
Rico berjalan menuju ruang keamanan yang berada di sebelah kanan lobi, diikuti oleh Indra yang sedang merasa cemas.
Rico membuka pintu ruang keamanan, dan menyuruh Indra masuk. Di dalam ruangan sepi, hanya mereka berdua, karena sekuriti sedang bertugas di posnya masing-masing.
Masuk ke dalam ruangan, Rico mempersilahkan Indra duduk. Mereka duduk berhadapan, Rico memulai pertanyaannya. Indra begitu gelisah layaknya seorang terdakwa yang berhadapan dengan Jaksa penuntut.
"Saya Rico asisten Tn. Satria, Ndra, maaf ada yang ingin kuketahui tentang ini." Rico memulai pertanyaannya sambil menunjukkan foto di ponselnya. Seketika Indra terkejut.
"Si-siapa yang mengambil foto ini?" tanyanya gugup.
"Entahlah,,, pasti seseorang. Yang ingin kuketahui, ada hubungan apa kamu dengan Julia?" tanya Rico tanpa basa basi.
"Aku dan Julia adalah Suami Istri." ucap Indra.
Rico terkejut mendengarnya, tapi ia tetap diam, dan menunggu. Alisnya membentuk lengkungan, tanda ia bertanya kelanjutannya.
"Tapi itu dulu,,,, sebelum aku meninggalkannya. Yah,,, seminggu setelah aku menikah dengan Julia, aku pergi dari rumah. Pernikahan kami karena dijodohkan. Aku tidak bisa mencintainya, dan meninggalkan Julia, untuk menikah dengan perempuan pilihanku." Indra bercerita.
"Lalu?" tanya Rico lagi.
"Mengenai foto itu, rupanya ini salah paham. Aku tiba-tiba melihat Julia di lantai 13, dia sedang berjalan terhuyung karena darah rendahnya mungkin kumat, ia salah memencet tombol lantai di lift, jadi ia juga masuk ke ruangan yang salah. Saat ia akan terjatuh, aku berusaha menangkap tubuhnya. dan menyadarkannya. itu saja,,, sekarang aku sudah menikah, tentu saja aku tidak akan mendekati Julia." Indra melanjutkan ceritanya.
"Tapi aku heran kenapa ada yang mengambil foto kami secara sembunyi." ucapnya.
Rico mendengarkan dengan baik, diam-diam ia merekam percakapan.
"Sebenarnya ini ada apa? apa Pak Rico kekasih Julia? aku bersumpah, sudah tidak hubungan lagi dengannya." ucap Indra bersungguh-sungguh.
Rico tersenyum, ia mengamati sepertinya Indra tidak ada gelagat berkomplot dengan Julia soal tender Lyon. Julia hanya korban. Pikirnya.
"Oke baiklah Indra, terima kasih atas informasinya. Kamu boleh pergi,,," ucap Rico tersenyum.
Indra masih belum beranjak dari tempatnya duduk, ia malah seperti gelisah,,,,
"Pak Rico, apakah Tn. Satria mencurigai Julia, bahwa ia berkhianat? aku mendengarnya dari temanku." tanya Indra ragu.
Rico menaikkan alisnya, aku menunggu ini. bathinnya.
"Apa yang kamu tahu, Ndra?" tanya Rico hati-hati.
"Entahlah,,,, seperti ada yang tidak suka pada Julia. Aku mendengar suara Tn. Daffin sedang berbincang dengan Pak Fatah. Aku tidak tahu persis, tapi sepertinya mereka membicarakan soal tender Lyon." ucap Indra.
"Oke Terima kasih Ndra,,,, Semoga ini bisa membantu." kata Rico kemudian, sambil menjabat tangan Indra.
Mereka keluar ruangan keamanan bersama-sama.
__ADS_1
Sepertinya kekalutan ini segera menemui titik terang.
Ponsel Rico berdering, hingga 3x deringan, Rico baru mengangkatnya. Telpon dari seseorang yang memang sudah ia nantikan.
"Halo Tn. Stanley,,, bagaimana, apakah saya sudah bisa mendapatkan data penawarannya?" Ucap Rico to the point.
"Saya sudah mengirimkan datanya lewat email, Anda bisa mengeceknya Tn. Rico, dan Yah semoga ini bisa membantu." jawab Stanley.
"Baiklah, terima kasih Tn. Stanley." ucap Rico mengakhiri percakapan.
***
Rico membuka laptopnya di ruangan CEO, ia langsung mengecek email, benar, Tn. Stanley sudah mengirimkan apa yang ia minta.
Ia mendownloadnya dan menyimpannya di flasdisk. Lalu ia berjalan keluar menemui Santi, Sekretaris Tn. Satria.
"Nona Santi, tolong printkan data ini, aku akan mengeceknya." perintah Rico.
"Baik Tn. Rico,,,." jawab Santi.
Tak lama kemudian satu berkas penawaran selesai di print. Santi mengantarkannya kepada Tn. Rico yang berada di ruangan CEO. Rico mengecek berkas penawaran Daffin, co.ltd yang dikirim oleh Tn. Stanley, dan membandingkannya dengan berkas yang dibuat oleh Julia. Betul saja, ia mendapatkan banyak perbedaan, dari jenis huruf ketikan, dan juga item yang tertera pada RAB. Nilai penawaran sudah pasti. Jadi benar, Julia bukanlah pelakunya, Rico mencurigai Fatah. siapa lagi yang tau data-data Julia, selain Fatah. Dan soal foto itu, ia gunakan sebagai alibi, pada saat yang sama Fatah menemui Tn. Daffin.
"Hmmmhhhh si bos belum datang juga! aku sudah tidak sabar memberitahunya." gumam Rico.
***
"Nenek,,, Satria harus pamit Nek, ada masalah di kantor. Minggu depan Satria kemari lagi Nek." pamit Satria.
Nenek mengangguk walaupun terasa berat, karena ia masih ingin bersama cucunya.
"Baiklah,,, tapi Nenek harap kamu bawa Sandrina kemari. Nenek kangen padanya." ucap Nenek berharap.
Satria mengangguk, lalu ia segera bergegas pergi.
***
Satria masuk ruangannya tergesa, didalam sudah ada Santi dan Rico. Mereka tampaknya habis berbincang serius. Satria menatap keduanya.
"Ada apa Ric?" tanya Satria tegas.
Santi keluar ruangan, ia membuatkan kopi untuk dua orang bosnya.
Rico menceritakan semua bukti yang ia dapatkan, dari mulai Indra, sampai dengan keterlibatan Fatah.
"Jadi menurutmu Nona Julia tidak bersalah?!" tanya Satria ragu.
__ADS_1
Rico menjentikkan jarinya, senyumnya mengembang. Sementara berbeda dengan raut wajah Satria yang pucat pasi. Ia merasa bersalah pada perempuan itu.
Santi masuk membawa dua buah cangkir kopi.
"Lalu sekarang dimana Fatah?!!!" Satria merasa geram, dikepalkannya tangannya.
"Masih cuti, istrinya melahirkan." jawab Rico datar.
"Sekarang aku ingin kau pecat dia Rico! gara-gara dia orang yang tidak bersalah, kena imbasnya." ucap Satria semakin geram.
Santi merasa senang ternyata Julia memang tidak berkhianat. Tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur, Julia sudah pergi, ia tidak pernah mengangkat telponnya semenjak dikeluarkan dari kantor.
Satria merasa bersalah. ia tidak tau harus melakukan apa, agar Julia memaafkannya. Saat itu Ia terlalu murka, hingga tak bisa mengendalikan emosi. Padahal Julia seperti sedang sakit, aku malah memecatnya.
Bagaimanapun juga ia harus mencari Julia, untuk meminta maaf, dan memintanya kembali bekerja, lagipula hari-harinya terasa kosong setelah perempuan itu jauh dari pandangannya.
***
Satria keluar dari ruangannya, wajahnya sangat kusut, ia berjalan menuju meja sekretarisnya, Santi.
"San, apa kamu tau kemana Julia pergi?" tanyanya galau.
"Emmm Saya tidak tahu Tuan, Saya cuma menduga mungkin dia pulang ke kotanya. Tapi Saya tidak tahu dimana dia tinggal." jawab Santi.
"Aku merasa tidak enak hati telah menuduhnua yang bukan-bukan Santi. Saya harus bertemu dengannya untuk minta maaf." ucap Satria sendu.
"Oke saya akan cari tahu, atau menghubungi lagi, dari kemarin saya telpon, tidak pernah ada jawaban Tuan." Santi berkata dengan hati yang bimbang.
***
Di RSPC Julia di rawat inap, sudah dua hari ini ia cuma berbaring diatas tempat tidur, mulutnya belum mau makan makanan apapun. Lidahnya masih terasa pahit.
Cuma Ibu yang menungguinya, karena Ayah masih harus bekerja saat siang hari. Ibunya selalu merasa khawatir atas perkembangana kondisi Julia, maklum, Julia adalah anak tunggal.
"Julia,,, ayuk makan Nak, kalau kamu ga makan apa-apa, gimana bisa sembuh?" ucap ibunya.
"Gak bu, rasanya pahit, Julia tidak ingin makan. Minum teh hangat saja." jawab Julia lirih.
Selain kondisi tubuhnya yang sakit, hatinya pun sedang sakit, ia merasa sedih diusir begitu saja oleh Tuan Satria tanpa bisa membela dirinya. Bagaimanapun dia tak bersalah. Tidak ada satupun orang yang membelanya pada saat itu.
***
◇
◇
__ADS_1
◇
( Selamat membaca!! )