangan lupa like n commentnya 😁😁😁 )


__ADS_2