
"Eerhmm,,,,!" Satria berdehem serak, memecah kesunyian, rasanya malu dipukul nenek di depan ketiga anak buahnya.
"Rico,,, " panggilnya kemudian.
"Iya Tuan Satria?" sahut Rico menahan tawa.
dengan sok tegas Satria berkata.
"Tolong selesaikan semuanya hari ini, jangan lupa urus paspor Nona Julia, emm satu lagi rico, jangan lupa transfer uang untuk sandrina hari ini! That's all,,,, sekarang kalian bisa pergi." perintahnya.
Satria tak sanggup berbincang lebih lama dengan mereka, wajahnya sendu, karena insiden beberapa menit lalu.
Niat semula untuk memberikan arahan kepada Ketiga anak buahnya batal.
Moodnya buyar,,,,
Disuruhnya mereka pergi.
Ketiga orang tersebut meninggalkan ruangan CEO, dengan terbengong dan masih saja menahan tawa.
Di luar pintu, terdengar mereka cekikikan tiada henti.
Ada-ada saja,,,,
***
Hari ini adalah hari gajian, Julia sedang mengira-ira gaji yang akan ia terima, dikala ia berpikir, ponselnya berbunyi, notifikasi dari sms banking.
Julia terpekik riang melihat nominal transferan gajinya, sungguh ini gaji pertama yang sangat tinggi sepanjang ia pernah bekerja. Julia baru menyadari, betapa ia sekarang berkarier di perusahaan besar.
Pulang kerja ia berencana untuk membeli barang-barang kebutuhan bulanannya, mudah-mudahannya Santi bersedia menemaninya sore ini.
Julia mematikan laptopnya, menutupnya, dan memasukkan ke dalam laci meja, menjaga agar laptop tidak berdebu. Setelah itu ia merapikan mejanya dari kertas-kertas yang bertebaran di meja, meremasnya lalu memasukkan ke bin yang ada di kolong meja, memakai high heelsnya, meraih tas, lalu berdiri dari kursinya.
Julia menoleh ke arah Meja Tika, yang selama berkerja disini, selalu ramah dan menjadi partner yang menyenangkan. Sekarang Tika jarang kena omelan, karena Julia selalu membantu pekerjaan Tika, saat Tika membutuhkan.
"Kemana dia? mejanya kosong." gumam Julia.
Pandangannya mencari keberadaan Tika, dan ia mendapati Tika, sedang kongkow di meja Mas Hendro yang terletak di sudut ruangan, sedang ngemil bersama karyawan lain.
Julia menggeleng heran. dan berjalan menuju kelompok kecil itu.
"Tik, kamu ga pulang? Ayuk kita pulang?" sapa Tika.
"Aumh krek krek,,,, aumh krek krek,,, " mulut Tika penuh keripik, hingga tak bisa menjawab pertanyaan Julia.
__ADS_1
Karena Tika tak juga menjawab, Julia merebut keripik dari tangan Tika, dan memasukkan tangannya ke dalam kantong makanan, dan menyuapkannya ke mulut.
"Aam,,, kres,,, kres,,,, aàm kres,,, kres,,,, ."
Suara kunyahannya beda, Hihi Julia nyengir kuda.
" Enak nih Tik keripiknya, kamu beli dimana?" tanya Julia.
"Enak kan? beli di toko depan rumah Jul." jawab Tika.
"Tumben pulang cepet Jul?" tanya Mas Hendro.
"Eaa Mas, aku mau mampir dulu ke supermarket. Mumpung gajian baru masuk,,,"
***
Bulan kelima Julia bekerja. Ia sudah lebih sibuk dari sebelumnya, apalagi senen besok ia harus terbang ke Lyon Perancis, mendampingi sang CEO. Ia sudah membayangkan hal-hal menarik yang akan ditemui disana, baru kali ini ia akan bepergian ke Eropa. Sebuah tempat yang hanya bisa ia lihat di layar TV ataupun sosmed.
Sungguh hal yang belum pernah ia mimpikan.
▪
▪
Tender mega proyek real estate di Lyon Perancis, sedianya akan dibuka tiga bulan lagi, tapi para calon peserta lelang sudah sibuk mencari informasi kesana kemari, terkait dengan persyaratan teknis dan persyaratan umum lelang.
Fatah merasa kecewa,,,,
Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini adalah keputusan dari CEO. Yang ia bisa lakukan cuma menunggu informasi dari Tuan Satria dan Julia, sambil menyiapkan berkas yang diperlukan nanti.
Tuan Satria sudah banyak mengeluarkan anggaran untuk mega proyek tersebut. Untuk bisa mendapatkan proyek ini, sebuah perusahaan diwajibkan membuat Bank Garansi senilai 5 Milyar atau sebesar lima persen dari Nilai Proyek. Angka yang cukup fantastis!.
***
Tet,,,,
Julia sedang sibuk packing persiapan keberangkatan ke Perancis, saat bel pintu apartemen berbunyi.
Julia setengah berlari membukakan pintu. Pasti Santi pikirnya.
"Hai Julia,,,, " sapa Santi sambil menyeka keringat. Ia membawa tas belanjaan dari butik.
"Kamu baru pulang San? tumben pulang malam? tadi kupikir kamu sudah pulang duluan?" berondong Julia.
Santi tersenyum,,,,
"Lihat ini! Aku bawa apa?!" ucap Santi.
__ADS_1
Julia menggeleng, dan menarik tas belanjaan yang dibawa Santi, ia membukanya.
"Wow cantik sekali baju-baju dan jacket ini? Pasti mahal ya?" tanya Julia sambil mengagumi baju yang ada ditangannya.
"Itu buat kamu Julia, tadi Tuan Satria mengajakku berbelanja di butik, untuk kamu pakai selama di Perancis!"
"Tadinya sih dia mau ngajak kamu, tapi sepertinya ia malu untuk menghubungimu. Lagian kamu dicari tidak keliatan, eeehhh taunya kamu udah pulang!" ucap Santi terkekeh.
"Untukku?" Julia tidak percaya.
"Iyyaaa,,,, kamu gak mau?!" ledek Santi
Julia cuma tersenyum, ia mematut-matut baju itu di badannya, sepertinya pas.
"Kamu beruntung Julia, Tuan Satria memintamu untuk mendampingi ke Perancis besok. Itu artinya kinerjamu bagus dimata Tuan Satria,,,, atau jangan-jangan,,,, " kata-kata Santi terhenti, ia mengerlingkan mata.
"Jangan-jangan?! apa?!" tanya Julia.
"Jangan-jangan, jangan-jangan Tuan Satria naksir kamu!!!" Santi tergelak.
"Hush!!!" ngarep,,,, jawab Julia santai, jantungnya berdetak kencang. Tiba-tiba Ia tersipu,,,,
"Tapi ingat Julia, berbuatlah optimal, Tuan Satria berharap banyak padamu. Dan aku yakin kamu bisa!" Santi memberi spirit.
Sebenarnya Santi merasa was was, bukannya meremehkan, tapi Julia sudah diberi tanggung jawab yang sangat besar oleh Tuan Satria. Santi khawatir keputusan sang CEO, karena emotional semata.
Santi sudah memperhatikan gerak gerik bosnya beberapa minggu ke belakang. Dalam pandangan Santi, bosnya ini seperti orang yang sedang kasmaran, santi maklum, karena Tuan Satria adalah seorang duda.
Santi acapkali menangkap basah bosnya sedang memperhatikan Julia. Saat Tuan Satria sidak ke ruang perencanaan, kebetulan Santi sedang menaruh berkas di meja Tuan Satria, untuk ditanda tangani, perhatiannya teralihkan saat ia melihat laptop dalam kondisi terbuka, layar CCTV yang memperlihatkan ruangan kerja Julia, terpampang disana.
Santi tidak heran, dilihat dari sisi manapun, fisik Julia memang menarik hasrat kaum adam.
Bodinya yang bongsor sekaligus berdada montok, kulit yang sangat mulus, sepasang kaki yang jenjang dan indah, wajah yang putih bersinar, pinggul yang tidak terlalu lebar, pantat yang kecil dan bulat. Siapa laki-laki yang kuasa menolak?
Ingin sekali Santi memiliki fisik yang dimiliki Julia,,,, hihi Santi jadi berpikir yang tidak-tidàk.
"Andai Tuan Rico tahu,,,,." gumam Santi, pipinya bersemu merah saat membayangkan Tuan Rico.
Santi larut dalam khayalan,,,
▪
▪
▪
( Jangan lupa like n komennya guys,,,, 🙏🏼🙏🏼🙏🏼 )
__ADS_1