
😔😔😔
Julia segera naik ke atas menuju ke kamarnya, karena ia mendengar tangisan Arga, untunglah sampai di kamar, Lina sudah menggendong Arga yang menangis. Ia mengambil Arga dari gendongan Lina, dan meminta Lina keluar kamarnya.
***
Rico mengabarkan kepada Satria, bahwa Edwin akan menjalani terapi agar ingatannya kembali. Karena ingin tahu perkembangan supirnya itu, Satria rela meninggalkan pekerjaannya untuk datang ke Rumah sakit.
Tak lupa juga ia berjumpa dengan dr. Santoso, dokter pribadi keluarga Penjawi, yang juga kepala Rumah sakit, untuk sekedar bertanya kemungkinan Edwin bisa pulih dari Amnesia.
"Ya kita tunggu saja Sat, dan berdoalah yang terbaik. Kami Dokter hanya berusaha melakukan tugas kami, kesembuhan hanya MilikNya semata." ucap dr. Santoso.
Satria hanya bisa berdiam diri dan mengangguk. Satria kemudian berpamitan setelah mendengar penjelasan dr. Santoso.
Saat itu, ada dokter lain masuk, usianya sekitar lima puluh tahunan, kemudian dokter yang baru masuk tadi bertanya pada dr. Santoso.
"Siapa tadi dok? apakah itu client special?" tanya dokter yang baru masuk tadi, sambil terkekeh. Karena dilihatnya Satria keluar dengan wajah muram.
"Hmmmm ya,,, aku dokter keluarganya. Ia menanyakan kondisi supirnya yang masih Amnesia karena kecelakaan." ucap dr. Santoso.
"Lalu bagaimana perkembangannya?" tanya dokter yang bernama dr. Bramanto itu.
"Nanti kamu juga akan tahu dok? jangan lupa, seminggu lagi kamu akan menggantikanku sebagai kepala rumah sakit ini!" jawab dr. Santoso tersenyum. Dr. Santoso memang akan belajar lagi di Boston Amerika Serikat, sehingga jabatan sebagai kepala rumah sakit sementara akan diambil alih oleh dr. Bramanto.
"Tunggu,,,,! kamu bilang dia menunggu kepulihan supirnya? masih ada orang yang seperhatian itu pada anak buahnya." ucap dr. Bramanto lagi sambil berdecak decak.
"Yah ceritanya panjang,,,,." dr. Santoso memulai bercerita sambil memperlihatkan foto dari ponselnya. Sedangkan dr. Bramanto memperhatikan foto dalam ponsel dengan teliti.
"Ia kehilangan istrinya ini, dan cuma supirnya yang sekarang amnesia yang terakhir kali berada bersamanya. Istrinya sedang hamil saat menghilang." dr. Santoso memulai ceritanya.
__ADS_1
"Dok?!" ucap dr. Bramanto tercekat. Ia ragu-ragu.
"Ya Dok? ada apa?" tanya dr. Santoso, ia menatap dr. Bramanto sambil mengernyitkan kening.
"Saya pernah melihatnya, dan perempuan itu sedang hamil sekitar enam bulan kalau tak salah. Ia mengalami kecelakaan." ucap dr. Bramanto terhenti, ia menunggu reaksi dr. Santoso.
"Benarkah? lalu sekarang dimana dia, Julia?!" tanya dr. Santoso terkejut.
"Dia juga mengalami Amnesia, dia berada di perkebunan di pedalaman Kalimantan, bersama,,,,,." ucap dr. Bramanto terjeda, ia berusaha mengingat.
"A-apaaaaa?! di pedalaman Kalimantan? Amnesia? bersama siapa Dok?!" ucap dr. Santoso penasaran.
"Hmmm enyahkan soal kode etik Dok! ini soal kemanusiaan!" ucap dr. Santoso lagi, ia mengingatkan.
"Dengan seseorang bernama Daffin." ucap dr. Bramanto yakin.
Tak menunggu waktu lagi, dr. Santoso menelpon Satria dan meminta Satria untuk kembali ke rumah sakit
***
Julia yakin bahwa Daffin memang sengaja membawanya pergi jauh dari suaminya, Satria. Ia tak tahu harus kemana, yang penting ia harus segera pergi dari sana. Beruntung buat Julia, karena pengawal yang biasanya berjaga-jaga di rumah, sekarang jarang berada disana. Mungkin Daffin sudah merasa aman, dan tidak perlu lagi mengawal Julia dengan ketat. Tapi demi kelancaran, Ia tidak akan pamit pada Mbok Darmini atau Bu Tuti. Ia cuma minta tolong pada Lina untuk melarikan diri.
"Lina, aku ingin mempercayaimu! aku tidak bisa menceritakannya sekarang, tapi tolong bawa aku pergi dari sini! cuma kamu yang hafal daerah sini. Dan aku tidak mau Mbok Darmini atau Bu Tuti tahu! Tolong aku Lina?!" ucap Julia memelas. Ia begitu berharap pada Lina. Sementara Lina yang tidak tahu apa yang terjadi hanya terbengong. Ia agak takut sebenarnya, karena Daffin mengenal Lina, dan mau mempekerjakan Lina sebagai babysitter, karena Daffin kenal dengan orangtua Lina yang tinggal di Desa sebelah perkebunan. Tapi demi melihat wajah majikannya yang memohon, ia mengangguk dengan tatapan bimbang.
"Baik Bu, saya akan bawa Ibu keluar dari sini! tapi Arga ibu susui dulu biar dia tertidur, dan tidak rewel. Bu Tuti mungkin kembali agak sorean!" jawab Lina, ia hafal biasanya Bu Tuti pergi pasti lama kalau berbelanja ke kota.
Selesai menyusui Arga, benar saja Arga langsung tertidur, Lina menggendongnya dengan sebuah kain, yang digendongkan dipunggungnya. Julia mengambil tas bawaanya yang tak seberapa, tak lupa ia membawa dompet yang baru saja ia temukan. Keduanya menunggu Mbok Darmini yang biasanya tidur siang, lalu mereka menyelinap diam-diam.
***
__ADS_1
Julia merasakan kakinya pegal-pegal karena mereka melarikan diri dengan berjalan kaki, dan jalan yang mereka lalui bukanlah jalan yang biasa dilalui mobil, karena tidak ingin ada orang yang melihat pelarian mereka.
Lina cemas, Julia kembali berhenti untuk beristirahat. Kalau seperti ini terus, mereka tidak akan mungkin sampai ke jalan raya.
Dan kali ini tampaknya Julia benar-benar menyerah, padahal jarak ke jalan raya tinggal tiga kilometer saja?
"Lina aku sudah tidak kuat lagi!" erang Julia kesakitan, kakinya benar-benar sakit.
"Kalau ibu menyerah, kita tidak akan sampai jalan raya, tinggal tiga kilometer lagi Bu, setelah itu kita bisa menghentikan kendaraan umum, dan pergi dari sini!" ucap Lina menyemangati.
"Apa? tiga kilometer lagi?!" Julia berteriak putus asa. Tapi karena ia ingin pergi sejauh-jauhnya dari sini, ia berdiri lagi. Arga masih anteng di gendongan Lina.
Baru beberapa meter berjalan, Julia tiba-tiba roboh. Ia pingsan, tentu saja membuat Lina kebingungan. Tapi Lina tak mungkin membawanya kembali, karena itu artinya ia harus menempuh jarak lebih jauh lagi. Dan resiko kedua, ia akan kena hukuman seandainya ada orang yang tahu, ia membawa lari Julia majikannya.
Lina tak hilang akal, ia mengintip dari balik semak, jalanan yang biasa dilalui mobil, siapa tahu ada yang bisa memberikan pertolongan, walaupun agak mustahil.
Saat ia cemas, sekonyong-konyong datang sebuah mobil yang jarang ia temui di desanya atau di perumahan perkebunan yang terpencil. Ia mengamati seketika, lalu melambaikan tangan bermaksud menghentikan mobil itu. Mobil itupun berhenti.
Arzhad yang berada dalam mobil segera menyuruh anak buahnya berhenti.
"Bukankah itu seperti babysitter yang dibawa Daffin ke Milan kemarin?" bathin Arzhad.
Ia masih berpikir, kenapa gadis itu ada di tempat ini sendiri, jauh dari perkebunan? Arzhad sudah mengetahui, dari anak buahnya, kalau Daffin memiliki perkebunan di pedalaman Kalimantan.
Setelah turun dan mendekati gadis itu, gadis itu langsung meminta pertolongan pada Arzhad, dan menunjukkan majikannya Julia yang masih pingsan di balik semak-semak yang lima meter jauhnya dari jalan.
♠️
♠️
__ADS_1
♠️
( Bersambung,,,,, )