Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
ANALISA RICO


__ADS_3

Tanpa sengaja, Satria, Rico dan Santi bertemu di sebuah cafe, mereka makan malam bersama sambil mengobrol. Tapi karena seperti ada yang ditutupi oleh Satria dan Rico, membuat Santi jadi bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi? tapi keduanya mengalihkan dengan obrolan lain.


Sementara Julia yang masih di tempat Nenek, malah merasa nyaman disana. Nenek sangat perhatian dan sayang pada Julia, ia juga suka menceritakan bagaimana sifat Satria yang kadang keras kepala dan pencemburu, kadang juga kekanakan. Nenek selalu memberi Julia nasehat, agar ia bersabar menghadapi Satria. Karena pada dasarnya, Satria itu sangat mencintai keluarga, terutama istrinya.


"Begitulah orang berumah tangga, seringkali kesabaran kita diuji. Kadangkala kita harus banyak mengalah sebagai perempuan. Tapi yakinlah Julia, dengan mengalah, kita akan mendapatkan banyak kebaikan." nasehat Nenek pada Julia.


"Seperti apa dulu kakek, Nek? apakah beliau juga pecemburu?" tanya Julia.


Nenek tertawa mendengar pertanyaan Julia.


"Sudah Nenek bilang, itu sudah bakat dari sananya. Kakek dan Satria sangat mirip karakternya." ucap Nenek terkekeh. Keduanya tertawa bersama.


"Sekarang taruh Arga dulu, dia sudah tertidur, bawa ke kamar." perintah Nenek.


"Iya Nek, Nenek jangan tidur dulu ya,,,, kutidurkan Arga dulu." pinta Julia.


Setelah membaringkan Arga di tempat tidur, Julia kembali mengobrol sambil nonton TV di ruang tengah.


"Beginilah Julia, orang semakin tua, akan semakin sulit tidur. Harus banyak berdoa, dan berdzikir. Kalau orang jawa mengenalnya tirakat." ucap Nenek.


"Kenapa begitu Nek?" tanya Julia.


"Ya memang seperti itu, harus banyak-banyak mengingat Allah, mengingat mati, mengingat amal perbuatan. Nanti kamu juga akan tahu kalau sudah seusia Nenek." ucap Nenek.


"Iya Nek,,,,,." sahut Julia sambil memijit kaki Nenek.


"Nek, Julia buatin teh ya? sekalian Julia pengin teh juga." ucap Julia.


"Boleh,,,,, tapi khusus buat Nenek jangan pakai gula ya?" ucap Nenek.


"Siaaaappp,,,,,." sahut Julia sambil meluncur ke dapur.


***


Satria sudah pulang ke rumah, dan langsung menaiki tangga menuju ke kamarnya. Rumah sudah sepi karena ia pulang jam 01.00 dini hari. Sampai kamar, ia belum juga bisa tidur, masih memikirkan peristiwa tadi siang.


Rasanya bagaikan disambar petir, melihat foto pertemuan antara Daffin dan istrinya. Keduanya terlihat seperti sepasang kekasih dalam foto.


Yang tak habis pikir, kenapa Daffin begitu menginginkan Julia!


"Julia, apapun yang terjadi aku akan mempertahankanmu. istri adalah kehormatan dan harga diri suami." bathin Satria.


Ia takkan melangkah mundur sejengkalpun. Apalagi ia sudah berjanji pada Ayah Julia, akan selalu melindungi Julia, mencintai Julia dalam keadaan apapun.


Ponsel Satria berdering. Padahal jam sudah menunjukkan jam 02.30 dini hari.

__ADS_1


"Rico?" sapa Satria.


"Bos,,, ada berita yang harus aku sampaikan padamu!" ucap Rico tergesa, ia tak enak mengganggu Bosnya di pagi buta seperti sekarang.


"Berita apa?! aku mendengarkan." ucap Satria sambil bangkit dari tempat tidur.


"Daffin besok akan ke USA, berarti benar kata Julia, kalau ia memang berniat pamitan pada istrimu, aku rasa,,,,." ucap Rico.


"Benarkah?! tapi? tapi untuk apa ia mengirimkan buket bunga dan surat untuk istriku?! ucap Satria setengah ragu.


"Kurasa,,,, ada orang lain yang memanfaatkan situasi Bos! Ia tidak ingin kalian bersama!" ucap Rico.


"Tapi siapa?!" tanya Satria ngeblank.


"Ya itu yang harus kita selidiki." ucap Rico.


"Apa ada perempuan lain yang sedang dekat denganmu Bos?!" tanya Rico terkekeh.


"Gila kau Ric!!! memang aku ini laki-laki seperti apa?!" jawab Satria keki.


"Bagaimana dengan mantan istrimu?! dia yang selalu meyakinkanmu untuk kembali, dan menceraikan Julia. Iya kan?!" ucap Rico.


"Bisa jadi,,,,, tapi kan dia masih bersuami? dan aku tidak pernah memberikan kesempatan apapun padanya?!" ucap Satria sok yakin.


"Oke nanti saja kita ketemu dan ngobrol di kantor. Aku ngantuk Bos,,," ucap Rico.


***


"Bukankah itu sore nanti?" tanya Satria.


"Iya betul, di jam 9 nanti kita ketemu Pak Birowo dari Pt. Angkasa raya." ucap Rico.


"Bagaimana kalau kita geser pertemuan dengan Pak Birowo siang saja? aku ingin membahas masalah Daffin." ucap Satria.


Rico menepuk jidatnya, ia baru ingat akan membicarakan sesuatu kepada Satria, Sang Bos.


"Baiklah, aku akan telpon Pak Birowo, kita ubah jadwal janji temu dengannya. Sebentar." Rico berkata dan segera keluar ruangan, menuju ruang asisten CEO.


Tak lama kemudian, Rico kembali ke ruangan Satria.


"Bos, ada yang ingin kutanyakan. Dulu waktu Julia menghilang. Srianti menunjukkan surat dari Julia, yang berpamitan, hingga Srianti menuduh Julia pergi bersama seorang laki-laki?" tanya Rico.


"Ya,,,, betul! lantas?" Satria mencoba mengingat.


"Apa kamu yakin itu tulisan tangan Julia?" tanya Rico lagi.

__ADS_1


"Emmmm,,,, aku tidak terlalu memperhatikan. Tapi arahnya kemana ini?" ucap Satria, masih bingung.


Rico menyodorkan selembar kertas, isinya sebuah tulisan tangan yang berisi uraian kerja.


"Apa ini? uraian kerja proyek? untuk apa?" tanya Satria.


"Aduh, jaman gadget n sosmed gini, memang orang sering melupakan sentuhan pribadi." ucap Rico terkekeh,,,, Satria masih belum mengerti.


"Apa surat yang disodorkan Srianti, jenis tulisannya seperti ini? atau mirip dengan surat di buket bunga?" tanya Rico.


Satria menggeleng,,,,


"Tulisan tangan di surat yang ditunjukkan Srianti dan tulisan surat di buket bunga sepertinya mirip,,, tapi,,,, jauh berbeda dengan ini! ya aku ingat, sangat jauh dengan tulisan ini!" ucap Satria yakin, walaupun tadi ia lumayan mengingat dengan lama.


"Jadi yang di surat yang dibawa Srianti dengan surat di buket bunga mirip?" tanya Rico memastikan lagi.


"Jangan bikin aku bingung Rico! ke pointnya saja!" ucap Satria tak sabar. Lalu Satria membelakakkan matanya, tanda ia mulai paham.


"Maksudmu dua orang berbeda dengan gaya tulisan sama?" tanya Satria.


"Tidak cuma itu,,,, yang di dua surat itu, konon berasal dari orang yang berbeda, tapi dengan gaya tulisan yang sama. Sedangkan surat yang dipegang Srianti, jelas bukan tulisan tangan Julia! ini tulisan tangan Julia." jawab Rico, sambil sekali lagi menunjukkan lembaran kertas yang dibawa Rico.


"Oh My God, benar katamu Rico, karena tekhnologi, kita sudah tak hafal lagi dengan tulisan tangan seseorang, meskipun tulisan istri sendiri!" ucap Satria sambil nyengir dan mengelus tengkuk.


"Artinya kalau surat yang pertama adalah tulisan tangan Daffin, dia membutuhkan orang, untuk mengirimkan surat itu sampai ke rumahmu. Artinya Pak Amad sebagai kepala urusan rumah tangga, pasti yang akan menerima pertama kali. Lalu apakah semua orang bebas keluar masuk kamarmu Bos?" tanya Rico.


"Tentu tidak! kamarku adalah privacy kami berdua, hanya Pak Amad yang bisa keluar masuk kesana, dan sekarang, Maryati bisa masuk juga, karena ia mengurus Arga." ucap Satria.


"Artinya, kalau itu memang Daffin, mustahil dia mengirimkan, tanpa sepengetahuan Pak Amad, dan siapa yang meletakkan surat itu di kamar, seperti Srianti bilang? pasti Pak Amad yang tahu." ucap Rico menganalisa.


"Tapi kenapa Pak Amad tidak tahu?!" ucap Satria bimbang.


"Itu karena surat itu adalah rekayasa. fixed apapun alasannya, Srianti dalang dibalik ini semua! kalau itu benar dari Daffin, berarti Srianti bekerja sama dengan Daffin. Tapi kalau itu bukan tulisan Daffin yang seolah istrimu yang menulis, ya jelas Srianti yang menulisnya. Dan kalau itu benar Srianti, artinya buket itu juga dikirim olehnya, mengatasnamakan Daffin!" Rico menganalisa.


Satria mengernyitkan kening dan berpikir keras.


"Tapi,,, mereka tertangkap basah ketemuan di cafe!" ucap Satria.


"Jelas tertangkap basah. Oleh Srianti kan?!" ucap Rico terkekeh.


Satria mendengus,,,,, Srianti apa yang kamu inginkan? bathinnya.


💝


💝

__ADS_1


💝


( Bersambung,,,,, )


__ADS_2