
Julia benar-benar murka pada Daffin, yang berusaha menjebak suaminya. Ia merasa kecewa, hingga tangannya secara refleks menampar pipi Daffin. Satria yang melihat kemarahan Julia, dan berusaha mencegah tangan Julia, terlambat, tangan Julia sudah mendarat di pipi Daffin.
Daffin diam saja menerima tamparan Julia. Sedangkan Clara yang masih terbaring di tempat tidur, ketakutan melihat adegan itu.
Julia mendekati Clara, ia merasa iba pada gadis itu.
"Clara aku ikut prihatin dengan apa yang terjadi padamu. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Tapi lain kali berpikirlah sebelum bertindak. Kita sama-sama perempuan, bagaimana kalau seandainya apa yang menimpaku, juga menimpamu?" ucap Julia.
Clara tidak segera menjawab perkataan Julia, ia malah menangis terisak. Julia memegang tangan Clara, berusaha menegarkan gadis itu.
"Maafkan Aku,,,,. aku hanya,,,,." ucap Clara terhenti, ia melirik Daffin.
"Sudah, aku sudah memaafkanmu. Kamu masih terlalu muda untuk mengalami ini Clara." ucap Julia bijak. Ia tak mungkin menyalahkan gadis ini seratus persen. Ia jengkel dengan kelakuan Daffin. Julia menarik tangan Satria dan segera berpamitan. Ia sungguh tak ingin lagi melihat Daffin.
***
Julia dan Satria berjalan keluar menuju parkiran RS, tapi tiba-tiba dari arah belakang Daffin menarik tangan Julia. tangan yang satunya berada di leher Julia, dan tangan satunya memegang belati. Satria terkejut dengan aksi Daffin yang begitu cepat. Ia sama sekali tak memperkirakan ini sebelumnya. Daffin membawa Julia berlari ke arah mobilnya, Satria berusaha mengejar, tapi ancaman Daffin membuat ia tak berkutik.
"Daffin!!! jangan bodoh!!! berhenti Daffin!!!" teriaknya.
"Tidak Sat!! jangan kejar aku, kalau tidak, aku tak segan-segan melukainya!!!" ancam Daffin.
"Dan kalau kau ingin istrimu selamat, jangan pernah lapor polisi!!" ucap Daffin sungguh-sungguh.
Daffin segera membawa lari Julia dengan mobilnya. Ia terus mengawasi Satria dari kaca spion.
Satria berlari sekencang-kencangnya mengejar Daffin yang masih berputar di area parkiran RS. Nafasnya sampai tersengal. Lalu ia segera menghampiri mobil, dan mencari-cari Dicky.
"Dicky,,, ayo cepat kejar mobil itu!" ucap Satria cepat.
Tanpa berkata apapun, Dicky segera melajukan mobil. Ia begitu panik hingga menabrak portal, dan langsung tancap gas mengejar mobil Daffin yang sudah jauh dari mobil mereka. Karena kondisi jalanan yang macet, dan terhenti karena lampu merah.
"Damn!!!" teriak Satria kesal. Mereka kehilangan posisi mobil Daffin, Satria sangat takut terjadi apa-apa dengan Julia. Ia menyesal telah membawa Julia ke RS.
"Kita kemana Bos? kita kehilangan mobil mereka!" tanya Dicky panik.
Satria hanya mendesah, ia tak tahu harus mengejar kemana. Mobil mereka hanya berputar-putar sambil terus mencari.
Ponsel Satria berdering, Daffin yang menelponnya.
"Hahaha,,,,!! Julia sekarang jadi milikku Sat!!" ucap Daffin tertawa, lalu telpon ditutup. Satria sangat murka mendengar suara tertawa Daffin. Ia membanting ponselnya ke jok disebelahnya.
"Jangan lari Daffin, aku pasti mendapatkanmu!" geram Satria.
Satria meraih ponsel dan segera menelpon Rico, dan meminta Rico untuk melacak keberadaan Daffin.
__ADS_1
"Sekarang kita lebih baik pulang dulu ****,,, sambil menunggu Rico." perintah Satria pada supirnya.
"Baik Tuan,,,,." ucap Dicky.
Dicky melajukan mobilnya menuju kediaman Satria. Arga yang sedang bermain di teras bersama Pak Amad, berlari mendekati ayahnya.
"Yaya,,,, unda nana?" ucap Arga.
Satria merasa sedih, Arga menanyakan bundanya. Ia menggendong Arga dan masuk ke dalam rumah. Sementara Pak Amad bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi, Tuan Satria pulang tanpa Nyonya Julia.
Dari Dickylah akhirnya Pak Amad tahu, bahwa Nyonya Julia dibawa kabur oleh Tuan Daffin. Pak Amad merasa terkejut, dan berdoa semoga Nyonya Julia segera ditemukan. Ia ikut bersedih, karena keluarga majikannya sering sekali mendapatkan banyak ujian.
***
Daffin membawa Julia ke sebuah mansion yang sangat besar, sepertinya mansion ini merupakan bangunan yang baru selesai dibuat. Di dalamnya para penjaga sangat ketat berjaga. Julia merasa putus asa, bisakah ia lari dari Daffin? pikirnya.
Ditambah lagi, Daffin merampas ponselnya, agar ia tidak bisa menghubungi siapapun di luar sana.
"Mas Daffin, biarkan aku pergi!" pinta Julia gusar.
"Pergi? pergi kemana? tempatmu disini!" ucap Daffin terkekeh, tapi di dalam matanya, ia sangat bersedih, Julia sama sekali tak mengindahkannya.
"Mas Daffin kamu tahu, bahwa aku tidak pernah bisa mencintaimu! kalau dengan menahanku seperti ini bisa membuatmu senang? kamu salah besar Mas!" ucap Julia masih dengan nada gusar.
Julia merasa sangat putus asa, Daffin tidak mudah dibujuk. Julia dimasukkan ke dalam kamar di lantai 2, kamar yang luas dengan interior yang modern. Julia hanya bisa duduk dan menangis, ia teringat Arga dan suaminya. Saat makan malam, Daffin masuk ke kamar membawa makanan untuk Julia.
"Aku bawakan makan malam untukmu Julia, kuharap kamu suka." ucap Daffin lembut, di matanya selalu penuh cinta pada Julia. Julia merasa muak dengan Daffin, bagaimana ia bisa menyadarkannya, bahwa ia sudah bersuami?
Julia tak bergeming, ia hanya menatap wajah Daffin dengan tatapan marah.
"Julia berhentilah menatapku seperti itu." Daffin memohon.
Bukannya memakan makanan yang dibawa Daffin, Julia mengambilnya dan hendak membuangnya.
"Jangan kau buang Julia,,,, please,,,,?!" Daffin tetap membujuk Julia untuk makan.
Dengan kesal Julia pergi ke tempat tidur, ia merebahkan dirinya di atas ranjang, membelakangi Daffin yang duduk di sofa. Julia berusaha memejamkan matanya, dan berpura-pura tidur.
Sampai keesokan paginya, dan Daffin membawakan makanan untuk sarapan. Julia tetap saja menolak, Julia menangis, karena ia sangat tidak ingin menerima apapun dari Daffin, Ia cuma memikirkan bagaimana bayi yang ada dalam perutnya, kalau ia tidak makan.
"Baiklah kalau kamu masih tidak mau makan. Tapi bagaimana kalau kamu sakit Julia?" ucap Daffin.
"Aku tidak peduli walau aku sakit!" sahut Julia tajam.
Tiba-tiba Daffin mengamuk, ia membanting semua makanan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Kenapa Julia?! beri aku kesempatan untuk hidup bersamamu! aku mencintaimu Julia!" teriaknya.
Julia ketakutan setengah mati, tapi berusaha setenang mungkin, dan tidak terpengaruh akan amukan Daffin.
Yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya ia bisa kabur dari sini, sementara pengawal Daffin begitu ketat berjaga-jaga.
***
"Ya Rico, bagaimana, apakah kamu sudah mendapatkan posisi Daffin berada?" tanya Satria tergesa.
Rico menggeleng, ia belum menemukan posisi Daffin, karena ponsel Daffin tidak pernah aktif, begitu pula dengan ponsel Julia, ia pikir, ponsel Julia pasti diambil oleh Daffin, agar mereka tak terlacak.
"Bagaimana kalau kita temui Clara?!" ucap Rico.
"Kamu benar Ric, ayo kita ke RS." ucap Satria cepat.
Rico dan Satria segera menuju RS untuk menemui Clara. Untungnya Clara belum pergi dari RS, ia sedang mengemasi pakaiannya sendiri, saat mereka tiba.
"Clara?" sapa Satria.
Clara menolehkan wajahnya ke arah Satria yang memanggil namanya.
"Iya Tuan Satria? ada apa?" tanya Clara. yang melihat Satria sepertinya terburu-buru.
"Apakah kamu tahu dimana Daffin tinggal?" tanya Satria.
"Aku,,,, aku tidak tahu Tuan, dimana Tuan Daffin tinggal disini, setahuku ia menginap di hotel selama disini." ucap Clara takut.
"Di hotel Mana?!" tanya Satria lagi.
"Hotel centurian, tapi aku belum pernah kesana. Sungguh,,,!" jawab Clara jujur.
"Sebenarnya ada apa?!" tanya Clara bingung.
"Daffin menyandera istriku! tapi aku tidak bisa melacak keberadaannya. Ponselnya mati." jawab Satria.
Clara terkejut, ia menutup mulut dengan kedua tangannya, tak percaya akan ucapan Satria. Hatinya perih, begitu cintanya Daffin pada sosok Julia, hingga ia mampu melakukan apapun untuk mendapatkannya. Sementara Clara? ia ditinggalkan begitu saja, padahal administrasi RS belum sepenuhnya dibayar. Clara bingung.
❤
❤
❤
( Bersambung,,,, )
__ADS_1