Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
DAFFIN TELAH KEMBALI


__ADS_3

Satria masih berduka atas meninggalnya Nenek, hari ini ia tak ke kantor, semua urusan bisnis sementara ia limpahkan pada Rico. Julia yang kondisi tubuhnya ngedrop karena kehilangan Nenek, masih berbaring di tempat tidur.


Satria berjalan menuju teras belakang, sambil duduk di pinggir kolam ia menelpon Rico.


"Hai Ric, hari ini sudah aku putuskan. Temui Clara, bawa sejumlah uang, suruh ia gugurkan kandungannya. Dan pastikan ia melakukannya. Aku tak sudi kalau harus menikahinya! bawa Beno dan yang lainnya untuk keamanan." ucap Satria tegas.


"Tapi Bos,,, bagaimana kalau ia berkoar kemana-mana? bisa hancur reputasimu Bos!" ucap Rico mengingatkan.


"Rico! buat surat perjanjian supaya ia tutup mulut, dan tawarkan uang yang cukup besar! aku yakin perempuan itu hanya mengincar uang!" ucap Satria lagi.


"Kurasa ada yang lebih dari sekedar uang Bos!" Rico terus mengingatkan Satria.


Satria berpikir sejenak.


"Rico lakukan saja! aku tak peduli hal lain! aku cuma ingin ia gugurkan kandungannya!" ucap Satria setengah berteriak.


Satria mematikan telpon, ia menekuri ke dalam kolam. Betapa terkejutnya ia, ada bayangan seseorang di dalam kolam, sedang berdiri di belakangnya. Satria menoleh ke belakang.


Julia tengah menatap Satria curiga. Air matanya sudah tumpah ke pipi.


"Siapa yang ingin kau gugurkan kandungannya Mas? dan kenapa?!" tanya Julia dengan tatapan tajam.


Satria langsung berdiri dan mendekat ke arah Julia, ia berusaha meraih tangan Julia, tapi Julia melangkah mundur. Julia hanya ingin Satria mengatakan kebenarannya.


"Sayang,,,, kumohon, dengarkan aku!" ucap Satria penuh harap.


"Katakan sekarang, atau tidak sama sekali Mas!" ucap Julia mengancam.


"Julia,,,, ini bukan salahku! dengar,,,, beberapa bulan lalu, Mas ke Singapura menemui Mr. Lee untuk membicarakan kesepakatan bisnis. Lalu,,,,." kalimat Satria terhenti. Masih susah rasanya untuk mengatakan pada Julia tentang Clara.


"Lalu apa?! lanjutkan,,,,!" teriak Julia.


"Mr. Lee mengajak sekretarisnya, namanya Clara. Mereka menawari Mas minum. Mas cuma minum sebotol Jus buah sayang,,,, tapi?" Satria kembali tercekat, ia menatap Julia dengan rasa menyesal.


"Tapi apa?!" tanya Julia.


"Mas tidak tahu kenapa bisa terjadi! saat Mas bangun, Mas sudah berada di kamar hotel! Mas dijebak yank,,,, sumpah!!" ucap Satria memelas.

__ADS_1


"Apa yang Mas lakukan? Mas di kamar hotel bersama sekretaris Mr. Lee? Mas melakukan apa dengannya?!" tanya Julia yang telah bercucuran air mata. Hatinya sakit, mendengar cerita suaminya.


"Bagaimana Mas bisa sebodoh itu?!" Julia memukuli suaminya, rasa sakit di dadanya tak tertahankan, sementara Satria hanya pasrah Julia melepaskan emosinya.


"Julia sayang,,,, Maafkan Mas! sungguh ini jebakan! Mas menyesal dengan apa yang sudah terjadi." ucap Satria berusaha menenangkan Julia. Satria begitu terlihat rapuh.


Julia berlari ke kamarnya, meninggalkan Satria sendiri yang masih berdiri terpaku, menatap kepergian Julia. Satria menjambak rambutnya dengan kasar. Lalu berjalan untuk menemui Julia di kamar.


Di kamar mereka Julia tidak ada, ia mendengar suara ratapan Julia dari kamar Arga. Disana Arga sedang menatap bundanya dengan mata sedih.


"Mas teganya kamu sama aku Mas?!" ratap Julia memilukan. Ia menangkupkan wajahnya ke tempat tidur sambil duduk di lantai. Ia merasa sangat sakit dihianati sedemikian rupa oleh suaminya. Seorang gadis telah hamil oleh suaminya. Dan Julia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, sementara ia sendiri sedang hamil muda.


"Ya Allah kenapa semua ini terjadi bertubi-tubi?!" ratapnya.


Satria tidak berani mendekati istrinya yang sedang menangis.


Julia tidak keluar kamar seharian, ia juga tidak makan. Arga selalu berada di dekatnya, dan pada saat jam makan, Pak Amad membawakan makanan untuk Arga, dan menyuapi Arga dengan telaten. Pak Amad juga tidak berani bertanya apapun pada Nyonya dan Tuan muda itu.


Satria masuk ke kamar, ia membawakan makan malam untuk Julia.


Julia cuma menggeleng dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Kalau kamu tidak makan, bagaimana dengan bayi yang ada dalam kandunganmu? ayolah makan yank,,,,." bujuk Satria lagi. Julia juga tak mau menatap suaminya.


Karena Julia masih saja tak bergeming, Satria keluar kamar dan meninggalkan makanan di meja Nakas. Satria pergi meninggalkan rumah, ia menyetir sangat kencang di jalanan. Pikirannya sungguh buntu. Ia benar-benar menyesali semuanya. Gara-gara Clara, Nenek meninggal, dan karena Clara, Julia jadi membencinya.


Satria melarikan mobilnya menuju tempat lokasi pertemuan Clara dan Rico. Ia ingin sekali mencekik leher Clara! bathinnya berkata dengan emosi.


Dalam Perjalanan, Rico menelpon, ia mengabari Satria, bahwa Clara susah sekali diajak negosiasi. Ia hanya ingin Satria menikahinya. Ia tidak ingin anaknya terlahir tanpa Ayah. Berapapun uang yang ditawarkan padanya, ia tolak mentah-mentah.


Hal ini membuat Satria kian emosi. Ditancapnya gas mobilnya kencang. Satria sudah lepas kendali.


Ia hampir sampai di lokasi pertemuan, dan memperlambat laju mobilnya. Tapi ia kesal dengan pengendara mobil di belakangnya yang seperti ugal-ugalan menyetir. Sepertinya pengendara ini mabuk. Akhirnya Satria mengalah dsn membiarkan mobil di belakangnya menyalip, tapi,,,,,,


"Braaaakkkkkkkk!!!!!" "ciiiiittttttt,,,,,,"


Suara mobil yang barusan menyalip Satria menabrak sesuatu, hingga akhirnya berusaha mengerem mendadak hingga ban mobil berdecit kencang. Satria terkejut, hingga ia ikut mengerem.

__ADS_1


Semua orang yang berada di pinggir jalan berhamburan mendekat, ternyata seorang perempuan tertabrak mobil itu. Orang-orang berusaha menolong si perempuan, dan ada yang menahan pemuda yang mabuk itu. Saat ia terdiam mengamati di depannya, ia melihat sesosok yang seperti ia kenal,,,, Daffin?!! Ia berteriak memanggil nama perempuan yang kecelakaan itu.


Satria melewati mobil yang kecelakaan tersebut perlahan, ia menoleh pada perempuan yang tertabrak itu, tapi wajahnya tidak kelihatan jelas. Apakah perempuan itu istri Daffin? Satria terus melewati tempat kecelakaan itu dan menuju lokasi pertemuan Rico dan Clara. Di sebuah Cafe yang jaraknya 500 meter dari lokasi kecelakaan. Satria memarkir kendaraan, dan masuk ke dalam cafe. Ia mencari-cari Rico dan anak buahnya.


Satria melambai ke arah Rico yang berada di meja di sudut ruangan. Dilihatnya Rico sangat pucat.


"Rico bagaimana? kenapa wajahmu pucat? katakan ada apa?!" tanya Satria tak sabar.


"Bos perempuan itu, Clara, ia baru saja tertabrak seseorang pengendara mobil Bos!" sahut Beno, sambil menatap Rico yang kelihatan pucat.


Rico mengangguk.


"Apaaaa?! jadi perempuan berbaju merah tadi Clara?!" ucap Satria memastikan.


"Iya Bos! Ia lari saat Rico mengejarnya! akhirnya ia tertabrak!" jawab Beno lagi.


"Tapi apa hubungannya, Clara dengan Daffin?! Daffin ada bersamanya! ia memanggil perempuan itu dengan jelas sekali!" ucap Satria mengingat-ingat.


"Daffin?!" tanya Rico.


"Iya Daffin!" ucap Satria.


Rico yang tadi terdiam dan pucat, kini bangkit dan berkata.


"Jadi Daffinlah yang menyuruh Mr. Lee dan Clara untuk menjebakmu Bos! aku rasa, ia kembali untuk merebut Julia dari sisimu!" ucap Rico penuh keyakinan.


Satria mengernyitkan kening, kepalanya mengangguk-ngangguk.


"Bisa jadi Ric! sekarang cari tahu! bagaimana keadaan Clara sekarang!" ucap Satria memerintahkan Rico dan anak buahnya bergerak.


🎲


🎲


🎲


( Bersambung,,,, )

__ADS_1


__ADS_2