
๐น๐น๐น
Rumah yang biasanya sepi, kini berubah menjadi ramai, yah kediaman Pak Rusman, Ayah Julia sudah penuh dengan sanak saudara, karena sebentar lagi Pak Rusman, akan menikahkan anak semata wayangnya Julia. Ada saja candaan yang ditujukan kepada Julia.
"Non udah perawatan belum? biar besok pas malam pertama, wangi dan siap tempur!! jangan sampai malu-maluin ya?" canda Rendi sepupunya.
"Udah dooongggg,,,, pasti lah biar wangi luar dalam!" ucap Julia asal.
Semua orang bersahutan meledek Julia, sampai Julia mati kutu dan memerah wajahnya karena tersipu.
Keluarga besarnya sangat bersyukur, Julia akhirnya mendapat calon suami yang dilihat dari segi manapun lebih diatas Indra mantan suami Julia. Mungkin memang begini jalan hidup yang harus Julia tempuh, hingga pada akhirnya dia mendapatkan seseorang yang memang mencintai dan ia cintai.
Ibu-ibu tetanggapun ikut sibuk dengan persiapan pernikahan, rumah Julia sudah didekorasi dengan sangat cantik.
Santi yang sudah beberapa hari tinggal di rumah Julia, karena ia mendapat mandat dari Sang Bos untuk membantu persiapan pernikahan, sedang membaca daftar undangan, dan memastikan semua undangan sudah tersebar, ia berkordinasi dengan sepupu Julia. Santi melakukan semuanya dengan senang hati.
Santi juga berkordinasi dengan WO mengenai rountdown acara saat pesta di gedung.
***
Nanti malam, adalah acara perkenalan keluarga dari kedua belah pihak, dari siang Julia sudah tidak diperbolehkan keluar kemana-mana, walaupun ia seorang janda, tapi ia masih suci belum terjamah. Perawatan demi perawatan telah ia lakukan demi memberikan yang terbaik untuk suaminya di malam pertama mereka nanti.
***
"Mama,,,, mama,,,, bangun!! Mama,,,, !!! " jeritan anak perempuan berusia 8 tahun ini, menyayat hati.
Ia menangis melihat mamanya sekarat dan berlari menghambur keluar kamar, mencari siapa saja untuk menolong mamanya, sementara suami sang mama, masih sibuk di kantor sepagi ini.
"Bibiiiiiii!!!! bibi dimana bi,,,,?! teriaknya lagi.
sang Bibi yang dipanggil oleh Nona mudanya berlari terbirit mendekati sang anak.
"Ada apa Non? kok Non menangis?! ada apa,,,,?!" tanya sang Bibi panik.
"Mama Bi,,,, tolong mama Bi,,,,!!" ucap anak itu masih sambil menangis, dan menunjuk ke atas tempat kamar mamanya berada.
Bibi yang panik, langsung naik keatas diikuti anak itu. Betapa kagetnya ia melihat majikannya berlumuran darah di bagian lengan, dan masih tertancap pisau silet.
"Asaghfirullohaladzim,,,, Nyonya!!! Ya Allah,,,,." ucap Bibi panik. Ia langsung menghambur keluar rumah untuk mencari pertologan, dipanggilnya sekuriti rumah dengan tergopoh. Tak lupa ia menelpon rumah sakit untuk segera mengirimkan bantuan.
Di kamar, sekuriti mencoba menghentikan pendarahan, dililitnya lengan sang majikan dengan kain bersih yang ada di kamar. Ketiganya menunggu ambulan dari Rumah Sakit.
__ADS_1
Ambulan datang beberapa menit kemudian, kebetulan Rumah tempat majikannya, berada dekat Rumah Sakit yang memang masih ada di lingkungan kompleks.
Srianti segera dibawa ke Rumah Sakit, dan langsung dibawa ke ruang instalasi gawat darurat RS, sang asisten rumah tangga, beserta Sandrina menunggu diluar, sementara tim medis sedang melakukan tindakan. Asisten rumah tangga Srianti mencoba menghubungi Tuan Sandy, suami Srianti, tapi panggilan tak terjawab, sepertinya majikannya sedang sibuk di kantor, hingga beberapa kali tidak menyahut.
"Bi, telpon ayah bi,,, Ayah pasti datang! ini pakai hp Sandrin saja." ucap Sandrina terisak.
Sang ART mengambil ponsel majikan kecilnya, dan mencari nama yang dimaksud.
Tuuรนuttttt,,,,, tuuuuuttttt,,,,, tuuuuutttt,,,,
"Halo Sandrin,,,, ada apa sayang?!" sapa Satria.
"Halo Tuan,,,, maaf ini ART nya Nyonya Srianti. Maaf Tuan, saya mengganggu. Nyonya Srianti dirawat di RS. Griya Medika, daritadi saya mencoba telpon Tuan Sandy, tapi tidak bisa. Nona Sandrina menangis terus Tuan. Apakah Tuan bisa datang membantu?" ucap sang ART panik.
"kenapa Srianti? sakit apa?" tanya Satria.
"Nyonya____?" ucap ART tertahan.
"Kenapa? ayo cepat katakan!" ucap Satria tegas.
"Nyonya mencoba bunuh diri Tuan." ucap sang ART.
***
"Ayo Sat, kita berangkat, mobil sudah siap semua." ucap Nenek mengingatkan.
"Nenek berangkat dulu dengan rombongan. Ada masalah sebentar." jawab Satria berbohong. Ia tahu Nenek sangat tidak menyukai Srianti, ia pasti akan melarang Satria ke RS, kalau Nenek tahu.
"Tapi nanti kamu terlambat Satria,,,, ayo cepat!" teriak Nenek.
Satria berusaha meyakinkan Nenek, bahwa ia akan berusaha tepat waktu, ia akan menaiki Jet pribadi kalau memang mendesak.
"Baiklah Satria, Hati-hati! Nenek berangkat dulu!" ucap Nenek kemudian.
Satria berangkat menuju RS disupiri Dicky.
"Ayo ****,,, kita ke RS. GRIYA MEDIKA. cepat!" perintah Satria.
Tanpa banyak tanya, dicky meluncur cepat.
***
__ADS_1
Dokter memberitahu kalau Nyonya Srianti mencoba mengakhiri hidupnya dengan sebuah silet, ia mengiris nadinya sendiri. Sekarang kondisi Srianti sudah lebih baik saat Satria datang.
"Mas,,,, batalkan pernikahanmu. aku mencintaimu Mas!" ucap Srianti lirih, saat Satria tiba di kamar rawat inap.
Satria diam saja tidak menjawab,,,, Ia merasa kasihan pada mantan istrinya, yang juga ibu dari anaknya. Tapi ia sendiri sudah tidak memiliki rasa cinta pada Srianti. Hanya kasihan.
"Mas, kenapa Mas diam saja? aku ingin memilikimu Mas, jangan pergi,,,, jangan menikah dengannya." ucap Srianti lagi memohon.
"Kamu tenang Sri, bentar lagi suamimu akan segera datang." jawab Satria.
"Mas Aku mohon!!! jangan tinggalin aku?" Srianti masih tetap menghiba.
Tidak ada jawaban apapun dari mulut Satria, ia hanya meminta Srianti agar tenang dan tidak memikirkan apapun.
Sandrina memandang ayah dan mamanya dengan pandangan yang membuat trenyuh. Hati anak mana yang sanggup melihat kedua orangtuanya berpisah? tapi ia seorang anak, yang belum mengerti apa-apa, seperti kata-kata mamahnya padanya.
Pintu ruangan terbuka, Sandi, suami Srianti datang, ia memandang Satria dengan bertanya, "Gimana keadaan Srianti Mas?" tanyanya pada Satria.
"Sudah baikan. Baiklah San, aku pamit dulu, aku masih banyak urusan. jaga dia baik-baik." ucap Satria terburu-buru.
Satria mendekati Sandrina, untuk berpamitan. Tak lupa ia mengecup kening anaknya, dan mengusap matanya yang sembab.
"Sandrina, jaga mamamu baik-baik, besok saat ayah pulang, ayah jemput kamu ya sayang,,,,?!" ucap Satria pada Sandrina.
"Iya yah,,, ayah hati-hati." balas Sandrina.
Sudah jam 5 sore, ia yakin akan sangat terlambat kalau ia naik mobil ke Cilacap. Satria memutuskan untuk naik jet pribadinya.
"****, kita langsung ke bandara, kita naik jet pribadi saja." perintahnya pada Dicky.
"Siap Tuan!" ucap Dicky, sambil melesat menuju bandara.
***
Di rumah Pak Rusman, keluarga kedua belah pihak cemas,,,, sudah jam 19.20 tapi sang calon pengantin pria belum juga muncul. Malam ini malam perkenalan, kalau dalam adat jawa ini dinamakan malam midodareni, tapi karena kedua calon pengantin adalah janda dan duda, maka ini cuma malam perkenalan biasa. Julia yang mendengar bahwa calon pengantin pria belum datang, merasa gelisah, ia takut untuk yang kedua kalinya seorang pria pergi meninggalkannya. Tiba-tiba ia menangis, Santi yang daritadi bersamanya menjadi ikutan panik. Dia mencoba menghibur Julia agar tidak berburuk sangka.
๐ค
๐ค
๐ค
__ADS_1
( Bersambung,,,,,, ๐๐๐ )